|
| | Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:21 am | |
| KASUS BARU KUSTA MASIH TINGGI Senin, 13 Desember 2010 | 07:06 WIB Jakarta, Kompas - Jumlah kasus baru kusta di Indonesia masih tetap tinggi sekalipun obat telah tersedia gratis. Hal itu dikemukakan AB Susanto selaku Presiden Gerakan Masyarakat Peduli Indonesia dan Dunia Tanpa Kusta (Gempita) sekaligus Duta Besar Misi Lepra Internasional untuk Indonesia, Sabtu (11/12) di Jakarta. Susanto mengatakan, di Indonesia ada sekitar 17.000 kasus kusta baru dalam setahun. Hal ini menjadikan Indonesia berada di urutan ketiga jumlah penderita kusta tertinggi di dunia. ”Banyaknya jumlah penduduk tidak dapat menjadi alasan. Sebagai perbandingan, China yang jumlah penduduknya lebih banyak dari Indonesia, kasus kusta baru hanya 1.500 dalam setahun,” ujarnya.
Susanto mengatakan, jika penderita kusta segera diketahui dan diobati, dia tidak akan menularkan lagi penyakit itu.
Deteksi dini terhadap penyakit kusta dapat dilakukan dengan cara sangat sederhana dan mudah dilakukan. Caranya ialah menekan bercak putih yang tampak di kulit dengan jarum. Jika ditekan bercak putih tersebut mati rasa harus segera ada pemeriksaan lebih lanjut. Pada hari yang sama, para relawan Gempita membagikan ”Jarum Harapan” kepada masyarakat di sekitar Bundaran Hotel Indonesia.
Pada kesempatan sama, JP Handoko dari RS Sitanala Kota Tangerang mengatakan, kusta ialah penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit itu sulit menular dan penularan yang terjadi ada hubungannya dengan kondisi kekebalan tubuh. Kekurangan gizi dan kemiskinan termasuk faktor yang memengaruhi. Kusta termasuk penyakit yang sulit menular. Hanya saja banyak masyarakat yang tidak mengetahui hal itu. Akibatnya, banyak penderita kusta yang mendapatkan stigma negatif. (INE) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:22 am | |
| MASIH ADA 17.000 KASUS BARU SETIAP TAHUN Senin, 30 Agustus 2010 | 15:48 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Masih ada 17.000-18.000 kasus kusta baru tiap tahun dan belum ada kecenderungan menurun sejak tahun 2000. Di sejumlah provinsi, jumlah penderita kusta masih tinggi. Padahal, beban yang ditimbulkan oleh penyakit lama tersebut sangat besar karena dapat menimbulkan kecacatan. Demikian terungkap dalam "Pertemuan Aliansi Nasional Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia", Senin (30/8/2010). Indonesia telah mencapai eliminasi pada tingkat nasional karena prevalensi kurang dari 1 per 10.000 penduduk pada tahun 2000. "Hanya saja, jumlah penderita masih terbilang tinggi," ujar Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam sambutannya.
Menurut data Kementerian Kesehatan, terdapat 14 provinsi dengan jumlah kasus kusta tinggi. Empat provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Di daerah-daerah itu ada lebih dari 1.000 kasus per tahun. Selain itu, kasus anak dan kasus dan kasus baru kusta dengan kecacatan tingkat dua juga tinggi. Di Indonesia, kusta pada anak 11,4 persen dan kasus baru dengan cacat tingkat dua 9,56 persen pada tahun 2009. Dia mengatakan, keberadaan penyakit seperti kusta sangat terpengaruh kemajuan pembangunan. Program pengendalian kusta dengan multi-drug therapy telah berhasil menurunkan sekitar 80 persen jumlah penderita dari tahun 1990 hingga tahun 2009.
Kusta atau lepra disebabkan oleh infeksi yang diakibatkan bakteri Mycobacterium leprae. Kusta termasuk penyakit menular yang penularannya sulit. Kondisi tubuh yang lemah serta kontak terus-menerus dalam waktu lama memudahkan penularan kusta. Namun, kusta dapat diobati. Gejala awal kusta, antara lain, kelainan kulit berupa bercak putih, seperti panu atau bercak kemerahan yang mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal, dan tidak sakit.
Gejala lanjut ditandai kecacatan, seperti tidak bisa menutup mata, bahkan sampai buta, mati rasa pada telapak tangan, serta jari-jari kiting (kaku melingkar), memendek, bahkan putus. Cacat kusta terjadi karena kuman menyerang saraf. Kondisi itu ditemui pada pengidap yang terlambat ditemukan dan diobati. (INE)
Last edited by gitahafas on Mon Dec 13, 2010 8:24 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:23 am | |
| MAYORITAS DITEMUKAN KRONIS Selasa, 2 November 2010 | 15:29 WIB Tasikmalaya, Kompas - Mayoritas penderita kusta di Kabupaten Tasikmalaya ditemukan tenaga medis sudah dalam kondisi kronis atau cacat lanjut. Minimnya pengetahuan masyarakat seputar penyakit menular menahun yang disebabkan kuman Mycobacterium leprae ini membuat pengobatan dini sulit dilakukan. Jangankan warga, tak semua petugas kesehatan memahami gejala kusta dan pengobatannya. Demikian dikatakan pengelola Program Penanggulangan Penyakit Kusta Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Dedi Suhendar, Senin (1/11). "Sebanyak 33,3 persen penderita kusta yang kami temukan sudah pada kondisi cacat tingkat II atau kronis. Walaupun penyakitnya masih bisa disembuhkan, kecacatannya tidak tertolong lagi," tuturnya.
Saat ini di Kabupaten Tasikmalaya, menurut Dedi, tercatat 22 penderita kusta yang menjalani pengobatan. Mereka tersebar di 27 kecamatan, seperti Sukaratu, Sukarame, dan Jamanis. Sekitar 90 persen di antaranya laki-laki. Dengan jumlah penderita kusta sebanyak itu, Kabupaten Tasikmalaya termasuk daerah endemis rendah kusta. Kepala Puskesmas Sukaratu Asep Hermawan mengatakan, buruknya kondisi kesehatan lingkungan dan rendahnya daya tahan tubuh memperbesar risiko seseorang terjangkit kusta. Hasil sementara survei penderita kusta oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, minggu lalu di Sukaratu, menunjukkan, ada seorang warga yang menderita kusta.
Di perantauan Dedi mengatakan, kebanyakan dari penderita kusta tersebut memiliki riwayat bekerja di luar Tasikmalaya, terutama di daerah-daerah endemis kusta, seperti Tangerang, Cirebon, Subang, dan Karawang. "Setelah lama sakit di perantauan, biasanya mereka pulang ke kampung halamannya di Tasikmalaya. Akibatnya, ketika ditemukan oleh tenaga kesehatan, kondisinya sudah kronis," kata nya. Sebagian besar masyarakat, kata dia, tidak tahu gejala kusta. Padahal, gejalanya tergolong sederhana, yakni di permukaan kulit ada bercak putih atau merah yang disertai mati rasa dan gangguan fungsi organ.
"Biasanya masyarakat mengira bercak putih di kulit adalah panu sehingga awalnya mereka berobat ke dokter spesialis kulit. Akan tetapi, setelah lama tidak sembuh, kondisi organ yang terkena justru semakin parah. Misalnya, jari-jari tangan menjadi kaku. Pada saat itulah baru mereka memeriksakan diri ke puskesmas," ujarnya. Akibat minimnya informasi pula, terkadang penderita kusta yang sedang menjalani pengobatan dikucilkan masyarakat karena khawatir menularkan penyakit itu. Padahal, jika penderita meminum obat kusta sekali saja, risiko penularannya sudah jauh berkurang. (adh) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:26 am | |
| WASPADAI KUSTA SEDINI MUNGKIN! Selasa, 3 Maret 2009 | 23:25 WIB JAKARTA, SELASA - Bila Anda menemukan bulatan putih seperti panu di bagian tubuh tertentu, tidak gatal, tidak sakit bila ditusuk, segera waspadai. Kemungkinan besar Anda menderita kusta.Dr. JP Handoko Soewarno dari Rumah Sakit Sitanala, Tangerang menganjurkan agar mereka yang menemukan gejala ini segera berobat ke dokter. "Gejala-gejala awal warna putih, bila di tusuk jarum, di bakar tanpa rasa. Maka waspadalah, kemungkinan ini adalah Kusta. Segera lakukan pengobatan dini," papar Handoko di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (3/3).
Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan, segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit. Dokter akan memastikan apakah ini kusta kering atau basah. Apabila tergolong basah, penderita wajib mengonsumsi obat MDT (Multy Drug Therapi) selama 12 bulan. Sebaliknya, untuk kusta kering, perlu rawat jalan selama 6 bulan. "Artinya dalam 12 bulan, pasien wajib datang sebulan sekali untuk kontrol dan minum obat langsung di depan dokter selama setahun. Serupa juga dengan kusta kering, yang wajib datang sebulan sekali selama 6 bulan," tegasnya. Kenapa harus minum obat di depan dokter? Karena, lanjut Handoko, terkadang pasien bandel. "Bilang sudah minum ternyata tidak," katanya.
Meski begitu, pengobatan ini belum menjamin apakah kusta akan menghilang, karena masa inkubasinya 10 tahun. "Maka diperlukan pengobatan berkelanjutan hingga bakteri kusta hilang, dan tidak ada kemungkinan kambuh kembali," jelas Handoko. Selain itu Handoko menegaskan agar penderita tidak khawatir dengan harga obat. MDT gratis asal menunjukkan dirinya mengidap kusta. "Obat ini disubsidi langsung oleh WHO," terangnya.
Handoko menjelaskan, penyakit kusta pada umumnya menyerang seseorang di umur 10 - 15 tahun. Bila di atas usia 20 tahun tidak ditemui gejala, maka Anda bebas kusta, kata Handoko. Untuk meminimalisir kemungkinan terkena penyakit kusta, Handoko menghimbau agar kita menjaga keseimbangan gizi. Dari penelitian, gizi buruk berperan penting sebagai faktor risiko seseorang terkena kusta, meski penyebab utama kusta bakteri Mycobacterium Leprae. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:27 am | |
| PENYAKIT KUSTA TIDAK MUDAH MENULAR Senin, 26 Januari 2009 | 15:00 WIB JAKARTA, SENIN - Di antara penyakit menular lainnya, kusta termasuk sulit menular. Lebih dari 95 persen dari total penduduk dunia secara alamiah kebal terhadap penyakit ini. Diperkirakan penularan yang terjadi ada hubungannya dengan kondisi kekurangan gizi dan kemiskinan. Orang yang sudah sembuh dari penyakit kusta, tidak akan menularkan penyakitnya. Begitu juga penderita kusta yang sudah mengkonsumsi obat (multi drug therapy) selama dua kali 24 jam, maka dia tidak akan menularkan kusta, kata Duta Besar The Leprosy Mission International (TLM) untuk Indonesia AB Susanto di Jakarta, Senin (26/1).
Namun Susanto menyayangkan karena hingga saat ini masyarakat umum tidak memiliki pengetahuan yang cukup terhadap penyakit kusta, sehingga mengakibatkan munculnya stigma negatif dan tindakan diskriminatif terhadap penderita kusta di dalam masyarakat. Yayasan Transformasi Lepra Indonesia menyebut, kusta adalah kondisi medis yang menimpa jutaan manusia di dunia dimana sekitar 90% penderita hidup di negara yang sedang membangun seperti Indonesia.
Kusta menyerang kulit dan syaraf tepi, jika tidak segera diobati dapat menimbulkan hilangnya rasa dan kelumpuhan otot pada daerah kaki, tangan dan muka. Jika keadaan ini tidak mendapat pengobatan dan perawatan dengan baik, akan berlanjut dengan akibat timbulnya luka-luka, kekakuan sendi-sendi jari, bahkan hilangnya bagian-bagian kaki, tangan, serta timbulnya kebutaan.
Kusta disebabkan oleh bakteri, yang bernama Mycobacterium Leprae. Jadi bukan karena keturunan, kutukan, ataupun hukuman dari dosa, papar Susanto. Kusta dapat disembuhkan dengan obat yang disebut MDT (Multi Drug Therapy). Untuk tipe paucibacillary (PB) perlu waktu 6 bulan, sedangkan tipe multibacillary (MB) lebih lama yaitu sekitar 1 tahun. Pende rita kusta yang diobati dini sebelum timbulnya cacat, akan sembuh sempurna.
Kusta masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di 19 negara di dunia termasuk Indonesia dan lebih dari 750.000 kasus baru ditemukan setiap tahun di dunia atau sekitar 85 orang setiap jamnya. Indonesia terdapat sekitar 20.000 kasus baru ditemukan setiap tahun atau sekitar 2 sampai 3 orang setiap jam atau 40 - 80 orang setiap harinya, dan merupakan nomor ke tiga di dunia setelah India, dan Brazil.
Saat ini sudah 11 juta orang telah sembuh dari kusta di dunia berkat obat MDT. Namun dengan masih banyaknya masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, maka penyakit ini masih terus timbul dalam lingkungan dan masyarakat kita Diseluruh dunia orang kusta yang masih memerlukan perawatan ada sekitar dua juta orang, ditambah empat Juta orang lagi mengalami penderitaan dan sedang dalam masa perawatan dikarenakan oleh kelumpuhan total kusta. (LOK) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:29 am | |
| NTT, 10 BESAR TERBANYAK KASUS KUSTA Kamis, 25 September 2008 | 22:01 WIB KUPANG, KAMIS -- Jumlah penderita kusta (Lepra) di Nusa Tenggara Timur (NTT) rata-rata 300 orang setiap tahun. Jumlah ini termasuk tinggi. Karena itu, NTT masuk 10 besar penderita kusta terbanyak di Indonesia bersama Jawa Timur, Jawa Barat, Maluku, Papua dan Sulawesi Selatan. Menurut data tahun 2007, penderita baru lepra di NTT sebanyak 110 orang. Sebanyak 32 orang penderita lepra tipe PB (Pausibasiler/ tipe kering), enam orang anak kecil, selebihnya penderita lepra tipe MB (multibasiler/ tipe basah).
Hal ini dikemukakan Direktur Eksekutif Yayasan Transformasi Lepra Indonesia (YTLI), Ir. Nuah P. Tarigan, MA, di Redaksi Harian Pos Kupang, Kamis (25/9/2008) petang. Dia meminta kesadaran berbagai pihak di NTT untuk bersama-sama menanggulangi penyakit ini. Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri yang disebut Microbacterium Leprae. Kusta dapat disembuhkan dengan obat yang disebut MDT (Multi Drug Therapy). Untuk tipe PB perlu waktu enam bulan, sedangkan tipe MB satu tahun. Penderita kusta yang diobati dini sebelum timbulnya cacat akan sembuh sempurna.
Tarigan ke Pos Kupang bersama Drs. A. Bambang Trisno Sejati (Bendahara YTLI), Yahya Dikan, dan staf YTLI di Kupang, Kalep Manikari. "Kami harus jalan bersama media untuk membangun persepsi yang benar tentang kusta. Karena masih ada stigma yang melekat pada masyarakat bahwa kusta itu kutukan," kata Bambang Trisno. Sebelum ke Pos Kupang, mereka mengunjungi sejumlah kelompok binaan YTLI di Baumata Utara, Kabupaten Kupang. Selain di Kabupaten Kupang, kelompok binaan YTLI di NTT terdapat di Kota Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), Belu dan Flores Timur (Adonara).
YTLI berdiri bulan Juli 2007, dengan kantor pusat di Jl Pulo Sirih Boulevard FE-348 A, Taman Galaksi, Bekasi, Jawa Barat. Selain di NTT, YTLI bekerja di Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Berkaitan dengan kusta, YTLI melakukan advokasi, pemograman berbasis masyarakat, pemograman kesehatan masyarakat, pemrograman ekonomi masyarakat dan hak asasi manusia (HAM).
"Tugas kita di NTT, meningkatkan awareness (kesadaran) dan pemberdayaan terhadap penderita kusta setelah sembuh. Bagaimana supaya penderita bisa sembuh, butuh strategi holistik, bukan penanganan case by case. Juga bagaimana supaya para penderita kusta punya organisasi di mana mereka bisa mengadvokasi diri sendiri," jelas Tarigan. (ati) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:31 am | |
| PENDERITA KUSTA DI NTT KESULITAN OBAT Sabtu, 10 Januari 2009 | 07:42 WIB KUPANG, SABTU- Ratusan penderita kusta yang tersebar di 20 kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur, saat ini kesulitan obat kusta. Sejak Juni 2008 pemerintah pusat tidak lagi mengirim obat kusta ke Nusa Tenggara Timur. Kepala Subdinas Pemberantasan Masalah Kesehatan dr Boby Koamesah di Kupang, Sabtu (10/1), mengatakan, sekitar 350 penderita kusta di NTT sejak September 2008 tidak lagi mengonsumsi obat kusta.
Ada dua jenis kusta, yakni kusta kering, dapat diberi obat dengan interval waktu --9 bulan, sementara kusta basah mengonsumsi obat antara 12-19 bulan berturut-turut.Ketika obat ituu terhenti, maka proses pengobatan harus dimulai dari awal lagi.
"Obat ini dibagikan cuma cuma kepada penderita karena bersumber dari badan kesehatan dunia WHO. WHO memberikan obat secara gratis kepada pemerintah untuk diteruskan ke penderita," katanya. Don Sili, Kepala Desa Mewet Wotanulumado, Flores Timur, mengatakan, 50 penderita kusta di desa itu sejak Agustus 2008 tidak kebagian obat kusta. Biasanya setiap awal bulan ada petugas kesehatan bersama yayasan lepra Indonesia mendatangi desa Mewet. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:38 am | |
| KUSTA DI INDONESIA BELUM TUNTAS Selasa, 3 Maret 2009 | 23:04 WIB JAKARTA, SELASA - Meski sudah berusia ribuan tahun, penyakit kusta belum juga tuntas terutama di Indonesia. Demikian dinyatakan Dr. A. B. Susanto Se, MA., Pembina Yayasan Transformasi Lepra Indonesia di Jakarta, Selasa (3/3). "Penyakit ini ada sejak 2000 tahun lalu. Kenyataanya, penyakit ini sangat terlupakan. Terlupakan hingga tidak mengetahui bagaimana penyembuhan awalnya, apakah itu pada tingkat puskesmas ataupun rumah sakit," terang Susanto.
Berdasarkan laporan WHO pada tahun 2002 terdapat 12 ribu kasus kusta, 2003-14 ribu kasus dan semakin meningkat pada tahun 2007 mencapai 17 ribu kasus. Dan Indonesia menempati nomor ketiga di dunia setelah India dan Brazil. Padahal, menurut Susanto, pengobatan dini hanya perlu minum obat MDT (Multy Drug Therapi). Untuk tipe kering (Pucibacillary) perlu waktu 6 bulan, sedangkan tipe basah (Multibacillary) satu tahun.
"Penderita kusta yang diobati dini sebelum timbulnya cacat, akan sembuh sempurna, lagi pula obat ini gratis," ujarnya. Sebagai catatan, kusta masih menjadi masalah kesehatan di 19 negara di dunia. Pada tahun 2001, 750.000 kasus baru ditemukan setiap tahun di dunia atau sekitar 85 orang setiap jamnya. Tahun 2007 jumlah penderita kusta menurun menjadi 250.000. Kembali menurun pada tahun 2008 menjadi sebesar 210.000. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:41 am | |
| STIGMA TERHADAP PENYAKIT KUSTA SULIT DILEPAS Senin, 2 Februari 2009 | 17:06 WIB MAKASSAR, SENIN — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan mengaku kesulitan melepaskan stigma penyakit kusta yang masih cukup kuat melekat di tengah masyarakat. "Stigma masyarakat tentang penyakit kusta inilah yang menghambat pelaksanaan program pencegahan penyakit kusta di daerah ini," kata penanggung jawab Bantuan Luar Negeri Netherland Leprosy Relief (BLN-NLR) Dr Andi Suryanto Asapa, saat di temui di ruang kerjanya di Makassar, Senin. Dia menyayangkan masih rendahnya partisipasi masyarakat terutama penderita kusta untuk melaporkan kondisinya ke puskesmas dan rumah sakit terdekat. Akibatnya, penanganan penyakit ini melalui program diakui belum mampu berjalan secara optimal.
Padahal, kata dia, pemerintah telah memperoleh dukungan penuh dari lembaga donor asal Belanda (NLR) untuk melakukan penanganan dan pencegahan penyakit kusta yang diakui masih cukup besar terjadi di Indonesia, khususnya Sulsel. "Pengendalian penyakit kusta merupakan masalah yang sangat kompleks. Penyakit ini bukan hanya menyangkut masalah medis semata, melainkan menjadi permasalahan psikososial dan ekonomi masyarakat," pungkasnya. "Masalah kusta bukan hanya tanggung jawab Dinkes saja, padahal permasalahan ini membutuhkan keterlibatan pihak terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Agama, dan masyarakat," keluhnya. Sebenarnya, lanjut dia, penyakit kusta yang merupakan penyakit menular dapat disembuhkan dengan menggunakan obat Multi Drug Therapy (MDT) yang ditemukan tahun 1982. Bahkan, sejak tahun 1995, WHO telah menyediakan obat MDT gratis bagi penderita kusta di seluruh dunia.
Pemberian obat gratis ini ternyata masih belum cukup mengatasi permasalahan kusta di Sulawesi Selatan, tetapi tingkat pengetahuan tentang kusta dan stigma yang masih kuat di masyarakat yang masih menjadi faktor penghambat penanggulangan penyakit ini. "Pada tahun 2000, Indonesia sebenarnya telah mencapai eliminasi kusta secara nasional. Hanya saja, pada tingkat provinsi dan kabupaten, masih ada 13 provinsi dan 125 kabupaten yang belum mencapai eliminasi, salah satu di antaranya Provinsi Sulawesi Selatan," tuturnya.
Tahun 2004 pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membentuk suatu forum yaitu Aliansi Daerah Eliminasi Kusta (ADEK) yang mempunyai tujuan untuk mendapatkan dukungan politis dan kesinambungan kegiatan yang terintegrasi dalam eliminasi kusta di Sulawesi selatan . Forum ini diketuai oleh bupati kabupaten/kota dan anggotanya terdiri dari 23 kabupaten/ kota dan setiap tahun melaksanakan pertemuan untuk mengevaluasi hasil rekomendasi pada pertemuan sebelumnya.
Evaluasi dari WHO dan Depkes RI pada pertemuan ADEK IV tahun 2008 di Makassar bahwa Provinsi Sulawesi Selatan merupakan satu-satunya yang berjalan dengan baik dan mempunyai kontribusi dalam meningkatkan komitmen dan dukungan kabupaten/kota terhadap program kusta. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya kontribusi dalam pembiayaan. Pada tahun 2004 APBD kebupaten/kota hanya 12.4 %, APBD provinsi Sulsel 4.3 % dan BLN 83.3 % dari total pembiayaan program mencapai Rp1.024.920.750 dan pada tahun 2008, APBD kabupatean/kota 37.8 % , APBD provinsi 6.2 % dan BLN 56 % dari total biaya Rp2.198.033.885.
Forum ADEK juga meningkatkan dukungan lintas sektor dan lintas untuk menggalang solidaritas dan kepedulian masyarakat pada penderita kusta, terbentuknya Tim Advokasi Kusta tingkat Provinsi, Tim Rehabilitasi Medis Provinsi, serta keterlibatan LSM Peduli Kusta seperti PerMata, YTLI, LPP Bone, PPCI yang bersama-sama dengan penyandang kusta membuat kegiatan yang berdampak pada kemandirian penyandang kusta untuk mengatasi masalah dan kebutuhan mereka dengan melibatkan dinas terkait dan masyarakat umum.
Tahun 2008, angka penderita kusta terdaftar 1.5/10.000 penduduk (1.107) dengan penemuan penderita baru sebanyak 1.240 orang. Pada tahun 2007 dari 23 kabupaten/kota yang ada di Sulsel sekitar enam kabupaten/kota di antaranya dilaporkan telah masuk dalam daftar eliminasi, dan pada tahun ini terus bertambah hingga sembilan kabupaten/kota (Tator, Enrekang, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Palopo, Maros, dan Selayar). Sementara itu, katanya, survei Knowledge, Attitude, Practical (KAP) yang sementara berjalan diharapkan mampu mencapai sasaran dengan mengukur tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait stigma yang timbul akibat penularan penyakit kusta. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:42 am | |
| PERLU LIBATKAN ULAMA TANGANI KUSTA Minggu, 1 Februari 2009 | 00:59 WIB GORONTALO, SABTU - Kalangan ulama dan tokoh masyarakat dinilai perlu dilibatkan untuk menangani penyakit kusta di Gorontalo. Jumlah penderita di provinsi itu masih menempati peringkat tertinggi dalam skala nasional. "Permasalahan penyakit kusta bukan hanya tugas dan tanggung jawab petugas kesehatan semata, namun lebih jauh hal ini terkait erat dengan permasalahan sosial di masyarakat," Ujar Alim Niode, salah seorang budayawan setempat, yang menjadi narasumber dalam acara dialog interaktif yang membahas tentang penanganan penyakit kusta di Studio RRI Gorontalo, Sabtu. Dalam hal ini, menurutnya, tokoh masyarakat, dan ulama setempat perlu dilibatkan langsung, untuk memberikan gambaran pada warga setempat, bahwa kusta bukan penyakit kutukan, dan tidak perlu ditakuti. "Tempat-tempat isolasi bagi penderita kusta juga perlu disebarluaskan pada publik, untuk bersama-sama dijaga dan di awasi, seiring dengan adanya pemahaman yang mapan terhadap penyakit ini," kata dia. Membenarkan hal itu, Dr. Triyogo, narasumber lainnya dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mengungkapkan, penyakit kusta murni disebabkan oleh basil atau kuman bernama mikrobakteria lepra, yang sama sifatnya dengan kuman TBC (Tuberculosis). Pada umumnya, bakteri tersebut berkembang biak dalam lingkungan yang kurang bersih dan tidak sehat. Bakteri itu serta menyerang orang yang memiliki daya kekebalan tubuh yang rendah. Dia menjelaskan, ciri-ciri penyakit kusta antara lain terdapatnya tanda bercak berwarna merah atau putih pada bagian tubuh tertentu, seperti pada mata, kaki dan tangan, yang bersifat mati rasa, akibat terganggunya syaraf motorik dan sensorik si penderita. "Di Gorontalo, angka penderita kusta sendiri masih cukup tinggi, mencapai 242 orang, dan menempati peringkat ketujuh dalam skala nasional," Terangnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:48 am | |
| PENYAKIT ZAMAN "DOELOE" YANG BELUM HILANG Kamis, 28 Januari 2010 | 07:27 WIB Kompas.com - Di Indonesia, kusta atau lepra merupakan salah satu penyakit yang tak lekang dimakan zaman. Penyakit satu ini tetap bercokol dan mengubah kehidupan orang yang pernah dihinggapinya. Salah satunya Adi Yosep (31). Kusta tak asing lagi bagi Adi dan keluarganya. Awalnya, ibu dari Adi—pengidap kusta cukup parah—diserang mulai dari gangguan di kulit muka berupa benjolan-benjolan hingga kuman menyerang saraf tangan sang ibu. Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1997, giliran Adi terkena. Muncul bercak putih tanpa rasa sakit di tangannya. ”Tanda itu sudah ada sejak SMP, tetapi empat tahun kemudian baru diperiksakan karena melebar,” katanya.
Setelah didiagnosis kusta, Adi menjalani pengobatan gratis di sebuah puskesmas di Kota Kudus selama setahun dan sembuh total. Sekalipun tanda-tanda kusta sebagian menghilang, tetapi stigma sebagai pengidap kusta masih terekam. Tidak banyak masyarakat tahu tentang penyakit kusta. Yang ada di masyarakat adalah gambaran keliru tentang sakit kusta sebagai kutukan, guna-guna, sangat menular, dan tidak tersembuhkan. ”Dulu, tetangga saya tidak berani bertamu. Kalau ada perlu, mereka berbicara lewat jendela,” ujar pendiri Perhimpunan Mandiri Kusta itu.
Kusta di Indonesia Istilah kusta berasal dari bahasa Sanskerta, kushtha, yang berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit itu diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang menyebar lewat perpindahan penduduk, antara lain saat perang, penjajahan, dan perdagangan. Penemuan kuman kusta oleh GH Hansen pada tahun 1873 mengawali upaya pencarian obat dan penanggulangan kusta.
Dokter spesialis kulit dan kelamin dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Sri Linuwih, mengatakan, Senin (25/1), kusta termasuk penyakit menular yang penularannya sulit. Hanya sekitar 5 persen yang tertular. Kondisi tubuh yang lemah serta kontak terus-menerus dalam waktu lama memudahkan penularan kusta. Daerah kantong kusta terutama di daerah tropis dan subtropis serta terkait dengan kondisi sosial-ekonomi yang rendah.
Gejala awal kusta, antara lain, kelainan kulit berupa bercak putih, seperti panau atau bercak kemerahan yang mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal, dan tidak sakit. Gejala lanjut ditandai kecacatan, seperti tidak bisa menutup mata, bahkan, sampai buta, mati rasa pada telapak tangan, serta jari-jari kiting (kaku melingkar), memendek, bahkan, putus. Cacat kusta terjadi karena kuman menyerang saraf. Kondisi itu ditemui pada pengidap yang terlambat ditemukan dan diobati.
”Penyakit kusta bisa sembuh total dan obat ada gratis di puskesmas,” ujarnya. Sejak tahun 1982, Indonesia menggunakan terapi obat kombinasi (MDT) sesuai rekomendasi WHO.
Di Indonesia, penyakit lama yang sudah ada obatnya dan bisa disembuhkan total serta sulit menular itu ternyata begitu sulit dieliminasi. Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Iwan M Muljono mengatakan, pada akhir 2008, tercatat 17.441 kasus baru kusta.
Pemerintah mengakui belum mampu mencapai target pengentasan rakyat dari kusta. Prevalensi kusta secara nasional di bawah 1 per 10.000 penduduk, yakni 0,94 per 10.000 penduduk. Tetapi, indikator lain meleset dari target.
Sesuai strategi global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2011-2015, indikator keberhasilan, antara lain, proporsi penderita kusta anak-anak di bawah 5 persen dan proporsi pengidap baru dengan cacat tingkat dua kurang dari 5 persen. Di Indonesia, kusta pada anak 11,4 persen dan kasus baru dengan cacat tingkat dua 9,56 persen. Angka penemuan baru 7,64 per 100.000 penduduk, padahal targetnya di bawah 5 per 100.000 penduduk.
Minimnya pengetahuan tentang kusta menyebabkan pengidap terlambat berobat sehingga menimbulkan cacat dan berpotensi menularkan kuman. Masa inkubasi kusta yang panjang, bisa lebih dari 10 tahun dan tanpa rasa sakit menyebabkan pengidap kerap tidak menyadari dirinya terkena kusta.
Iwan mengatakan, strategi ke depan ialah mengadakan percepatan kegiatan dengan perencanaan pelayanan kesehatan terpadu, penyuluhan intensif, dan penemuan pengidap secara pasif. Keberadaan petugas penanggung jawab program khusus dan pengembangan kemitraan intensif, terutama di daerah endemik tinggi, juga ditingkatkan.
Bagi Adi Yosep, yang kini bekerja sebagai Direktur Program di ASEAN Secretariat-The Nippon Foundation Program untuk Leprosy and Human Dignity Project, eliminasi kusta sangat penting dalam pembangunan. ”Ketika terkena kusta, banyak pengidap putus sekolah atau berhenti bekerja. Mereka malu atau telanjur cacat parah sehingga mengundurkan diri. Kusta membuat orang terputus masa depannya,” ujarnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:52 am | |
| KUSTA DAPAT DISEMBUHKAN Kamis, 18 Juni 2009 | 20:51 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Anggapan salah tentang kusta di kalangan masyarakat menyebabkan banyak penderita kusta terlambat berobat sehingga mengalami kecacatan. Padahal, kusta bisa disembuhkan dan obat-obatan bisa diperoleh secara gratis di pusat pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas). "Kusta bisa disembuhkan, tidak mudah menular, obat-obatannya mudah diperoleh secara gratis di puskesmas," kata Dewan Pengawas Yayasan Transformasi Lepra Indonesia dr Diana S Liben, Kamis (18/6), saat dihubungi dari Jakarta.
Diana menjelaskan, kusta adalah penyakit menular yang menahun dan disebabkan kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lain. "Jadi, penyakit kusta bukan disebabkan kutukan, guna-guna, dosa, makanan ataupun keturunan sebagaimana anggapan sebagian masyarakat," kata dia.
Anggapan salah tentang kusta menyebabkan masyarakat terlambat datang berobat sehingga terjadi kecacatan. Penderita yang mengalami gejala awal kusta tidak merasa terganggu karena hanya ditandai bercak putih seperti panu atau bercak kemerahan. "Kelainan kulit ini hilang rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak keluar keringat, tidak gatal dan tidak sakit," ujarnya.
Setiap orang dapat kena kusta kalau tak punya kekebalan dan sering dekat penderita kusta tipe basah (lebih dari 5 bercak) yang tidak berobat, baik melalui saluran pernapasan atau kontak kulit. Sebenarnya 95 persen dari populasi penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap kusta sehingga tidak dapat tertular. Sebanyak 3 persen dari populasi bisa tertular, tetapi dapat sembuh sendiri, hanya 2 persen yang bisa tertular dan butuh pengobatan.
Namun, bila penderita kusta tipe basah sudah berobat teratur, maka tidak dapat menular. Dengan satu kali minum obat, kusta tidak lagi menular. Agar kuman bisa diberantas, penderita harus minum obat secara teratur. "Penderita kusta kering cukup minum obat setiap hari selama 6 bulan, pasien kusta basah harus minum obat tiap hari selama 12 bulan," ujarnya menambahkan.
Keberhasilan pengobatan tergantung pada penemuan dan pengobatan secara dini, kepatuhan untuk berobat secara teratur, dan keterampilan petugas dalam mencegah kecacatan. "Yang tidak kalah penting adalah, dukungan keluarga dan masyarakat sekitar. Ini hanya bisa dilakukan bila stigma terhadap penderita dan mantan penderita kusta sudah dihapuskan," kata Diana. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:57 am | |
| PERCAYALAH, KUSTA BISA SEMBUH! Kamis, 25 Juni 2009 | 13:47 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Meski termasuk penyakit menular, lepra atau kusta merupakan penyakit yang sulit menular. Demikian dikemukakan Duta Besar The Leprosy Mission International to Indonesia DR AB Susanto dalam acara Sosialisasi "Hope Needle" for Indonesia Without Leprosy di Arobusta Coffee Grand Indonesia, Kamis (25/6). Saat ini, menurutnya, Indonesia berada di urutan ketiga negara di dunia dengan jumlah kasus yang terdeteksi sebesar 400-500.000 per tahunnya dengan kenaikan sekitar 17-20.000.
Penyakit lepra atau kusta ini disebabkan oleh bakteri Mycobacteriun leprae yang menyerang saraf tepi, kebanyakan di bagian siku dan lutut kaki yang menyebabkan penderita mengalami cacat tubuh. Banyak penderita lepra yang tidak tahu dirinya terkena bakteri ini karena baru akan ketahuan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Karenanya, dibutuhkan deteksi dini terhadap penyakit ini agar cepat diobati. Deteksi dini yang paling sederhana dapat dilakukan dengan menusukkan jarum pada bercak putih yang ada di tubuh. Apabila tidak terasa sakit atau tidak sesakit pada bagian tubuh yang lain maka ada kemungkinan itu lepra.
Namun, tidak perlu khawatir karena kini ada obat lepra multydrugtherapy (MDT) yang dapat menyembuhkan penderita penyakit lepra. Untuk penderita lepra ringan, dengan mengonsumsi obat ini maka dalam 2 x 24 jam penderita tidak dapat menularkan penyakitnya lagi. Dan untuk penderita lepra akut dapat mengonsumsi obat ini dengan kurun waktu tertentu.
Menurut dr JP Handoko Soewono yang juga Dewan Pembina Yayasan Transformasi Lepra Indonesia, tidak semua orang dapat tertular penyakit lepra. Hanya orang-orang dengan kecacatan kekebalan tubuh karena kekurangan gizi saat dalam kandungan yang dapat terkena penyakit ini. Selain DR AB Susanto dan dr JP Handoko Soewono, hadir pula dalam acara ini Duta Lepra Keliling Sandra Dewi, Putri Indonesia Lingkungan 2008 Ayu Diandra Sari, Putri Indonesia Pariwisata 2008 Anggi Mahesti, Caca AFI, dan perwakilan dari Koko Cici Jakarta 2008.
Mereka berpendapat bahwa penderita lepra sebaiknya jangan dihindari, mantan penderita lepra juga memiliki kesempatan yang sama untuk kehidupan yang lebih baik, dan berikan dukungan moral kepada penderita dan mantan penderita lepra. "Dengan menjaga lingkungan, kita juga dapat terhindar dari bakteri penyakit lepra," tambah Ayu Diandra Sari.
Setelah memberikan keterangan kepada media, rencananya rombongan akan melanjutkan sosialisasi di Bundaran Hotel Indonesia dengan membagikan 1.500 jarum dan 750 paket kepada masyarakat. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 8:58 am | |
| MARI BERSAHABAT DENGAN KUSTA Minggu, 26 Juli 2009 | 10:49 WIB BARABAI, KOMPAS.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel), memulai pelaksanaan program Pemberantasan Penyakit Kusta (P2 Kusta) secara intensif sejak Tahun 1998. "Melalui program itu, diharapkan pada masa mendatang kasus penyakit kusta di Bumi Murakatan HST semakin berkurang," ujar Kepala Dinkes setempat, Hardi Basuki, di Barabi, ibukota kabupaten (165 Km utara Banjarmasin), Minggu (26/7). Menurut dia, penyakit kusta sudah dikenal sejak lama atau sekitar 200.000 tahun sebelum Masehi. "Tetapi hingga saat ini kusta masih merupakan masalah kesehatan yang pelik bagi masyarakat," katanya. Ia menerangkan, kusta merupakan penyakit kronis dengan permasalahan yang sangat kompleks, sehingga perlu penanganan yang berwawasan jangka panjang dan menyeluruh.
"Karena itu, program P2 Kusta berlangsung lama, sejak tahun 1998 dan dicanangkan berakhir tahun 2010 sebagai tahun eliminasi kusta," katanya. Melalui program itu, penderita penyakit kusta dapat ditemukan sebanyak-banyaknya untuk segera dilakukan penanganan dan pengobatan. "Dinkes HST setiap tahunnya mengupayakan peningkatan program P2 Kusta, agar para penderita dapat ditemukan sebanyak-banyaknya dan dengan segera pula bisa tertangani," katanya.
Upaya peningkatan yang dilakukan antara lain dengan mengadakan pelatihan kepada petugas P2 Kusta. Pelatihan diberikan kepada 19 orang petugas P2 Kusta di Puskesmas yang tersebar di sebelas kecamatan dan dua orang dari kabupaten. Pelatihan meliputi pengetahuan yang lebih spesifik tentang penyakit kusta dan keterampilan petugas dalam mendiagnosa penyakit itu. Di tahun 2009, dilakukan penambahan petugas P2 Kusta sebanyak sebelas orang yang ditugaskan dan ditempatkan di 19 Puskesmas yang ada di HST.
Begitu pula logistik pendukung program itu, terutama obat kusta seperti MDT dan Prednison, saat ini jumlahnya mencukupi dan sesuai dengan kebutuhan. Namun kendala yang dihadapi, para petugas saat ini tidak memiliki alat transportasi. Akibatnya, kegiatan hanya dapat dilakukan secara pasif. "Karenanya pula pemantauan banyak dilakukan hanya pada saat penderita mengambil obat," demikian Hardi Basuki. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Mon Dec 13, 2010 9:00 am | |
| JARUM HARAPAN BAGI PENDERITA KUSTA/LEPRA Kamis, 25 Juni 2009 | 17:48 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Duta Besar Misi Lepra Internasional untuk Indonesia AB Susanto bersama aktivis dan mahasiswa membagikan 1.500 jarum yang mereka sebut sebagai Jarum Harapan dan brosur mengenai penyakit kusta/lepra kepada pengguna jalan raya yang melintasi Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Kamis (25/6) siang. "Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang lepra supaya bisa mengidentifikasi gejala lepra secara sederhana, bila menemukan bercak putih pada tubuh sebaiknya diperiksa dengan menusukkan jarum pada bagian tersebut. Kalau mati rasa, maka itu bisa dicurigai sebagai lepra. Sebaiknya segera periksa," kata Susanto didampingi Duta Lepra Keliling Sandra Dewi.
Penyakit lepra yang ditemukan secara dini bisa segera diobati sehingga tidak menular kepada orang lain dan mengakibatkan kecacatan. Saat ini lepra sudah bisa disembuhkan secara total, dengan terapi obat ganda atau multi drug therapy (MDT), yang bisa diperoleh secara gratis di puskesmas. Dokter JP Handoko Soewono dari Rumah Sakit Kusta Sitanala, Tangerang, mengatakan, MDT yang terdiri dari kombinasi obat Rifampisin, Lampren, dan Dapson sangat efektif membunuh kuman Mycobacterium leprae.
"Setelah mengonsumsi, dalam dua kali 24 jam kuman yang ada ditubuh penderita akan mati sehingga dia tidak bisa lagi menularkan penyakitnya kepada orang lain," katanya. Dokter yang sejak 1980 sudah bergelut dengan lepra itu menambahkan penderita kusta harus mengonsumsi MDT selama enam bulan hingga satu tahun supaya bisa benar-benar sembuh dari penyakitnya.
Kusta adalah penyakit menular yang tidak mudah menular. Peluang seseorang terkena penyakit kusta sangat kecil karena Mycobacterium leprae tidak akan bisa menyerang manusia dengan sistem kekebalan alamiah normal dan 90-95 persen manusia lahir dengan kekebalan alamiah normal. "Kekebalan alamiah seseorang bisa tidak normal jika selama dalam kandungan janin tidak mendapatkan asupan nutrisi cukup dan sang ibu tinggal di lingkungan yang sanitasinya buruk. Gizi kurang dan sanitasi yang buruk sangat erat hubungannya dengan kemiskinan," katanya.
Cara penularan penyakit itu hingga kini belum diketahui secara pasti. "Ada dugaan, penyakit ini menular melalui udara," katanya. Namun, kemiskinan dan sanitasi yang buruk jelas berhubungan erat dengan penyebaran penyakit tersebut sehingga pemberantasan penyakit itu juga mesti dibarengi dengan penanggulangan masalah kemiskinan. |
|  | | | | Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |