Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Kesehatan Otak

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 13 ... 21, 22, 23
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Wed Oct 19, 2011 8:45 am

GANGGUAN PSIKOSOMATIK, MERASA SAKIT TAPI TERNYATA MASALAH JIWA
Senin, 17/10/2011 14:45 WIB Dr Andri SpKJ - detikHealth
Jakarta, Anthony eksekutif muda berusia 34 tahun itu sudah hampir satu tahun merasakan keluhan penyakit yang sering berpindah-pindah. Dia mengeluh merasa pegal-pegal, badannya terasa tidak enak, perut terasa penuh dan mual serta sering merasa seperti keluar keringat dingin. Anthony juga sering merasa dadanya sesak bila bernapas. Anthony bercerita bahwa ia pernah berobat di bagian penyakit dalam dan telah dilakukan beberapa tes bahkan sampai melakukan CT-Scan dan MRI namun dinyatakan hasilnya semua dalam batas normal. Anthony tentunya tidak percaya hal tersebut karena dia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Teman-temannya mengatakan mungkin dia stres dengan pekerjaan, tapi Anthony selalu menyangkal hal itu. Oleh sejawat dokter ahli penyakit dalam, Anthony disarankan untuk datang ke psikiater khususnya yang bergerak di bidang psikosomatik karena mungkin ada problem psikis yang melatarbelakangi keluhannya. Anthony sempat kesal karena saran itu, dia berkata, "Memangnya saya gila Dok?!". Hal itu dikarenakan dia merasa kehidupannya baik-baik saja. Bilapun ada masalah, Anthony memang cenderung lebih menyimpannya sendiri dan tidak pernah membicarakan dengan orang lain bahkan dengan istrinya sekalipun. "Saya memang biasa menyimpan apapun kekesalan dan kemarahan saya sendiri," ujarnya kepada dokter penyakit dalamnya.

Keluhan Psikosomatik
Kasus seperti di atas sebenarnya sering ditemukan di praktek dokter umum dan spesialis. Pasien dengan keluhan fisik yang sangat banyak dan sering berganti-ganti setiap minggunya, biasanya datang pertama kali ke tempat praktek dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam. Dokter biasanya akan memeriksa fisik pasien dengan keluhan seperti ini dan menyarankan beberapa tes penunjang. Tapi hampir tidak pernah ditemukan kelainan fisik yang mendasari keluhannya. Begitu juga dengan hasil tes penunjang seperti laboratorium, radiologi (rontgen, CT-Scan atau MRI) atau bahkan sampai endoskopi, tidak ditemukan kelainan pada pasien. Bila sudah begini biasanya dokter umum atau spesialis lain akan merujuk pasien dengan keluhan seperti ini untuk datang ke psikiater supaya dapat dilakukan evaluasi lebih lanjut. Namun tentunya tidak mudah meminta pasien untuk menuruti saran ini. Beberapa di antaranya malah merasa bahwa dokternya tidak mampu mengobati dirinya. Selanjutnya pasien akan mencari dokter lain untuk mencoba mengobati 'penyakitnya' ini. Tidak heran pasien biasanya memiliki rekam medik yang sangat tebal dan mempunyai beberapa dokter sekaligus.

Gangguan Kejiwaan
Dalam bidang kesehatan jiwa, gangguan psikosomatik sebenarnya termasuk dalam bagian gangguan somatoform. Gangguan ini ditandai dengan adanya suatu keluhan fisik yang berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun sudah berkali-kali dilakukan dan hasilnya normal. Setidaknya pun ada gangguan fisik maka gangguan tersebut berbeda atau tidak dapat menjelaskan keluhan yang dikemukakan pasien. Jelasnya gangguan psikomatik adalah gangguan fisik yang diakibatkan masalah-masalah kejiwaan. Biasanya gejala ini ada hubungannya dengan konflik dan perkembangan psikologis dari pasien, namun pasien biasanya menolak gagasan adanya hubungan antara penyakit yang diderita dengan problem atau konflik kehidupannya. Bahkan bila ditemukan adanya tanda depresi atau kecemasan pada pasien, pasien tetap menolak adanya hubungan tersebut. Gangguan ini juga sering ditimbulkan pada pasien dengan gangguan kecemasan yang sangat seperti pada gangguan panik. Gejala jantung berdebar sangat sering dikeluhkan oleh pasien gangguan panik. Selain itu juga sering mengalami sesak napas. Kondisi ini juga meresahkan pasien karena ketika diperiksa ternyata tdak terdapat kelainan dalam organ tubuh pasien.

Apa Yang Harus Dilakukan ?
Pasien atau keluarga pasien yang mengalami hal ini dapat segera datang untuk bertemu dengan psikiater. Penjelasan tentang bagaimana mekanisme stres berpengaruh ke fungsi tubuh akan membantu pasien dalam memahami gangguan Psikosomatik yang dideritanya saat ini. Walaupun dalam pemeriksaan klinis dan penunjang tidak didapatkan keluhan, pasien dengan keluhan ini mengalami suatu disfungsi di sistem saraf pusat terutama di sistem saraf otonom dan jaras hipotalamus pituitary adrenal (HPA Axis). Kondisi ini telah diteliti oleh ilmuwan di Amerika Serikat dan memang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan secara umum. Pengobatan dengan pendekatan psikoterapi dan penggunaan obat dengan dosis yang tepat dan dalam jangka waktu tertentu akan membantu pasien menghadapi keadaan gangguan Psikosomatiknya dan akhirnya dapat berfungsi secara baik kembali.

Penulis
Dr. Andri, SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Anggota The American Psychosomatic Society and The Academy of Psychosomatic Medicine
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, Tangerang


KENAPA SAYA SELALU TAKUT MENDERITA SAKIT BERAT?
Asep Candra | Jumat, 23 Desember 2011 | 10:14 WIB
TANYA :
Dok kenapa saya selalu merasa bahwa diri saya menderita penyakit berat? Sehingga hampir tiap minggu saya pergi ke dokter. Tak kurang dari 10 dokter saya datangi baik dokter umum maupun spesialis. Saya juga beberapa kali melakukan tes darah, rontgen dan EKG hasil normal tapi saya tetap merasa tubuh saya sakit. Pertama, saya pernah merasa terkena serangan jantung, tapi setelah EKG penyakit itu hilang. Saya juga pernah merasa menderita kanker hati karena selalu lemas, tapi setelah USG keluhan itu tidak muncul lagi, dan sekarang saya merasa mempunyai kanker otak karena saya selalu merasakan sakit kepala dan kesemutan. Tetapi untuk keluhan yang satu ini saya belum melakukan pemeriksaan CT scan meski keluhannya sering timbul. Semua keluhan didasari oleh seringnya saya melakukan browsing di internet tentang penyakit, sehingga merasa bahwa saya menderita penyakit tersebut. Akibatnya, saya jadi menderita dan semangatpun menjadi hilang. Apa yang sebenarnya saya alami Dok?
(Andi, 30, Cianjur)


JAWAB :
Yth Bapak Andi
Ketakutan akan menderita suatu penyakit berat walaupun dalam pemeriksaan fisik diagnostik tidak ditemukan kelainan apapun mungkin bisa mengarah pada suatu kondisi gangguan jiwa yang disebut Somatisasi atau Hipokondriasis. Keduanya mempunyai ciri khas. Pasien yang mengalami Somatisasi biasanya mengeluhkan keluhan nyeri yang berpindah-pindah, namun biasanya mengenai sistem pencernaan, seperti nyeri lambung, perih atau gangguan maag lain. Pasien ini juga sering mengalami gangguan nyeri otot, nyeri tulang belakang ataupun nyeri leher belakang. Sering juga didampingi oleh keluhan-keluhan seperti kesemutan, rasa baal atau gemetaran. Walaupun sudah diperiksa secara obyektif dan tidak ditemukan penyebabnya, pasien seperti ini tetap merasakan keluhannya. Pasien dengan Hipokondriasis biasanya hanya mengeluhkan keluhan yang itu-itu saja, biasanya mengenai suatu penyakit berat tertentu yang sangat yakin diindap olehnya. Bahkan dalam laporan-laporan kasus, ada yang sampai meniatkan diri untuk melakukan upaya pembedahan demi mengetahui "penyakitnya". Dalam penelitian klinis di praktek, saya pernah melakukan penelitian kecil kepada pasien yang datang ke Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, hasilnya pasien yang datang dengan keluhan fisik (psikosomatik) kebanyakan didasari oleh Gangguan Kecemasan dan yang paling banyak adalah Gangguan Kecemasan Panik.

Wajar sekali karena keluhan serangan panik yang dialami pasien ini biasanya mengenai gejala fisik akibat sistem saraf otonom dan aksis hipotalamus pituitary (HPA-Aksis) yang bekerja berlebihan di otak orang tersebut. Apa yang dialami bapak juga sepertinya demikian. Kecemasan yang dialami sudah mengubah mekanisme neurokimiawi di otak sehingga menimbulkan gejala-gejala fisik yang diduga mirip dengan keluhan-keluhan penyakit berat seeprti jantung, stroke, dan kanker. Ini terbukti jika bapak melakukan pemeriksaan penunjang yang menyingkirkan diagnosis penyakit berat yang diduga bapak, bapak kemudian sembuh. Saya rasa yang paling penting dilakukan adalah bapak harus berkunjung ke Psikiater yang dapat menerangkan bapak tentang mekanisme yang terjadi di otak bapak sehingga bapak mengalami hal tersebut. Pengetahuan yang cukup baik pada diri pasien dan hubungan dokter-pasien yang kuat akan mampu mengurangi kekhawatiran bapak yang berlebihan terhadap penyakit. Pengobatan dengan obat dibutuhkan untuk memperbaiki mekanisme sistem neurokimiawi otak yang sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga bapak mengalami hal itu.
Semoga berguna. Salam Sehat Jiwa !


Last edited by gitahafas on Sun Dec 25, 2011 4:32 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Wed Oct 26, 2011 10:57 am

HEMATOMA INTRACRANIAL, PECAHNYA PEMBULUH DARAH DALAM OTAK
Rabu, 26/10/2011 08:18 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth
Hematoma intrakanial adalah pecahnya pembuluh darah di dalam otak atau di antara tengkorak dan otak. Akumulasi darah (hematoma) dapat menempati jaringan otak. Hematoma intrakranial dapat terjadi karena ketidakmampuan cairan yang mengelilingi otak untuk menyerap kekuatan pukulan atau benturan yang tiba-tiba. Pada kasus benturan yang terlalu kuat, otak dapat bergeser secara paksa pada dinding bagian dalam tengkorak, sehingga menjadi memar. Hematoma intrakranial adalah kondisi serius dan mungkin mengancam nyawa yang biasanya memerlukan pengobatan yang tepat sesegera mungkin, meskipun cedera pada kepala tampak ringan. Biasanya, operasi diperlukan untuk mengobati hematoma intrakranial yang bertujuan untuk mengambil akumulasi darah pada jaringan otak. Namun, tidak perlu dilakukan operasi pada hematoma intrakranial dengan ukuran kecil.

Penyebab
Cedera kepala adalah alasan utama di balik terjadinya perdarahan intrakranial (hemorrhage) yang biasanya disebabkan oleh kecelakaan mobil atau sepeda motor atau peristiwa yang tampaknya sepele seperti terbenturnya kepala. Ada kemungkinan lebih besar untuk trauma kepala ringan yang mungkin dapat mengakibatkan hematoma ketika salah seorang lansia, terutama mereka yang mengonsumsi obat antikoagulan atau anti trombosit, seperti aspirin. Cedera serius dapat terjadi bahkan jika tidak ada tanda-tanda luka atau memar yang terlihat. Dalam kasus cedera kepala yang dapat menyebabkan hematoma, kemungkinan merupakan subdural, epidural, atau intraparenchymal hematoma.

Gejala
Tanda dan gejala hematoma intrakranial dapat terjadi baik segera atau sampai beberapa minggu atau lebih setelah terjadi benturan kepala. Tekanan pada otak dapat meningkat dari waktu ke waktu, dan menghasilkan beberapa atau semua gejala berikut ini:

1. Muntah
2. Perubahan ukuran pupil
3. Meningkatnya sakit kepala
4. Peningkatan tekanan darah
5. Mengantuk dan kehilangan kesadaran progresif
6. Pusing
7. Kebingungan
8. Kelemahan pada anggota badan pada satu sisi tubuh

Tanda dan gejala berikut ini juga mungkin dapat terjadi pada kasus terakumulasinya darah yang lebih banyak pada otak:
1. Kejang
2. Pingsan
3. Kelesuan

Pengobatan
Beberapa hematoma subdural tidak perlu diambil karena cukup kecil dan tidak menyebabkan munculnya tanda atau gejala. Obat diuretik juga dapat membantu mengontrol pembengkakan otak (edema) setelah cedera kepala.

Operasi
Pengobatan hematoma seringkali membutuhkan operasi. Jenis operasi dapat ditentukan tergantung pada karakteristik hematoma. Pilihan tindakan bedah dapat meliputi:

1. Kraniotomi
Pada kasus hematoma besar mungkin perlu dilakukan pembukaan bagian tengkorak (kraniotomi) untuk menghilangkan darah.

2. Drainase bedah
Jika darah terlokalisir dan tidak terjadi pembekuan yang cukup, dokter mungkin akan membuat lubang melalui tengkorak dan kemudian mengambil cairan dengan pengisapan.

Pemulihan
Obat antikonvulsan seperti fenitoin (Dilantin) dapat diresepkan setelah operasi, untuk mengelola atau menghindari terjadinya kejang pasca trauma. Obat-obatan ini akan terus dikonsumsi selama setahun setelah trauma. Kecemasan, kesulitan perhatian, masalah tidur, sakit kepala, dan amnesia mungkin dapat terjadi dan sembuh untuk beberapa waktu. Masa pemulihan dapat berkepanjangan dan mungkin tidak dapat pulih secara total. Pemulihan yang paling mungkin terjadi pada orang dewasa setelah cedera yaitu dalam 6 bulan pertama. Anak-anak sering pulih lebih cepat dan lebih baik daripada orang dewasa.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Mon Nov 14, 2011 9:33 am

METODE BARU BICARA DENGAN PASIEN 'KOMA'
SENIN, 14 NOVEMBER 2011, 08:50 WIB Pipiet Tri Noorastuti
VIVAnews - Sebuah penelitian di Inggris merancang sebuah metode yang dapat membaca aktivitas otak pasien yang sedang dalam kondisi vegetatif, tidak bisa bergerak atau lumpuh namun sepenuhnya sadar. Temuan ini menjadi harapan bagi keluarga pasien untuk bisa menjalin komunikasi. Dengan metode itu, sejumlah pasien koma mampu memahami apa yang dikatakan kepadanya dan mengikuti perintah dengan menciptakan pikiran-pikiran tertentu. Penelitian dilakukan terhadap 16 pasien di Rumah Sakit Addenbrooke, Cambridge, dan Rumah Sakit Universitas Liege, Belgia, seperti dikutip Telegraph. Dalam penelitian itu, peneliti meminta para pasien membayangkan gerakan tangan kanan dan jari kaki. Dalam waktu bersamaan, peneliti juga meminta 12 relawan melakukan hal serupa. Setelah percobaan tersebut, peneliti kemudian melakukan pemindaian dengan mesin electroencephalography (EEG), untuk mengukur aktivitas neuron di otak. Hasilnya, otak pasien menunjukkan reaksi yang sama dengan relawan sehat ketika diajak berbicara. Secara spesifik, mereka juga mengaktifkan bagian otak tertentu sesuai perintah. Misalnya, saat diminta menggerakkan tangan dan jari, bagian otak yang mengatur gerak motorik mendadak aktif, meskipun tak ada gerakan tangan dan kaki. Begitu pula ketika diminta membayangkan berjalan, bagian otak yang mengatur ruang gerak menjadi aktif. Profesor Adrian Owen dari Medical Research Council Cognition and Brain Sciences Unit melakukan penelitian tersebut bersama tujuh peneliti lainnya dari Inggris, Belgia, dan Kanada. "Temuan kami menunjukkan bahwa metode EEG dapat mengidentifikasi kesadaran 'rahasia' pasien koma dengan tingkat akurasi sama dengan metode yang lebih mahal," katanya. Owen berharap bahwa metode tersebut dapat dikembangkan untuk terciptanya komunikasi dua arah dengan pasien koma. Misalnya, jika pasien ingin menjawab tidak, minta pasien membayangkan gerak motorik. "Dengan bentuk citra-citra kejiwaan, metode ini memungkinkan keluarga dan pasien berbagi informasi, pengalaman, dan kebutuhan, melalui dunia batin." (umi)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Fri Nov 18, 2011 4:53 pm

TANDA TANDA ALAMI KECEMASAN BERLEBIHAN
Asep Candra | Jumat, 18 November 2011 | 10:40 WIB
TANYA :
Dok, apakah keluhan fisik yang saya rasakan adalah tanda-tanda seseorang yang mengalami kecemasan yang berlebihan? Terus terang saya mempunyai keluhan seperti sakit kepala, lemas, sakit otot (pegal), pusing, mual, dan perasaan takut mati. Saya juga mengalami ketakutan mengidap penyakit seperti jantung dan penyakit keganasan lain, sehingga saya suka menduga duga kalau saya terkena penyakit jantung atau kanker. Akibatnya, saya sungguh tidak bergairah dalam menjalani hidup apalagi untuk bekerja. Mohon solusinya Dok. (Sandi, 30, Sukabumi)

JAWAB :
Kang Sandi yang baik,
Kondisi keluhan fisik memang sering sekali dapat disebabkan karena kecemasan dalam diri seseorang yang sangat besar. Inilah mengapa ada sebutan keluhan-keluhan psikosomatik, yaitu keluhan somatik (fisik) yang disebabkan karena faktor psikologis. Hal ini disebabkan karena ketika otak mengalami stres atau tekanan psikologis, otak akan memicu sistem di hipotalamus, suatu bagian pengatur di otak untuk mengaktifkan sistem neurotransmitter, sistem saraf otonom dan sistem saraf endokrin. Keterlibatan faktor-faktor inilah yang membuat kondisi tekanan psikologis bisa menghasilkan suatu kondisi fisik yang berupa keluhan-keluhan psikosomatik. Bila dilihat dari gejala "takut mati" yang mungkin juga berbarengan dengan gejala-gejala kecemasan yang lain, mungkin saja kang sandi mengalami gangguan cemas panik yang salah satu gejala khas-nya jika terjadi serangan adalah ketakutan akan kematian. Kondisi keluhan-keluhan fisik inilah yang kemudian membuat pasien gangguan cemas sering berpikir buruk tentang diri dan kesehatannya. Mereka seringkali mencocok-cocokan gejala keluhan psikosomatiknya dengan penyakit yang lebih berat seperti jantung, kanker dll. Untuk mengatasi kecemasannya ini, seringkali pasien gangguan cemas memeriksakan diri ke banyak dokter dan melakukan pemeriksaan yang sangat lengkap walaupun akhirnya hasinya tidak ditemukan adanya masalah dalam fisik pasien. Kondisi ini yang mengurangi kualitas hidup orang tersebut dan menghabiskan biaya yang tidak perlu. Ada baiknya jika kang Sandi berkonsultasi ke psikiater jika memang dalam pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya suatu kondisi obyektif yang mendasari keluhan-keluhan kang Sandi. Pesan saya yang lain juga adalah kang Sandi berusaha untuk menghentikan kebiasaan mencari-cari informasi penyakit di website-website internet yang sekiranya mirip dengan keluhan psikosomatik yang dialami karena itu bisa menambah beban psikologis dan akhirnya menjadi lingkaran setan yang sulit putus. Saya selalu berpesan demikian pada pasien-pasien keluhan psikosomatik karena ini sering kali menjadi kendala dalam penyembuhan. Semoga berguna.

Salam Sehat Jiwa !
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Wed Dec 14, 2011 1:44 pm

PENYEBAB PENYEBAB ORANG PINGSAN MENDADAK
Rabu, 14/12/2011 12:08 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Pada saat yang tidak terduga kadang seseorang mengalami pingsan secara mendadak, kondisi ini tentu bisa membuat panik. Sebenarnya apa saja yang bisa membuat orang pingsan mendadak? Pingsan adalah kondisi tubuh yang tiba-tiba kehilangan kesadaran karena kurangnya aliran darah ke otak. Biasanya pingsan terjadi ketika seseorang mengalami kelemahan dan diikuti dengan hilangnya kesadaran. Sebagian besar pingsan dipicu oleh saraf vagus, yakni saraf yang menghubungkan sistem pencernaan ke otak dan mengelola aliran darah ke usus. Saat makanan masuk, saraf vagus akan mengarahkan darah ke perut dan usus serta menariknya dari jaringan tubuh lain termasuk otak. Sayangnya, saraf vagus kadang terlalu bersemangat sehingga menarik terlalu banyak darah ke otak yang bisa membuat tekanan darah turun akibat efek saraf vagus ini dan memicu pingsan. Beberapa hal diketahui bisa menjadi penyebab seseorang pingsan mendadak, seperti dikutip dari About.com, Rabu (14/12/2011) yaitu:

1. Dehidrasi
Kurang minum membuat air dalam aliran darah menjadi sedikit yang membuat tekanan darah menurun serta merangsang saraf vagus ketika kadarnya sudah rendah yang menyebabkan tubuh pusing dan pingsan. Berbagai hal bisa menjadi penyebab dehidrasi seperti muntah, diare, luka bakar, kelelahan dan udara panas.

2. Pemicu psikologis
Kecemasan, gangguan panik, stres atau efek psikologis ketika melihat darah bisa merangsang saraf vagus yang pada beberapa orang bisa mengakibatkan hilangnya kesadaran.

3. Shock
Schok adalah suatu kondisi yang ditandai dengan tekanan darah rendah yang sering menyebabkan hilangnya kesadaran. Korban shcok kemungkinan besar mengalami kebingungan yang bisa memburuk jadi pingsan. Kondisi ini bisa terjadi akibat perdarahan, alergi parah atau infeksi.

4. Alkohol
Banyak orang kehilangan kesadaran akibat alkohol. Selain efek sedatif (menenangkan), alkohol juga membuat orang sering buang air kecil yang memicu dehidrasi serta melebarkan pembuluh darah yang dapat menurunkan tekanan darah.

5. Obat
Beberapa obat bisa memicu seseorang pingsan seperti obat nitrat (menurunkan tekanan darah dengan cepat), stimulan (menaikkan suhu tubuh) serta opiat (menurunkan tekanan darah dan memperlambat pernapasan).

6. Gangguan detak jantung
Jantung berfungsi memompa darah melalui pembuluh darah serta arteri dan dibutuhkan tekanan tertentu untuk mempertahankan aliran darah. Jika jantung berdetak terlalu cepat atau lambat membuat tekanan darah tidak terjaga dengan baik sehingga aliran darah ke otak terganggu dan menyebabkan pingsan. Denyut jantung terlalu cepat jika lebih dari 150 denyut per menit dan terlalu lambat jika kurang dari 50 denyut per menit.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Sun Feb 12, 2012 1:17 pm

GANGGUAN JIWA MASIH DIABAIKAN
Lusia Kus Anna | Sabtu, 11 Februari 2012 | 07:36 WIB
Jakarta, Kompas - Tekanan pembangunan dan kurangnya kemampuan beradaptasi membuat jumlah penderita gangguan mental emosional terus membesar. Namun, perhatian pemerintah dan kepedulian masyarakat masih rendah. Padahal, kerugian akibat gangguan mental sangat besar. Riset Kesehatan Dasar 2007 menyebutkan, prevalensi gangguan mental emosional berupa depresi dan cemas pada masyarakat berumur di atas 15 tahun mencapai 11,6 persen. Jika jumlah penduduk pada kelompok umur tersebut tahun 2010 ada 169 juta jiwa, jumlah penderita gangguan jiwa 19,6 juta orang. ”Ini menunjukkan masyarakat hidup dalam emosi dan kondisi kejiwaan bermasalah. Jumlah ini cukup moderat. Jika diperluas gangguan kejiwaan pada anak dan remaja, jumlahnya bisa lebih besar lagi,” kata Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan, Irmansyah, di Jakarta, Jumat (10/2). Prevalensi gangguan jiwa tertinggi ada di Jawa Barat sebesar 20 persen. Semakin bertambah umur, jumlah penderita gangguan mental makin besar. Gangguan jiwa lebih banyak dialami mereka yang berpendidikan rendah, yaitu yang tidak tamat sekolah dasar.

Hal senada dikemukakan Kepala Pusat Kesehatan Mental Masyarakat Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Rahmat Hidayat. Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia sama dengan prevalensi penderita gangguan jiwa di negara lain. Penyebab depresi dan cemas yang dialami masyarakat sangat kompleks, mulai dari persoalan sosial ekonomi hingga kebijakan pemerintah yang menekan rakyat. Tekanan itu di antaranya berupa sulitnya mencari penghasilan memadai, kehidupan kota yang kian sumpek akibat terbatasnya ruang publik, perubahan drastis nilai-nilai kehidupan di pedesaan, atau masuknya nilai- nilai baru yang memengaruhi keluarga. Selain itu, kebijakan perburuhan pemerintah yang menggaji rendah buruh serta kebijakan pendidikan yang menekan siswa dan orangtua turut menekan warga. Irmansyah menambahkan, kerugian ekonomi akibat gangguan jiwa mencapai Rp 20 triliun. Kerugian berupa hilangnya produktivitas seseorang serta beban ekonomi dan biaya kesehatan yang harus ditanggung keluarga dan negara. Apalagi, proses pengobatan penderita gangguan jiwa bisa berlangsung seumur hidup.

Fasilitas terbatas
Meski penderita dan nilai kerugiannya besar, fasilitas dan tenaga kesehatan jiwa di Indonesia masih sangat terbatas. Saat ini hanya ada 32 rumah sakit jiwa milik pemerintah dan 16 rumah sakit jiwa swasta. Belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Dari 1.678 rumah sakit umum yang terdata, hanya sekitar 2 persen yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Hanya 15 rumah sakit dari 441 rumah sakit umum daerah milik pemerintah kabupaten/kota yang memiliki layanan psikiatri. Kondisi sama terjadi pada puskesmas, hanya 1.235 puskesmas yang memberikan layanan kesehatan jiwa dari sekitar 9.000 puskesmas.

Jumlah tenaga kesehatan jiwa sangat terbatas. Jumlah psikiater atau dokter spesialis kesehatan jiwa hanya ada 616 orang. Sekitar 200 psikiater berada di Jakarta dan sekitarnya. Jumlah psikolog klinis di Indonesia sangat rendah, sekitar 400 orang. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Tun Kurniasih Bastaman mengatakan, gangguan kejiwaan terkait erat dengan kehidupan sehari-hari. Persoalan ini dapat muncul dari gangguan kepribadian, mulai dari selalu curiga dengan sekitarnya, selalu ingin menarik perhatian orang lain, narsistik, hingga kecenderungan untuk melanggar norma- norma yang ada (antisosial). Hubungan suami-istri, orangtua-anak, atasan-bawahan, dan antarteman juga bisa menjadi pemicu gangguan kepribadian. ”Kepribadian yang sehat adalah yang mampu mengenal diri, mampu menerima orang lain apa adanya, mampu berempati, bisa menyayangi orang lain, mampu mengendalikan diri, produktif, dan luwes,” katanya.

Dampak dari sebuah tekanan yang memicu gangguan mental bisa berbeda pada setiap orang. Ini sangat bergantung kepada ketahanan masing-masing individu menghadapi guncangan jiwa. Beberapa gejala gangguan jiwa antara lain gangguan tidur, mudah terkejut, cemas berlebihan, sulit berkonsentrasi, sering berdebar-debar, serta gangguan fisik, seperti diare dan sakit perut. Tidak semua orang yang memiliki gejala-gejala tersebut bisa langsung dikatakan memiliki gangguan jiwa. ”Jika gejala yang muncul terjadi terus-menerus dan menimbulkan gangguan pada penderita dan orang di sekitarnya, itu baru bisa disebut gangguan jiwa,” kata Tun. Untuk pemulihan, sebenarnya manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Jika tidak berhasil, masyarakat tidak perlu ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater karena mereka dapat membantu mengatasi gangguan jiwa ringan hingga berat. (MZW)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Sun Feb 12, 2012 1:21 pm

MAKIN SEHAT DENGAN JATUH CINTA
MINGGU, 12 FEBRUARI 2012, 07:26 WIB Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews- Jatuh cinta kata kebanyakan orang berjuta rasanya. Bahkan sebuah penelitian mengungkap manfaat jatuh cinta dari segi kesehatan. Seperti dikutip laman Idiva, emosi yang murni dan tulus bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Namun perlu diingat, manfaatnya hanya bisa dirasakan jika seseorang berada dalam suatu hubungan yang stabil dan nyaman. Berikut manfaat kesehatan yang bisa Anda rasakan saat sedang jatuh cinta:

Lebih bahagia
"Berada dalam hubungan yang romantis memungkinkan tubuh Anda melepaskan lebih banyak hormon bahagia. Hormon ini menimbulkan perasaan lebih bahagia. Anda juga mampu meredam amarah." "Anda berada dalam suasana hati yang besar dan seluruh orang yang berada di dekat Anda akan merasakan aura positif," kata psikolog asal Mumbai, H'vovi Bhagwagar.

Meningkatkan Kekebalan
Jatuh cinta bisa meningkatkan kekebalan tubuh Anda. "Anda lebih tenang dan selalu berpikir positif. Hal ini mengurangi risiko terserang pilek dan batuk," kata H'vovi. Dan sebaliknya, merasa depresi atau sedih membuat Anda rentan terhadap serangan dari virus pilek dan flu. Hal ini juga berisiko menyebabkan masalah gangguan perut.

Mengurangi sakit dan nyeri
"Berada dalam hubungan yang stabil, memberikan Anda kenyamanan. Perasaan ini membantu Anda mengatasi rasa sakit," kata dokter Dhwanika Kapadia. Saat sedang jatuh cinta, cenderung pasangan Anda selalu memberi motivasi untuk membantu Anda bisa keluar dari sakit yang Anda rasakan.

Meningkatkan konsentrasi
Pasangan yang penuh kasih dan selalu menunjukkan kepeduliannya memungkinkan Anda lebih bersemangat mengerjakan tugas-tugas saat berada di tempat kerja. "Pikiran Anda tidak sibuk mengkhawatirkan keluarga atau bagaimana pasangan Anda merasa tentang Anda," kata H'vovi. Hal ini memungkinkan Anda berkonsentrasi pada pekerjaan Anda dan dengan demikian meningkatkan kinerja Anda. "Ketika Anda puas, Anda merasa lebih baik, lebih kreatif juga," kata H'vovi.

Siklus haid lebih teratur
Siklus menstruasi wanita tergantung pada berbagai hal, seperti kesehatan dan gizi. Stres merupakan faktor penting juga. "Wanita dalam hubungan jangka panjang yang stabil cenderung tidak merasa tertekan. Oleh karena itu memiliki perasaan jatuh cinta juga bisa mempengaruhi gejala PMS wanita," kata H'vovi.

Terhindar dari stres
Wanita yang sudah menikah atau mereka yang telah memiliki kekasih, kemungkinan merasa cemas atau memiliki masalah sepele sangat sedikit. Mereka tahu bahwa mereka memiliki pasangan yang saling memahami satu sama lain dan merasa saling memiliki. "Rasa memiliki menjadi sistem pendukung, membantu Anda menangani masalah dengan mudah," kata Dhwanika. Hal ini membuat stres berkurang dan risiko tekanan darah tinggi juga rendah, termasuk ketegangan dan migren. (umi)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Mon Feb 13, 2012 7:45 pm

BUTUH BERAPA LAMA BEROBAT KE PSIKIATER ?
Dr Andri,SpKJ | Asep Candra | Senin, 13 Februari 2012 | 10:28 WIB
Kompas.com - Seringkali saya mendapatkan pertanyaan pasien maupun pertanyaan yang dikirimkan via email atau twitter tentang lamanya pengobatan pasien gangguan jiwa. Kebanyakan mengeluhkan betapa lamanya berobat ke psikiater. Lain lagi, banyak juga yang mengatakan mengapa walaupun sudah berobat kondisinya tidak sembuh secara sempurna. Sempurna dalam artian sama sekali tidak mengalami kondisi yang dialami saat ini. Pada tulisan ini, saya berusaha menjawab apa yang menjadi pertanyaan banyak orang berkaitan berapa lama berobat ke psikiater.

Seumur Hidup?
Ada pasien yang pernah bertanya lewat email apakah obat-obatan yang dipakai pada pengobatan pasien psikiatri harus dipakai seumur hidup? Tentu jawaban ini sangat tergantung jenis penyakitnya dan sudah berapa lama ia menderita penyakit tersebut sebelum meminta pertolongan ke dokter. Kita tahu ada beberapa gangguan kejiwaan yang bersifat kronik dan mudah kambuh. Beberapa yang paling sering adalah skizofrenia, bipolar dan depresi. Skizofrenia pada episode pertama kali mengalami gangguan jiwa biasanya memerlukan pengobatan minimal satu tahun. Hal ini untuk mencegah berulangnya kembali penyakit ini. Sayangnya, kebanyakan pasien skizofrenia tidak langsung mendapatkan pengobatan yang sesuai saat pertama kali mengalami sakit ini. Banyak pasien yang sebelumnya melakukan terapi alternatif terlebih dahulu. Lamanya mendapatkan pertolongan pada pasien skizofrenia berhubungan dengan baik dan buruknya harapan kesembuhan pada pasien ini. Pada beberapa kasus pasien dengan gangguan skizofrenia sering kali kambuh karena sering menghentikan pengobatan. Hal ini disebabkan karena pasien sering merasa tidak sakit dan akhirnya tidak mau berobat. Inilah salah satu kendala terbesar berhadapan dengan pasien skizofrenia, ketiadaan kesadaran bahwa dirinya sakit akan membuat terkadang pengobatan menjadi sangat sulit dilakukan. Peran keluarga terkadang sangat diperlukan agar pasien patuh makan obat sesuai aturan. Pada beberapa kasus skizofrenia yang sudah kambuhan, pengobatan seumur hidup adalah pilihan yang paling disarankan. Hal ini tentunya dengan dasar pemikiran semakin sering kambuh, pasien akan semakin kurang baik kondisinya dan harapan mencapai kualitas hidup yang baik akan semakin berkurang. Pilihan pengobatan seumur hidup tentunya dengan memperhatikan kondisi pasien. Banyak pasien yang bisa kembali mencapai kualitas hidupnya yang baik dengan memakan obat. Hal ini tidak beda dengan pasien penyakit darah tinggi, diabetes atau jantung yang perlu makan obat seumur hidup.

Bisa sembuh
Beberapa kasus gangguan kejiwaan seperti depresi dan gangguan kecemasan harapan sembuhnya tinggi. Walaupun pada depresi keberulangan sakitnya cukup besar yaitu sekitar 50 persen, tetapi kondisi optimal pasien dapat diraih dalam waktu pengobatan yang terencana baik. Kalau melihat pada literatur dari luar negeri, maka kebanyakan mengatakan minimal setidaknya pasien depresi makan obat antidepresan selama 12 bulan sampai 18 bulan. Hal ini untuk mencegah terjadinya keberulangan. Pada prakteknya, pasien gangguan depresi dan cemas dapat mencapai perbaikan dalam bulan-bulan awal pengobatan. Namun ada baiknya untuk mencapai suatu kondisi yang stabil dan mencegah keberulangan ada baiknya walaupun kondisi sudah jauh lebih baik maka obat diteruskan sampai 6 bulan. Walaupun keputusan memakai obat dalam jangka waktu tertentu ada di tangan psikiater dengan melihat kondisi pasien yang tentunya masing-masing berbeda satu sama lainnya. Semoga informasi sederhana ini bisa berguna bagi pembaca memahami pengobatan yang dilakukan oleh psikiater terhadap pasiennya. Setiap pasien adalah unik dan setiap psikiater pasti akan memberikan pengobatan yang terbaik bagi pasiennya dengan kondisi klinis dan lingkungan yang berbeda-beda. Keragaman jenis obat dan lama pengobatan akan sangat bergantung dengan pasien yang dihadapi. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup pasien ke arah yang lebih baik lagi.
Salam Sehat Jiwa
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Mon Feb 20, 2012 6:08 pm

KIAT BANGKIT DARI KETERPURUKAN
Lusia Kus Anna | Senin, 20 Februari 2012 | 09:12 WIB Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen
Kompas.com - Setiap komunikasi yang kita jalin, baik verbal maupun nonverbal, sebenarnya bertujuan untuk mempertahankan diri kita dari tekanan hidup yang kita hadapi dalam keseharian. Dalam hal ini, kita semua hendaknya mampu menolong diri kita untuk menyadari bahwa dalam kehidupan ini kita terbelenggu oleh kerangka acuan komunikasi yang kita alami pada masa lalu. Tentu saja risiko usaha keluar dari kondisi keterpakuan terhadap masa lalu itu tidak sederhana. Padahal, pada umumnya kita lebih memilih tetap bertahan dalam keterbelengguan tatanan hidup masa lalu demi rasa aman dan nyaman, karena keputusan yang kita ambil berdasar pada ketergantungan kita pada lingkungan tempat kita berada. Bayangkan bahwa selama ini sebenarnya, tanpa kita sadari, kita kehilangan kebebasan berekspresi secara lugas, karena sistem komunikasi dari pengalaman masa lalu tidak membuka kelugasan individu dalam mempertahankan eksistensi diri di lingkungan di mana pun dia berada, demi menjaga harmoni keberadaan dalam kebersamaan dengan lingkungan: ”Dengar nasihat orangtua, atau harus nurut sama mamah, kalau tidak nurut, berdosa dan tidak berkah hidupnya, lihat tuh, kakak nurut sama mamah, berhasil kan kuliahnya, dll, dll.” Pada umumnya lingkungan berpendapat bahwa menyatakan dengan terus terang apa yang kita rasakan dan apa yang kita pikirkan akan membuat kita berada dalam keadaan yang rentan. Padahal, dalam hal ini secara tidak disadari, demi harmoni lingkunganlah yang justru membuat diri kita menjadi tidak memiliki kemampuan mengungkapkan apa yang sebenarnya kita rasakan dan apa yang kita pikirkan secara terbuka dan lugas. Ternyata, kondisi tersebut justru membuat kita menjadi seseorang yang ”sehat” (artinya, sehat yang semu dan rentan terhadap kemungkinan ”sakit” secara emosional).

Jalan pintas
Suatu saat kita menyadari bahwa secara tiba-tiba kita merasakan munculnya kebutuhan untuk penyelesaian masalah segera, yang akhirnya membuat sebagian dari anggota masyarakat lingkungan kita justru memilih jalan pintas yang lain sifatnya dan berlawanan dengan kebiasaan yang telah terpola sejak masa kecil kita. Saat sebagian anggota masyarakat kita memilih penggunaan obat-obatan, narkoba, alkohol, penyakit yang muncul dan berbagai perilaku kriminal yang memungkinkan mereka dipenjara akhirnya menjadi pilihan cara penyelesaian masalah yang bersifat disfungsional. Cara penyelesaian masalah yang disfungsional tersebut juga menjadi salah satu cara mereka untuk memperoleh perhatian dari lingkungannya, di samping menjadi cara perolehan pemuasan kebutuhan yang sifatnya semu, bahkan menjerumuskan mereka dalam keadaan terpuruk. Malangnya, ketidakmampuan kita untuk mengekspresikan perasaan pada lingkungan secara jujur dan lugas ternyata menjadi sumber penyebab keterpurukan pada masa mendatang. Manusia cenderung untuk selalu mempertahankan harmoni fungsi fisik dan mentalnya walaupun dalam proses pencapaian keseimbangan tersebut akan membuat sebagian fungsi mental harus menurun, sementara bagian lain meningkat dengan sendirinya. Hal itu berarti bahwa terjadi proses kebangkitan aspek mental yang menempatkan diri sebagai sosok yang memiliki kemampuan diri dalam ”ekspresi diri” dan bagian lain yang menempatkan pada ”represi diri”, dengan catatan ekspresi diri yang lugas dan tepercaya bergerak menuju jalan teraihnya kondisi sehat mental yang hakiki. Memang upaya meraih harmoni ini diawali oleh konflik antara ”ikut aturan dan tampil jujur dan lugas dalam perasaan dan pikiran”, ”seyogianya dan seharusnya”. Padahal, merasakan apa yang kita rasakan adalah suatu kebebasan berperasaan yang akan mendukung kita untuk juga memperoleh kebebasan dalam berpikir.

Jenis kebebasan
Dalam hal ini, Virginia Satir (1991) mengungkapkan terdapat lima jenis kebebasan yang membuka peluang bagi kemungkinan kita memanfaatkan potensi positif yang akan membantu kita untuk menyelesaikan masalah dengan cara kreatif:

1. Kebebasan untuk melihat dan mendengar apa yang saat ini terjadi, sebagai pengganti dari apa yang seharusnya dan apa yang seyogianya kita lihat dan dengar.

2. Kebebasan untuk menyatakan apa yang kita rasakan dan pikirkan, sebagai pengganti dari apa yang seyogianya kita rasakan dan pikirkan.

3. Kebebasan untuk merasakan apa yang kita rasakan, sebagai pengganti dari apa yang seyogianya kita rasakan.

4. Kebebasan untuk bertanya apa yang ingin kita tanyakan, sebagai pengganti kebiasaan menunggu izin untuk bertanya.

5. Kebebasan untuk menanggung risiko akibat perbuatan kita, sebagai pengganti dari selalu memilih zona aman tanpa berani bersikap mandiri.

Jadi, keterpakuan terhadap pengalaman masa lalu akan membuat kita mendapat keyakinan, otomatisasi, dan kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya kompulsif. Kita harus membuat diri kita menyadari bahwa selama ini kita terpaku pada keberadaan mempertahankan zona kehidupan yang aman, di mana kita justru menjadi pilot otomatik dari masa lalu kita. Padahal, menanggung risiko sebagai akibat keputusan pribadi akan membuat diri kita akan menghayati perasaan yang lebih nyaman dan meyakinkan dalam proses membangun kebebasan berekspresi. Dengan demikian, serta-merta rasa percaya diri kita akan sekaligus terbangun dengan kokoh. Kepercayaan diri yang optimal dan kokoh tersebut akan membawa diri kita mampu bangkit dari keterpurukan karena kita yakin bahwa pada dasarnya kita memiliki potensi mental individual yang positif dan memerlukan peluang kebebasan untuk mengekspresikannya.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Sun Feb 26, 2012 9:24 pm

10 TANDA AWAL PENYAKIT PARKINSON
SABTU, 25 FEBRUARI 2012 | 10:27 WIB
TEMPO.CO, Illinois - Mari kita jujur: terdiagnosis penyakit Parkinson bisa sangat mengerikan. Bahkan survei April 2011 oleh Yayasan Parkinson Nasional Amerika Serikat mengungkapkan bahwa orang akan menghindari mengunjungi dokter untuk membahas Parkinson. Bahkan ketika mengalami gejala yang mengkhawatirkan, seperti tangan bergetar. Bagaimana pun, pengobatan--meski tidak dapat menyembuhkan Parkinson--dapat membeli waktu Anda. "Sekarang banyak beredar obat dengan potensi memperlambat perkembangan penyakit," kata ahli saraf, Michael Rezak, Direktur The American Parkinson's Disease Association National Young Onset Center. Penyakit Parkinson terjadi ketika sel-sel saraf di otak yang menghasilkan neurotransmitter dopamine mulai mati. Penting mengetahui tanda-tanda awal penyakit ini karena orang kerap tidak tak menyadari mereka memiliki Parkinson dan tahu-tahu penyakit itu telah berkembang. "Saat Anda mengalami gejala-gejala utama Parkinson, seperti tremor dan kekakuan, Anda sudah kehilangan 40 sampai 50 persen dari produksi neuron dopamin. Memulai pengobatan dini memungkinkan Anda mempertahankan kehilangan dalam jumlah besar," Rezak menuturkan. Berikut ini 10 tanda awal penyakit Parkinson:

1. Hilangnya indera penciuman
Hilangnya bau kerap diikuti dengan hilangnya rasa. Dopamin adalah pengantar kimia yang membawa sinyal antara otak dan otot dan saraf di seluruh tubuh. Seperti yang memproduksi dopamin sel mati, indera penciuman menjadi terganggu, dan pesan seperti isyarat bau tidak sampai. "Pasien mengatakan mereka berada di pesta dan semua orang berkomentar tentang seberapa kuat parfum salah seorang wanita, dan dia tidak bisa mencium baunya," kata Rezak.

2. Sulit tidur
Ahli saraf tetap waspada terhadap kondisi tidur cepat yang dikenal sebagai rapid eye-movement behavior disorder (RBD). Orang dengan RBD mungkin berteriak, menendang, atau menggemeretakkan gigi mereka. Mereka bahkan dapat menyerang pasangan tidur mereka. Sebanyak 40 persen orang dengan RBD akhirnya mengembangkan Parkinson paling tidak 10 tahun kemudian, kata, Rezak. Dua masalah tidur lainnya yang umumnya berkaitan dengan Parkinson adalah sindrom kaki gelisah (kesemutan atau rasa tusukan di kaki dan perasaan bahwa Anda harus memindahkan mereka) dan tiba-tiba berhenti bernapas sejenak saat tidur (sleep apnea). Tidak semua pasien dengan kondisi ini memiliki Parkinson, tapi sejumlah besar pasien Parkinson--hingga 40 persen dalam kasus sleep apnea--memiliki kondisi ini.

3. Mengalami sembelit dan problem berkemih
Salah satu tanda awal yang paling umum dari Parkinson--dan yang paling diabaikan karena ada banyak kemungkinan penyebab--adalah sembelit dan kentut. Ini hasil dari penyakit Parkinson yang mulai mempengaruhi sistem saraf otonom, yang mengatur aktivitas otot halus seperti yang bekerja perut dan kandung kemih. Usus dan kandung kemih dapat menjadi kurang sensitif dan memperlambat proses pencernaan keseluruhan. Salah satu cara untuk mengenali perbedaan antara sembelit biasa dan sembelit disebabkan oleh Parkinson adalah bahwa yang terakhir sering disertai dengan perasaan kenyang, bahkan setelah makan sangat sedikit.

4. Kurangnya ekspresi wajah
Kehilangan dopamin dapat mempengaruhi otot-otot wajah, membuat mereka kaku dan lambat dan mengakibatkan kurangnya karakteristik ekspresi. "Beberapa orang menyebutnya sebagai wajah batu atau wajah poker," kata ahli saraf Pam Santamaria, ahli Parkinson di Nebraska Medical Center di Omaha.

5. Nyeri pada leher
Tanda ini sangat sering terjadi pada wanita, setelah mengeluhkan tremor dan kekakuan. Nyeri leher ini sifatnya terus berlanjut, tidak seperti kram otot biasa yang hilang setelah satu atau dua hari. Pada beberapa orang, muncul mati rasa dan kesemutan.

6. Lambat saat menulis
Salah satu gejala Parkinson, yang dikenal sebagai bradykinesia, adalah perlambatan dan hilangnya gerakan spontan dan rutin. Tulisan tangan adalah salah satu tempat yang paling umum untuk mengenai tanda bradykinesia. Mencuci dan berpakaian juga digunakan untuk menandai kemunculan bradykinesia. Seseorang mungkin butuh waktu lama untuk berdandan atau berurusan dengan ritsleting dan pengencang lainnya.

7. Perubahan suara
Suara mulai berubah, sering menjadi jauh lebih lembut dan lebih monoton. Ini adalah tanda yang sering dilupakan dokter yang mendiagnosis seseorang dengan penyakit ini. Otot-otot wajah yang kaku membuatnya lebih sulit mengatakan sesuatu dengan jelas. "Beberapa pasien mulai mengalami kesulitan membuka mulut mereka," kata Rezak.

8. Lengan tidak berayun bebas
Lengan tak bisa direntangkan dengan bebas, sehingga untuk meraih vas bunga di rak tertinggi akan mengalami kesulitan. Bisa juga, salah satu lengan tak bebas berayun seperti lengan lainnya.

9. Berkeringat secara berlebihan
Ketika Parkinson mempengaruhi sistem saraf otonom, ia kehilangan kemampuannya untuk mengatur tubuh, yang dapat menyebabkan perubahan pada kulit dan kelenjar keringat. Beberapa orang menemukan diri mereka berkeringat secara tak terkendali ketika tidak ada alasan yang jelas, seperti panas atau kecemasan. Bagi seorang wanita, serangan ini kabur dengan gejala menopause. Istilah resmi untuk gejala ini adalah hiperhidrosis.

10. Perubahan suasana hati dan kepribadian
Para ahli tidak yakin mengapa, tapi ada berbagai perubahan kepribadian terkait dengan yang datang dengan Parkinson, termasuk kecemasan diucapkan dalam situasi baru, penarikan sosial, dan depresi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa depresi pada seseorang yang sebelumnya tidak mengalaminya adalah tanda pertama pada kebanyakan pasien Parkinson.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Fri Mar 02, 2012 12:25 pm

BAGAIMANA TRAUMA BERUBAH JADI KETANGGUHAN
Kamis, 01 Maret 2012 15:50 WIB Media Indonesia
DALAM sebuah penelitian manyebutkan bahwa orang yang mengalami masalah sehingga membuatnya trauma, pada selanjutnya akan menyebabkan seseorang tersebut lebih jarang merasa tertekan. Para ilmuwan mengatakan bahwa kejadian traumatis seperti kehilangan orang yang dicintai, kesulitan saat bencana alam, atau mengalami pelecehan seksual saat kecil, pada akhirnya akan membuat seseorang tersebut lebih tangguh dalam menjalani hari-hari setelah masa depresinya hilang. Dikutip dari Times Health, seorang Psikoterapis Anjali Chhabria menyatakan, hal tersebut bergantung pada kepribadian seseorang. Namun memang dalam penelitian ditemukan bahwa tingkat traumatis seseorang pada waktu lampau akan menyumbang energi positif untuk membuatnya lebih tahan dari tekanan sehari-hari. Namun berbeda halnya dengan Kanan Khatau, seorang ahli Psikologis Klinis, baginya seseorang yang pernah mengalami trauma, terkadang sampai menderita gangguan depresi. Akan tetapi dapat dihilangkan dengan berbagai dukungan dari orang-orang terdekatnya. (*/OL-06)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Wed Apr 04, 2012 8:08 pm

EFEK JATUH CINTA PADA KESEHATAN
RABU, 4 APRIL 2012, 17:55 WIB Wuri Handayani, Febry Abbdinnah
VIVAnews - Bisakah mengkonsumsi apel setiap hari menjauhkan Anda dari berbagai macam penyakit? Mungkin tidak selalu. Kecuali, Anda berbagi apel tersebut bersama pasangan Anda dengan penuh kasih. Efek ini justru lebih menyehatkan. "Orang yang berada dalam hubungan jangka panjang dan menikmatinya dengan bahagia dan selalu jatuh cinta dengan pasangannya cenderung memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik," ujar Harry Reis, PhD, editor the Encyclopedia of Human Relationships, pada sebuah wawancara dengan WebMD. Tinjauan luas antara hubungan percintaan dan kesehatan yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS menunjukkan bahwa orang yang berada dalam hubungan jangka panjang, terutama pernikahan, mendapatkan keuntungan kesehatan menyeluruh yang dalam segala dimensi.

1. Kesehatan sistem kekebalan tubuh
Tidak ada satupun obat yang dapat mencegah tubuh Anda terserang flu. Tetapi, jika Anda memiliki hubungan percintaan yang bahagia, kemungkinan akan jarang terserang flu menjadi lebih rendah. Emosi positif ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang, sehingga energi negatif yang merusak akan hilang dengan sendirinya. Sebuah studi telah menunjukkan bahwa orang yang bahagia lebih jarang terserang flu dibandingkan mereka yang hidup sendiri.

2. Kesehatan kardiovaskular
Olahraga dan jalan kaki sangat baik bagi tekanan darah untuk mengimbangi kesehatan Anda. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pernikahan bisa berbuah keajaiaban. Tak hanya pasangan menikah yang memiliki tekanan darah normal, orang yang memiliki kehidupan sosial baik pun demikian. Jadi tidak heran kalau mereka yang kurang bahagia lebih berisiko pada penyakit jantung dan stroke.

3. Kesehatan mental
Menurut laporan Health and Human Services, hubungan percintaan yang bahagia sangat baik bagi kesehatan mental. Mereka yang depresi dalam sebuah hubungan lebih cenderung mengalami kecanduan terhadap alkohol dan obat.

4. Kesehatan tubuh secara umum
Orang yang selalu merasa jatuh cinta, secara umum memiliki kesehatan yang lebih baik dibanding mereka yang selalu murung dan kesepian. Jika dilihat dari diagram statistiknya, mereka yang bahagia mengalami lebih sedikit stres, lebih cepat sembuh dari luka, lebih baik dalam mentolerir rasa sakit, dan cenderung lebih menikmati hidup.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Otak   Wed Apr 04, 2012 8:27 pm

GALAU BIKIN TUBUH GAMPANG SAKIT
Rabu, 04 April 2012, 11:33 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada pepatah yang bilang, 'masa lalu adalah guru terbaik'. Artinya, pengalaman manis atau pahit adalah pelajaran bagi setiap orang untuk menjalani hidup di masa depan menjadi lebih baik. Karena itu, dalam sebuah studi di Spanyol menyatakan, hidup dalam kenangan kelam masa lalu membuat seseorang tidak bisa menikmati hidup dan merugikan kesehatan. Dalam penelitian itu diungkap, orang yang terus mengingat kenangan pahit masa lalu atau bahasa kerennya sekarang 'galau', seperti mengingat telah kehilangan kesempatan atau mendapatkan perilaku tidak menyenangkan, bisa mengundang datangnya penyakit. Tak hanya itu, meratapi penyesalan juga bisa membuat hidup menjadi mengenaskan. Mereka yang terkukung dalam masa lalu dan selalu memutar memori pahitnya masa lalu juga lebih sensitif terhadap rasa sakit. Tapi, orang orang yang terlalu fokus mengejar masa depan ternyata juga tidak baik. Pasalnya, hal itu membuat mereka tertekan sehingga tidak bisa menikmati keadaan sekarang. Beruntungnya, hal tersebut tidak merugikan dari segi kesehatan. You are what you thinks. Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Ketika berpikir positif, feedback yang didapat adalah positif. Pun sebaliknya.

Menurut para peneliti, mereka yang paling bahagia dan sehat adalah mereka yang bisa menikmati saat kini, selalu belajar dari masa lalu, dan merencanakan masa depan. Dalam penelitian itu, sebanyak 50 pria dan wanita diwawancara tentang perasaan, kesehatan, fisik, mental dan kualitas hidup masa sekarang dan masa lalu. Pertanyaan-pertanyaan lain, seperti seberapa sering mereka melakukan segala hal dengan berbagai cara, dan apakah mereka khawatir tidak mendapatkan sesuatu pada tepat waktu serta bagaimana mereka menjalani hidup seharian. Hasilnya, mereka yang selalu melakukan hal-hal buruk cenderung memiliki kesehatan yang buruk.

Peneliti Universitas Granada, Spanyol, Cristian Oyanadel, mengatakan, "Menurut kami, dimensi yang paling berpengaruh adalah masa lalu." "Kami mengamati orang yang selalu berpikiran negatif tentang masa lalu, selalu pesimistis atau bersikap fatalistik terhadap peristiwa saat ini. Hal ini menimbulkan masalah yang makin besar dalam interaksi sosial mereka, belum lagi mereka akan memiliki kualitas hidup yang rendah." Oyanadel menjelaskan, mereka yang tidak bisa lepas dari masa lalu akan sulit melakukan kegiatan fisik sehari-hari, kemampuan fisiknya terbatas saat kerja, lebih sensitif terhadap rasa sakit, dan lebih gampang sakit. "Selain itu, mereka cenderung depresi dan cemas," kata dia menerangkan. Di sisi lain, Oyanadel mengatakan ada kelompok yang sehat mental maupun fisik tetapi memiliki kualitas hidup yang lebih rendah. "Kelompok itu adalah orang yang lebih fokus pada masa depan, orang yang selalu menempatkan tujuan pribadi di atas semuanya, orang yang lupa untuk menikmati pengalaman indah dan tidak mau mengingat pengalaman positif mereka di masa lalu," terang Oyanadel.

Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Universitas Psychologica. Kesimpulan dari penelitian itu, kelompok yang paling bagus adalah mereka yang mau belajar dari masa lalu, bukan mereka yang selalu mengingat-mengingat masa lalu. Hal itu berarti mereka merencanakan masa depan tetapi tidak mengabaikan masa kini. Sebelumnya banyak penelitian yang menghubungkan pandangan seseorang terhadap kehidupan dan kesehatan. Mereka yang sering mengeluhkan kesehatan, memiliki kemungkinan meninggal dalam 30 tahun ke depan hingga tiga kali lipat. Berbeda dengan mereka yang menganggap diri mereka lebih kuat. Kesimpulannya, pandangan seseorang ternyata dapat mempengaruhi jangka hidup mereka. Studi tersebut menyarankan dokter agar tidak membatasi definisi kesehatan yang baik hanya jika pasien bebas dari gejala-gejala penyakit.
Back to top Go down
View user profile
 

Kesehatan Otak

View previous topic View next topic Back to top 
Page 23 of 23Goto page : Previous  1 ... 13 ... 21, 22, 23

 Similar topics

-
» 1055 Soalan TEKA-TEKI PEMECAH OTAK!!!
» Kesehatan Otak
» [Tips] menjaga kesehatan
» PENERBITAN BUKU KESEHATAN
» Kesehatan Tulang dan Otot

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-