|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Tue May 11, 2010 9:21 pm | |
| SAAT BAKTERI DAN VIRUS MENYERANG OTAK Sunday, 13 June 2010 - Seputar Indonesia Radang otak telah merenggut nyawa Giska, putri sulung artis Dewi Yull. Setelah tiga bulan berjuang melawannya, Giska pun mengembuskan napas yang terakhir.“Dua hari yang lalu Giska masuk ke Rumah Sakit Suyoto ini.Karena di kepala Giska terdapat virus dan virus itu menyerang ke otaknya dan itu terjadi selama satu bulan,” terang Dewi Yull di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan,Kamis (10/6). Sejak itu kondisi kesehatan Giskaterusmenurunkarenaterkena penyakit meningitis, yaitu adanya peradangan otak. “Banyak cairan menumpuk di kepalanya,”ujarnya. Sebelum masuk rumah sakit,Giska mengalami pusing secara terusmenerus selama tiga bulan terakhir.
“Katanya kepalanya berat sekali.Ya seperti terkena stroke,”katanya. Sakit kepala memang bisa menjadi pertanda adanya virus yang merongrong otak.”Tidak semua sakit kepala itu sama penyebabnya. Jika sakit kepala yang dirasa semakin lama semakin parah, maka harus diwaspadai.Segera periksakan diri ke dokter,”ujar ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit Internasional Omni Alam Sutera Tangerang Dr Alfred Sutrisno SpBS. Beberapa penyakit yang memiliki gejala keluhan sakit kepala salah satunya adalah meningitis. Alfred menjelaskan, meningitis adalah suatu penyakit radang selaput otak, di mana ada dua penyebabnya, yaitu terinfeksi bakteri ataupun virus.“Pada umumnya meningitis 90% disebabkan oleh bakteri, misalnya bakteri TBC, Strptococcus pneumoniae, Nisseria meningitidis, dan biasanya sering terjadi di asrama-asrama ataupun di barak- barak tentara.
Dan yang menyerang selaput otak,”ujar Alfred. Haemophilus influenza tipe B (Hib) juga dapat menjadi penyebab meningitis pada orang dewasa maupun anak-anak. Dan bisa juga disebabkan oleh infeksi jamur maupun HIV ( virus). Meningitis merupakan suatu peradangan dari selaput-selaput otak (yang disebut meningen), yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Selain disebabkan oleh virus dan bakteri,meningitis juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringanjaringan tubuh tanpa infeksi. Meningitis yang disebabkan bakteri disebut sebagai meningitis bakterialis.Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya, karena akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Berbeda halnya pada meningitis yang disebabkan oleh bakteri yang bisa mengakibatkan kematian pada 50% anak yang terkena.
“Meningitis disebabkan oleh menjalarnya infeksi melalui darah yang melewati sawar darah otak, atau melalui penjalaran infeksi yang terjadi dekat otak seperti sinusitis, otitis media atau radang telinga, atau sebagai komplikasi operasi otak, kepala, maupun operasi leher,”tuturnya. Pada bayi, penyakit yang juga disebut sebagai penyakit radang selaput otak ini memiliki gejala yang sulit diketahui. Dan apabila sembuh, penyakit ini sering memperlihatkan gejala sisa berupa kelumpuhan, tuli,kurangnya kemampuan belajar,dan lain-lain. Penyakit yang sering diderita mulai umur 25 tahun atau di atas umur 60 tahun dan di bawah umur 5 tahun ini memiliki perbandingan angka kejadian antara laki-laki dan perempuan adalah satu banding satu. Sedangkan faktor pemicunya, di antaranya kecanduan alkohol, penderita anemia, penderita kanker.
“Penderita yang menerima transplantasi organ dan meminum obat immuno supressive juga merupakan seseorang yang memiliki risiko tinggi terkena meningitis,” ucap dokter yang juga berprofesi sebagai konsultan bagian saraf ini. Penggunaan vaksin IPD (Invasive Pneumococcal Disease) sejak 10 tahun yang lalu di Amerika Serikatberhasilmenurunkanangkaprevalensi penyakit pneumokokus, termasuk meningitis.Hal itu pula yang dicanangkan di Indonesia untuk mencegah terjadinya peningkatan angka kematian akibat meningitis. Seperti pada 2006,vaksin IPD sudah tersedia di Indonesia dan telah dianjurkan penggunaannya oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
“Berikan vaksin ini pada bayi mulai usia dua bulan hingga sembilan tahun untuk mencegah meningitis,” saran Staf Divisi Syaraf Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Dr Hardiono Pusponegoro SpA(K). Meningitis memang dapat dicegah dengan vaksinasi IPD. Kecenderungan menunda vaksinasi sampai berumur lebih dari satu tahun bisa membahayakan karena meningitis lebih sering terjadi pada anak kecil berumur kurang dari satu tahun. (inggrid namirazswara)
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 10:34 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Tue May 11, 2010 9:33 pm | |
| INFEKSI PARASIT PADA OTAK Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Di beberapa bagian dunia, cacing bisa menginfeksi otak. Di daerah barat, infeksi yang paling sering terjadi adalah sistiserkosis. Setelah seseorang memakan makanan yang tercemar oleh telur Cysticercus, cairan lambung menyebabkan telur tertanam dan membentuk larva. Larva masuk ke dalam aliran darah dan disebarkan ke seluruh bagian tubuh, termasuk otak. Larva berkembang menjadi kista yang bisa menyebabkan sakit kepala dan kejang. Jika kista mengalami degenerasi dan larva mati, akan terjadi peradangan, pembengkakan dan kelainan neurologis.
Skistosomiasis merupakan suatu infeksi cacing yang bisa menyebabkan kejang, kelainan fungsi neurologis dan peningkatan tekanan di dalam otak. Ekinokokosis adalah suatu infeksi yang menyebabkan terbentuknya kista yang besar di dalam otak dan menyebabkan berbagai kelainan neurologis serta kejang. Koenurosis adalah suatu infeksi yang menyebabkan terbentuknya kista, yang bisa menyumbat aliran cairan di sekitar otak. Infeksi-infeksi tersebut bisa dikendalikan dengan obat-obatan (misalnya prazikuantel dan albendazol), tetapi kadang perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat kista.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 10:33 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Tue May 11, 2010 9:36 pm | |
| ORANG ORANG YANG RENTAN TERKENA PENYAKIT RADANG OTAK Jumat, 11/06/2010 11:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Radang otak sangat mengancam nyawa seseorang, terutama bayi dan anak-anak. Tapi tak hanya bayi atau anak-anak, orang dewasa pun tak terlepas dari ancaman penyakit mematikan ini. Siapa saja yang rentan terkena radang otak dan apa gejalanya? Radang otak atau yang dalam ilmu kedokteran dikenal dengan meningitis adalah terjadinya peradangan di selaput-selaput otak yang disebut meningen, yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.
Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak. Meningitis juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringan-jaringan tubuh tanpa infeksi, seperti kanker. Juga karena luka fisik atau obat-obatan tertentu.
Meningitis yang disebabkan oleh bakteri lebih berbahaya ketimbang virus. Bakteri ini adalah pneumokokus yang bisa mengakibatkan kematian khususnya pada anak-anak. Bakteri pneumokokus memang bisa hidup dan diam di tenggorakan 10 persen orang sehat, baik bayi, balita dan individu dewasa. Seperti dilansir dari Mayoclinic, Jumat (11/6/2010), orang-orang yang rentan terkena meningitis adalah:
1. Usia Kebanyakan meningitis yang disebabkan oleh virus dan bakteri terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Namun, sejak pertengahan tahun 1980-an, setelah adanya vaksin untuk anak, pasien meningitis bergeser dari usia 15 bulan sampai 25 tahun. Menurut data, sekitar 50 persen anak yang terkena meningitis dilaporkan meninggal. Jika lolos dari maut, balita akan mengalami gejala-gejala dari sisa penyakitnya seperti lumpuh, tuli, epilepsi, lamban dan retardasi mental.
2. Orang yang berkumpul atau tinggal di hunian padat penduduk Orang yang tinggal perumahan yang padat penduduk, siswa yang tinggal di asrama, personil di pangkalan militer atau anak-anak yang dititipkan di penitipan anak (day care) akan meningkatkan risiko meningitis. Hal ini karena penyebaran penyakit menjadi lebih cepat bila sekelompok orang berkumpul.
3. Ibu hamil Pada wanita yang hamil, ada peningkatan kontraksi listeriosis, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria, yang juga dapat menyebabkan meningitis. Bila ibu hamil memiliki listeriosis, bayi yang belum lahir pun akan berisiko terkena.
4. Bekerja di lingkungan yang berhubungan dengan hewan Pekerjaan yang selalu berhubungan dengan hewan, seperti peternak, juga memiliki risiko tinggi tertular listeria, yang dapat mengakibatkan meningitis.
5. Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah antara lain: - Bayi yang lahir kurang bulan (prematur) dan berat lahir rendah - Bayi yang hanya diberi ASI sebentar atau sedikit - Orang yang sering terpapar asap rokok - Orang yang sering mengalami infeksi virus di saluran pernapasan - Penderita penyakit kronis seperti kanker dan diabetes, penderita HIV - Pengguna obat immunosuppresan juga lebih rentan terhadap meningitis.
Sekitar 25 persen orang yang terkena meningitis memiliki gejala yang berkembang selama 24 jam. Selebihnya, akan menjadi sakit selama 1 hingga 7 hari. Terkadang, jika seseorang mengonsumsi antibiotik untuk infeksi lain, gejala dapat berkembang lebih lama. Seperti dilansir dari emedicinehealth, gejala meningitis yang terjadi pada individu dewasa adalah sebagai berikut:
Gejala umum 1. Sakit kepala 2. Leher kaku 3. Demam dan menggigil 4. Muntah 5. Takut lampu terang (photophobia) 6. Kebingungan 7. Kejang (ini terjadi pada sekitar sepertiga dari pasien meningitis) 8. Infeksi saluran pernafasan atas (misalnya, dingin, sakit tenggorokan)
Gejala lain 1. Kelemahan lokal atau kehilangan kekuatan atau sensasi, terutama di wajah 2. Pembengkakan dan rasa sakit pada satu atau lebih sendi 3. Ruam yang sering terlihat seperti memar
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 10:34 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 11:43 am | |
| ORANG ORANG YANG RENTAN TERKENA RADANG OTAK Jumat, 11/06/2010 11:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Radang otak sangat mengancam nyawa seseorang, terutama bayi dan anak-anak. Tapi tak hanya bayi atau anak-anak, orang dewasa pun tak terlepas dari ancaman penyakit mematikan ini. Siapa saja yang rentan terkena radang otak dan apa gejalanya? Radang otak atau yang dalam ilmu kedokteran dikenal dengan meningitis adalah terjadinya peradangan di selaput-selaput otak yang disebut meningen, yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.
Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak. Meningitis juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringan-jaringan tubuh tanpa infeksi, seperti kanker. Juga karena luka fisik atau obat-obatan tertentu. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri lebih berbahaya ketimbang virus. Bakteri ini adalah pneumokokus yang bisa mengakibatkan kematian khususnya pada anak-anak. Bakteri pneumokokus memang bisa hidup dan diam di tenggorakan 10 persen orang sehat, baik bayi, balita dan individu dewasa.
Seperti dilansir dari Mayoclinic, Jumat (11/6/2010), orang-orang yang rentan terkena meningitis adalah: 1. Usia Kebanyakan meningitis yang disebabkan oleh virus dan bakteri terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Namun, sejak pertengahan tahun 1980-an, setelah adanya vaksin untuk anak, pasien meningitis bergeser dari usia 15 bulan sampai 25 tahun.
Menurut data, sekitar 50 persen anak yang terkena meningitis dilaporkan meninggal. Jika lolos dari maut, balita akan mengalami gejala-gejala dari sisa penyakitnya seperti lumpuh, tuli, epilepsi, lamban dan retardasi mental.
2. Orang yang berkumpul atau tinggal di hunian padat penduduk Orang yang tinggal perumahan yang padat penduduk, siswa yang tinggal di asrama, personil di pangkalan militer atau anak-anak yang dititipkan di penitipan anak (day care) akan meningkatkan risiko meningitis. Hal ini karena penyebaran penyakit menjadi lebih cepat bila sekelompok orang berkumpul.
3. Ibu hamil Pada wanita yang hamil, ada peningkatan kontraksi listeriosis, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria, yang juga dapat menyebabkan meningitis. Bila ibu hamil memiliki listeriosis, bayi yang belum lahir pun akan berisiko terkena.
4. Bekerja di lingkungan yang berhubungan dengan hewan Pekerjaan yang selalu berhubungan dengan hewan, seperti peternak, juga memiliki risiko tinggi tertular listeria, yang dapat mengakibatkan meningitis.
5. Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah antara lain: - Bayi yang lahir kurang bulan (prematur) dan berat lahir rendah - Bayi yang hanya diberi ASI sebentar atau sedikit - Orang yang sering terpapar asap rokok - Orang yang sering mengalami infeksi virus di saluran pernapasan - Penderita penyakit kronis seperti kanker dan diabetes, penderita HIV - Pengguna obat immunosuppresan juga lebih rentan terhadap meningitis.
Sekitar 25 persen orang yang terkena meningitis memiliki gejala yang berkembang selama 24 jam. Selebihnya, akan menjadi sakit selama 1 hingga 7 hari. Terkadang, jika seseorang mengonsumsi antibiotik untuk infeksi lain, gejala dapat berkembang lebih lama.
Seperti dilansir dari emedicinehealth, gejala meningitis yang terjadi pada individu dewasa adalah sebagai berikut: Gejala umum 1. Sakit kepala 2. Leher kaku 3. Demam dan menggigil 4. Muntah 5. Takut lampu terang (photophobia) 6. Kebingungan 7. Kejang (ini terjadi pada sekitar sepertiga dari pasien meningitis) 8. Infeksi saluran pernafasan atas (misalnya, dingin, sakit tenggorokan)
Gejala lain 1. Kelemahan lokal atau kehilangan kekuatan atau sensasi, terutama di wajah 2. Pembengkakan dan rasa sakit pada satu atau lebih sendi 3. Ruam yang sering terlihat seperti memar
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 10:41 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 11:48 am | |
| MENINGITIS KRONIS Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Meningitis Kronis adalah suatu infeksi otak yang menyebabkan peradangan di dalam meningen (selaput otak) yang berlangsung selama 1 bulan atau lebih. Meningitis kronis biasanya mengenai orang-orang yang sistem kekebalannya telah terganggu karena AIDS, kanker, penyakit berat lainnya, obat anti-kanker atau penggunaan prednison jangka panjang.
PENYEBAB Beberapa organisme infeksius bisa menyerang otak dan tumbuh di dalam otak, kemudian secara bertahap menyebabkan gejala-gejala dan kerusakan. Yang paling sering adalah jamur Cryptococcus, virus sitomegalo, virus penyebab AIDS dan bakteri penyebab tuberkulosis, sifilis dan penyakit Lyme. Beberapa penyakit non-infeksius (misalnya sarkoidosis) dan beberapa kanker bisa mengiritasi menigen dan menyebabkan meningitis kronis. Penyebab non-infeksius yang paling banyak ditemukan adalah penyebaran limfoma dan leukemia ke dalam meningen. Peradangan meningen juga bisa disebabkan oleh obat-obat yang digunakan untuk mengobati kanker, obat untuk pencangkokan organ dan bahkan oleh obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen).
GEJALA Gejalanya menyerupai meningitis bakterialis, tetapi penyakit ini berkembang lebih lambat, biasanya lebih dari beberapa minggu. Demam yang timbul tidak sehebat pada meningitis bakterialis. Sering terjadi sakit kepala, linglung dan bahkan sakit punggung dan kelainan saraf (misalnya kelemahan, kesemutan, mati rasa dan kelumpuhan wajah).
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya. Untuk memperkuat diagnosis, biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI kepala, yang diikuti dengan pemeriksaan pungsi lumbal dan cairan serebrospinal. Jumlah sel darah putih di dalam cairan serebrospinal lebih tinggi daripada normal, tetapi biasanya lebih rendah dibandingkan dengan pada meningitis bakterialis, serta mengandung populasi sel darah putih yang berbeda (lebih banyak limfosit). Pemerisaan mikroskopis bisa menunjukkan organisme penyebabnya. Pemeriksaan tambahan lainnya bisa dilakukan untuk mengetahui tuberkulosis, sifilis atau jamur dan virus tertentu.
PENGOBATAN Meningitis kronis karena penyebab non-infeksius tertentu (misalnya sarkoidosis), biasanya diobati dengan prednison. Pengobatan meningitis kronis tergantung kepada penyebabnya. Jika penyebabnya jamur, maka diberikan obat anti jamur intravena. Yang paling sering diberikan adalah amfoterisin B, flusitosin dan flukonazol. Jika infeksinya sangat sulit disembuhkan, maka kadang amfoterisin B disuntikkan langsung ke dalam cairan serebrospinal, baik melalui pungsi lumbal berulang maupun Ommaya. Meningitis karena kriptokokus diiobati dengan kombinasi amfoterisin B dengan flusitosin. Meningitis herpes yang berulang bisa diobati dengan asiklovir, sedangkan meningitis karena virus sitomegalo diobati dengan gansiklovir. Sebagian besar kasus meningitis karena virus akan membaik dengan sendirinya dan tidak memerlukan pengobatan khusus.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 9:54 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 11:49 am | |
| INFEKSI VIRUS Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Ensefalitis adalah suatu peradangan pada otak, yang biasanya disebabkan oleh virus dan dikenal sebagai ensefalitis virus. Ensefalomielitis adalah suatu peradangan pada otak dan medula spinalis, yang juga disebabkan oleh virus. Meningitis aseptik adalah suatu peradangan pada meningen (selaput otak dan medula spinalis), yang biasanya disebabkan oleh virus.
PENYEBAB Beberapa virus yang berbeda bisa menginfeksi otak dan medula spinalis, termasuk virus penyebab herpes dan gondongan (mumps). Beberapa dari infeksi ini merupakan wabah, dan yang lainnya ditularkan melalui serangga. Beberapa virus tidak secara khusus menginfeksi otak dan medula spinalis, tetapi mereka menyebabkan reaksi kekebalan yang secara tidak langsung menyebabkan peradangan di daerah tersebut. Ensefalitis semacam ini (ensefalitis parainfeksiosa atau ensefalitis post-infeksiosa) bisa terjadi setelah campak, cacar air atau campak Jerman. Peradangan biasanya terjadi dalam 5-10 hari setelah penyakit karena virus dan bisa menyebabkan kerusakan yang serius pada sistem saraf. Perandangan otak kadang bisa terjadi beberapa minggu, bulan atau tahun setelah infeksi virus. Contohnya adalah panensefalitis sklerotik subakut, yang merupakan peradangan otak yang kadang terjadi setelah campak dan biasanya menyerang anak-anak.
GEJALA Infeksi otak karena virus bisa menyebabkan 3 gejala yang berbeda: # Infeksi ringan, menyebabkan demam dan rasa tidak enak badan, seringkali tanpa gejala khas lainnya # Demam disertai sakit kepala, muntah, kelemahan dan kaku kuduk # Terjadi gangguan fungsi otak yang normal yang menyebabkan perubahan kepribadian, kejang, kelemahan pada satu atau lebih bagian tubuh, linglung, rasa mengantuk yang bisa berkembang menjadi koma, dan gejala meningitis lainnya.
Virus tertentu memberikan gejala tambahan lainnya. Contohnya adalah virus herpes simpleks, yang seringkali menyebabkan kejang berulang pada stadium awal ensefalitis. Selain sel darah putih, cairan serebrospinal juga mengandung sel darah merah. Virus ini juga menyebabkan pembengkakan pada lobus temporalis, yang bisa terlihat pada skening MRI.
DIAGNOSA Hampir selalu dilakukan pungsi lumbal ntuk memeriksa cairan serebrospinal. Pada infeksi virus, jumlah sel darah putih meningkat, tetapi tidak ditemukan bakteri. Sangat sulit untuk membiakkan virus dari cairan serebrospinal dan memerlukan waktu lama. Pemeriksaan imunologis dilakukan untuk mengukur kadar antibodi terhadap virus. Untuk memastikan bahwa penyebab dari timbulnya gejala bukan karena abses otak, stroke atau kelainan struktural (misalnya tumor, hematoma atau aneurisma), maka dilakukan CT scan atau MRI.
PENGOBATAN Hampir selalu dilakukan pungsi lumbal ntuk memeriksa cairan serebrospinal. Pada infeksi virus, jumlah sel darah putih meningkat, tetapi tidak ditemukan bakteri. Sangat sulit untuk membiakkan virus dari cairan serebrospinal dan memerlukan waktu lama.
Pemeriksaan imunologis dilakukan untuk mengukur kadar antibodi terhadap virus. Untuk memastikan bahwa penyebab dari timbulnya gejala bukan karena abses otak, stroke atau kelainan struktural (misalnya tumor, hematoma atau aneurisma), maka dilakukan CT scan atau MRI.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 9:53 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 11:50 am | |
| ABSES OTAK Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Abses Otak adalah penimbunan nanah yang terlokalisasi di dalam otak.
PENYEBAB Abses otak jarang terjadi dan bisa merupakan akibat dari: - Penyebaran infeksi di bagian lain dari kepala (misalnya gigi, hidung atau telinga) - Cedera kepala yang menembus ke otak - Infeksi di bagian tubuh yang lain, yang disebarkan melalui darah.
GEJALA Abses otak bisa menyebabkan berbagai gejala, tergantung kepada lokasinya. Gejalanya bisa berupa sakit kepala, mual, muntah, rasa mengantuk, kejang, perubahan kepribadian dan gejala kelainan fungsi otak lainnya. Gejala-gejala tersebut bisa timbul dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Pada awalnya penderita meraskan demam dan menggigil, tetapi gejala ini bisa menghilang ketika tubuh berhasil menangkal infeksi tersebut.
DIAGNOSA Pemeriksaan terbaik untuk menemukan abses otak adalah CT scan atau MRI. Biopsi dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan tumor atau stroke dan untuk menentukan organisme penyebab terjadinya abses.
PENGOBATAN Pengobatan untuk abses otak adalah antibiotik; yang paling sering digunakan adalah penisilin, metronidazol, nafsilin dan sefalosporin (misalnya seftizoksim). Antibiotik biasanya dilanjutkan sampai 4-6 minggu dan pemeriksaan CT scan dan Mri diulang setiap 2 minggu. Jika antibiotik tidak berhasil mengatasi keadaan ini, maka dilakukan pembedahan untuk membuang nanah. Kadang abses menyebabkan bertambahnya tekanan dan pembengkakan di dalam otak. Keadaan ini sangat serius dan bisa menyebabkan kerusakan otak yang menetap, sehingga diberikan kortikosteroid dan obat lainnya (misalnya manitol) untuk mengurangi pembengkakan otak dan mengurangi tekanan di dalam otak.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 9:53 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 11:51 am | |
| EMPIEMA SUBDURAL Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Empiema Subdural adalah suatu penimbunan nanah diantara otak dan jaringan di sekitarnya (meningen).
PENYEBAB Biasanya empiema subdural merupakan komplikasi dari: - Infeksi sinus - Infeksi teling yang hebat - Cedera kepala atau cedera otak - Pembedahan - Infeksi darah yang berasal dari infeksi paru-paru.
Bakteri penyebab abses otak bisa menyebabkan empiema subdural.
GEJALA Gejalanya berupa sakit kepala, perasaan mengantuk, kejang dan tanda-tanda kelainan fungsi otak lainnya. Gejala tersebut bisa berkembang dalam beberapa hari dan jika tidak diobati akan segera berkembanga menjadi penurunan kesadaran total serta kematian.
.DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan CT scan dan MRI. Pungsi lumbal tidak banyak membantu dan bisa berbahaya.
PENGOBATAN Pada bayi kadang sebuah jarum disuntikkan langsung ke dalam empiema melalui ubun-ubun untuk mengeluarkan nanah, mengurangi tekanan dan juga membantu menegakkan diagnosis.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 9:52 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 11:53 am | |
| CAVERNOUS SINUS THROMBOSIS Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Cavernous sinus thrombosis adalah penyumbatan pada pembuluh besar pada dasar otak (cavernous sinus). Hal ini biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri yang berasal dari infeksi sinus atau dari infeksi pada mata atau sekitar hidung. Sehingga infeksi pada daerah sekitar hidung menuju lingkaran pada mata selalu diperhatikan dengan serius.
GEJALA Cavernous sinus thrombosis menyebabkan mata menonjol, sakit kepala berat, mengantuk atau koma, gamang, demam tinggi, dan perasaan tidak normal atau otot lemah pada daerah tertentu. Untuk mengenali bakteri, contoh darah dan contoh cairan, lendir, atau nanah dari tenggorokan dan hidung dikirim ke laboratorium untuk dikultur. Computed tomography (CT) pada sinus, mata, dan otak selalu dilakukan.
PENGOBATAN Infus antibiotik dosis tinggi diberikan dengan segera, jika keadaan tidak berubah setelah 24 jam pengobatan antibiotik, sinus kemungkinan dikeringkan dengan operasi.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 11:34 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 11:55 am | |
| KURU, PENYAKIT LANGKA AKIBAT MAKAN OTAK MANUSIA Kamis, 23/12/2010 14:58 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Papua Nugini, Ketika orang dari Suku Fore di Papua Nugini (Papua New Guinea) meninggal tubuhnya akan dipotong-potong oleh keluarganya. Daging dari orang yang sudah meninggal ini sangat dihargai sebagai makanan untuk menghormatinya. Tapi bukan berarti suku Fore kanibal atau membunuh sesama manusia, tapi karena kebudayaan proses pemakaman suku Fore. Ketika orang Fore meninggal tubuhnya akan dipotong-potong oleh keluarga yang meninggal dari pihak ibu. Perempuan akan mengiris tangan dan kaki, otot strip dari tulang dan mengeluarkan otak serta organ internalnya.
"Daging dari orang yang sudah meninggal ini sangat dihargai sebagai makanan sejak daging tersebut menyerupai lapisan lemak babi, sehingga masyarakat mengonsumsinya," ujar Shirley Lindenbaum, salah seorang peneliti awal penyakit Kuru, seperti dikutip dari Healthmad, Kamis (23/12/2010). Rupanya dari sinilah penyakit langka ini berasal. Penyakit langka di dunia ini akibat mengonsumsi otak manusia yang terinfeksi, yang dinamakan penyakit Kuru.
Penyakit aneh ini biasanya dimulai dengan kehilangan koordinasi sehingga membuatnya goyah saat berjalan, lalu diikuti dengan gejala lainnya seperti timbul tremor, sakit kepala, nyeri sendi, kehilangan nafsu makan serta perubahan suasana hati yang parah. Perubahan suasana hati yang parah ini seperti rasa marah yang secara seketika berubah menjadi serangan tawa yang menakutkan. Tawa seram dan mengganggu ini mendorong orang-orang Fore menyebutnya sebagai penyakit aneh Kuru.
Dalam bahasa inggris arti Kuru secara kasar diterjemahkan sebagai The Sickness Laughing. Sebagian besar orang suku mengira ia menderita penyakit mental atau disangka mengalami kutukan. Semakin hari semakin banyak suku Fore yang meninggal. Pada tahun 1957 hingga 5 tahun ke depan sekitar 1.000 orang meninggal akibat penyakit Kuru, sehingga menjadi endemik. Setelah melakukan banyak penelitian ditemukan orang yang menderita penyakit ini mirip dengan penyakit sapi gila atau Bovine spongiform encephalopathy.
Tapi sapi gila ditularkan akibat mengonsumsi otak dan jaringan tulang belakang sapi yang sudah terinfeksi. Sedangkan untuk penyakit Kuru disebabkan oleh mengonsumsi jaringan otak manusia yang terinfeksi oleh prion (protein atau partikel yang menyerang). Kondisi ini disebabkan oleh kebiasaan suku Fore yang kanibal atau mengonsumsi daging manusia. Umumnya perempuan suku Fore memiliki kesempatan lebih besar tertular penyakit ini dibanding laki-laki. Hal ini karena perempuan biasanya mengonsumsi potongan dari jaringan otak, sedangkan laki-laki tidak.
Selain itu ada beberapa alasan lain yang membuat perempuan lebih sering mengonsumsi otak, yaitu karena laki-laki mengambil potongan daging pilihan sehingga perempuan mau tidak mau harus mengonsumsi otak atau karena otak dianggap sebagai makanan yang lebih lezat sehingga dikonsumsi oleh perempuan yang menyiapkan makanan. Meski demikian perempuan memang memiliki kontak lebih lama dengan darah dan jaringan dari otak lainnya ketika ia menyiapkan makanan, sehingga memiliki risiko terinfeksi akibat luka terbuka yang dimilikinya.
Ciri khas dari penyakit ini adalah adanya gumpalan molekul protein di dalam otak. Masa inkubasi dari penyakit ini panjang, sehingga dibutuhkan waktu beberapa tahun setelah infeksi awal hingga timbulnya gejala. Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini, dan salah satu cara untuk mencegahnya adalah menghentikan praktik kanibalisme. Karenanya sebuah kampanye mendidik skala besar dilakukan untuk memberantas penyakit aneh ini serta memberikan tindakan keras terhadap kebiasaan mengonsumsi anggota tubuh suku Fore yang sudah meninggal. Saat ini penyakit Kuru dianggap sudah benar-benar punah
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 8:22 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 11:57 am | |
| KELUMPUHAN SARAF CRANIAL KE 3 Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Kelumpuhan syaraf cranial ke-3 bisa disebabkan oleh gangguan otak-seperti luka kepala, tonjolan (aneurysm) pada arteri yang mensuplai otak, wasir, atau tumor-atau oleh diabetes.
GEJALA Mata yang terkena berputar keluar ketika mata yang tidak terkena melihat lurus ke depan, menyebabkan penglihatan ganda. Mata yang terkena bisa bergerak hanya ke arah tengah ketika melihat k edalam dan tidak dapat bergerak ke atas dan bawah. Karena syaraf cranial ke-3 juga menaikkan kelopak mata dan mengendalikan pupil, kelopak mata layu, dan pupil kemungkinan melebar (membesar). Itu tidak bisa menyempit (mengkerut dalam reaksi terhadap cahaya.
Gangguan tersebut menyebabkan kelumpuhan bisa memburuk, berakibat serius, keadaan mengancam nyawa. Misal, sakit kepala berat bisa terjadi tiba-tiba, atau seseorang bisa menjadi semakin mengantuk atau kurang responsive. Dalam beberapa kasus, penyebab tersebut kemungkinan pecahnya aneurysm, yang kemudian berdarah. Pembesaran dan kurang respon terhadap cahaya (fixation) oleh kedua pupil mengindikasi koma yang berat dan kemungkinan kematian otak.
DIAGNOSA Diagnosa didasarkan pada hasil penelitian syaraf dan computed tomography (CT) atau magnetic resonance imaging (MRI). Jika pupil tersebut terkena atau jika gejala-gejala diduga merupakan gangguan serius yang mendasarinya, CT segera dilakukan. Jika aneurysm diduga pecah dan CT tidak mendeteksi darah, ketukan tulang belakang (lumbar puncture, magnetic resonance angiography, CT angiography, atau cerebral angiography dilakukan).
PENGOBATAN Pengobatan tergantung pada penyebab. Pengobatan darurat diperlukan jika gangguan mengancam nyawa adalah penyebabnya.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 1:17 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 12:06 pm | |
| KERUSAKAN SISTIM SARAF KARENA PENYINARAN Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Meskipun telah dilakukan pencegahan terhadap kerusakan saraf karena penyinaran selama pengobatan kanker, tetapi kadang kerusakan saraf tidak dapat dihindari. Gejala-gejala karena penyinaran bisa timbul secara mendadak atau secara perlahan, bisa tetap atau semakin parah dan bisa bersifat sementara ataupun menetap. Kadang gejala tersebut baru timbul beberapa bulan atau tahun setelah terapi penyinaran selesai dilakukan.
Penyinaran otak bisa menyebabkan ensefalopati akut, dengan gejala berupa sakit kepala, mual dan muntah, rasa mengantuk, linglung dan gejala neurologis lainnya. Ensefalopati akut biasanya timbul segera setelah dosis penyinaran pertama atau kedua, tetapi kadang baru muncul dalam waktu 2-4 bulan setelah penyinaran selesai. Gejala biasanya akan menghilang selama terapi penyinaran dijalankan dan proses perbaikan ini bisa dipercepat dengan pemberian kortikosteroid (misalnya prednison).
Kadang gejala kerusakan otak baru timbul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terapi penyinara, keadaan ini disebut kerusakan yang tertunda akibat penyinaran). Gejalanya bisa berupa demensia (pikun), hilang ingatan, kesulitan dalam berfikir, persepsi yang salah, perubahan kepribadian dan langkah yang goyah.
Penyinaran pada leher atau dada bisa menyebabkan mielopati radiasi. Penderita menunjukkan tanda-tanda Lhermitte, dimana penderita merasakan seperti tersengat listrik, yang dimulai di leher atau punggung (biasanya ketika leher ditekuk ke depan) dan menjalar ke tungkai. Keadaan ini biasanya akan membaik dengan sendirinya.
Jenis mielopati radiasi lainnya bisa terjadi beberapa bulan atau tahun setelah penyinaran. Terjadi kelemahan, hilangnya rasa dan kadang sindroma Brown-S?quard, dengan kelemahan pada satu sisi tubuh dan hilangnya rasa dan sensasi tubuh di sisi tubuh yang berlawanan. Pada sisi tubuh yang mengalami kelemahan, penderita bisa mengalami hilangnya sensasi posisi (kemampuan untuk menentukan letak tangan dan kaki tanpa harus melihatnya). Kelainan ini biasanya tidak dapat mereda dan menyebabkan penderita mengalami kelumpuhan.
Saraf di dekat daerah yang disinari juga bisa mengalami kerusakan. Penyinaran pada payudara atau paru-paru bisa merusak saraf di lengan, sehingga terjadi kelemahan atau hilangnya rasa. Penyinaran pada selangakangan bisa mempengaruhi saraf di tungkai dan menyebabkan gejala yang serupa.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 10:58 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 12:08 pm | |
| STUPOR & KOMA Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Tingkat aktivitas di dalam otak yang normal bervariasi secara konstan. Aktivitas pada saat terjaga sangat berbeda dengan aktivitas ketika tertidur. Aktivitas otak ketika mengikuti ujian sangat berbeda dengan aktivitas otak ketika bersantai di pantai.
Semua perbedaan tersebut merupakan keadaan yang normal dan otak bisa berubah dengan cepat dari satu tingkat kesiagaan ke tingkat lainnya. Selama keadaan siaga yang abnormal (perubahan tingkat kesadaran), otak tidak mampu berubah dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Salah satu bagian otak yang terletak jauh di dalam batang otak berfungsi mengendalikan tingkat kesadaran dan secara ritmis merangsang otak untuk terjaga dan siaga. Dalam keadaan normal, rangsangan kesadaran menerima masukan visual dari mata, suara dari telinga, sentuhan dari kulit dan masukan dari setiap organ sensorik lainnya untuk melengkapi tingkat kesiagaan yang tepat.
Jika sistem rangsangan atau hubungannya dengan bagian otak yang lain tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka sensasi tidak lagi mempengaruhi tingkat rangsangan dan kesiagaan otak secara tepat. Jika hal ini terjadi, maka akan timbul gangguan kesadaran. Gangguan kesadaran ini bisa berlangsung singkat atau lama dan bisa bersifat ringan atau sama sekali tidak memberikan respon.
PENYEBAB Berbagai penyakit, cedera atau kelainan yang serius bisa mempengaruhi otak dan menyebabkan stupor atau koma. Penurunan kesadaran sekejap bisa terjadi karena cedera kepala ringan, kejang atau berkurangnya aliran darah ke otak, seperti yang terjadi pada saat pingsan atau stroke. Keadaan tidak sadar yang berlangsung lama bisa disebabkan oleh cedera kepala yang lebih berat, penyakit yang berat (misalnya ensefalitis), reaksi racun terhadap obat tertentu atau pemakaian obat penenang atau zat lainnya secara sengaja. Metabolisme tubuh yang mengatur kadar garam, gula dan bahan kimia lainnya dalam darah, juga bisa mempengaruhi fungsi otak.
Keadaan Yang Berhubungan Dengan Gangguan Kesadaran #Stroke Penderita bisa masuk ke dalam keadaan koma, segera setelah terjadinya stroke atau beberapa jam kemudian
#Cedera kepala, perdarahan otak Penderita bisa masuk ke dalam keadaan koma segera atau beberapa jam kemudian Penyebab koma bisa berupa cedera langsung pada otak atau perdarahan di dalam tengkorak
#Infeksi (meningitis, ensefalitis, sepsis) Infeksi otak atau infeksi berat di luar otak bisa menyebabkan demam tinggi, adanya zat racun dalam darah & tekanan darah rendah, yg bisa mempengaruhi fungsi otak & menyebabkan koma
#Kekurangan oksigen Hanya beberapa menit setelah kekurangan oksigen, otak bisa mengalami kerusakan menetap Kekurangan oksigen paling sering terjadi pada cardiac arrest akut & agak sering terjadi pada penyakit paru yg berat
#Menghirup karbonmonoksida konsentrasi tinggi (misalnya dari asap mobil atau sistem pemanas ruangan) Karbonmonoksida menempel pada hemoglobin sel darah merah dan mempengaruhi kemampuan sel darah merah dalam mengangkut oksigen Keracunan karbonmonoksida yg berat dapat menyebabkan koma atau kerusakan otak menetap karena kekurangan oksigen
#Kejang epileptik Jarang terjadi koma setelah kejang, tetapi kalaupun terjadi, biasanya berlangsung selama beberapa menit
#Efek racun dari obat yg diresepkan, obat terlarang atau alkohol Keracunan alkohol bisa menyebabkan keadaan stupor atau koma, terutama jika kadar alkohol dalam darah lebih dari 0,2% Banyak obat-obatan, baik yg diresepkan maupun obat terlarang, yg bisa menyebabkan koma
#Gagal ginjal atau gagal hati Koma merupakan pertanda buruk dari gagal hati Gagal ginjal jarang menyebabkan koma karena darah bisa dibersihkan melalui dialisa
#Kadar gula darah yg rendah atau tinggi Kadar gula darah yg rendah (hipoglikemia) bisa menyebabkan koma. Segera diberikan glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yg permanen Kadar gula darah yg tinggi (hiperglikemia) juga bisa menyebabkan koma, tetapi lebih jarang terjadi dan tidak seberat hipoglikemia
#Suhu tubuh yg rendah atau tinggi Demam yg sangat tinggi (diatas 42? Celsius) bisa merusak otak & menyebabkan koma Suhu dibawah 31? Celsius (hipotermia) bisa menyebabkan stupor atau koma
#Pingsan (sinkop) Koma karena pingsan hanya berlangsung selama beberapa detik, kecuali ketika terjatuh penderita mengalami cedera kepala Kelainan psikis Malingering (pura-pura sakit atau terluka), histeria dan kataton (keadaan skizofrenik dimana penderita tampak berada dalam keadaan stupor) bisa menyerupai keadaan kehilangan kesadaran
GEJALA # Beberapa istilah kedokteran digunakan untuk menggambarkan tingkat kesadaran yang abnormal: Delirium dan status konfusional menunjukkan keadaan terjaga penuh tetapi terjadi kebingungan; penderita merasa bingung akan kejadian di masa lalu dan sekarang, agitasi dan seringkali tidak mampu mengartikan dan memahami secara tepat. # Obtundasi adalah berkurangnya rangsangan. # Hipersomnia merupakan tidur yang sangat lama dan sangat dalam, dimana penderita hanya dapat dibangunkan dengan rangsangan yang sangat kuat. # Stupor adalah keadaan tidak responsif yang dalam, dimana penderita terbangun hanya jika diguncang secara berulang, dengan suara yang keras, dicubit, ditusuk dengan jarum atau dirangsang dengan rangsangan yang serupa. # Koma adalah suatu keadaan seperti terbius atau tidur dalam, dimana penderita tidak dapat dibangunkan sama sekali. Dalam keadaan koma bahkan terjadi gangguan respon yang paling primitif (misalnya menghindari nyeri).
DIAGNOSA Dilakukan pemeriksaan terhadap saluran udara dan pernafasan, tekanan darah serta denyut jantung. Suhu yang tinggi bisa merupakan pertanda adanya infeksi; suhu yang sangat rendah menunjukkan bahwa penderita telah terpapar oleh dingin dalam wakatu yang cukup lama. Pada kulit dicari tanda-tanda cedera, suntikan obat atau reaksi alergi; pada kulit kepala dicari tanda-tanda luka robek dan memar.
Pemeriksaan neurologis dilakukan meskipun tanpa kerjasama dari penderita yang sedang dalam keadaan tidak sadar.
Pernafasan Cheyne-Stokes merupakan pertanda dari adanya kerusakan otak; suatu pola pernafasan yang tidak biasa, dimana penderita bernafas sangat cepat, lalu lebih lambat dan kemudian tidak bernafas sama sekali selama beberapa detik. Sikap tubuh yang tidak biasa, terutama kekakuan deserebrasi, dimana rahang terkatup dan leher, punggung, lengan serta tungkai kaku dan tegang, juga merupakan pertanda khusus dari kerusakan otak. Kelemahan menyeluruh di seluruh tubuh menunjukkan hilangnya aktivitas secara total di bagian penting tertentu dari sistem saraf pusat.
Pemeriksaan mata dilakukan untuk menilai posisi pupil, kemampuan gerak, ukuran, kemampuan untuk mengikuti benda yang bergerak, reaksi terhadap cahaya serta gambaran retina. Ukuran pupil yang tidak sama besar bisa merupakan pertanda adanya tekanan di otak.
Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengukur kadar gula darah, sel darah merah (untuk anemia), sel darah putih (untuk infeksi), garam, alkohol (untuk keracunan) dan oksigen serta karbondioksida. Pemeriksan air kemih dilakukan untuk mengetahui adanya gula dan zat racun. Pemeriksaan tambahan lainnya adalah CT scan atau MRI kepala, untuk menyingkirkan kemungkinan adanya cedera otak atau perdarahan. Jika diduga suatu infeksi maka dilakukan pungsi lumbal untuk menilai cairan serebrospinal.
PENGOBATAN Penderita segera dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dan denyut jantung, tekanan darah, suhu serta jumlah oksigen dalam darahnya dipantau secara ketat. Diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan obat. Biasanya segera diberikan glukosa secara intravena. Jika diduga penyebabnya adalah narkotika, maka diberikan nalokson sebagai penawar. Jika diduga telah menelan zat racun, segera dilakukan kuras lambung untuk menentukan isi lambung dan untuk mencegah semakin banyaknya zat yang terserap.
Untuk mempertahankan denyut jantung dan tekanan darah yang normal, diberikan darah, cairan dan obat-obatan. Jika koma sangat dalam, biasanya otak mengalami kerusakan sehingga tidak dapat menjalankan fungsi yang sangat penting, seperti bernafas. Karena itu untuk membantu fungsi paru-paru, biasanya digunakan respirator.
PROGNOSIS Kemungkinan penyembuhan dari koma yang dalam selama lebih dari beberapa jam sulit diramalkan. Jika penyebabnya adalah cedera kepala, bisa terjadi penyembuhan, bahkan jika koma berlangsung selama beberapa minggu (tetapi tidak lebih dari 3 bulan). Penyembuhan total setelah mengalami koma selama 1 bulan karena jantung berhenti atau karena kekurangan oksigen, jarang terjadi.
Kadang setelah mengalami cedera kepala, kekurangan oksigen atau kerusakan otak yang berat, penderita bisa masuk ke dalam status vegetatif. Pola tidur dan terjaga relatif normal, penderita bisa bernafas dan menelan secara spontan dan bahkan bisa memberikan reaksi yang mengejutkan terhadap suara keras. Tetapi penderita kehilangan seluruh kemampuan berfikir dan perilaku sadarnya, baik untuk sementara waktu maupun selamanya. Sebagian besar penderita memiliki refleks abnormal yang khas, seperti kekakuan atau sentakan pada lengan dan tungkainya.
Status locked-in adalah suatu keadaan yang jarang terjadi, dimana penderita sadar dan mampu berfikir tetapi mengalami kelumpuhan hebat, sehingga hanya bisa berkomunikasi dengan cara membuka atau menutup matanya. Hal ini bisa terjadi bersamaan dengan kelumpuhan saraf tepi yang berat atau dengan stroke akut.
Kehilangan kesadaran yang paling berat adalah kematian otak. Pada keadaan ini secara permanen otak telah kehilangan seluruh fungsi vitalnya, termasuk kesadaran dan kemampuan mempertahankan pernafasan. Tanpa bantuan respirator dan obat-obatan, penderita akan segera meninggal. Secara hukum seseorang dikatakan meninggal jika otaknya telah berhenti berfungsi, meskipun jantungnya masih berdenyut. Dokter dapat menyatakan kematian otak dalam waktu 12 jam setelah berusaha memperbaiki semua kelainan medis, tetapi otak masih tidak memberikan respon, mata tidak bereaksi terhadap cahaya dan penderita tanpa bantuan respirator penderita tidak bernafas. EEG (elektroensefalogram) tidak menunjukkan adanya fungsi otak. Penderita kematian otak yang mendapatkan bantuan respirator bisa memiliki beberapa refleks jika medula spinalisnya masih berfungsi.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 10:57 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 12:11 pm | |
| DELIRIUM Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Delirium adalah keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih.
PENYEBAB Delirium merupakan suatu keadaan mental yang abnormal, bukan suatu penyakit; dengan sejumlah gejala yang menunjukkan penurunan fungsi mental. Berbagai keadaan atau penyakit (mulai dari dehidrasi ringan sampai keracunan obat atau infeksi yang bisa berakibat fatal), bisa menyebabkan delirium. Keadaan ini paling sering terjadi pada usia lanjut dan penderita yang otaknya telah mengalami gangguan, termasuk orang yang sakit berat, orang yang mengkonsumsi obat yang menyebabkan perubahan fikiran atau perilaku dan orang yang mengalami demensia. Penyebab delirium: #Alkohol, obat-obatan dan bahan beracun # Efek toksik dari pengobatan # Kadar elektrolit, garam dan mineral (misalnya kalsium, natrium atau magnesium) yang tidak normal akibat pengobatan, dehidrasi atau penyakit tertentu # Infeksi akut disertai demam # Hidrosefalus bertekanan normal, yaitu suatu keadaan dimana cairan yang membantali otak tidak diserap sebagaimana mestinya dan menekan otak # Hematoma subdural, yaitu pengumpulan darah di bawah tengkorak yang dapat menekan otak. # Meningitis, ensefalitis, sifilis (penyakit infeksi yang menyerang otak) # Kekurangan tiamin dan vitamin B12 # Hipotiroidisme maupun hipotiroidisme # Tumor otak (beberapa diantaranya kadang menyebabkan linglung dan gangguan ingatan) # Patah tulang panggul dan tulang-tulang panjang # Fungsi jantung atau paru-paru yang buruk dan menyebabkan rendahnya kadar oksigen atau tingginya kadar karbon dioksida di dalam darah # Stroke.
GEJALA Delirium dapat diawali dengan berbagai gejala, dan kasus yang ringan mungkin sulit untuk dikenali. Tingkah laku seseorang yang mengalami delirium bervariasi, tetapi kira-kira sama seperti orang yang sedang mengalami mabuk berat.
Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian. Penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung dengan tempat dimana mereka berada. Fikiran mereka kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia.
Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri. Beberapa penderita mengalami paranoia dan delusi (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh). Respon penderita terhadap kesulitan yang dihadapinya berbeda-beda; ada yang sangat tenang dan menarik diri, sedangkan yang lainnya menjadi hiperaktif dan mencoba melawan halusinasi maupun delusi yang dialaminya.
Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka sering terjadi perubahan perilaku. Keracunan obat tidur menyebabkan penderita sangat pendiam dan menarik diri, sedangkan keracunan amfetamin menyebabkan penderita menjadi agresif dan hiperaktif.Delirium bisa berlangsung selama berjam-jam, berhari-hari atau bahkan lebih lama lagi, tergantung kepada beratnya gejala dan lingkungan medis penderita. Delirium sering bertambah parah pada malam hari (suatu fenomena yang dikenal sebagai matahari terbenam). Pada akhirnya, penderita akan tidur gelisah dan bisa berkembang menjadi koma (tergantung kepada penyebabnya).
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan sesegera mungkin ditentukan penyebabnya. Dilakukan pemeriksaan fisik lengkap dan dititikberatkan pada respon neurologis penderita. Pemeriksan lainnya yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan darah, rontgen dan pungsi lumbal.
PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada penyebabnya; - infeksi diatasi dengan antibiotik - demam diatasi dengan obat penurun panas - kelainan kadar garam dan mineral dalam darah diatasi dengan pengaturan kadar cairan dan garam dalam darah.
Untuk meringankan agitasi diberikan obat-obat benzodiazepin (misalnya diazepam, triazolam dan temazepam). Obat anti-psikosa (misalnya haloperidol, tioridazin dan klorpromazin) biasanya diberikan hanya kepada penderita yang mengalami paranoid atau sangat ketakutan atau penderita yang tidak dapat ditenangkan dengan benzodiazepin. Jika penyebabnya adalah alkohol, diberikan benzodiazepin sampai masa agitasi penderita hilang.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 10:56 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Otak Wed May 12, 2010 12:13 pm | |
| KELAINAN PENCIUMAN & PENGECAPAN Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Otak dan Saraf Kelainan Penciuman & Pengecapan jarang berakibat fatal sehingga tidak mendapatkan perhatian medis yang khusus. Tetapi kelainan ini bisa menyebabkan penderita menjadi putus asa karena mempengaruhi kemampuannya untuk menikmati makanan, minuman dan bau yang menyenangkan. Kelainan ini juga mempengaruhi kemampuan penderita untuk mengenali bahan kimia dan gas yang berbahaya, yang dapat menimbulkan akibat yang serius.
Penciuman dan pengecapan sangat berhubungan erat. Serabut pengecap di lidah menentukan rasa; saraf-saraf di hidung menentukan penciuman. Kedua sensasi tersebut dihubungkan ke otak, yang kemudian menggabungkan informasi yang didapat untuk mengenal dan mengapresiasikan rasa. Beberapa rasa (seperti asin, pahit, manis dan asam) bisa dikenal tanpa penciuman, tetapi untuk mengenali rasa yang lebih kompleks (misalnya frambos) diperlukan gabungan dari indera penciuman dan pengecapan.
GEJALA Anosmia Anosmia adalah hilangnya atau berkurangnya kemampuan untuk membaui, merupakan kelainan yang paling sering ditemui. Penciuman bisa dipengaruhi oleh beberapa perubahan di dalam hidung, di dalam saraf yang berasal dari hidung menuju ke otak atau di dalam otak. Misalnya jika rongga hidung tersumbat karena pilek, maka penciuman bisa berkurang karena bau tidak sampai ke penerima bau. Kemampuan membaui akan mempengaruhi rasa sehingga pada penderita pilek, rasa dari makanan terasa kurang enak. Sel-sel penciuman kadang mengalami kerusakan sementara oleh virus flu, beberapa penderita tidak dapat membaui atau merasa dengan baik selama beberapa hari atau bahkan berminggu-minggu setelah mengalami flu.
Kadang hilangnya penciuman atau pengecapan berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bersifat menetap. Sel-sel penciuman bisa mengalami kerusakan atau kehancuran oleh infeksi sinus hidung yang serius atau karena terapi penyinaran untuk kanker. Penyebab tersering dari hilangnya penciuman yang menetap adalah cedera kepala. Serabut-serabut dari saraf olfaktorius (saraf yang mengandung penerima bau) terletak pada dasar tengkorak yang memisahkan rongga intrakranial dengan rongga hidung.
Hipersomnia Hipersomnia adalah penciuman yang berlebihan, lebih jarang terjadi.
Disosmia Disosmia adalah berubahnya penciuman yang menyebabkan penderita merasa mencium bau yang tidak enak. Disosmia bisa disebabkan oleh: - Infeksi di dalam sinus - Kerusakan parsial pada saraf olfaktorius - Kebersihan mlut yang jelek, sehingga terjadi infeksi mulut yang berbau tidak enak dan tercium oleh hidung - Depresi. Beberapa penderita kejang yang penyebabnya berasal dari bagian otak yang merasakan bau (saraf olfaktorius) akan merncium bau yang tidak menyenangkan (halusinasi olfaktori). Hal ini merupakan bagian dari kejang, bukan merupakan disosmia.
Ageusia Ageusia merupakan berkurangnya atau hilangnya pengecapan. Penyebabnya adalah berbagai keadaan yang mempengaruhi lidah: - Mulut yang sangat kering - Perokok berat - Terapi penyinaran pada kepala dan leher - Efek samping dari obat (misalnya vinkristin-obat antikanker atau amitriptilin-obat antidepresi).
Disgeusia Disgeusia adalah berubahnya pengecapan.
Penyebabnya bisa berupa: - Luka bakar pada lidah (bisa menyebabkan kerusakan sementara pada jonjot-jonjot pengecap) - Bell's palsy (bisa menyebabkan berkurangnya pengecapan pada salah satu sisi lidah) - Depresi.
DIAGNOSA Untuk menguji penciuman, bisa digunakan wewangian yang berasal dari minyak wangi, sabun dan makanan (misalnya kopi atau cengkeh). Untuk menguji pengecapan bisa digunakan gula (manis), jus jeruk (asam), garam (asin) dan aspirin-kuinin-lidah buaya (pahit). Keadaan mulut juga diperiksa, untuk melihat kemungkinan adanya infeksi atau kekeringan (terlalu sedikit ludah). Jarang diperlukan pemeriksaan CT scan maupun MRI kepala.
PENGOBATAN Tergantung kepada penyebabnya, bisa dilakukan hal-hal berikut: - Merubah atau menghentikan pemakaian obat-obat yang diduga menjadi penyebab terjadinya kelainan ini - Menjaga agar mulut tetap basah dengan cara mengulum permen - Menunggu beberapa minggu untuk melihat perkembangan selanjutnya.
Tambahan seng (bisa dibeli bebas maupun dengan resep dokter) bisa mempercepat penyembuhan, terutama pada kelainan yang timbul setelah serangan flu.
Last edited by gitahafas on Thu Dec 30, 2010 10:55 am; edited 2 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |