|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Fri Aug 26, 2011 9:28 pm | |
| CEGAH STROKE DENGAN MENGATUR MAKANAN Lusia Kus Anna | Jumat, 26 Agustus 2011 | 15:08 WIB Kompas.com - Lebih baik mencegah daripada mengobati. Demikian kata pepatah. Sekira sebuah penyakit masih bisa dicegah kedatangannya, kita harus mengupayakan banyak cara. Salah satunya dengan mengatur asupan makanan sehari-hari. Stroke dapat disebabkan penyumbatan pada arteri yang mengarah ke otak, yang beresiko terganggunya aliran darah. Atau juga disebabkan pecahnya pembuluh darah. Stroke iskemik atau penyumbatan terjadi pada 80 persen kasus stroke. Sementara stroke hemoragik atau pecahnya pembuluh darah di otak adalah penyebab 20 persen stroke. Faktor risiko stroke termasuk merokok, hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan kolesterol tinggi. Gaya hidup menjadi faktor kemungkinan Anda terkena stroke atau tidak, termasuk mengonsumsi makanan yang bisa menurunkan risiko. Langkah-langkah berikut adalah cara menurunkan risiko terkena stroke melalui pengaturan makanan. Namun, ada baiknya Anda juga berkonsultasi pada dokter.
Langkah 1 Mengurangi asupan garam untuk menurunkan tekanan darah. Berhenti menambahkan garam ke dalam makanan ketika Anda memasak atau sedang makan. Jangan lupa untuk membaca label makanan untuk mengetahui kandungan garam di dalam makanan tersebut.
Langkah 2 Mengurangi asupan kalori jika Anda termasuk overweight. Obesitas sangat rentan terhadap penyakit jantung dan diabetes. Keduanya adalah faktor risiko stroke. Lebih baik menyantap whole grain, daging tak berlemak, buah, dan sayur serta lemak sehat, misalnya minyak zaitun.
Langkah 3 Batasi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh untuk mengendalikan kolesterol. Hindari daging berlemak, fast food, dan produk susu berlemak tinggi jika kadar kolesterol meningkat.
Langkah 4 Mengurangi asupan gula halus untuk menjaga kadar gula darah. Batasi konsumsi minuman bersoda, cake, permen, es krim dan lainnya yang dapat merusak kadar insulin dalam tubuh. (GHS/Dian Savitri) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Sat Aug 27, 2011 7:17 pm | |
| OMEGA-3 PERBAIKI KERUSAKAN PASCA STROKE Bramirus Mikail | Asep Candra | Sabtu, 27 Agustus 2011 | 14:27 WIB KOMPAS.com – Penelitian terbaru menunjukkan, diet kaya omega-3 ternyata mampu mengurangi dampak kerusakan otak pascaserangan stroke. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil penelitian pada tikus yang dipimpin Profesor Jasna Kriz dan Frederic Calon dari Universitas Laval Kanada. Hasil penelitian menunjukkan, tingkat kerusakan otak setelah stroke berkurang 25 persen pada tikus yang mendapatkan asupan DHA jenis omega-3 setiap harinya. Rincian penelitian ini dapat ditemukan di situs journal Stroke. Para peneliti mengamati bahwa efek dampak stroke berkurang keparahannya pada tikus yang telah diberi diet kaya DHA selama tiga bulan dibanding pada tikus yang diberi diet kontrol. Pada tikus kelompok yang mendapatkan DHA, mereka mengalami penurunan dalam konsentrasi molekul yang merangsang peradangan jaringan dan sejumlah besar molekul yang mencegah aktivasi kematian sel. "Ini adalah demonstrasi pertama yang sangat menyakinkan dari kuatnya efek anti-inflamasi pada DHA dalam otak," kata Frederic. Menurutnya, ini adalah hasil perlindungan dari substitusi molekul dalam membran saraf, di mana sebagian DHA menggantikan asam arakidonat, asam lemak omega-6 yang dikenal karena mempunyai sifat inflamasi. "Konsumsi omega-3 menciptakan anti-inflamasi dan meringankan kerusakan saraf disekitar otak pasca mengalami stroke. Hal ini mencegah respon inflamasi akut yang, jika tidak dikendalikan, berbahaya bagi jaringan otak," kata Jasna. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Fri Sep 02, 2011 7:56 pm | |
| STROKE INCAR USIA MUDA Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Jumat, 2 September 2011 | 17:14 WIB KOMPAS.com - Dulu, stroke adalah penyakit yang identik dengan masa tua. Namun hal itu tampaknya sudah tidak berlaku lagi. Menurut peneliti dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), stroke banyak ditemukan di kalangan remaja dan orang muda dewasa. Laporan ini diterbitkan dalam Annals of Neurology, edisi 1 September 2011. Data di AS menunjukkan, jumlah pasien berusia 15-44 tahun yang menjalani perawatan dirumah sakit khusus stroke melonjak lebih dari sepertiga antara tahun 1995 dan 2008. Peningkatan ini diduga karena meningkatnya sebagian jumlah orang muda yang memiliki penyakit seperti tekanan darah tinggi dan diabetes tipe 2 - penyakit yang sebenarnya berhubungan dengan orang dewasa yang lebih tua. Peneliti mencatat, tekanan darah tinggi, merokok, diabetes, obesitas dan kolesterol tinggi adalah faktor risiko pencetus terjadinya stroke. Dr Mary George, petugas medis di CDC, Divisi Pencegahan Penyakit Jantung dan Stroke menemukan, dalam 14 tahun periode yang sama telah terjadi peningkatan penderita stroke di kalangan pemuda. Mereka menemukan bahwa diabetes, kolesterol dan penggunaan tembakau, sebagai pemicu utama meningkatnya para remaja dan dewasa muda yang mengalami stroke. "Saya terkejut melihat sejauh mana faktor risiko kardiovaskular pada populasi muda. Karena fokus pada pengendalian risiko ini biasanya ada pada kalangan orang tua," kata George. "Kami benar-benar perlu mendorong orang untuk menjalani gaya hidup sehat sejak mereka masih sangat muda. Stroke dapat dicegah dengan makan makanan yang sehat, olahraga teratur, dan menghindari penyalahgunaan alkohol serta tembakau," tambahnya.
Menurut American Heart Association, stroke adalah penyebab utama kematian ketiga di AS. Delapan puluh tujuh persen dari pasien stroke mengalami stroke iskemik, di mana terdapat gumpalan atau plak sehingga menyumbat aliran darah ke otak. Dr. Larry B. Goldstein, Direktur Duke University Stroke Center, berkomentar bahwa, "data yang disajikan dalam penelitian ini adalah sebuah alarm (peringatan)." Menurut Goldstein, secara tradisional, faktor risiko penyebab stroke pada orang muda biasanya tidak sama dengan orang tua. "Usia tua adalah faktor utama terjadinya stroke, dengan risiko dua kali lipat pada usia diatas 55 tahun. Sekitar sepertiga dari stroke terjadi pada orang di bawah usia 65 tahun, namun untuk remaja dan dewasa muda cenderung sangat rendah," katanya. Tapi, ia memperingatkan, penelitian ini menunjukkan bahwa ada peningkatan faktor risiko stroke seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, lipid, penggunaan tembakau dan penyalahgunaan alkohol di usia muda yang menyebabkan pada meningkatnya penderita stroke. Pakar lain, Dr Michael Katsnelson, asisten profesor neurologi klinis di University of Miami Miller School of Medicine, mengatakan perlu adanya kesadaran masyarakat untuk hidup lebih sehat untuk mencegah terjadinya stroke. "Prevalensi faktor risiko untuk stroke tampaknya akan meningkat pada populasi yang lebih muda. Itu masuk akal dengan perkembangan epidemi obesitas," katanya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Thu Nov 10, 2011 3:16 pm | |
| CARA DETEKSI STROKE DAN UPAYA MENCEGAHNYA Kamis, 10/11/2011 10:30 WIB dr Rizaldy Pinzon - detikHealth Jakarta, Salah satu konsep utama penanganan stroke adalah memberikan pengobatan yang spesifik dalam waktu sesegera mungkin sejak serangan muncul. Masalah yang muncul adalah tidak dikenalinya gejala stroke. Cukup ingat gejala stroke dari kata 'WASPADA' dan hindari dengan 'CEGAH' berikut ini. Gejala stroke muncul akibat gangguan peredaran darah otak pada bagian otak tertentu. Gejala yang muncul sangat tergantung pada bagian otak yang terkena. Sebanyak 1 diantara 6 orang di seluruh dunia akan terkena stroke dalam hidupnya yang merupakan tema hari stroke sedunia tahun 2011. Hal ini untuk menggambarkan besarnya permasalahan stroke di seluruh dunia. Stroke merupakan penyebab kematian nomor 1 di Rumah Sakit dari data Departemen Kesehatan RI, dan merupakan penyebab kecacatan utama pula. Kenali gejala stroke dan bawa segera pasien stroke untuk mendapat pertolongan yang terbaik.
W= Wajah perot Kelumpuhan saraf wajah merupakan salah satu gejala stroke yang paling sering dilaporkan. Kelumpuhan saraf wajah terjadi akibat gangguan pada saraf kranial nomor 7. Mintalah seseorang yang dicurigai stroke untuk tersenyum, wajah yang asimetri (tidak simetris) mendadak merupakan salah satu pertanda stroke.
A= Anggota gerak lemah Kelumpuhan anggota gerak mendadak merupakan salah satu gejala stroke. Mintalah seseorang yang dicurigai stroke untuk mengangkat kedua lengannya bersamaan. Bila ada ketinggalan gerak yang sifatnya mendadak, maka hal tersebut adalah gejala stroke.
S= Sensibilitas atau rasa raba terganggu separuh Gangguan rasa dalam bentuk baal atau kesemutan separuh badan atau salah satu anggota badan yang terjadi mendadak harus dicurigai sebagai gejala stroke. Gangguan rasa bisa dalam bentuk hilang atau kurangnya sensasi sentuh atau rasa kesemutan atau sensasi kesetrum di separuh anggota badan.
P= Pelo atau bicara tidak jelas Bicara pelo merupakan salah satu gejala utama stroke. Mintalah orang yang dicurigai stroke untuk melafalkan kata-kata dengan huruf r, misalnya: lari-lari di rel kereta api. Bila ada pelo mendadak harus kita curigai sebagai stroke.
A= Afasia atau sukar berkomunikasi Kehilangan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal yang terjadi secara mendadak merupakan gejala stroke. Apabila seseorang tiba-tiba tidak bisa bicara atau tidak bisa mengerti isi pembicaraan, maka harus dicurigai sebagai gejala stroke.
D= Disorientasi atau bingung mendadak Pasien yang bingung mendadak bahkan sampai mengalami penurunan kesadaran harus dicurigai sebagai gejala stroke. Apabila seseorang kehilangan kemampuannya untuk mengenali orang, waktu, dan tempat secara mendadak, maka harus dicurigai sebagai gejala stroke.
A= Apabila ada salah satu gejala diatas segera ke RS Penanganan stroke adalah berpacu dengan waktu. Apabila ada gejala stroke segeralah minta bantuan yang tepat. Penanganan yang tepat akan memberikan hasil yang baik pula.
Diagnosis patologi (stroke sumbatan atau stroke perdarahan) ditentukan dengan pemeriksaan minimal CT Scan kepala. Penanganan yang baik di awal diharapkan akan membuahkan hasil yang baik pula.
Tips Cegah Stroke Hari stroke sedunia merupakan suatu hari dengan pesan setiap hari 'Stroke dapat dicegah dan stroke dapat diobati'. Salah satu upaya pencegahan stroke adalah mengendalikan faktor risiko stroke. Berikut ini adalah tips 'CEGAH STROKE'.
C = Cari dan kendalikan faktor risiko stroke Kenali faktor risiko stroke yang ada pada diri anda. Ada faktor risiko stroke yang tidak dapat dikendalikan dan ada faktor risiko yang dapat dikendalikan. Tanyakan pada diri kita, apakah saya berisiko stroke?
Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan adalah: usia, jenis kelamin, riwayat keluarga stroke dan ras. Faktor risiko yang dapat dikendalikan adalah hipertensi, diabetes, kadar kolesterol darah yang tinggi, merokok, gangguan tidur, dan kegemukan. Temukan faktor risiko yang ada pada Anda dan kendalikanlah.
E = Enyahkan rokok Merokok terbukti meningkatkan risiko stroke dan gangguan pembuluh darah lainnya 2-3 kali lipat. Hal ini menjadi lebih nyata pada penderita hipertensi dan diabetes. Merokok menimbulkan pengerasan pembuluh darah dan memicu timbunan plak dalam pembuluh darah. Hal ini terbukti bagi perokok aktif maupun pasif.
G = Giat berolahraga Olahraga teratur yang bersifat aerobik terbukti membantu menurunkan tekanan darah, meningkatkan sensitivitas insulin sehingga terhindar dari diabetes, meningkatkan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Lakukan olahraga yang baik mengandung unsur FITT yaitu: Frekuensi 3-4 kali seminggu, Intensitas ringan sampai sedang, Tipe aerobik, Time (waktu) 15-20 menit per kali olahraga.
A= Awasi tekanan darah Hipertensi terbukti merupakan faktor risiko stroke yang paling konsisten dan dominan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 60-80 persen penderita stroke diawali oleh hipertensi. Awasi tekanan darah anda secara teratur. Seseorang dinyatakan menderita tekanan darah tinggi apabila tekanan darahnya > 140/90 mmHg. Pengobatan tekanan darah tinggi dapat dimulai dengan perubahan pola hidup, yaitu: membatasi konsumsi garam, perbanyak konsumsi buah dan sayur, berhenti merokok dan menurunkan berat badan. Pada kasus-kasus tertentu diberikan pula obat penurun tekanan darah.
H= Hindari stress Stress terbukti meningkatkan tekanan darah, memperburuk sensitivitas insulin dan merangsang sistem saraf simpatis. Hal ini dapat berujung pada munculnya hipertensi dan diabetes. Beberapa penelitian mengkonfirmasi bahwa stress akan meningkatkan risiko stroke 2-3 kali lipat. Luangkan waktu anda untuk olahraga ringan, membaca buku, mendengarkan musik dan berkumpul bersama teman. Lakukanlah pencegahan stroke mulai sekarang. Stroke dapat dicegah bila kita secara dini mengenali faktor risiko stroke dan mengendalikannnya. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Penulis dr Rizaldy Pinzon MKes, SpS SMF Saraf dan Stroke Center RS Bethesda Yogyakarta www.strokebethesda.com |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Thu Nov 10, 2011 3:51 pm | |
| 7 CARA KURANGI RISIKO TERKENA STROKE Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 10 November 2011 | 14:07 WIB KOMPAS.com — Beberapa tahun terakhir, peningkatan penyakit tidak menular terus meningkat. Penyakit stroke, misalnya, serangan yang menyebabkan kematian jaringan pada otak itu, kini menjadi ancaman cukup serius, di samping juga penyakit lainnya seperti jantung, hipertensi, dan diabetes. David Spence, MD, Direktur Pusat Pencegahan Stroke Robarts Research Institute di Kanada mengatakan, peluang kematian terkait penyakit ini sebesar 20 persen, sebesar 40 persen menjadi cacat dan 25 persen bersiko mengalami cacat berat. Sementara itu, David Wiebers, MD, profesor neurologi di Mayo Clinic, mengungkapkan, sebanyak 50-80 persen risiko stroke dapat dicegah. "Caranya, memulai perubahan gaya hidup sehat sejak usia 25, 35, atau 45 tahun. Dengan demikian, Anda dapat memperkecil risiko stroke di usia 60, 70, atau 80-an," katanya. Berikut ini adalah 7 (tujuh) langkah cermat mengurangi risiko terkena serangan stroke.
1. Minum air Para peneliti Loma Linda University menemukan, pria yang meminum lima gelas air atau lebih setiap hari dapat memangkas risiko stroke sebesar 53 persen jika dibandingkan dengan orang yang minum kurang dari tiga gelas. Air membantu mengencerkan darah yang pada gilirannya memperkecil kemungkinan untuk membentuk bekuan darah, menurut Jackie Chan, DrPH, selaku peneliti utama. "Anda harus minum air sepanjang hari untuk menjaga darah tetap encer, dimulai dengan satu atau dua gelas di pagi hari," ujar Dr Chan.
2. Kurangi minum soda Peneliti dari Loma Linda University juga menemukan, pria yang minum dalam jumlah besar cairan lain selain air sebenarnya memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke (46 persen). Sebuah teori mengatakan, konsumsi minuman bergula seperti soda akan memicu keluarnya air dari aliran darah, dan menyebabkan penebalan darah.
3. Hindari stres Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Stroke, para peneliti melibatkan 2.100 pria untuk mengetahui kaitan antara kecemasan dan stroke. Hasilnya diketahui bahwa pria yang selalu merasa cemas tiga kali lebih mungkin untuk mengalami stroke iskemik ketimbang pria yang lebih tenang. "Kecemasan menyebabkan kelebihan produksi kronis dopamin, suatu neurotransmitter yang mengatur kontrol dari sirkulasi otak," kata Ernest Friedman, MD, profesor psikiatri dari Case Western Reserve University.
4. Jauhi asap rokok Peneliti dari University of Auckland menemukan bahwa orang terpapar asap rokok adalah 82 persen lebih mungkin menderita stroke dibanding mereka yang tidak pernah menghirup. "Untuk menghilangkan setiap bit tunggal dari karbon monoksida, Anda harus menghirup udara segar selama sekitar 8 jam. Tetapi, sebagian besar karbon monoksida akan hilang dari tubuh Anda dalam satu jam pertama," kata Laurence Fechter, PhD, profesor toksikologi di University of Oklahoma.
5. Kurangi kadar homosistein Mengonsumsi beberapa jenis vitamin dan mineral dapat menurunkan kadar homosistein yang berhubungan dengan terjadinya stroke. Asupan tambahan folat akan membantu mengurangi risiko stroke, tetapi hanya untuk beberapa orang. "Sebanyak 50-60 persen tidak akan merespons dengan homosistein yang lebih rendah," kata Seth J Baum, MD, Direktur Medis Mind/Body Medical Institute, sebuah afiliasi Harvard. Dr Baum merekomendasikan 1.000 mikrogram (mcg) asam folat, ditambah 25 miligram (mg) vitamin B6, 1.000 mcg B12, dan 1.800 mg asam amino N-asetil-sistein (NAC). "Dengan folat, B6, B12, dan suplemen NAC, hampir semua orang akan memiliki kadar homosistein yang normal," kata Dr Baum.
6. Aerobik Latihan aerobik adalah obat antistroke. "Latihan teratur dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan kadar kolesterol HDL, menurunkan kolesterol LDL, dan mengurangi kelengketan darah," kata Jerry Judd Pryde, MD, seorang psikiater dari Cedars-Sinai Hospital di Los Angeles.
7. Vaksin flu Peneliti Perancis menemukan, orang yang mendapatkan vaksin flu setiap tahun selama lima tahun, 42 persen lebih rendah risikonya mengalami stroke dibandingkan mereka yang tidak. "Infeksi kronis dan peradangan dapat menyebabkan kerusakan pada arteri dan meningkatkan risiko penggumpalan darah," kata Pierre Amarenco, MD. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Sat Dec 03, 2011 6:32 pm | |
| KENALI 5 PENANDA SERANGAN STROKE Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 1 Desember 2011 | 11:40 WIB KOMPAS.com - Stroke merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan matinya sel-sel otak. Penyebab stroke bisa karena adanya sumbatan pada pembuluh darah dan adanya pembuluh darah yang pecah. Deteksi dini gejala stroke adalah kunci untuk mencegah seseorang jatuh pada keadaan yang lebih fatal seperti kelumpuhan, atau bahkan kematian. Oleh karena itu, jika Anda mengalami atau melihat satu atau lebih tanda-tanda stroke seperti di bawah ini, segeralah periksakan diri ke dokter :
1. Tiba-tiba mati rasa atau lemah pada bagian wajah, lengan, atau kaki - terutama pada satu sisi tubuh. Orang dengan stroke biasanya akan memiliki bentuk mulut "tidak rata" alias mencong. Perlu diwaspadai juga apabila mereka (orang yang dicurigai stroke) mengalami kesulitan menggerakkan lengan atau mengendalikan jari. Misalnya, ketika mengangkat kedua tangan, tangan yang sebelah lebih tinggi dibandingkan tangan yang lain.
2. Tiba-tiba kebingungan dan kesulitan berbicara. Masalah bahasa adalah salah satu tanda-tanda yang paling umum dari stroke. Seseorang yang mengalami stroke tiba-tiba mungkin akan mengalami masalah ketika mereka bicara. Bahkan, beberapa di antaranya juga mengalami penurunan pemahaman. Mintalah dia (orang yang dicurigai stroke) untuk mengulangi kembali kalimat sederhana kepada Anda, misalnya: "Saya pergi ke toko hari ini." Jika ia mengalami kesulitan mengulangi kata-kata itu bisa jadi dia mengalami stroke.
3. Pengelihatan mendadak terganggu. Gangguan pengelihatan yang datang secara tiba-tiba merupakan gejala stroke yang umum. Mereka mungkin tidak akan mampu melihat dengan jelas dengan satu mata, atau mungkin mengalami kesulitan untuk melihat ke kanan atau kiri.
4. Tiba-tiba kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan atau koordinasi. Berjalan seolah-olah mabuk, tersandung, atau bahkan jatuh adalah semua gejala stroke. Tanda-tanda serupa lainnya seperti berjalan dengan kaki terbuka lebar atau tiba-tiba kehilangan kemampuan motorik halus, seperti ketidakmampuan untuk menulis juga patut diwaspadai.
5. Sakit kepala parah tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya. Gangguan sakit kepala tidak selalu identik dengan gejala stroke. Tetapi, jika sakit kepala menyerang tiba-tiba atau tampak sangat intens, patut untuk diwaspadai. Jika leher kaku, nyeri pada wajah, atau muntah yang disertai sakit kepala bukan tidak mungkin akan menyebabkan terjadinya perdarahan intrakranial, juga dikenal sebagai "stroke merah (red sroke)."
Last edited by gitahafas on Mon Jan 16, 2012 9:29 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Mon Jan 16, 2012 9:29 am | |
| 10% KASUS STROKE DIPICU STRES PEKERJAAN Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Rabu, 28 Desember 2011 | 15:42 WIB Kompas.com — Hati-hati dengan stres pekerjaan yang terjadi secara terus-menerus. Sebuah riset terbaru dalam Journal of Occupational and Environmental Medicine menunjukkan bahwa stres psikologis akibat pekerjaan bisa meningkatkan risiko stroke 1,4 kali pada pria dari kalangan ekonomi menengah dan atas. Jika dihitung, sekitar 10 persen kasus stroke dalam penelitian ini telah dikaitkan dengan stres mental pada pekerjaan. "Tekanan psikologis pekerjaan yang berlangsung terus-menerus merupakan faktor risiko yang paling umum memicu stroke pada pria yang berada di kelas sosial tinggi," kata peneliti.
Namun, para peneliti tidak menemukan hubungan antara stres kerja dan stroke pada pria yang berada di kelas sosial lebih rendah. Dalam risetnya, para peneliti menganalisis informasi kesehatan 5.000 pria yang berusia 40-59 tahun yang tinggal di Kopenhagen, dan diikuti selama 30 tahun. Penelitian ini bukanlah temuan pertama yang menghubungkan antara stres kerja dan risiko stroke. Sebuah penelitian di Swedia dalam jurnal BMC Medicine menunjukkan bahwa orang-orang yang mengalami stres dalam jangka waktu panjang, pada akhirnya akan terkena serangan stroke.
"Tampaknya ada korelasi antara stres dan stroke. Namun, ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati," kata Katarina Jood, peneliti di Sahlgrenska Academy dan seorang ahli saraf di Sahlgrenska University Hospital. Sebuah studi awal pada tahun ini yang tertuang dalam jurnal BMC Public Health menunjukkan bahwa stres kerja mungkin akan berdampak pada kesehatan lainnya. Bahkan para peneliti dari Concordia University mencatat bahwa orang dengan stres tinggi pekerjaan cenderung lebih sering berobat ke dokter ketimbang mereka yang tidak mengalami stres. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Tue Jan 17, 2012 6:02 am | |
| 8 STRATEGI MENCEGAH STROKE Bramirus Mikail | Asep Candra | Senin, 16 Januari 2012 | 11:28 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Stroke atau hilangnya sebagian seluruh fungsi neurologis (saraf) yang terjadi secara mendadak kini menjadi salah satu penyakit yang cukup serius di Indonesia, karena jumlah kasusnya yang terus bertambah. Di negara maju seperti Amerika Serikat, stroke menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian. Sedangkan di Indonesia, stroke adalah penyebab kematian terbesar dan penyebab kecacatan tertinggi. "Diperlukan strategi untuk menghadapi stroke. Data di Indonesia menunjukkan bahwa 8,3 per 10.000 penduduk menderita stroke," kata dr. Ekawati Dani Yulianti, SpS, spesialis saraf dari Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi, saat seminar Healty Brain for Healthty Life, di Jakarta, Sabtu (14/1/2012). Bahkan lanjut Eka, sebanyak 23 persen pasien yang dirawat di rumah sakit akibat stroke berujung pada kematian. Ada banyak faktor risiko yang memicu timbulnya stroke seperti hipertensi, diabetes mellitus, rokok, hiperkolesterolemia, sindrom metabolik, penyakit jantung, dan konsumsi alkohol berlebih. Tetapi, faktor risiko ini sebenarnya dapat diubah dengan cara tatalaksana gaya hidup. Berikut ini adalah beberapa strategi jitu mencegah stroke seperti diungkapkan oleh dr. Eka :
1. Diet Sehat dan Seimbang Diet sehat dan seimbang dapat diartikan dengan mengonsumsi banyak buah dan sayuran segar, susu rendah lemak, rendah kolesterol dan rendah natrium (asupan garam harian tidak boleh melebihi 2.300 mg atau sekitar 1 sendok teh)
2. Aktivitas fisik secara teratur Latihan dengan tingkat sedang (akumulasi 30-60 menit) 4 sampai 7 hari dalam minggu. Misalnya, jalan santai, jogging, bersepeda, berenang. Untuk pasien berisiko tinggi direkomendasikan untuk mengikuti program yang diawasi secara medis.
3. Kendalikan Berat Badan Mempertahankan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada kisaran 18,5 sampai 24,9 kg/m2 dan lingkar pinggang kurang dari 80 cm bagi wanita dan kurang dari 90 cm bagi pria (standar Asia Timur dan Selatan).
4. Stop Merokok Rokok merupakan salah satu faktor pemicu terbesar terjadinya stroke. Segera berhenti merokok dan sebisa mungkin tinggal di lingkungan yang bebas dari asap rokok. Ada beberapa cara untuk menghentikan kebiasaan merokok dengan terapi pengganti nikotin (permen karet, patch) dan terapi tingkah laku.
5. Batasi Konsumsi Alkohol Mengonsumsi alkohol sebenarnya tidak akan menjadi masalah asalkan tidak berlebihan. Konsumsi alkohol sebaiknya cukup dua gelas standar atau kurang per hari. Untuk pria, tidak boleh lebih dari 14 gelas per minggu. Sedangkan untuk perempuan kurang dari 9 gelas per minggu.
6. Kendalikan Hipertensi Menurunkan tekanan darah yang tinggi sampai target kurang dari 140/90 mmHG (tanpa penyakit penyerta lain).
7. Kontrol Gula Darah Bagi penderita diabetes, target penurunan tekanan darah lebih agresif kurang dari 130/80. Kontrol gula darah dengan target HbA1C <6,5 persen.
8. Hiperkolesterolemia Bagi penderita kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia), pemberian statin dan modifikasi gaya hidup dengan target kadar kolesterol LDL kurang dari 100 mg/dl. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Wed Jan 25, 2012 6:25 am | |
| DEPRESI PASCA STROKE DAN PENGOBATANNYA Thursday, 19 January 2012 Seputar Indonesia Stroke merupakan suatu kumpulan gejala gangguan otak yang terjadi akibat gangguan sirkulasi darah di otak. Penyakit ini merupakan penyebab kematian ketiga di dunia dan di Indonesia stroke juga merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama. Faktor risiko stroke adalah umur, jenis kelamin,suku bangsa,hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus atau penyakit gula,faktor keturunan, kegemukan,diet yang salah, hiperkolesterolemia,merokok,dan kurangnya aktivitas fisik. Stroke sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja dan di umur berapa pun,tetapi tiga perempat dari penderita stroke adalah rata-rata berusia di atas 65 tahun atau lebih. Namun pada kenyataan di lapangan saat ini,terjadi suatu fenomena bahwa stroke terjadi pada umur yang lebih muda,yaitu sekitar umur 40 tahunan dan 50 tahunan.Data di Amerika mengatakan bahwa sekitar 10%–27% dari 600.000 penderita stroke didiagnosis menderita depresi berat dalam waktu setahun sejak awal mengalami stroke. Sebagai tambahan,15%–40% mengalami beberapa gejala depresi dalam dua bulan pertama setelah stroke.
Depresi dan Stroke Keparahan dari depresi yang mengikuti stroke ditentukan juga oleh beberapa faktor, antara lain lokasi dari lesi di otak,adanya riwayat keluarga yang mengalami depresi,dan fungsi sosial sebelum terserang stroke.Pasien yang selamat dari serangan stroke namun menderita depresi,terutama depresi berat,biasanya akan lebih sulit diminta kepatuhannya dalam berobat.Pasien juga menjadi lebih mudah marah dan tersinggung serta dapat berubah kepribadiannya. Sayangnya,terkadang depresi pascastroke sering kali tidak terdiagnosis atau dianggap sebagai reaksi yang tidak terelakan dari serangan stroke.Namun, seharusnya depresi dilihat sebagai suatu hal yang tidak wajar dan ditatalaksana secara optimal bersamaan dengan tatalaksana untuk strokenya. Depresi pada stroke terjadi karena dua faktor.Faktor yang pertama adalah pada penderita stroke terjadi sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak yang menyebabkan jalur komunikasi ke daerah otak menjadi terhambat. Selain adanya bagian otak yang mengatur pusat perasaan yang terkena,depresi pada pasien stroke juga disebabkan adanya ketidakmampuan pasien dalam melakukan sesuatu yang biasanya dikerjakan sebelum terkena stroke. Hal ini terkadang menyebabkan pasien menjadi merasa dirinya tidak berguna lagi karena banyaknya keterbatasan yang ada dalam diri pasien akibat penyakitnya itu. Depresi lebih sering terjadi pada pasien non fluent afasia dibanding yang fluent afasia.Walaupun secara sebabakibat tidak ada hubungan antara depresi dan afasia.Adanya hubungan antara non fluent afasia dan depresi pascastroke dapat dijelaskan dengan bukti adanya lesi otak yang menyebabkan non fluent afasia juga mungkin menyebabkan depresi.Hal berbeda disebutkan oleh kepustakaan lain bahwa pasien stroke dengan afasia ringan menderita depresi lebih sering dibandingkan pasien stroke dengan afasia global. Hal ini disebabkan pasien dengan afasia ringan mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap ketidakberdayaannya. Tidak mudah mendiagnosis depresi pada penderita pascastroke,terutama jika pasien tersebut mengalami afasia. Adanya ekspresi kesedihan akibat kelemahan otot wajah,apatis yang disebabkan adanya gangguan pada otak bagian kanan,akan menyesatkan diagnosis pada stroke.
Pengobatan Menyeluruh Selain penggunaan obat,juga diperlukan suatu upaya psikoterapi individu, terapi keluarga,dan terapi kelompok yang dapat diberikan kepada pasien stroke.Melalui terapi ini,pasien mendapatkan tempat untuk bicara,dukungan keluarga,dan toleransi terhadap ketidakmampuannya dan ketergantungannya. Terapis dapat memberikan terapi sportif,seperti mengangkat kembali harga diri pasien yang menurun. Selain itu,dapat dilakukan terapi kelompok,di mana pasien bersama-sama dengan pasien stroke yang lain berkumpul dan difasilitasi oleh seorang terapis. Tujuan terapi kelompok adalah untuk mengurangi isolasi dan mendorong hubungan interpersonal. Terapi ini dapat memperbaiki harga diri,orientasi,tingkah laku,pemecahan masalah,mengurangi depresi,dan ansietas. Peranan keluarga maupun pengertian dari penderita sendiri mengenai stroke akan memengaruhi perjalanan penyakit. Fisioterapi,psikoterapi,dan terapi kognitif harus direncanakan dengan baik untuk mendapatkan hasil akhir yang optimal. Jika hal tersebut dilakukan dengan baik,niscaya pasien stroke dapat meningkatkan kualitas hidupnya kembali dan mencegah keberulangan serangan stroke yang dapat menimbulkan kecacatan yang lebih parah.
* Dr Andri SpKJ Psikiater Bidang Psikosomatik Medis Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Sun Feb 12, 2012 1:12 pm | |
| CARA ALAMI UNTUK TURUNKAN TEKANAN DARAH Minggu, 12/02/2012 08:03 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Tekanan darah tingg telah menyebabkan banyak kematian di seluruh dunia, tapi sebenarnya penyakit ini paling dapat dicegah. Obat-obatan memang dapat menurunkan tekanan darah, tapi juga dapat menyebabkan efek samping seperti kram kaki, pusing, dan insomnia. Untungnya, banyak orang yang berhasil menurunkan tekanan darah tanpa obat. Meskipun tidak menimbulkan gejala, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko kematian penyakit jantung dan stroke, aneurisma atau tonjolan pda pembuluh darah, penurunan kemampuan mental, dan gagal ginjal. Menurut American Heart Association, 28% orang Amerika memiliki tekanan darah tinggi namun tidak menyadarinya. Sedangkan peneltian yang dilakukan Harvard, hipertensi telah menyebabkan lebih dari 15% kematian di Amerika Serikat. Berikut adalah 13 cara alami tanpa obat yang jitu untuk menurunkan tekanan darah seperti dilansir Prevention.com, Minggu (12/2/2012):
1. Biasakan berjalan kaki Pasien hipertensi yang membiasakan diri berjalan dapat menurunkan tekanan darahnya dengan cepat sebanyak sekitar 6 mmHg sampai 8 mmHg. Berjalan akan membuat jantung lebih banyak menggunakan oksigen dengan lebih efisien, sehingga tidak berupaya keras memompa darah. Lakukan latihan kardio sedikitnya 30 menit setiap hari dalam seminggu. Cobalah tingkatkan kecepatan atau jaraknya sehingga membuat badan tetap langsing.
2. Tarik napas panjang Pernapasan yang lambat dan melakukan meditasi seperti qigong, yoga dan tai chi akan menurunkan hormon stres kortisol yang dapat mengangkat renin, enzim dari ginjal yang meningkatkan tekanan darah. Lakukan latihan pernapasan selama 5 menit di pagi dan malam hari. Tarik napas dalam-dalam dan perluas perut. Buang napas dan lepaskan semua ketegangan.
3. Pilih produk kaya kalium "Kandungan kalium yang banyak terdapat dalam buah dan sayuran merupakan bagian penting dalam program penurunan tekanan darah. Usahakan untuk mendapatkan asupan kalium dari 2.000 sampai 4.000 mg per hari," kata Linda Van Horn, PhD, RD, profesor kedokteran preventif di Northwestern University Feinberg School of Medical. Sumber makanan yang kaya kalium antara lain ubi jalar, tomat, jus jeruk, kentang, pisang, kacang merah, kacang polong, melon, semangka dan buah-buahan kering seperti kismis.
4. Batasi konsumsi garam "Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan tekanan darah tinggi lebih besar kemungkinannya memiliki tekanan darah tinggi, terutama yang sensitif terhadap garam atau sodium. Tapi karena tidak ada cara untuk mengetahui apakah seseorang sensitif terhadap sodium, maka setiap orang harus mengurangi asupan sodiumnya," kata Eva Obarzanek, PhD, ahli gizi penelitian di National Heart, Lung, dan Darah Institute.
Batasi penggunaan garam adalah 1.500 mg per hari. Sedangkan setengah sendok teh garam mengandung sekitar 1.200 mg sodium. Perhatikan juga kadar garam atau sodium dalam makanan olahan, sebab di situlah sebagian besar asal muasal sodium dalam makanan. Bumbui makanan dengan rempah-rempah, jamu, lemon, dan jangan ditambahi garam.
5. Makan cokelat hitam Coklat hitam mengandung flavanol yang membuat pembuluh darah menjadi lebih elastis. Dalam sebuah penelitian, 18% pasien yang makan cokelat hitam setiap hari mengalami penurunan tekanan darah. Ada baiknya memakan 1/2 ons cokelat hitam setiap hari-hari. Pastikan coklat hitam yang dimakan mengandung setidaknya 70% kakao.
6. Minum suplemen Dalam kajian dari 12 penelitian, para peneliti menemukan bahwa koenzim Q10 mengurangi tekanan darah hingga 10 mmHg sampai 17 mmHg. Antioksidan diperlukan untuk memproduksi energi dan melebarkan pembuluh darah. Konsultasikan dengan dokter tentang pemakaian suplemen 60 mg sampai 100 mg untuk 3 kali sehari.
7. Minum sedikit saja alkohol Menurut kajian dari 15 penelitian, semakin sedikit minum alkohol, semakin sedikit tekanan darah yang dapat diturunkan. Sebuah penelitian di rumah sakit Boston's Brigham and Women menemukan bahwa minum alkohol dalam taraf ringan, yaitu seperempat sampai setengah minuman per hari untuk wanita, dapat mengurangi tekanan darah lebih banyak daripada yang tidak minum setiap hari. Yang dimaksud satu minuman adalah 12 ons bir, atau 5 ons anggur atau 1,5 ons alkohol. Penelitian lain juga menemukan bahwa minum satu gelas sehari pada wanita dan dua gelas sehari untuk pria dapat menurunkan risiko penyakit jantung. "Dalam jumlah tinggi, alkohol jelas merugikan. Tapi konsumsi alkohol dalam taraf sedang adalah pelindung jantung, jika diminum dalam porsi yang cukup," kata Obarzanek.
8. Minum kopi tanpa kafein Para ilmuwan telah lama memperdebatkan efek kafein terhadap tekanan darah. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa kafein tidak mempengaruhi tekanan darah, tapi suatu penelitian dari Duke University Medical Center menemukan bahwa konsumsi kafein 500 mg atau sekitar tiga 8 ons cangkir kopi, dapat meningkatkan tekanan darah sebesar 4 mmHg. Efeknya berlangsung hingga menjelang tidur. "Kafein dapat meningkatkan tekanan darah dengan mengencangkan pembuluh darah dan mempembesar efek stres. Ketika sedang stres, jantung memompa darah lebih banyak dan meningkatkan tekanan darah. Dan kafein akan memperkuat efek itu," kata sang peneliti Jim Lane, PhD, profesor riset di Duke University. Lane kemudian merekomendasikan untuk mengganti kopi biasa dengan kopi tanpa kafein untuk melindungi jantung. Sebagai perbandingan, 8 ons kopi biasa mengandung 100 sampai 125 mg. Dalam jumlah yang sama, teh mengandung 50 mg kafein dan cola sekitar 40 mg kafein.
9. Minum teh herbal Dalam sebuah penelitian oleh Tufts University, peserta yang meminum 3 cangkir teh hibiscus setiap hari dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 7 poin dalam rata-rata 6 minggu. Hasil ini setara dengan obat resep. Peserta yang meminum minuman plasebo hanya mengalami penurunan tekanan darah sebesar satu poin. Bahan fitokimia dalam hibiscus atau kembang sepatu nampaknya dapat banyak mengurangi tekanan darah tinggi. Dalam teh herbal, banyak terkandung kembang sepatu. Lihatlah campuran bahan-bahan yang terkandung dalam produk teh, dan pilihlah produk yang banyak mengandung kembang sepatu dalam setiap porsinya.
10. Kurangi lembur Bekerja lebih dari 41 jam setiap minggu di kantor akan meningkatkan risiko hipertensi sebesar 15%, demikian menurut penelitian oleh University of California, Irvine terhadap 24.205 orang warga California. Sebabnya, kerja lembur membuat tubuh jarang berolahraga dan makan sehat. Usahakan menyelesaikan pekerjaan pada jam yang tepat sehingga dapat mengunjungi pusat kebugaran atau lebih sering memasak makanan sehat.
11. Bersantai dengan musik Untuk menurunkan tekanan darah, disamping dibantu oleh obat, juga bisa dibantu dengan merubah gaya hidup. Menurut para peneliti di University of Florence di Italia, lagu-lagu yang tepat dapat membantu menurunkan tekanan darah. Peneliti meminta 28 orang dewasa yang sudah mengggunakan pil hipertensi mendengarkan musik klasik, Celtic, atau musik India selama 30 menit setiap hari sambil bernapas perlahan-lahan. Setelah seminggu, para peserta rata-rata mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebesar 3,2 poin. Sebulan kemudian, angkanya turun sebanyak 4,4 poin.
12. Mengatasi ngorok saat tidur Dengkuran yang kencang adalah salah satu gejala utama sleep apnea obstruktif (OSA). Peneliti dari Universitas Alabama menemukan bahwa penderita apnea tidur banyak memiliki kadar aldosteron yang tinggi, hormon yang dapat meningkatkan tekanan darah. Bahkan, diperkirakan bahwa separuh dari semua orang yang mengalami sleep apnea memiliki tekanan darah tinggi. Penderita apnea tidur biasanya mengalami banyak gangguan tidur yang berpotensi mengganggu pernapasan dan mengancam nyawa saat tertidur. Selain mendengkur dengan keras, kelelahan yang berlebihan di siang hari dan sakit kepala pada pagi hari juga adalah pertanda apnea tidur. Jika memiliki tekanan darah tinggi, tanyakan kepada dokter apakah apnea tidurnya dapat disembuhkan. Mengobati apnea tidur dapat menurunkan kadar aldosteron dan memperbaiki tekanan darah tinggi.
13. Banyak makan kedelai Sebuah penelitian yang dimuat Journal of American Heart Association menemukan untuk pertama kalinya bahwa mengganti karbohidrat olahan dengan makanan kaya protein kedelai atau susu, seperti susu rendah lemak, dapat menurunkan tekanan darah sistolik penderita hipertensi atau prehipertensi. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Thu Feb 16, 2012 7:52 pm | |
| "SILENT STROKE", MENDENGKUR DAN "SLEEP APNEA" dr Andreas Prasadja, RPSGT * | Asep Candra | Kamis, 16 Februari 2012 | 17:08 WIB KOMPAS.com - Sleep apnea atau henti nafas saat tidur yang ditandai dengan dengkuran, telah lama dikenali sebagai salah satu faktor risiko terhadap stroke. Sebuah penelitian kecil yang dipresentasikan pada the American Stroke Association's International Stroke Conference 2012 memberikan pencerahan baru terhadap hubungan stroke dan mendengkur ini. Penelitian yang dilakukan di University of Dresden, Jerman tersebut menyatakan bahwa penderita sleep apnea berat berisiko lebih tinggi untuk terkena silent stroke atau lesi kecil di otak. Penelitian terkini menunjukkan bahwa 1 dari 10 pasien stroke juga mendengkur dan menderita sleep apnea. Lebih jauh lagi, sleep apnea ditemukan juga pada lebih dari setengah pasien dengan stroke ringan yang secara klinis tidak menunjukkan gejala apa-apa (silent stroke). Mengutip dr. Jessica Kepplinger, pemimpin penelitian ini; "Kita tahu bahwa sleep apnea merupakan salah satu faktor risiko dari stroke, tapi kami menemukan hasil yang amat mengejutkan. Sebanyak 91% pasien stroke akut ternyata mendengkur dan terdiagnosa dengan sleep apnea!"
Penelitian Penelitian di University of Dresden menyertakan 56 pasien stroke iskemik akut (stoke yang disebabkan penyumbatan pembuluh darah). Para pasien dilakukan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur. Penderita dengan indeks henti nafas (AHI) lebih dari 5 kali per jam dinyatakan positif menderita sleep apnea. Para peneliti juga menggunakan MRI dan CT scan untuk melihat sumbatan pada pembuluh darah penderita. Beberapa pasien yang mengalami sumbatan-sumbatan pada otaknya namun tidak mengeluhkan gejala apa pun digolongkan sebagai penderita silent stroke. Hasilnya, 51 (91%) pasien ternyata menderita sleep apnea. 29% terdiagnosa dengan sleep apnea berat, sementara 30% lagi termasuk sedang. Sementara 58% pasien silent stroke menderita sleep apnea berat. Disimpulkan juga oleh para peneliti bahwa semakin parah sleep apnea yang diderita akan semakin besar juga kemungkinan menderita silent stroke. Semakin parah derajat sleep apnea juga meningkatkan risiko tingkat keparahan cacat pasca stroke.
Kesimpulan Hasil penelitian ini seharusnya mengetuk kesadaran kita akan pentingnya kesehatan tidur khususnya masalah mendengkur. Di kalangan medis sendiri kepekaan akan sleep apnea sudah harus ditingkatkan hingga pemeriksaan penyaring dilakukan pada pasien stroke. Sementara kenyataan saat ini, tak banyak pasien stroke yang diperiksakan tidurnya. Padahal pemeriksaan mendasar sleep apnea amatlah mudah, tanyakan pada keluarga tentang kebiasaan mendengkur pasien. Para peneliti juga menyarankan pada kalangan medis agar memeriksakan dan merawat sleep apnea sama seperti faktor risiko stroke lainnya, misal tekanan darah tinggi.
dr Andreas Prasadja, RPSGT Praktisi Kesehatan Tidur, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Mon Feb 20, 2012 6:04 pm | |
| TRIGLISERIDA JUGA MEMICU STROKE Lusia Kus Anna | Senin, 20 Februari 2012 | 14:23 WIB Kompas.com - Kolesterol jahat selama ini lebih terkenal sebagai penyebab penyakit jantung. Namun tak banyak orang yang mengetahui bahwa trigliserida, atau lemak darah, berperan besar pada kejadian stroke. Beberapa pakar bahkan menyebutkan bahwa bacaan kadar trigliserida sangat penting untuk mengetahui risiko seseorang terkena serangan stroke dibandingkan bacaa kadar kolesterol jahat (LDL). Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 774 wanita berusia dewasa yang menderita stroke selama lebih dari 8 tahun. Mereka dibandingkan dengan perempuan yang berasal dari ras dan usia yang sama tetapi tidak terkena stroke. Secara umum, seperempat wanita itu memiliki kadar trigliserida yang tinggi dan 56 persennya terkena stroke dibandingkan dengan seperempat wanita yang kadar trigliseridanya rendah.
Memang hal itu tidak membuktikan bahwa trigliserida yang menyebabkan stroke, tetapi kaitannya muncul setelah para peneliti memperhitungkan faktor risiko stroke lainnya seperti tekanan darah tinggi dan diabetes. Selain itu American Heart Association (AHA) juga menyatakan bahwa nilai trigliserida yang tinggi sebagai faktor risiko stroke. Menurut AHA, kadar trigliserida 150-199 miligram perdesiliter (mg/dL) sebagai ambang batas atas dan trigliserida di atas 200 mg/dL sebagai tinggi. Beberapa faktor risiko lainnya adalah intermediate density lipoprotein (IDL) dan very low density liporterotein (VLDL) yang menunjukkan ukuran partikel lemak darah. Wanita yang memiliki partikel VLDL besar-besar cenderung lebih beresiko stroke. "Pengukuran tradisional seperti hanya menilai LDL saja kini sudah tidak cukup lagi untuk mengetahui risiko stroke," kata Dr.Jeffrey S.Berger, dari New York University Medical Center. Meski begitu ia menambahkan bahwa tidak semua orang perlu mengetahui kadar VLDL atau IDL, kendati ada juga dokter yang mulai mengeceknya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Tue Mar 06, 2012 5:58 am | |
| WASPADAI GEJALA AWAL STROKE SENIN, 5 MARET 2012, 07:36 WIBPipiet Tri Noorastuti VIVAnews - Banyak orang terlambat menyadari gangguan kesehatan tubuh. Mereka umumnya baru sadar setelah kondisi berada di tingkat parah, yang tak jarang berujung fatal. Stroke misalnya. Banyak yang mengabaikan gejala gangguan aliran darah menuju otak ini karena tanda-tanda awal yang muncul terkesan tak genting. Mereka berpikir rasa tak nyaman yang muncul akan hilang dengan sendiri tanpa penanganan khusus. Agar tak terjebak kondisi fatal, jangan abaikan gejala stroke yang mungkin terkesan sepele, seperti sering mati rasa atau kesemutan, penglihatan kabur, pada salah satu atau kedua mata, sering kehilangan keseimbangan secara mendadak ketika sedang berdiri atau berjalan, dan sering menderita sakit kepala mendadak tanpa diketahui penyebabnya. Gejala yang sepertinya ringan ini bila diabaikan bisa semakin berat. Segeralah ke dokter atau rumah sakit bila Anda mengalami gejala lebih berat, seperti:
- melemahnya kemampuan gerak secara mendadak di daerah wajah, tangan atau kaki, terutama jika terjadi hanya di satu sisi tubuh saja (kiri atau kanan).
- tiba-tiba jatuh kala sedang berjalan atau berdiri dan tidak dapat memutar tubuh karena kehilangan keseimbangan
- ingatan tiba-tiba terhapus membuat Anda tidak dapat mengerjakan aktivitas rutin seperti menggunakan pakaian dan berjalan ke suatu tempat di dalam rumah, karena lupa.
- Anda juga sulit menggerakkan anggota badan dan tidak dapat mengkoordinasikan gerak tubuh untuk melakukan hal sederhana, seperti menulis, mengetik, dan menekan nomor telepon.
- sering termenung dalam waktu cukup lama, dan suasana hati menjadi tidak stabil. Anda mudah marah secara tiba-tiba dan dalam waktu lama.
- pendengaran berkurang. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Wed May 16, 2012 1:19 pm | |
| CARA MEMINIMALKAN KERUSAKAN TUBUH SETELAH STROKE Selasa, 15/05/2012 19:02 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Kebanyakan kasus stroke adalah iskemik, artinya disebabkan oleh penggumpalan darah. Setelah terserang stroke, berbagai faktor seperti gula darah, suhu tubuh dan posisi tubuh di tempat tidur dapat mempengaruhi kondisi kesehatan. Dalam sebuah artikel yang dimuat jurnal MedLink Neurology, Murray Flaster, MD, PhD dan rekan-rekannya menyimpulkan penelitian terbarunya mengenai perawatan pasien stroke iskemik. Stroke merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak tiba-tiba terganggu. Kurangnya aliran darah menyebabkan kerusakan atau kematian sel-sel otak. "Periode setelah stroke iskemik akut adalah waktu yang sangat berisiko. Perhatian mengenai perawatan pasien stroke dapat mencegah cedera saraf dan meminimalkan komplikasi serta mengoptimalkan pemulihan," kata Flaster dari Loyola University Medical Center seperti dilansir Science Blog, Selasa (15/5/2012). Perawatan stroke memiliki 2 tujuan utama, yaitu meminimalkan cedera pada jaringan otak dan mengobati komplikasi yang dapat terjadi setelah stroke, baik kerusakan saraf maupun fisik. Setelah menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi pasien stroke, para peneliti menyarankan berbagai hal seperti berikut:
1. Mengontrol kadar gula darah Ada cukup bukti mengenai hubungan antara hiperglikemia atau kadar gula darah yang tinggi dengan kondisi kesehatan yang buruk setelah stroke. Para peneliti menyarankan untuk mengecek gula darah secara ketat dan melakukan pengobatan insulin secara agresif.
2. Melakukan pendinginan Untuk setiap kenaikan suhu tubuh sebesar 1 derajat Celcius, risiko kematian atau cacat berat pada pasien meningkat lebih dari 2 kali lipat. Terapi pendinginan mampu membantu pasien serangan jantung. Saat ini, uji klinis sedang dilakukan untuk menentukan apakah pendinginan juga bisa membantu pasien stroke.
3. Usahakan berbaring telentang Posisi di tempat tidur juga penting karena duduk tegak akan mengurangi aliran darah di otak. Praktek yang umum dilakukan adalah menjaga pasien untuk berbaring selama 24 jam. Jika pasien memiliki orthopnea atau kesulitan bernafas saat berbaring, bagian kepala pada tempat tidur harus diatur agar membuat sudut serendah mungkin yang dapat ditoleransi pasien.
4. Mengelola berbagai kondisi lain yang menyertai Stroke biasanya berkaitan dengan berbagai kondisi medis lain. Sebaiknya segera lakukan penanganan terhadap faktor-faktor lain seperti tekanan darah, volume darah, terapi statin, manajemen komplikasi lain seperti pneumonia dan sepsis, gangguan jantung, pembekuan darah, infeksi, kekurangan gizi, pembengkakan otak, kejang, stroke berulang dan perdarahan otak. Penelitian telah menunjukkan bahwa upaya perawatan stroke yang optimal dapat meningkatkan kemungkinan pasien menjalani rawat jalan di rumah dan meningkatkan kualitas hidup pasien. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Stroke and Anger Wed May 16, 2012 1:33 pm | |
| PENTINGNYA OLAHRAGA BILA PUNYA RIWAYAT HIPERTENSI Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 16 Mei 2012 | 10:51 WIB KOMPAS.com - Seseorang yang memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dalam keluarga umumnya berisiko lebih tinggi mengalami kondisi yang sama. Tapi riset terbaru menunjukkan, melakukan olahraga secara teratur dan menjaga fisik tetap bugar mampu menurunkan risiko risiko hipertensi secara signifikan. "Hasil studi ini mengirim pesan bahwa meskipun hanya melakukan latihan dengan intensitas moderat, misalnya jalan cepat selama 150 menit setiap minggu - dapat memberikan manfaat kesehatan yang sangat besar, khususnya pada orang yang berisiko hipertensi karena riwayat keluarga," kata peneliti dari University of South Carolina in Columbia, Robin Shook, dalam sebuah rilis American Heart Association (AHA). Dalam kajiannya, para peneliti mengamati sekitar 6.300 orang sehat berusia 20 sampai 80 tahun selama hampir lima tahun. Dari kelompok ini, sepertiga di antaranya memiliki setidaknya satu orangtua pengidap tekanan darah tinggi. Mereka ini memiliki risiko 34 persen lebih rendah terkena hipertensi ketimbang orang lain yang juga memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga tetapi tidak sehat secara fisik. Secara keseluruhan, lebih dari 1.500 peserta mengidap hipertensi selama penelitian. Tingginya tingkat aktivitas fisik dan kebugaran, berkaitan dengan risiko 42 persen lebih rendah mengalami hipertensi - terlepas dari faktor riwayat keluarga. Sedangkan mereka dengan tingkat aktivitas yang moderat memiliki risiko 26 persen lebih rendah.
Sebaliknya, menurut penelitian yang dipublikasikan pada 14 Mei 2012 dalam journal Hypertension ini, mereka dengan tingkat kebugaran yang rendah plus memiliki riwayat keluarga hipertensi memiliki risiko 70 persen lebih tinggi mengalami hipertensi. Tetapi di antara mereka yang sehat, meski memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi, peningkatan risiko hanya mencapai 16 persen. "Korelasi antara tingkat kebugaran, sejarah orangtua dan risiko tidak mungkin dapat diabaikan," kata Shook, seorang kandidat doktor di Arnold School of Public Health di University of South Carolina, Columbia. "Kesadaran ini dapat membantu dokter dan pasien karena mereka bekerja sama untuk menemukan cara yang efektif dan masuk akal untuk menghindari penyakit yang telah mempengaruhi anggota keluarga mereka, dalam beberapa kasus selama beberapa generasi," jelasnya. American Heart Association merekomendasikan, seseorang setidaknya harus melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang selama 30 menit, seperti jalan cepat, lima kali dalam seminggu. Peneliti mengatakan, mengingat sebagian besar peserta dalam penelitian ini adalah orang kulit putih, pria dengan latar pendidikan baik, dan memiliki pendapatan yang lebih baik, temuan baru ini mungkin tidak berlaku untuk semua orang. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |