Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Thu Jan 06, 2011 8:18 am

KUSTA / LEPRA
Tidak banyak masyarakat tahu tentang penyakit kusta.
Yang ada di masyarakat adalah gambaran keliru tentang sakit kusta sebagai kutukan, guna guna, sangat menular dan tidak tersembuhkan. Kusta termasuk penyakit menular yang penularannya sulit. Hanya sekitar 5% yang tertular. Kondisi tubuh yang lemah serta kontak yang terus menerus dalam waktu lama memudahkan penularan kusta.

Gejala awal kusta, antara lain, kelainan kulit berupa bercak putih seperti panau, atau bercak kemerahan yang mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal dan tidak sakit.. Gejala lanjut ditandai kecacatan, seperti tidak bisa menutup mata, bahkan sampai buta, mati rasa pada telapak tangan serta jari jari kiting ( kaku melingkar ), memendek bahkan putus. Cacat kusta terjadi karena kuman menyerang saraf. Kondisi ini dijumpai pada pengidap yang terlambat ditemukan dan diobati. Minimnya pengetahuan tentang kusta menyebabkan pengidapnya terlambat berobat sehingga menimbulkan cacat dan berpotensi menularkan kuman. Masa inkubasi kusta yang panjang, bisa lebih dari 10 tahun dan tanpa rasa sakit menyebabkan pengidap kerap tidak menyadari dirinya terkena kusta.

Penyakit kusta bisa sembuh total dengan terapi obat kombinasi ( MDT = Multi Drug Treatment) sesuai rekomendasi WHO.
MDT dengan kombinasi obat Dapsone - Rifampicin - Clofazimine tetap yang terampuh untuk mencegah kerusakan pada saraf, perubahan bentuk bagian tubuh, kecacatan dan transmisi lanjutan. Pengobatan berkisar 6 bulan - 1 tahun bergantung pada parahnya infeksi.
Pengobatan disediakan GRATIS di Puskesmas. Para peneliti masih melakukan penelitian untuk menemukan vaksin dan cara untuk deteksi yang lebih dini.

Sumber: Kompas, Kamis 28 Januari 2010


Last edited by gitahafas on Sat Jun 11, 2011 12:21 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Sat Jan 08, 2011 11:06 am

PREVALENSI KUSTA BERHASIL DITURUNKAN 81 PERSEN
Hari ini (26/2) Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH membuka seminar ”Pencegahan Cacat Akibat Kusta” di Jakarta. Tujuannya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dan seluruh stakeholder untuk membantu mencegah kecacatan akibat kusta. Menkes mengatakan Indonesia berhasil mencapai eliminasi kusta pada tahun 2000 di 19 propinsi dan sekitar 300 kab/kota. Eliminasi yaitu menurunkan angka kesakitan lebih kecil dari 1 per 10.000 penduduk. Lebih dari 10 juta penderita telah disembuhkan dan lebih 1 juta penderita diselamatkan dari kecacatan.

Prevalensi juga menurun sebesar 81% dari 107.271 penderita pada tahun 1990 menjadi 21.026 penderita tahun 2009. Juga telah dilakukan rehabilitasi melalui operasi rekonstruksi, prostesa, dan pembentukan Kelompok Perawatan Diri sudah terbentuk lebih 150 KPD dan rehabilitasi sosial bekerjasama dengan LSM lokal.
Menurut Menkes, keberhasilan tidak terlepas dari upaya terobosan untuk mempercepat eliminasi kusta dengan melaksanakan penemuan penderita secara pasif dan aktif dengan intensifikasi penemuan melalui Kampanye Eliminasi Kusta atau Leprosy Elimination Campaign (LEC), Rapid Village Survey (RVS), Pencarian kasus melalui program Save Papua (Team Mobile Clinic), Special Action Project for The Elimination of Leprosy (SAPEL) di daerah yang sulit.

Selain itu, juga membentuk Kelompok Kerja Eliminasi Kusta Nasional, kerja sama dengan Persatuan Dokter Spesialis Kulit Indonesia (Perdoski) dalam penemuan dan pengobatan penderita, pembentukan Alliansi Nasional Eliminasi Kusta (ANEK) sebagai forum kemitraan tingkat tinggi/tingkat Nasional beranggotakan para gubernur seluruh Indonesia, bekerjasama dengan lintas agama dan PKK dalam pengembangan panduan penyuluhan bagi tokoh agama yang mempunyai jejaring sampai di desa, bekerjasama dengan fakultas kedokteran dan sekolah perawat untuk peningkatan kompetensi (Capacity Building), pemberdayaan orang yang pernah mengalami kusta dan keluarganya bekerjasama dengan LSM, ujar Menkes.

Situasi kusta di Indonesia
Pada tahun 2009, tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia (rate: 7,49/100.000) dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 21.026 orang dengan angka prevalensi: 0,91 per 10.000 penduduk. Sedangkan tahun 2010, jumlah kasus baru tercatat 10.706 (Angka Penemuan kasus baru/CDR: 4.6/100.000) dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 20.329 orang dengan prevalensi: 0.86 per 10.000 penduduk.

Kusta adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lainnya. Bila tidak terdiagnosis dan diobati secara dini, akan menimbulkan kecacatan menetap. Jika sudah terjadi cacat, umumnya akan menyebabkan penderitanya dijauhi, dikucilkan, diabaikan oleh keluarga dan sulit mendapatkan pekerjaan. Mereka menjadi sangat tergantung secara fisik dan finansial kepada orang lain yang pada akhirnya berujung pada 8akhirnya berujung pada kemiskinan. Tingkat kecacatan kusta: tingkat 0, normal. Tingkat I, mati rasa pada telapak tangan dan atau telapak kaki. Tingkat II, kelopak mata tidak menutup, jari tangan maupun jari kaki memendek, bengkok dan luka. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan regimen Multy Drug Therapy (MDT) sebagai pengobatan kusta. Sejumlah negara telah melaksanakan pengobatan MDT dan mencapai hasil memuaskan.

Obat MDT diberikan secara gratis di Puskesmas. Dosis pertama harus diminum di depan petugas Puskesmas dan untuk selanjutnya obat diminum sesuai petunjuk dalam blister. Dalam Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden Due To Leprosy 2011-2015 yang dicanangkan WHO, disebutkan target global yang hendak dicapai tahun 2015 yaitu penurunan 35% angka cacat yang kelihatan (tingkat II) pada tahun 2015 dari data tahun 2010. Hal ini relevan untuk dicapai dengan melihat besarnya beban akibat kecacatan kusta.

Pada 28 Januari 2011 lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Kusta Sedunia ke 58, Menkes mencanangkan Tahun Pencegahan Cacat Kusta 2011. Kegiatan tahun pencegahan cacat mengarah pada petugas kesehatan untuk dapat mendeteksi dan menangani kusta dengan benar, agar tidak terjadi kecacatan lebih lanjut.
Seminar dihadiri dokter umum, mahasiswa kedokteran, perawat, petugas Puskesmas dan lain-lain. Seminar juga akan membahas berbagai topik di antaranya ”Situasi Kusta dan Permasalahannya di Indonesia” dengan pembicara Prof. Tjandra Yoga Aditama, ”Global Strategy For Further Reducing Burden Due To Leprosy 2011-2015” dengan pembicara Prof. Dr. Anand Joshi, ”Hasil Penelitian Terbaru Tentang Kusta” dengan pembicara dr. Cita Rosita Sigit.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-52907416-9, faks : 52921669, Call Center : 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail : puskom.publik@yahoo.co.id


Last edited by gitahafas on Sat Jun 11, 2011 12:24 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Mon Jan 31, 2011 1:47 pm

MENKES CANANGKAN TAHUN PENCEGAHAN CACAT AKIBAT KUSTA
Bertepatan dengan peringatan Hari Kusta Sedunia ke 58 tahun 2011, Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih mencanangkan Tahun Pencegahan Cacat 2011. Tujuannya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dan seluruh stakeholder untuk membantu mencegah kecacatan akibat kusta. Kegiatan tahun pencegahan cacat mengarah pada petugas kesehatan untuk dapat mendeteksi dan menangani kusta dengan benar, agar tidak terjadi kecacatan lebih lanjut. Di Indonesia, tercatat 19 provinsi telah mencapai eliminasi kusta dengan angka penemuan kasus kurang dari 10 per 100.000 populasi, atau kurang dari 1.000 kasus per tahun. Sampai akhir 2009 tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia dan telah diobati. Saat ini tinggal 150 kabupaten/kota yang belum mencapai eliminasi.

Sebanyak 1.500-1.700 (10%) kasus kecacatan tingkat II ditemukan setiap tahunnya. Sekitar 14.000 (80%) adalah kasus kusta MB, sedangkan sekitar 1500-1800 kasus merupakan kasus pada anak. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan regimen Multy Drug Therapy (MDT) sebagai pengobatan kusta. Sejumlah negara telah melaksanakan pengobatan MDT dan mencapai hasil memuaskan. Lebih dari 10 juta penderita telah disembuhkan. Dari jumlah itu lebih 1 juta penderita yang diselamatkan dari kecacatan.

Berdasarkan keberhasilan tersebut, pada World Health Assembly (Sidang Kesehatan Sedunia-WHA) Mei 1991 dikeluarkan Resolusi No. 44.9 tentang Eliminasi Kusta Tahun 2000. Eliminasi yaitu menurunkan angka kesakitan lebih kecil dari 1 per 10.000 penduduk dengan strategi penemuan penderita secara dini dan mengobati dengan tepat. Tujuan penanggulangan kusta di Indonesia adalah mencapai PR (Prevalens Rate) kurang dari 1 per 10.000 penduduk di semua kabupaten, dan kesinambungan program kusta di seluruh wilayah. Ditempuh melalui kebijakan deteksi dini kasus kusta dan pengobatan dengan MDT, mencegah kecacatan, mengubah image (pandangan) masyarakat luas dan menjamin ketersediaan dan kualitas obat kusta (MDT).

Obat MDT diberikan secara gratis di Puskesmas. Dosis pertama harus diminum di depan petugas puskesmas dan untuk selanjutnya obat diminum sesuai petunjuk dalam blister. Pada tahun 2006, WHO mengeluarkan panduan operasional “Global Strategy for Further Reducing the Leprosy Burden and Sustaining Leprosy Control Activities (2006 - 2010)”. Tujuannya untuk menurunkan lebih lanjut beban penyakit kusta dan mempertahankan kesinambungan kegiatan pemberantasan kusta sebagai acuan bagi negara-negara yang masih mempunyai masalah dengan penyakit ini.

Tahun 2009, WHO mengeluarkan panduan operasional “Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden Due to Leprosy (2011 - 2015)” . Dalam panduan tersebut ditetapkan target angka cacat yang kelihatan (Cacat 2) per 100.000 penduduk turun 35 % di tahun 2015 dari data tahun 2010. Penyakit kusta adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lainnya. Bila tidak terdiagnosis dan diobati secara dini, maka akan menimbulkan kecacatan menetap. Kusta bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, makanan, atau penyakit keturunan seperti yang masih banyak timbul anggapan di masyarakat. Penularan dapat terjadi karena kontak lama antara penderita kusta yang tidak diobati kepada orang yang sehat melalui pernapasan.

Tidak semua orang serta merta tertular kusta begitu kontak dengan penderita. Secara statistik hanya 5% saja yang akan tertular. Dapat dikatakan penyakit kusta adalah penyakit menular yang paling rendah penularannya. Kemungkinan anggota keluarga dapat tertular, jika penderita tidak minum obat secara teratur.

Pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk percepatan eliminasi kusta diantaranya dengan penemuan penderita secara aktif, membantu provinsi dan kabupaten dalam memberantas penyakit kusta dengan menempatkan konsultan lokal/Nasional yang berdomisili di Bandung, Surabaya, Palembang, Aceh, Samarinda, Makasar, Manado dan Jayapura dan konsultan Internasional yang berdomisili di Pusat serta melakukan kegiatan rehabilitasi.

Penetapan Hari Kusta (Leprosy Day) diorganisir oleh seorang wartawan berkebangsaan Perancis bernama Raoul Fallereau. Selama 30 tahun Raoul Fallereau (RF) mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nasib penderita kusta. RF berjuang untuk menghilangkan stigma sosial di masyarakat. Pada tahun 1955, terdapat 150 radio dari 60 negara yang menyiarkan kampanye pemberantasan penyakit kusta. Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu terakhir bulan Desember 1955. Karena itu di Eropa, Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) ditetapkan hari Minggu terakhir Desember.

Sedangkan di negara-negara Asia, untuk mengenang jasa-jasa Mahatma Gandhi yang sangat menaruh perhatian dan besar jasanya kepada penderita kusta, Hari Kusta Sedunia ditetapkan pada Minggu terakhir Januari saat terbunuhnya Mahatma Gandhi.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-52907416-9, faks : 52921669, Call Center : 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail : puskom.publik@yahoo.co.id.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Mon Jan 31, 2011 2:09 pm

CEGAH KECACATAN AKIBAT KUSTA
Jumat, 28 Januari 2011 | 16:03 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Cacat kusta sering dialami oleh pasien kusta yang terlambat ditemukan dan pengobatan yang tidak tuntas. Oleh karena itu, petugas kesehatan diminta mendeteksi kusta sedini mungkin untuk mencegah kecacatan. Hal tersebut disampaikan oleh Prof.dr. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan saat membacakan sambutan Menteri Kesehatan dalam pencanangan Tahun Pencegahan Cacat Akibat Kusta di Jakarta (28/1/2011).

Penyakit kusta adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycrobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Bila tidak terdiagnosis secara dini bisa menimbulkan kecacatan tetap. Tidak semua orang yang kontak dengan penderita kusta langsung tertular. Secara statistik hanya 5 persen saja yang akan tertular dan 3 persen diantaranya akan sembuh sendiri. "Kusta adalah penyakit menular yang sulit menular," kata Tjandra.

Saat ini, terdapat 10,5 persen penderita cacat tingkat II dan 80 persennya adalah kasus kusta basah. Cacat tingkat II ditandai dengan jari-jari keriting dan memendek, lunglai, serta kelopak mata tidak bisa menutup bahkan buta. Gejala awal penyakit kusta berupa bercak putih seperti panu atau bercak kemerahan yang mati rasa, tidak gatal dan tidak sakit sehingga penderita tidak merasa terganggu. "Masyarakat harus lebih peduli untuk memeriksakan diri jika muncul gejala. Apalagi pemerintah menjamin pengobatan kusta secara cuma-cuma," kata Tjandra. Kecacatan pada pasien kusta akan membuat seseorang tergantung secara fisik dan finansial sehingga seseorang akan menjadi miskin, imbuhnya.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Mon Jan 31, 2011 2:11 pm

70% PENDERITA KUSTA WARGA MISKIN
Jumat, 16 Juli 2010 | 19:37 WIB
SERANG, KOMPAS.com - Jumlah penderita penyakit kusta di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, tercatat 181 orang termasuk 31 kasus baru yang ditemukan pada 2010. "Pengobatan terus dilakukan secara kontinyu untuk mematikan bakterinya," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Sri Nurhayati Sri, Jumat (16/7/2010). Ia mengatakan, Bazda memberikan bantuan Rp 30 ribu per bulan kepada setiap penderita kusta. "Itu untuk transportasi saja," kata Ketua Bazda Kabupaten Serang Wardi Muslih.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang Agus Gusmara mengatakan, pengobatan kusta di Kabupaten Serang mengalami perkembangan yang cukup baik. Beberapa penderita, telah benar-benar sehat dan bakteri yang menyebabkan kusta telah mati. "Tapi cacatnya tidak bisa diobati. Kalau bakterinya yakni mikrobacterium leprae bisa diobati sampai benar-benar tidak menular lagi," katanya. Pengobatan yang dilakukan Dinkes, gratis karena kusta masuk dalam kategori penyakit menular berbahaya. Selain itu, 70 persen masyarakat yang terkena kusta adalah masyarakat kelas bawah.

"Penularan bisa terjadi dari percikan air ludah atau kontak langsung dalam waktu cukup lama. Tapi itu juga tergantung pada daya tahan tubuh yang bersangkutan," katanya. Kalau daya tahan tubuh lemah, bakteri kusta dapat dengan mudah menyerang dan berinkubasi sampai menyebabkan hal yang fatal. Kusta, kata Agus, adalah penyakit yang menyerang susunan saraf dan bisa menyebabkan penderita tidak merasakan apa-apa atau mati rasa. "Karena mati rasa, penderita tidak merasakan apa-apa jika tubuhnya luka. Nah ini yang biasanya menyebabkan kecacatan," kata Agus.

Daerah Serang Timur, menurut Agus, adalah tempat yang paling banyak ditemukan kasus kusta. "Kecamatan Jawilan, Cikande, dan Cikeusal," katanya. Sementara itu, Sri mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan penularan penyakit kusta. "Duduk bersama, salaman, tidak masalah," katanya. Penularan, terjadi jika ada kontak yang lama dengan penderita. Oleh karena itu, penderita kusta tidak boleh diisolasi. "Saat ini sudah ada kelompok perawatan diri. Di sana penderita diajari cara merawat luka dan bertukar pengetahuan di antara penderita," katanya.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Mon Jan 31, 2011 2:13 pm

PENANGANAN PENYAKIT KUSTA DINILAI BAIK
Rabu, 1 September 2010 | 03:47 WIB
Palembang, Kompas - Penanganan terhadap penderita penyakit kusta di Sumsel dinilai sudah baik. Alasannya, pelayanan terhadap para pasien dan kondisi rumah sakit makin meningkat. Jika hal itu terus ditingkatkan, kelak Sumsel bakal bebas dari penyakit mematikan tersebut. Demikian dikatakan Duta Besar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekaligus pemimpin Nippon Foundation Yohei Sasakawa seusai bertemu Gubernur Sumsel Alex Noerdin, Selasa (31/Cool di Palembang. Sebelumnya, Yohei dan rombongan mengunjungi Rumah Sakit Dr A Rivai Abdulah di Sungai Kundur, Banyuasin, yang merupakan rumah sakit untuk menangani penderita kusta. Menurut Yohei, pemerintah daerah sangat berperan dalam pemberantasan penyakit kusta. ”Saya optimistis, Gubernur Sumsel punya niat baik untuk mengupayakan Sumsel bebas penyakit kusta,” ujarnya.

Ia mengatakan, Nippon Foundation melalui WHO tetap berkomitmen memberikan bantuan obat kusta secara gratis ke seluruh Indonesia. Setiap tahun selalu ditemukan 17.000-18.000 kasus baru penyakit kusta di Indonesia. ”Jumlah bantuan obat kusta gratis cukup untuk seluruh kasus baru penyakit kusta di Indonesia,” ujar Yohei. Menurut Yohei, penyakit kusta bukan kutukan Tuhan. Penyakit itu disebabkan infeksi kuman dan dapat disembuhkan total, seperti penyakit infeksi lainnya. Direktur RS Dr A Rivai Abdulah, Heriyadi Manan, mengatakan, jumlah penderita penyakit kusta yang dirawat di RS tersebut sebanyak 40 orang. Masalahnya, para pasien kusta yang sudah sembuh masih takut berinteraksi dengan masyarakat. ”Ada rencana membuat permukiman khusus bagi penderita kusta yang sudah sembuh. Jumlahnya sekitar 50 keluarga,” kata Heriyadi. (WAD)
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Sun Mar 13, 2011 8:09 am

WASPADAILAH Q FEVER!
Jum'at, 7 Januari 2011 - 17:24 wib Okezone
ANDA punya hewan peliharaan? Rajin-rajinlah merawatnya! Periksakanlah kesehatannya! Apalagi hewan tersebut datang dari luar negeri. Jika tidak, bukan tidak mungkin Anda terinfeksi bakteri yang hidup pada hewan peliharaan Anda. Bakteri yang perlu diwaspadai yang ada pada hewan peliharaan dan hewan ternak adalah Coxiealla burnetti. Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif. Bakteri ini pertama kali ditemukan di daerah Queensland oleh Frank MacFarlane Burnet. Menurut dr Galih Sri Mahardjo SpPD, dari Poliklinik PTIK, Jakarta Selatan, bakteri ini memiliki sifat-sifat yang patut untuk diwaspadai. Salah satunya adalah ketahanan terhadap perubahan-perubahan lingkungan. “Tahan terhadap panas, tahan terhadap antiseptik. Formaldehida aja bakteri yang lain nggak tahan, dia bisa tahan. Terus dia juga tahan berhari-hari bahkan bisa tahunan pada tubuh manusia,” katanya. Mengapa bakteri ini perlu diwaspadai? Coxiealla burnetti bila menginfeksi manusia akan menyebabkan demam Q atau sering juga disebut dengan Q fever. “Demam Q adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Coxiealla burnetti,” sambung dr Galih. Penyakit demam Q ini sejauh ini memang masih belum ditemukan di Indonesia. Di negara-negara maju seperti Amerika, Spanyol, Jepang, hingga negara terdekat Malaysia, kasus demam Q sudah cukup menyita perhatian.

“Sebenarnya bakteri ini belum terdeteksi di Indonesia. Belum secara resmi ditemukan. Tapi belum itu bisa jadi karena belum ada yang kena atau belum ada yang melaporkan kalau infeksi karena 50 persen kebanyakan tidak menunjukkan gejala yang khas. Tapi dinegara lain kasus bakteri ini sudah mengguncangkan. Seperti di Amerika, Spanyol, Jepang, Malaysia, Thailand, bahkan di Belanda itu 6 korban di antaranya meninggal dunia,” terangnya. Demam Q sebenarnya merupakan penyakit yang bersifat zoonosis, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Sedangkan penularan antarmanusia sangat jarang terjadi. Meskipun demikian, sambung dr Galih, masyarakat harus tetap waspada. Meskipun secara teoritis tidak bisa ditularkan antarmanusia, bila menilik kasus flu burung yang memiliki teori yang sama, bukan tidak mungkin demam Q juga demikian. Bisa ditularkan dari manusia ke manusia.

“Bakteri ini termasuk zoonosis. Zoonosis itu katanya dari hewan ke manusia. Tapi dari pengalaman flu burung, teorinya diberi tahu dari burung ke manusia, tapi nyatanya tidak. Ya, sebaiknya berhati-hati saja,” jelasnya. Pada prosesnya, Coxiealla burnetti biasanya akan menginfeksi hewan ternak atau hewan peliharaan sebagai inang perantara, di samping induk utamanya, yaitu anjing. Hewan ternak yang bisa diserang, antara lain, sapi, kambing, domba maupun ternak lainnya. Coxiealla burnetti bisa menyebar di dalam maupun di luar tubuh hewan tersebut. Sehingga penularan kepada manusia bisa terjadi dengan berbagai kemungkinan. Misalnya dengan memegang bulu domba yang terkena infeksi. Atau juga mengonsumsi produk-produk ternak, misalnya, susu atau daging dari hewan yang terinfeksi. Bakteri tentunya akan sangat gampang menular ke manusia melalui mulut.

“Bisa bermacam-macam. Dari susunya bisa,” imbuh dr Galih. Selain itu, penularan melalui udara juga bisa terjadi. Bakteri Coxiealla burnetti yang terdapat pada kotoran binatang ternak atau air kencing ternak akan terbawa angin setelah mengering. Kemudian bercampur dengan debu. Yang lebih mengkhawatirkan, bakteri ini bisa bertahan lama. “Bukan Cuma harian, tapi tahunan,” kata dr Galih. Pada debu bakteri ini dapat bertahan hingga 120 hari. Pada urine babi hingga 49 hari, pada feses 586 hari, pada susu 42 bulan pada suhu 4-6 derajat Celsius, pada wol 12-16 bulan pada suhu 4-6 derajat Celsius.

Gejala penyakit demam Q boleh dikatakan sangat susah terdeteksi karena penyakit demam Q tidak memiliki gejala yang khas seperti penyakit-penyakit lainnya. Dan ini pula yang cukup mengkhawatirkan dan merepotkan karena pada akhirnya banyak menimbulkan salah dianosis. “Gejalanya nggak mengira kalau itu demam Q. Lebih dari 50 persen dari orang yang terinfeksi demam Q tidak menunjukkan gejala,” jelas dr Galih. Namun, bila akhirnya timbul gejala, itu akan terlihat pada pasien sekitar dua sampai tiga minggu setelah terkena bakteri. “Gejalanya seperti flu,” katanya. Lalu kemudian ada tanda-tanda atau gejala-gejala seperti demam yang tinggi hingga mencapai 40 derajat Celsius, sakit kepala parah, kelelahan, sakit tenggorokan, kedinginan, berkeringat, batuk kering atau berdahak, nyeri dada, nyeri perut, mual, muntah, diare, dan nyeri otot yang sangat parah.

Mengingat penyakit demam Q tidak memiliki atau menunjukkan gejala awal, penyakit ini pun sedikit sulit dideteksi. Diagnosis yang bisa dilakukan berupa tes serologi untuk melihat respon antibodi. Dengan melihat kenaikan tingkat antibodi dalam melawan virulensi dari bakteri tersebut, serologi bisa mendeteksi penyakit kronis sejak dini. Selain itu ada juga metode diagnosa yang lain. “Uji laboratorium dengan metode IFA (Imunnofluoresence assay) dan juga metode deteksi DNA,” tandas dr Galih. Penyakit ini, sambung dr Galih, berbahaya, dan membahayakan. Penyakit demam Q bersifat menahun dan menimbulkan kondisi yang fatal yaitu mengakibatkan kegagalan fungsi hati, radang tulang, radang otak, gangguan pada pembuluh darah dan yang sering terjadi adalah peradangan jantung (endokarditis) yang berakibat fatal. Pada pencernaan dapat menyebabkan diare, mual, dan muntah. Bahkan bisa juga menyerang ke otak.

“Yang berbahaya itu yang sifatnya kronis. Masa akut itu jarang muncul. Masa kronis ini yang biasanya berakibat fatal. Masa kronis ini yang harus diwaspadai karena bakteri ini sudah lama bertengger di tubuh manusia. Bakteri ini bisa juga menyerang ke otak, menyebabkan radang otak. Kalau sudah fatal, bisa menimbulkan kematian. Di Belanda saja sudah menimbulkan kematian,” ungkap dr Galih. Mengingat penyakit demam Q disebabkan oleh bakteri, pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik. “Karena ini kuman, pengobatannya menggunakan antibiotik. Banyak macamnya,” kata dr Galih.

Penggunaan antibiotik sejauh ini dirasa masih efektif. Antibiotik yang umu digunakan adalah doxycicline, tetracycline, chloramphenicol, ciprofloxacin, ofloxacin, dan hydroxychloroquine. Hanya saja antibiotik tersebut sangat tidak diajurkan untuk wanita hamil. “Cuma antibiotik ini kurang bagus untuk digunakan wanita hamil. Boleh dikatakan antibiotik yang dianjurkan untuk penyakit demam Q ini tidak aman untuk ibu hamil. Jadi, riskan sekali kalau ada wanita hamil terserang penyakit demam Q. Sangat dilematis. Karena kalau diobati, nanti kena ke janinnya. Obat akan berpengaruh ke janin. Kalau tidak diobati, akan menyebabkan sakit yang hebat, berat, dan akhirnya menyebabkan keguguran,” jelas dr Galih.

Memang antibiotik tersebut tidak langsung membuat janin meninggal. Tapi antibiotik bisa mempengaruhi janin. “Bisa memengaruhi perkembangan janin seperti tetracyclin bisa membuat gigi jadi kuning,” jelasnya. Oleh karena itu, biasanya banyak ibu hamil yang memilih untuk menjalani pengobatan setelah proses kelahiran. Pengobatan terhadap penyakit demam Q ini sangat variatif. Tergantung pada kondisi setiap pasien. Pemberian antibiotik akan terus dilakukan sampai pasien sembuh.b“Waktu penyembuhan tidak bisa dipastikan. Tergantung pada kekuatan kuman itu sendiri dan jumlah kuman yang menginfeksi. Makanya kita tidak bisa pastikan sampai kapan kesembuhannya,” tandas dr Galih.


Last edited by gitahafas on Sat Jun 11, 2011 12:25 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Thu Apr 14, 2011 9:57 am

ORANG DEWASA JUGA BUTUH IMMUNISASI
SELASA, 12 APRIL 2011, 15:27 WIBPipiet Tri Noorastuti, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Tak hanya bayi dan anak-anak yang membutuhkan imunisasi. Orang dewasa juga, meski sistem kekebalan tubuhnya sudah terbentuk. Hanya, pemahaman masyarakat tentang manfaat imunisasi untuk orang dewasa agaknya masih rendah. Setiap tahun, puluhan ribu orang dewasa meninggal dan ratusan ribu lainnya dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Jadi, tidak tepat jika sistem kekebalan tubuh orang dewasa sudah terbentuk sempurna sehingga tak butuh vaksinasi lagi.

"Justru orang dewasa butuh vaksinasi untuk menghindari penyakit berbahaya dan menular,” kata Prof DR dr Samsuridjal Djauzi Sp.PD, K-AL, FACP, FINASIM dari PAPDI sekaligus Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa, melalui keterangan yang disampaikan Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI). Beberapa penyakit orang dewasa yang dapat dicegah dengan imunisasi di antaranya, hepatitis B, hepatitis A, tetanus, MMR, tifoid, influenza, pneumokokus, meningokokus, dan kanker serviks atau leher rahim. “Manfaat yang didapat dari munisasi ini tentu saja meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi biaya pengobatan, dan meningkatkan produktivitas,” katanya.

Samsuridjal menambahkan, cakupan imunisasi yang tinggi juga akan menurunkan kekerapan penyakit (herd immunity). Inilah mengapa perlu ditingkatkan cakupan imunisasi untuk dewasa. "Anda perlu tahu, biaya pengobatan yang dikeluarkan jika terkena penyakit tersebut akan lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya untuk imunisasi," ujarnya. “Disinilah pentingnya promosi kesehatan mengenai pencegahan, yang salah satunya bisa dilakukan oleh Dokter Keluarga.”

Dr Gunawan Basuki MM, Ketua PDKI cabang Jawa Barat menyatakan, Dokter Keluarga merupakan dokter praktik umum penyelenggara pelayanan primer yang memberi layanan profesional, komprehensif, berkesinambungan dengan pendekatan holistik, koordinatif, dan kolaboratif, dengan mempertimbangkan keluarga, komunitas dan lingkungan pasien.

Dokter Keluarga juga berperan melakukan pencegahan penyakit kronis, dan membatasi kecacatan melalui penilaian risiko atau riwayat kesehatan keluarga, pendidikan kesehatan, deteksi dini penyakit , pengobatan preventif dan perubahan perilaku. “Manfaat yang jelas dirasakan oleh pasien dengan adanya dokter keluarga adalah adanya data kesehatan yang lengkap dan rapi sehingga rekomendasi pencegahan penyakit maupun pengobatan sesuai dengan kondisi pasien,” ujarnya.

Lebih jauh Dr Gunawan menjelaskan, Dokter Keluarga berperan meningkatkan kesehatan keluarga. Ini memungkinkan karena dokter keluarga secara aktif mendatangi pasien yang menjadi tanggung jawabnya, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Bahkan, harus menjaga pasien agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit melalui rekomendasi imunisasi, diagnosis, pengobatan dan prognosis. “Penyampian informasi mengenai imunisasi dewasa juga merupakan bagian dari konsep pelayanan Dokter Keluarga di Indonesia.”
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Thu Apr 28, 2011 5:33 pm

MENINGITIS BISA MEMBUNUH DALAM 48 JAM SEJAK MUNCUL GEJALA
Kamis, 28/04/2011 17:04 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Radang selaput otak atau meningitis sangat mematikan karena sanggup membunuh penderita hanya dalam 24-48 jam sejak munculnya gejala. Kalaupun selamat, risiko lain yang harus ditanggung adalah cacat permanen pada susunan saraf di otak. Dalam beberapa kasus, pasien meningitis baru dibawa ke rumah sakit setelah muncul gejala. Gejala spesifik pada meningitis adalah kaku kuduk, yakni terasa sakit jika harus menundukkan leher sehingga kepala selalu berada dalam posisi menengadah. Gejala lain seperti disampaikan Head of Medical Affairs for Europe Region - Novartis Vaccine, Prof Heinz Josef Schmitt adalah bercak kemerahan, terutama jika disebabkan oleh infeksi bakteri. Berbeda dengan gigitan nyamuk, bercak pada meningitis tidak hilang meski ditarik atau ditekan dengan gelas.

"Gejala paling khas pada meningitis adalah kaku kuduk dan bercak yang susah hilang. Namun sayang, gejala itu biasanya muncul terlambat," ungkap Prof Schmitt dalam media briefing "Mari Lindungi Bangsa, Cegah Meningitis" di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Kamis (28/4/2011). Prof Heinz mengatakan, langkah paling tepat untuk menekan tingkat kematian akibat meningitis adalah dengan pemberian vaksin meningitis sesuai dengan penyebabnya. Beberapa jenis vaksin meningitis perlu diberikan sejak kecil karena anak-anak paling rentan terkena meningitis.

Penyebab meningitis ada bermacam-macam, salah satunya infeksi bakteri Neisseria meningitidis. Bakteri ini merupakan kuman endemik di negara-negara Afrika sub-Sahara dan beberapa wilayah di Benua Amerika, namun belum pernah menjadi endemi di Indonesia. Di Indonesia, risiko terkena meningitis meningococus atau meningitis akibat infeksi bakteri hanya dialami oleh orang-orang yang bepergian ke negara-negara endemis. Jamaah haji juga berisiko karena berkumpul dalam waktu lama dengan orang-orang yang berasal dari daerah endemis.

Anak-anak tidak perlu mendapat vaksin untuk meningitis meningococus kecuali jika anak tersebut diajak bepergian ke daerah endemis. Vaksin ini biasanya hanya diberikan pada calon jamaah haji atau umroh, calon tenaga kerja, militer maupun siapa saja yang akan bepergian dalam waktu lama. Penyebab meningitis lainnya yang lebih rentan terjadi di Indonesia adalah infeksi bakteri Haemophilus influenzae type B (HIB). Kelompok yang rentan terkena meningitis HIB adalah anak-anak, sehingga penting untuk diberikan sejak usia 2 bulan.

Hingga saat ini, vaksin meningitis HIB belum termasuk vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah Indonesia. Meski demikian Kepala Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional, Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K) sangat menganjurkan pemberian vaksin ini. "Agar lebih terjangkau, vaksin ini dijadikan satu dengan vaksin BCG yang harganya sekitar Rp 150-175 ribu. Biofarma juga sedang membuat versi murahnya sehingga ke depan diharapkan bisa masuk imunisasi wajib yang digratiskan," ungkap Prof Sri Rezeki.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Sat Apr 30, 2011 6:46 am

KENAPA VAKSINASI MENINGITIS PENTING BUAT JEMAAH HAJI?
Lusia Kus Anna | Tri Wahono | Kamis, 28 April 2011 | 20:26 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Menunaikan ibadah haji tidak cukup hanya menyiapkan mental dan finansial saja. Lebih dari itu calon jemaah haji seharusnya juga menyiapkan fisiknya agar siap menghadapi cuaca dan penularan penyakit.
Salah satu caranya adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksin meningitis adalah vaksin wajib yang harus dilakukan calon jemaah haji untuk melindungi risiko tertular meningitis meningokokus, suatu infeksi yang terjadi pada selaput otak dan sumsum tulang belakang dan keracunan darah.

"Meningitis adalah penyakit serius dengan angka kematian tinggi. Bakteri ini sebenarnya tidak ada di Indonesia tapi untuk orang yang akan bepergian ke negara lain terutama ke daerah endemi, harus divaksin," kata dr.Samsuridjal Djauzi, Sp.PD, dalam acara media edukasi Mari Lindungi Bangsa, Cegah Meningitis di Jakarta, Rabu (27/4/2011).

Daerah endemik meningitis meningokokus antara lain Afrika, Amerika Utara, Amerika Latin, dan Selandia Baru. "Selama melakukan ibadah haji, kita akan bertemu dengan orang dari berbagai negara yang mungkin saja menjadi pembawa atau carrier bakteri meningitis," katanya. Orang yang bepergian ke luar negeri mmebawa risiko menularkan meningitis kepada orang lain yang akhirnya dapat menularkan kepada populasi yang lebih besar. "Bila tidak dilakukan pencegahan dari sekarang, bisa saja suatu saat nanti penyakit ini mencapai tahap endemik di Indonesia," paparnya.

Meningitis meningokukus disebabkan oleh lima tipe bakteri atau serogrup A,B,C,Y, dan W-135. "Penularannya melalui butiran ludah yang menempel di mukosa lalu masuk ke peredaran darah dan selaput otak," kata dokter yang menjadi wakil ketua komite penasihat ahli imunisasi nasional ini. Bahkan, berada dalam waktu lama dengan seseorang yang menjadi pembawa bakteri ini dapat meningkatkan risiko terinfeksi bakteri itu sampai 800 kali. Kebanyakan kasus penyakit ini juga terjadi pada orang-orang yang sebelumnya sehat.

Gejala meningitis yang utama adalah nyeri kepala, leher kaku, kulit kemerahan, kesadaran menurun dan kejang-kejang. "Pada awalnya penyakit ini hanya menimbulkan gejala ringan mirip flu namun dengan cepat bisa menjadi berat," kata Prof.Heinz-Josef Schmitt, dari Novartis Global dalam kesempatan yang sama. Vaksinasi meningitis sebaiknya dilakukan minimal 10 hari sebelum keberangkatan. "Kurang dari itu sistem antibodi tidak bisa terbentuk sempurna," kata Samsuridzal.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Sat Apr 30, 2011 6:48 am

PERLUKAH PERIKSA MENINGITIS SEPULANG DARI LUAR NEGERI
Jumat, 29/04/2011 08:47 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Meningitis meningococus sangat mematikan sehingga perlu dicegah dengan vaksinasi sebelum pergi ke negara endemis. Sepulang dari bepergian, perlukah melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada infeksi bakteri penyebabmeningitis? Kekhawatiran sepulang dari bepergian dari negara endemis bisa dipahami karena infeksi Neisseria meningitidis penyebab meningitis meningpococus tidak selalu memunculkan gejala. Beberapa orang cukup kebal sehingga hanya menjadi carrier, atau pembawa yang bisa menularkannya ke orang lain.

Pada orang yang menjadi carrier Neisseria meningitidis, keberadaan bakteri itu tidak mudah untuk dideteksi kecuali lewat pemeriksaan mikrobiologi. Caranya dengan mengambil biakan lendir tenggorokan, tempat bakteri tersebut biasa berkumpul. Bakteri yang berada di tempat itu bisa menular ke orang lain melalui droplet atau partikel dahak yang keluar saat bersin atau batuk-batuk. Orang yang tertular bisa mengalami meningitis, yakni peradangan di selaput otak dengan risiko kematian mencapai 5-10 persen.

Meski terdengar sangat mengerikan, Kepala Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional, Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K) mengatakan pemeriksaan sepulang dari bepergian tidak mutlak dilakukan. Pencegahan cukup dilakukan dengan vaksinasi sebelum berangkat. "Kalau sudah divaksin, kemungkinan tertular meski hanya sebagai carrier sangat kecil dan peluangnya cukup besar untuk sembuh sendiri," ungkap Prof Sri Rezeki dalam media briefing "Mari Lindungi Bangsa, Cegah Meningitis" di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Jumat (29/4/2011).

Menurut Prof Sri Rezeki, yang terpenting adalah vaksinasi dilakukan minimal 2 minggu sebelum berangkat bepergian. Jeda waktu sebelum berangkat dimaksudkan untuk memberi waktu agar tubuh membentuk kekebalan yang maksimal terhadap bakteri penyebab meningitis meningococus. Vaksinasi meningitis meningococus diperlukan bagi orang yang akan pergi ke daerah endemis seperti Afrika sub-Sahara dan beberapa negara di Benua Amerika. Sebelum pergi haji atau umroh juga perlu divaksin, karena akan berkumpul dengan orang-orang dari negara endemis.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Mon Aug 29, 2011 5:42 am

CEGAH INFEKSI SELAPUT OTAK
Monday, 29 August 2011 Seputar Indonesia
Kendati meningitis merupakan penyakit mematikan, tidak sedikit masyarakat yang enggan untuk melakukan vaksinasi ini meski memasuki negara endemis penyakit menular tersebut. Padahal jika ditilik,negara-negara di sub sahara Afrika dan Arab merupakan wilayah endemis penyakit yang dapat menyebabkan kematiaan ini hanya dalam waktu 2-4 hari saja sejak terinfeksi. Di lain pihak, setiap tahunnya masyarakat Indonesia berangkat ke Saudi Arabia untuk berbagai keperluan. Entah itu melaksanakan ibadah haji sampai menjadi Tenaga Kerja Indonesia, yang jumlahnya mencapai 100.000- an. Hal ini disampaikan dalam acara Temu Media bertema Mari Lindungi Bangsa, Cegah Meningitis,baru-baru ini. Meski begitu, tampaknya masyarakat Indonesia belum sadar manfaat yang dihasilkan dari vaksinasi meningitis ini ataupun betapa berbahayanya infeksi penyakit meningitis itu.

Terbukti, masih banyak orang yang enggan atau menolak untuk disuntik dengan berbagai alasan. Padahal pemerintah sendiri telah membuat aturan bahwa setiap orang yang masuk ke negara-negara endemis itu,wajib mendapatkan vaksin meningitis. Meningitis merupakan penyakit infeksi yang menyerang selaput otak dan sumsum tulang belakang. ”Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan kesehatan dunia (WHO), ratarata 5-10 persen orang yang terkena penyakit meningitis meningokokus akan meninggal, meskipun telah didiagnosa dan mendapatkan perawatan yang memadai,” ujar Kepala Seksi Bimbingan dan Evaluasi Karantina Kesehatan Subdirektorat Karantina Kesehatan dan Kesehatan Pelabuhan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan dr.Benget Saragih Turnip. Sementara itu tanpa perawatan, tingkat kematian akibat penyakit ini dapat mencapai 50 persen. ”Sekalipun selamat, 10-20 persen dari yang berhasil disembuhkan akan menderita komplikasi berkepanjangan seperti kerusakan otak, kesulitan belajar,sampai hilangnya pendengaran,” jelas Wanda Harahap selaku Corporate Communications Manager PT. Novartis Indonesia.

Idealnya seseorang menerima vaksinasi meningitis, 3 minggu sebelum keberangkatan. Kekebalan ini akan bertahan selama 2 tahun, dan sesudahnya harus divaksin ulang kembali. Penyakit ini bisa dikatakan sangat membahayakan. Bagaimana tidak, proses penularannya saja begitu mudah. Yakni lewat udara yang terkena percikan ludah dari seseorang yang terkena meningitis. Bayangkan keadaannya dimana sekian juta orang dari seluruh dunia, berkumpul di satu tempat untuk melaksanakan ibadah umroh ataupun haji.Termasuk bangsa dari negara Afrika yang juga merupakan endemis meningitis. Saudi Arabia pun sudah memberikan aturan untuk menyertakan buku International Certificate Vaccinaation (ICV) yang berwarna kuning, sebagai syarat mendapatkan visa. Ini adalah sertifikat vaksinasi yang diberikan kepada orang yang akan melakukan perjalanan ke negara yang terjangkit penyakit tertentu. Kehadiran buku ini dimaksudkan guna mengontrol pelaksanaan vaksinasi. Sayangnya di tangan orang kita, buku ICV ini kerap dipalsukan. Ironisnya,untuk mendapatkaan buku ini tanpa divaksinasi alias dipalsukan, seseorang harus membayar biaya sebesar Rp 250.000. Padahal ICV ini sendiri hanya dikenakan biaya Rp 10.000 berdasarkan ketentuan resmi.

”Sudah tidak dapat vaksin, keluar biaya lebih mahal pula,”imbuh Benget menyayangkan. Lebih jauh Benget mengatakan, ada berbagai alasan yang melatarbelakangi keenganan seseorang untuk mendapatkan vaksinasi meningitis ini.Sebut saja malas,tidak tahu apa manfaatnya, sampai beranggapan vaksinasi untuk penyakit tersebut terbilang haram. Padahal sekarang vaksinasi ini tidak lagi haram. Seluruh vaksin meningitis dinyatakan sudah halal. Pemerintah juga tampak terus menggalakkan program ini. Hal ini terlihat dari diterapkannya sistem barcode buku ICV, yang dapat memastikan seluruh orang yang akan bepergian ke wilayah endemis meningitis, mendapat vaksinasi. Barcode itu berisi data pemilik buku, dan apabila belum divaksin akan ketahuan. Terbukti sejak diberlakukannya sistem ini, jumlah orang yang divaksin melonjak tajam. Tahun 2007 misalnya, data yang berangkat umroh sebanyak 150.000-200.000 orang. Sementara hanya sekitar 21.449 orang memiliki ICV asli alias melakukan vaksinasi. Di tahun 2008 jumlahnya malah meningkat menjadi 51.182 orang pemilik ICV asli. Tahun 2009 menjadi 73.635 orang, dan sebanyak 108.892 orang yang menerima vaksinasi meningitis di tahun berikutnya. Tahun 2011 ini,sampai bulan Mei lalu sudah terdata sedikitnya 180.000 orang yang melakukan vaksinasi meningitis. sri noviarni
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Mon Aug 29, 2011 5:43 am

MANFAAT VAKSIN MENINGITIS
Sunday, 28 August 2011 Seputar Indonesia
Lazimnya kata-kata yang sering terdengar ketika akan berangkat haji maupun umroh adalah siapkan fisik dan mental yang memadai.Tak terkecuali persiapan finansial yang juga menunjang, mengingat ibadah ke Tanah Suci hanya dialamatkan bagi orang-orang yang mampu. Persiapan fisik sangat mutlak diperlukan, karena calon jamaah nantinya akan berada di medan dengan keadaan iklim dan cuaca yang sama sekali berbeda dengan di Tanah Air. Terlebih lagi, sekian juta orang dari berbagai bangsa dan belahan dunia,tumpah ruah menjadi satu. Wajar saja jika setiap orang berisiko tertular suatu penyakit. Langkah bijak sebagai solusi permasalahan ini adalah dengan melakukan vaksinasi.Ada beberapa vaksinasi yang diperuntukkan bagi jamaah haji, yakni vaksinasi influenza dan pneumokok. Kedua vaksin ini sifatnya masih dianjurkan oleh pemerintah, namun vaksinasi yang wajib adalah meningitis.

Vaksin ini berfungsi untuk melindungi risiko tertular meningitis meningokokus. Yaitu suatu infeksi yang terjadi pada selaput otak dan sumsum tulang belakang dan keracunan darah. ”Dengan tingginya angka kematian akibat meningitis, orang yang akan berangkat haji harus divaksin (meningitis),” kata dr. Benget Saragih Turnip. Orang yang bepergian ke luar negeri membawa risiko menularkan meningitis kepada orang lain yang akhirnya dapat menularkan kepada populasi yang lebih besar. Apabila tidak dilakukan pencegahan dari sekarang, bukan tidak mungkin penyakit ini mencapai tahap endemik di Indonesia.

Meningitis meningokukus disebabkan oleh lima tipe bakteri atau serogrup A,B,- C,Y, dan W-135. Penularannya melalui butiran ludah yang menempel di mukosa lalu masuk ke peredaran darah dan selaput otak. Bahkan, berada dalam waktu lama dengan seseorang yang menjadi pembawa bakteri ini dapat meningkatkan risiko terinfeksi bakteri itu sampai 800 kali. Kebanyakan kasus penyakit ini juga terjadi pada orang-orang yang sebelumnya sehat. Gejala meningitis yang utama adalah nyeri kepala, leher kaku, kulit kemerahan, kesadaran menurun dan kejang-kejang. Pada awalnya penyakit ini hanya menimbulkan gejala ringan mirip flu namun dengan cepat bisa menjadi berat. sri noviarni
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Mon Aug 29, 2011 9:33 am

BAHAYA GIGITAN ANJING
Lusia Kus Anna | Senin, 29 Agustus 2011 | 09:19 WIB Dr Samsuridjal Djauzi
Kompas.com - Di rumah, kami mempunyai anjing sejak dua tahun ini. Anak laki-laki saya yang berumur 8 tahun amat dekat dengan anjing kami. Dua minggu yang lalu, dia digigit anjing kami. Istri saya panik karena takut anak saya akan terjangkit rabies. Untunglah istri saya segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Dokter yang memeriksa menanyakan dengan teliti terjadinya gigitan tersebut. Rupanya anjing saya menggigit anak saya karena kakinya terjepit. Jadi, bukan menggigit secara spontan. Menurut dokter, kemungkinan anak saya tertular rabies amat kecil. Luka anak saya dibersihkan dan anak saya dibekali dengan antibiotik dan suntikan tetanus, tetapi tidak diberikan vaksin rabies. Dua minggu telah berlalu, anjing kami sehat-sehat saja. Kami merasa gembira karena menurut dokter jika dalam 10 hari atau dua minggu anjing tersebut sehat, berarti tidak mengidap rabies. Saya mencoba mencari informasi di internet mengenai rabies. Ternyata penyakit ini amat menakutkan. Hampir semua pasien yang terjangkit rabies meninggal dunia, didahului oleh gejala penyakit yang amat menyakitkan. Meski rabies merupakan penyakit yang mematikan, penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dengan mencegah gigitan anjing dan binatang pembawa virus rabies. Di samping itu, vaksin rabies ternyata juga berperan penting mencegah rabies. Apakah vaksin tersebut sudah tersedia di Indonesia? Ke mana korban gigitan anjing harus berobat agar terhindar dari rabies? Apa yang harus dilakukan pemilik anjing agar anjingnya tak terkena rabies?
M di J .

Penyakit rabies memang masih ada di negara kita ataupun di Asia. Sebenarnya dibandingkan dengan negara lain di Asia, kekerapan penyakit rabies di negeri kita relatif rendah. Setiap tahun kejadian rabies di India mencapai 20.000 kasus, China 2.500 kasus, Filipina 200-300 kasus, Vietnam 9.000 kasus, sedangkan di Indonesia 150 kasus. Namun, pada tahun 2009 dan 2010 memang terjadi peningkatan kasus, terutama di Bali dan Nias. Mudah-mudahan tahun 2011 ini akan menurun kembali. Sekitar 24 provinsi di Indonesia telah melaporkan kasus rabies. Jakarta termasuk provinsi yang sampai sekarang ini belum ditemukan kasus rabies pada manusia. Apa yang terjadi jika seseorang digigit anjing yang menderita rabies? Orang tersebut berisiko tertular virus yang dapat menyerang otaknya. Gejala penyakit rabies akan timbul mulai 10 sampai 50 hari. Gejalanya berupa depresi, gelisah, nyeri kepala, dan demam. Gejala rabies dapat juga disertai kelumpuhan, mulai dari anggota gerak bawah. Rasa gelisah meningkat, dapat disertai kejang, dan produksi air liur juga meningkat. Otot tenggorok mengalami spamus (kejang) jika penderita minum. Spamus ini menyebabkan penderita merasa sakit jika minum air. Karena itu, penyakit rabies sering juga disebut hydrophobia (takut air). Penderita juga dapat menjadi tak sadar (koma). Kematian pada rabies dapat terjadi karena sumbatan jalan napas, kejang, atau kelumpuhan yang luas.

Pengendalian rabies di negeri kita harus dilaksanakan secara terintegrasi. Kerja sama antarkementerian diperlukan, misalnya Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pertanian. Kementerian Pertanian perlu menjaga agar anjing tak tertular rabies dan tak menggigit manusia. Dulu ada undang-undang yang mewajibkan jika anjing keluar rumah, mulutnya harus diberangus agar tak menggigit orang. Namun, sekarang banyak anjing yang berkeliaran, tak ada yang memelihara. Anjing ini berisiko tertular rabies. Anjing yang dipelihara dapat dijaga agar tak tertular rabies dengan vaksinasi. Selain itu, populasi anjing juga harus dikendalikan, misalnya dengan operasi agar anjing tersebut tak mempunyai anak. Kementerian Kesehatan perlu menjaga agar manusia (terutama anak-anak) tak tergigit anjing. Layanan untuk menolong orang yang digigit anjing harus tersedia, termasuk pusat rabies yang mampu melakukan penatalaksanaan untuk mencegah rabies dengan tata laksana pembersihan luka, pemberian imun globulin rabies, dan vaksin rabies.

Di pusat rabies juga perlu tersedia sarana untuk pengawasan anjing yang menggigit apakah anjing tersebut menderita rabies. Anjing yang terjangkit rabies biasanya akan mati dalam waktu sepuluh hari. Sebenarnya vaksin rabies selain digunakan pasca-paparan (gigitan), juga bermanfaat untuk mencegah rabies sebelum terjadi gigitan. Karena itu, dokter hewan, petugas laboratorium, dan mereka yang sering kontak dengan anjing dianjurkan menjalani vaksinasi sebelum terpapar gigitan. Vaksin rabies disediakan oleh pemerintah, tetapi vaksin ini juga dapat dibeli dengan harga yang agak mahal. Tak semua orang yang digigit anjing perlu divaksin rabies. Dokter akan menilai risiko penularan rabies. Seperti pada anak Anda, anjing Anda merupakan anjing yang terpelihara. Anjing tersebut tidak menggigit secara spontan, tetapi karena kesakitan. Jadi, dapat dimengerti jika dokter yang memeriksa anak Anda memutuskan tak perlu memberikan vaksin rabies. Namun, dia lebih khawatir pada infeksi yang mungkin terjadi, termasuk kemungkinan terjadinya tetanus. Karena itu, luka harus dibersihkan, anak Anda perlu diberi antibiotik dan diberi vaksin tetanus ulangan. Kita harus mengurangi populasi anjing jalanan karena anjing yang tak dipelihara ini lebih mudah tertular penyakit, termasuk rabies.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai   Fri Jan 27, 2012 7:26 pm

KUSTA, PENYAKIT MENULAR YANG SULIT MENULAR
Bramirus Mikail | Asep Candra | Jumat, 27 Januari 2012 | 18:03 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kusta atau lepra bukanlah penyakit baru. Konon penyakit ini sudah ada sejak 300 SM. Meskipun termasuk salah satu penyakit menular, tetapi kusta sebenarnya sangat sulit menular sehingga tidak perlu terlalu ditakuti. Demikian disampaikan Kepala Sub Direktorat Pengendalian Kusta dan Frambusia, Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung Dr. Christina Widyaningrum, saat acara Temu Media bertema, "Sayangi Orang yang Menderita Kusta", di Kantor Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat, (27/1/2012). "Sebanyak 95 persen dari kita yang terpapar dengan kusta, kebal dengan penyakit ini. Dan 5 persen orang yang terpapar, 3 persennya bisa sembuh sendiri tanpa obat dan hanya 2 persen yang membutuhkan obat," katanya Widyaningrum mengatakan, jika penderita kusta segera diketahui dan diobati, maka dia tidak akan menularkan lagi penyakit itu. Indonesia hingga saat ini merupakan salah satu negara dengan beban penyakit kusta yang tinggi. Pada tahun 2010, tercatat ada sekitar 17.012 kasus kusta baru. "Orang harus segera pergi ke Puskemas jika mengalami kelainan kulit seperti berupa bercak putih atau merah untuk segera mendapatkan pengobatan," terangnya. Ia menambahkan, kecacatan yang terjadi pada penderita akibat kusta seringkali tampak menyeramkan sehingga menyebabkan adanya stigma dan ketakutan berlebihan terhadap kusta. "Penting untuk mensosialisasikan tanda dini kusta, dan mensosialisasikan kusta dengan benar. Karena masyarakat masih berpandangan bahwa kusta itu kutukan, keturunan, guna-guna dan sebagainya," jelasnya. Widyaningrum menambahkan, penolakan yang dilakukan oleh masyarakat dan petugas kesehatan seringkali menghambat penemuan kasus kusta secara dini, pengobatan padas penderita, seta penanganan permasalahan medis. Di sisi lain, stigma di masyarakat menyebabkan keterbatasan penderita kusta untuk menerima hak asasinya secara penuh sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat. "Guna mengatasi keterbatasan tersebut, dibutuhkan komitmen yang kuat dari tenaga medis dalam menangani penyakit kusta secara medik maupun dalam memberikan informasi dan edukasi penyakit kusta kepada masyarakat," tutupnya. Kusta adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Di Indonesia, penderita kusta umumnya ditemukan di pedalaman. Peta sebaran kusta di Indonesia menunjukkan, wilayah timur merupakan daerah dengan tingkat paparan tinggi.
Back to top Go down
View user profile Online
 

Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai

View previous topic View next topic Back to top 
Page 8 of 9Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9  Next

 Similar topics

-
» teka teki yang perlu diberi penampaq
» Penyakit berjangkit (Latihan 2)
» Antisipasi penyakit LEVER!!!!
» Keadaan TB kini perlu dianggap satu krisis
» Seksyen 21 Akta Pemusnahan Serangga Pembawa Penyakit

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-