Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Influenza & Penyakit Virus Lain

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : 1, 2, 3 ... 9, 10, 11  Next
AuthorMessage
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Impact of Long-Term Use of Antiretroviral Therapy   Sat Jan 10, 2009 1:47 pm



January 9, 2009


Impact of Long-Term Use of Antiretroviral Therapy in Africa Examined at Symposium

In surprising contrast to early predictions, antiretroviral drugs have become more important in the worldwide public health response to HIV/AIDS than most prevention and intervention strategies.

This has been especially true in sub-Saharan Africa, hit hardest by the global HIV/AIDS epidemic, where a dramatic increase in access to treatment has produced better-than-expected results, said Max Essex, chair of the HSPH AIDS Initiative.




Max Essex (l) and Deborah Cotton at the symposium

Essex and colleagues from Harvard and elsewhere gathered on November 19 at the Joseph B. Martin Conference Center on Avenue Louis Pasteur in Boston for a half-day scientific symposium to explore the impact of long-term use of antiretroviral (ARV) therapy in Africa and the remaining challenges to fighting AIDS.

Essex moderated the event. Dyann Wirth, chair of the Department of Immunology and Infectious Diseases at HSPH, provided opening remarks. Keynote speakers were Jean-Paul Moatti, senior adviser to the executive director of the Global Fund Against AIDS, Tuberculosis and Malaria, and Deborah Cotton, chief medical officer and director for the Center for Strategic HIV Operations Research at the Clinton Foundation HIV/AIDS Initiative.

Said Cotton: “There wasn’t a lot of HIV therapy in Africa in 2000. A lot of beliefs and stereotypes were preventing it from moving forward." Despite the stereotypes, progress has been made.

Preventing and treating HIV infections in children topped the list of concerns for several speakers. Most of the half-million children born with HIV will not survive much past their second birthday, Cotton said.

“But you could ask why, in 2008, [are] any babies being born with HIV when we can prevent it,” Cotton said.

Wafaie Fawzi, professor of nutrition and epidemiology at HSPH, was a panelist. He heads a collaboration in Tanzania that includes researchers at Muhimbili University of Health and Allied Sciences (MUHAS) and the Dar es Salaam City Council. He and his colleagues have been studying the relationship between nutrition and HIV progression. Fawzi and his colleagues showed several years ago that a daily regimen of multivitamins can significantly delay the progress of the AIDS virus in HIV-infected women. Now, a study is under way to test whether multivitamins enhance the therapeutic effects of ARV, he said.

In Nigeria, Phyllis Kanki, professor of immunology and infectious diseases at HSPH, is looking at drug-resistance patterns that are developing in tandem with the scale-up of treatment. Kanki has co-authored a new book with Richard Marlink, professor of the practice of public health at HSPH, called A Line Drawn in the Sand: Responses to the AIDS Treatment Crisis in Africa. The book has been published by the Harvard Center for Population and Development Studies and is distributed by Harvard University Press.

The event was sponsored by the Harvard University Global Infectious Diseases Program at the Harvard Initiative for Global Health; Harvard University Center for AIDS Research; HSPH AIDS Initiative; and HSPH Department of Immunology and Infectious Diseases.

Other speakers included David Bangsberg of Harvard Medical School; Conrad Muzoora of the Mbarara University Hospital, Uganda; Shahin Lockman of HSPH; and Bruce Walker of Harvard University Center for AIDS Research.

--Carol Cruzan Morton. Photo by Suzanne Camarata.
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Flu Singapura   Fri Apr 24, 2009 3:19 pm

Awas Flu Singapura!



Rabu, 15 April 2009 | 16:22 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Pingkan E Dundu

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah kasus demam berdarah dengue (DBD), kini warga yang tinggal di wilayah Jakarta dan Depok kembali dihebohkan dengan munculnya penyakit "flu singapura". Gejala yang muncul tidak jauh brbeda dengan flu biasa yakni demam dan disertai sariawan dalam rongga mulut, tenggorokan meradang, dan muncul bercak-bercak hingga cacar air di kaki, telapak tangan, serta telapak kaki.

"Data dari Dinas Kesehatan DKI menyebutkan, pada Februari terhadap dua kasus flu singapura. Pada bulan Maret juga terdapat dua kasus penyakit serupa. Tapi, pada April sampai Rabu ini belum ada laporan kasus itu," papar Asisten Kesejahteraan Masyarakat (Askesmas) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Effendi usai menghadiri pemaparan hasil survei YLKI dan Fakta mengenai Pelanggaran Kawasan Dilarang Merokok di berbagai kantor pemerintah di DKI, di Jakarta Media Center (JMC), Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (15/4).

Dalam catatan Kompas, flu Singapura pernah menyerang salah seorang anak di Jakarta Selatan pada tahun 2004. Saat itu, satu sekolah asing terpaksa diliburkan dan diisolasi untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit tersebut (Kompas, 18 April). Kasus flu singapura kembali muncul tahun 2007 dan menyerang anak di Jakarta Timur (Kompas, 5/9).

Anas mengimbau, warga harus waspada terhadap penyakit flu Singapura yang terjadi di Jakarta pada bulan Februari dan Maret serta saat ini sudah menjangkiti beberapa warga Depok, Jawa Barat.
"Penyakit menular melalui kontak langsung, batuk, urine, dan feces ini banyak menyerang bayi dan anak-anak. Penularannya sangat cepat. Namun, penyakit ini tidak mematikan," kata Anas di Jakarta Media Center, Jakarta Pusat, Rabu (15/4).

Namun dalam kasus flu Singapura, si penderita mengalami sariawan, bibirnya pecah-pecah, lidah dan tenggorokannya meradang. Selain itu, pada kulit si penderita terdapat bercak lebar-lebar warna merah.

Menurut Anas, penyakit flu Singapura dibawa masuk oleh mereka yang masuk ke Indonesia setelah berpergian atau berlibur dari luar negeri. Masa inkubasi selama tujuh hari. Penyakit ini dengan cepat menular melalui udara, percikan air liur, urine, feses, dan bersentuhan langsung dengan penderita.
"Jika ada warga yang mengalami gejalan-gejala tersebut segeralah mendatangi puskesmas atau dokter agar segera diambil tindakan," tandas Anas.

Puskesmas

Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat (Sudin Kesmas) Jakarta Pusat Hakim Siregar mengimbau, seluruh puskesmas di Jakarta Pusat harus mewaspadai penyebaran penyakit itu. Jika ada warga di satu wilayah yang suspect, kata Hakim, petugas kesehatan dari puskesmas diminta langsung mengambil tindakan cepat mengirim tenaga medis untuk memastikan. Jika sudah pasti, langsung melokalisir daerah tersebut untuk memastikan virus tak menyebar.

Hakim mengatakan, hingga kini pihaknya terus melakukan koordinasi dan melakukan deteksi dini dengan Dinkes DKI Jakarta guna mencegah masuknya penyakit ini ke wilayah Ibukota.

Hakim memastikan, tindakan preventif selalu dilakukan sehingga penyakit flu Singapura belum pernah ditemukan kasusnya di Jakarta Pusat. Karena itu, pihaknya menghimbau kepada masyarakat jika mengalami gejala-gejala penyakit mirip flu Singapura, maka segera periksa ke Puskesmas terdekat untuk secepatnya diambil tindakan.
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Fri Apr 24, 2009 3:22 pm

Kamis, 16 April 2009 | 05:30 WIB

Waspadai Flu Singapura

Masyarakat Tidak Perlu Panik karena Dampaknya Tidak Fatal

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah kasus demam berdarah dengue, warga kembali dihebohkan dengan munculnya penyakit flu singapura. Gejala yang muncul seperti flu biasa, yakni demam yang disertai seriawan di dalam rongga mulut dan muncul bercak-bercak merah di telapak tangan dan kaki.

”Bulan April ini belum ada kasus flu singapura di Jakarta. Tetapi, dua kasus terjadi pada Februari dan dua kasus serupa terjadi Maret lalu,” papar Asisten Kesejahteraan Masyarakat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Effendi Anas di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (15/4).

Imbauan itu juga diberikan karena saat ini penyakit tersebut sudah menjangkiti sejumlah warga Depok, Jawa Barat. Seperti diberitakan, delapan bayi di bawah lima tahun di Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, terkena flu singapura (Kompas, 15/4).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kata Anas, penyakit ini tidak mematikan. Namun, proses penularan penyakit flu singapura sangat cepat dengan masa inkubasi selama tujuh hari.

”Waspada terhadap bayi dan anak-anak karena penularan sangat cepat,” ujar Anas.
Menurut dia, virus flu singapura ditularkan dari mereka yang masuk ke Indonesia setelah bepergian atau berlibur dari luar negeri. Penularannya melalui kontak langsung dengan penderita, udara, percikan air liur, urine, dan feses.

”Jika ada yang baru datang dari luar negeri, sebaiknya membuka pakaian dan membersihkan badan sebelum kontak langsung dengan orang, terutama bayi dan anak-anak,” ujar Anas.
Mantan Wali Kota Jakarta Utara ini menegaskan, bila ada warga yang mengalami gejala-gejala tersebut, segeralah mendatangi puskesmas atau dokter agar segera diambil tindakan.

Berdasarkan catatan Kompas, flu Singapura pernah menyerang seorang anak di Jakarta Selatan pada 2004. Saat itu satu sekolah asing terpaksa diliburkan dan diisolasi untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit tersebut (Kompas, Mei 2004). Kasus flu singapura kembali muncul tahun 2007 dan menyerang anak di Jakarta Timur (Kompas, 5/9).

Jangan panik

Prof Herdiman T Pohan, Kepala Divisi Infeksi dan Tropik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, mengimbau masyarakat agar tidak panik terkait munculnya kasus flu singapura baru-baru ini di Depok.

Sebagaimana beberapa jenis influenza yang banyak dijumpai di Indonesia, flu singapura yang ditularkan melalui udara itu hanya menimbulkan kesakitan pada penderitanya. ”Kecuali flu burung, penyakit influenza lain tidak berakibat fatal bagi penderita,” kata Herdiman.

Penderita flu singapura biasanya mengalami beberapa gejala, yaitu demam, batuk, pilek, pegal-pegal, capek, dan timbul bercak merah di telapak tangan, lengan, kadang juga ditemukan di bagian kaki. ”Bila menyerang orang dewasa, biasanya tidak menimbulkan masalah serius. Orang dewasa justru menjadi pembawa virus,” ujarnya.

Namun, perlu diwaspadai serangan flu singapura terhadap mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah. Mereka adalah bayi di bawah usia satu tahun, anak-anak penderita asma, kelainan jantung bawaan, sedang menjalani pengobatan kanker, penderita kencing manis, dan orang lanjut usia.
”Virus flu hanya sebagai pemicu, yang berbahaya justru infeksi sekunder. Bila virus influenza itu masuk ke tenggorokan, kuman yang berkumpul di tenggorokan akan jadi galak, bakteri yang semula tidak patogen bisa menjadi patogen,” kata Herdiman. Apabila tidak diantisipasi, hal itu bisa berakibat fatal, bahkan kematian, bagi penderita.

Untuk mencegah terinfeksi flu singapura, masyarakat, terutama mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah, dianjurkan menghindari kontak dengan penderita. Sementara vaksinasi influenza dinilai kurang efektif mengingat virus influenza mudah bermutasi sehingga vaksin baru efektif apabila menggunakan bahan virus saat terjadi epidemi.

Pengobatan yang diberikan kepada penderita flu singapura sebatas mengatasi gejala-gejala yang muncul, di antaranya mengatasi demam, batuk, dan pilek, mencegah agar tidak sampai terjadi kejang, serta meningkatkan daya tahan tubuh penderita. ”Yang terpenting mencegah jangan sampai terjadi infeksi sekunder,” katanya. (pin/evy)

Sumber : Kompas Cetak
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts : 23045
Age : 57
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Sun Apr 26, 2009 5:46 pm

JANGAN SEBUT FLU BABI LAGI
Selasa, 08/09/2009 09:10 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Indonesia akan mengikuti Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk tidak lagi menyebut virus flu H1N1 sebagai penyakit flu babi tapi menamakannya dengan Flu A H1N1. WHO sendiri telah menyatakan flu H1N1 sebagai pandemi. Suatu penyakit disebut mengalami pandemi jika terjadi hampir di seluruh negara di dunia dan merupakan jenis penyakit terbaru sehingga tubuh manusia belum memiliki daya tahan untuk melawannya. Berdasarkan beberapa penelitian telah didapatkan bahwa flu yang selama ini sering disebut-sebut dengan flu babi, ternyata tidak berhubungan sama sekali dengan binatang tersebut. Karena virus H1N1 merupakan jenis virus baru dan menjadi pandemi karena manusia belum memiliki daya than tubuh terhadap virus tersebut.

"Awalnya disebut flu babi lalu flu Meksiko dan sekarang organisasi kesehatan dunia (WHO) sudah menetapkan untuk menyebutnya dengan flu A H1N1," ujar Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K) dalam acara sarasehan bersama perwakilan ormas keagamaan di Gedung Depkes, Jakarta, Senin malam (7/9/2009). Tjandra Yoga juga menambahkan bahwa 95 persen penderita flu H1N1 bisa sembuh tanpa masuk rumah sakit bahkan tanpa minum obat sekalipun, dan angka kematiannya kurang dari 1 persen. Biasanya penyakit ini bertambah parah karena ada faktor lain yang mendukung salah satunya faktor kegemukan.

Flu H1N1 memiliki gejala yang sama dengan gejala flu biasa, sehingga banyak masyarakat yang susah untuk mengenalinya. Rasa sakit dari virus ini adalah memiliki masa tunas (waktu sejak virus tersebut masuk hingga menimbulkan gejala) selama 3 sampai 4 hari. Hal terpenting adalah tidak perlu panik dalam menghadapi pandemi flu H1N1 ini. "Kunci utamanya adalah jangan tertular dan menularkan serta cuci tangan menggunakan sabun sudah terbukti efektif menghindari penyakit menular," tambah Prof Dr Tjandra Yoga Aditama yang juga konsultan spesialis penyakit paru-paru ini.

Mulai saat ini sebutlah penyakit tersebut dengan flu H1N1 dan jangan panik menghadapi pandemi ini. Untuk menghindarinya lakukanlah pola hidup sehat dan cuci tangan menggunakan sabun untuk menghindari penularannya. Badan Litbangkes Depkes per 2 September 2009 melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 14 kasus baru, 2 orang diantaranya meninggal dunia, seorang anak dari DKI Jakarta dan 1 orang perempuan dari Yogyakarta. Dengan demikian secara kumulatif, total kasus di Indonesia sampai saat ini 1.097 orang di 25 provinsi dan 10 kematian

Penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah. Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor, sekolah atau tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter.


Last edited by gitahafas on Sat Nov 20, 2010 9:25 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Waspada Flu Babi !   Mon Apr 27, 2009 11:13 am

BERITA PERS
KM.02.02/3/

DEPKES TETAPKAN ENAM LANGKAH ATASI FLU BABI

Makassar, 26 April 2009

Dengan adanya kasus flu babi (swine flu) pada manusia di Meksiko dan Amerika Serikat, Departemen Kesehatan menetapkan enam langkah untuk kesiapsiagaan yaitu: (1) mengumpulkan data dan kajian ilmiah tentang penyakit ini dari berbagai sumber, (2) berkoordinasi dengan WHO untuk memantau perkembangan, (3) membuat surat edaran kewaspadaan dini, (4 melakukan rapat koordinasi dengan para kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan, (5) berkoordinasi dengan Badan Litbangkes untuk kemungkinan pemeriksaan spesimen, dan (6) berkoordinasi dengan Departemen Pertanian dan Departemen Luar Negeri untuk merumuskan langkah-langkah tindakan penanggulangan.

Hal itu disampaikan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS., kepada para wartawan di Makassar tanggal 25 April 2009 saat berlangsungnya kegiatan simulasi penanggulangan episenter pandemi influenza.

Menurut Prof. Tjandra, penyakit flu babi adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan penularan antar manusia. Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza (Influenza Like Illness-ILI) dengan gejala klinis: demam, batuk pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat atau sesak napas, mungkin disertai mual, muntah dan diare.

Virus H1N1 sebenarnya biasa ditemukan pada manusia dan hewan terutama babi tetapi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Begitu juga dengan virus flu burung H5N1 meskipun sama-sama virus influenza tipe A.

Cara penularan flu babi melalui udara dan dapat juga melalui kontak langsung dengan penderita. Masa inkubasinya 3 sampai 5 hari. Masyarakat dihimbau untuk mewaspadai seperti halnya terhadap flu burung dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, menutup hidung dan mulut apabila bersin, mencuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas, dan segera memeriksakan kesehatan apabila mengalami gejala flu, ujar Prof. Tjandra.

Prof. Tjandra menyebutkan bahwa sampai saat ini sebaran kasus 8 kasus positif (konfirm) di Amerika Serikat. Sedangkan di Meksiko sebanyak 878 suspek kasus dan 60 diantaranya meninggal dunia. Dari yang meninggal sebanyak 20 kasus dinyatakan positif flu babi.

WHO masih terus mengadakan pertemuan yang membahas masalah flu babi terkait dugaan penularan antar manusia dan sampai saat ini masih ditunggu perkembangannya. Sejauh ini WHO memperkirakan hal ini sebagai public health emergency of international concern atau masalah kesehatan yang memerlukan kewaspadaan internasional dan belum ada travel warning.

Prof. Tjandra, di sela-sela kegiatan Simulasi Penanggulangan Simulasi Pandemi Influenza, telah mengadakan rapat dengan Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan dan memastikan thermal scanner bekerja dengan baik dan mengaktifkan sistem yang ada untuk memantau orang yang masuk melalui bandar udara maupun pelabuhan laut, serta melakukan koordinasi intensif dengan Rumah Sakit rujukan di tempat masing-masing.

Disamping itu, Departemen Kesehatan juga telah berkoordinasi dengan Dirjen Peternakan Departemen Pertanian RI untuk mengantisipasi penyebaran flu babi melalui Tim Koordinasi yang sudah ada. Tim Koordinasi yang sudah ada seperti Tim Penanggulangan Rabies Depkes dan Departemen Pertanian yang tugasnya diperluas menjadi Tim Terpadu Penanggulangan Zoonotik (penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia), kata Prof. Tjandra.

Ditjen P2PL melalui surat edaran meminta kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala UPT di lingkungan Ditjen P2PL dan RS Vertikal melalui surat nomor: PM.01.01/D/I.4/1221/2009 untuk melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
·

  • Mewaspadai kemungkinan masuknya virus tersebut ke wilayah Indonesia dengan meningkatkan kesiapsiagaan di pintu-pintu masuk negara terutama pendatang dari negara-negara yang sedang terjangkit.
    ·
  • Mewaspadai semua kasus dengan gejala mirip influenza (ILI) dan segera menelusuri riwayat kontak dengan binatang (babi)
    ·
  • Meningkatkan kegiatan surveilans terhadap ILI dan pneumonia serta melaporkan kasus dengan kecurigaan ke arah swine flu kepada Posko KLB Direktorat Jenderal PP dan PL dengan nomor telepon: (021) 4257125
    ·
  • Memantau perkembangan kasus secara terus menerus melalui berbagai sarana yang dimungkinkan.
    ·
  • Meningkatkan koordinasi dengan lintas program dan lintas sektor serta menyebarluaskan informasi ke jajaran kesehatan di seluruh Indonesia.


Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Kepala Pusat Komunikasi Publik



dr. Lily. S. Sulistyowati, MM
NIP 195801131988032001


Last edited by Ali Alkatiri on Mon Apr 27, 2009 10:28 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts : 23045
Age : 57
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Mon Apr 27, 2009 12:03 pm

FLU BABI MULAI BERMUTASI, VARIAN BARU DITEMUKAN
Jumat, 22/10/2010 12:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Melbourne, Virus flu babi atau H1N1 tampaknya mulai bermutasi. Peneliti telah menemukan adanya varian (strain) baru flu babi yang mendominasi di Australia, Selandia Baru dan Singapura. "Studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah varian baru ini dapat lebih mematikan dan apakah vaksin yang ada saat ini dapat melindungi," ujar Ian Barr dari World Health Organization (WHO) Collaborating Center for Reference and Research on Influenza di Melbourne, Australia, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (22/10/2010). Barr juga menuliskan dalam publikasi Eurosurveillance online, temuan ini mungkin menjadi awal penemuan antigen yang lebih dramatis dari pandemi virus influenza A (H1N1), sehingga memerlukan update vaksin lebih awal daripada yang diharapkan. "Hal ini mungkin lebih mematikan dan juga dapat menginfeksi orang-orang yang telah divaksinasi," jelas Barr. Barr menjelaskan bahwa virus flu bermutasi terus-menerus, inilah sebabnya orang memerlukan vaksin flu baru setiap tahun. Sejak dimulai pada Maret 2009 dan menyebar ke seluruh dunia, virus H1N1 telah sangat stabil dengan hampir tidak ada perubahan atau mutasi. Tapi para ilmuwan di seluruh dunia selalu mengawasi semua varian influenza, khususnya dalam hal munculnya mutan baru yang berbahaya. Yang ditakutkan adalah meski H1N1 belum terbukti sangat mematikan, tapi ternyata telah menyebar secara global dalam beberapa minggu dan membunuh beberapa anak dan orang dewasa muda lebih banyak daripada varian rata-rata. "Virus ini telah berubah sedikit sejak muncul pada tahun 2009. Namun dalam laporan ini, kami akan menjelaskan beberapa perubahan genetika berbeda dalam pandemi virus influenza H1N1," jelas Barr. Menurut Barr, varian ini pertama kali terdeteksi di Singapura pada awal 2010 dan kemudian menyebar melalui Australia dan Selandia Baru. "Perubahan tersebut belum signifikan, tapi ada beberapa kasus orang yang telah divaksinasi juga menjadi terinfeksi dan juga menyebabkan kematian," jelas Barr lebih lanjut. Varian virus ini telah dikaitkan dengan beberapa terobosan vaksin pada remaja dan orang dewasa yang telah divaksinasi pada tahun 2010 dengan vaksin influenza pandemi monovalen (hanya perlindungan terhadap H1N1) serta sejumlah kasus fatal yang terisolasi varian virus. "Tapi tidak ada cukup informasi untuk mengatakan apakah mungkin ada faktor lain yang membuat pasien lebih rentan. Dan masih harus dilihat apakah varian ini akan terus mendominasi," tutup Barr.

VAKSIN FLU BABI
Senin, 10 Agustus 2009, 14:23 WIB Petti Lubis
VIVAnews - Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyempurnakan vaksin flu babi pertama yang resmi dan siap untuk didistribusikan pada September. Pengujian vaksin pada manusia telah dilakukan beberapa lama yang diselenggarakan beberapa perusahaan farmasi secara serempak selama sekitar tiga minggu, dan sebagai pendahuluan untuk mengetahui keamanannya sebelum disebar ke pasaran. Direktur penelitian vaksin dari WHO, Dr. Marie Paul Kieny yakin bahwa hasilnya tidak membahayakan. Pada pernyataannya yang dilansir di BBC, vaksin diciptakan menggunakan teknologi yang sudah dibuktikan aman untuk kesehatan. “Kontrol kualitas pada vaksin ini sudah amat lebih baik dibandingkan 30 tahun lalu," Katanya, sambil menambahkan pernyataan bahwa WHO juga secara resmi mengawasi gelaja-gejala dari efek samping vaksin tersebut yang bisa membahayakan. Namun, hal itu tidak termasuk reaksi obat, seperti sakit saat disuntik, demam, mual, diare, yang dianggap efek samping normal yang mungkin terjadi saat menjalani semua vaksin atau mengonsumsi obat. Jadi, diharapkan bagi yang ingin menjalani vaksin memberitahuriwayatesehatannya. Sejauh ini, pembuatan vaksin terbilang sangat lancar. “Kami tidak melihat adanya dampak membahayakan,” ujar Kieny. Opini senada juga diumumkan pada situs resmi WHO. Hal ini meyakini semua keraguan tentang prosedur pembuatan serta efek samping obat. Yang pasti, dalam situs tersebut, para pengguna diharapkan menjalani vaksinasi di rumah sakit atau klinik yang terpercaya. Di beberapa versi vaksin mengandung adjuvant, sebuah kandungan obat yang meningkatkan khasiat vaksin dengan komposisi aktif dan bisa menguatkan daya tahan tubuh. Masalahnya, adjuvant tidak terdaftar untuk dimasukkan ke dalam vaksin, di AS. WHO pun menyarankan agar negara lain dapat menggunakan kandungan tersebut dalam vaksin. Dr. Kieny mengkonfirmasi vaksin yang mengandung adjuvant aman disuntikan pada ibu hamil dan anak-anak. Dan,vaksin akan segera diberikan lebih cepat pada tenaga medis, dan pasienyang menderita gejala flu babi.

40 JUTA VAKSIN FLU BABI SIA SIA
Senin, 05/07/2010 09:20 WIB Irna Gustia - Vivanews
New York, Sekitar 40 juta dosis vaksin flu babi (HINI) yang digunakan untuk melindungi masyarakat AS terbuang sia-sia. Jumlah vaksin yang tidak terpakai ini tercatat tertinggi dalam sejarah pembuangan obat. Jumlah 40 juta dosis vaksin yang akan dibakar itu,-- karena kadaluarsa per 30 Juni 2010--, senilai US$ 260 juta atau Rp 2,34 triliun. Jumlah vaksin flu babi yang dibuang ini 25 persen dari total persediaan, yang artinya 43 persen pasokan vaksin untuk warga AS berakhir menjadi limbah. Padahal biasanya rata-rata jumlah obat atau vaksin yang dibuang selama ini hanya 10 persen. "Pembuangan vaksin ini terbanyak dalam sejarah jika menurut standar yang ada," kata Jerry Weir, yang mengawasi penelitian vaksin untuk badan pengawas obat dan makanan AS atau US Food and Drug Administration (FDA) seperti dilansir dari FoxNews, Senin (5/7/2010). Pemerintah Amerika dinilai terlalu berlebihan memesan vaksin flu babi, padahal flu babi tidak sampai menyebabkan kematian. Motivasi badan kesehatan dunia (WHO) yang mengumumkan pandemik flu babi juga dinilai berlebihan karena membuat banyak negara paranoid. Namun juru bicara departemen kesehatan dan pelayanan AS, Bill Hall membela pembelian besar itu sebagai risiko yang diperlukan dalam menghadapi virus yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Apalagi menurutnya, ketika flu babi merebak pada April 2009 banyak ahli kesehatan khawatir flu baru itu bisa menjadi epidemi global yang mematikan. "Meskipun ada banyak dosis vaksin yang tidak digunakan, itu jauh lebih tepat sebagai skenario terburuk daripada terlalu sedikit memiliki dosis vaksin," kata Hall. Karena sulit untuk memprediksi dampak dari wabah flu babi ketika itu, departemen kesehatan AS meminta 5 produsen pembuat vaksin untuk segera membuat vaksin. Saat itu juga banyak pakar yang mengatakan setiap orang butuh dua dosis vaksin untuk melawan flu babi. Sehingga pada tahun lalu pemerintah AS memiliki 200 juta dosis vaksin flu babi, termasuk pesanan yang sudah dipesan 3 tahun sebelumnya. Jumlah persediaan vaksin ini sangat besar dan belum pernah terjadi, jumlahnya hampir dua kali lipat dari jumlah persediaan untuk flu musiman. Dari 200 juta dosis vaksin sekitar 162 juta dosis vaksin digunakan untuk masyarakat umum dan 36 juta dosis lainnya untuk keperluan militer dan beberapa negara lain. Kenapa banyak vaksin flu babi yang tidak terpakai? Seperti penelusuran AP yang dikutip dari FoxNews, ada beberapa alasan yang membuat vaksin itu jadi terbuang sia-sia:

1. Setelah digunakan ternyata hanya butuh satu dosis untuk melindungi orang dari flu babi, sementara sebelumnya dikatakan butuh 2 dosis.
2. Banyak dari persediaan vaksin yang ada tidak siap dipakai hingga lewat 2009, setelah tahun itu juga ancaman flu babi mulai mereda.
3. Flu babi ternyata tidak mematikan seperti yang ditakutkan. Jumlah 12.000 kematian, hanya sepertiga dari kematian akibat flu musiman biasa.

Tak hanya di Amerika, di beberapa negara Eropa juga jutaan dosis vaksin flu babi tidak terpakai. Para kritikus mempertanyakan motivasi dari beberapa penasihat WHO yang memiliki hubungan dengan industri farmasi, dengan menyatakan flu babi sebagai pandemi atau epidemi global. Kritikus menuding kecemasan yang ada terlalu dibesar-besarkan dan akhirnya banyak membuang uang. Padahal kenyataannya, flu burung dan SARS yang menyerang Asia lebih berbahaya. "Setiap kali ada pakar yang mengatakan bahwa jutaan orang di seluruh dunia akan terbunuh oleh virus-virus itu. Kami telah belajar bahwa para pakar itu benar-benar salah," kata Dr Ulrich Keil, profesor di universitas terkemuka di Jerman, University of Muenste yang juga penasihat WHO. Menurutnya, perilaku ini tidak bertanggung jawab karena kampanye kecemasan soal flu babi malah membingungkan dalam penetapan prioritas untuk kesehatan masyarakat. Jumlah korban tewas dari epidemi influenza juga jauh lebih kecil dari jumlah orang yang mati karena penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, stroke dan diabetes dalam setiap tahunnya. Hingga kini WHO masih belum mencabut status pandemi flu babi. Pada 3 Juni 2010, Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan mengatakan bahwa tingkat siaga pandemi saat ini masih dalam kemungkinan tertinggi, yaitu tahap 6. WHO akan meninjau keputusan ini pada bulan Juli ini. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH pada 5 Juni 2010 juga mengatakan pengumuman WHO ini terlalu terburu-buru karena WHO hanya memperhitungkan berdasarkan penyebaran wilayah yang terserang, tidak memperhitungkan tingkat mortalitasnya juga.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 17, 2013 8:48 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Mon Apr 27, 2009 10:26 pm

Senin, 27/04/2009 17:34 WIB
Antisipasi Flu Babi
Karantina di Bandara dan Pelabuhan Harus Diperketat
Bagus Kurniawan - detikNews


Yogyakarta - Pakar virologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Widya Asmara menyarankan agar pemerintah memperketat karantina di pintu masuk bandara dan pelabuhan guna Guna mengantisipasi wabah flu babi (swine influenza). Tujuannya agar wabah yang melanda Meksiko itu tidak masuk ke Indonesia dan mengantisipasi orang-orang yang mungkin membawa virus.

"Intensifkan peran karantina dan pemeriksaan kesehatan di pintu-pintu masuk pelabuhan dan bandara," kata Widaya kepada wartawan di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) di Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (27/4/2009).

Sebab bandara dan pelabuhan merupakan pintu masuk utama bagi orang luar atau asing ke Indonesia. Orang-orang dari Amerika Latin dan Amerika Utara itu berisiko membawa virus flu babi.

Menurut dia, flu babi pada manusia di Meksiko yang diduga disebabkan oleh strain baru virus H1N1 tersebut mirip virus influenza. Strain virus ini bisa kemungkinan besar ada yang mengalami mutasi, sehingga bisa menular dari manusia ke manusia.

Dia mengatakan dari data yang sampai sekarang dianalisis, memang virusnya H1N1 berasal dari babi. Yang terjdi di Meksiko sudah memungkinkan penularan dari orang ke orang. Kemungkinan menular ke orang sangat besar. Di Amerika flu babi sudah pernah terjadi 1976.

"Akibat tertular dari babi, seorang tentara meninggal, karena virus swine influenza. Tapi dulu, korban tidak sebanyak seperti kasus di Meksiko," katanya.

Menurut dia, faktor penularan dari babi ke manusia sama halnya kasus penularan flu burung. Jadi bisa melalui kontak secara langsung atau kontak dengan bahan-bahan yang tercemar virus.

"Yang dikhawatirkan, virus ini dibawa orang yang tertular ke tempat lain dengan moda transportasi yang begitu cepat seperti sekarang. Ini yang berbahaya," ungkap dia.

Diakui oleh Guru Besar FKH UGM ini, virus flu babi menunjukkan perkembangannya cukup bagus di negara tropis seperti halnya di Indonesia. Meski demikian, virus ini tidak berhubungan dengan peternaan-peternakan babi. Untuk sementara ini, peternakan babi di dalam negeri relatif masih aman, tidak ada satu pun ditemukan virus influenza H1N1. Sehingga peternakan babi di Indonesia tidak perlu mendapat perlakukan khusus.

"Sampai saat ini tidak perlu diperlakukan khusus karena tidak ada masalah. Yang penting tetap ditingkatkan budaya ternak yang sehat sama seperti waktu wabah flu burung," ujarnya.

(bgs/ken)

Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Tue Apr 28, 2009 10:31 am

Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Tue Apr 28, 2009 12:49 pm

Penyebaran hingga hari ini:

Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Sat May 02, 2009 1:16 pm

Wabah Flu H1N1 di AS
Tak Ada Lagi Tradisi Jabat Tangan Saat Wisuda
Rita Uli Hutapea - detikNews

Boston.com
Boston - Gara-gara wabah flu H1N1 (sebelumnya disebut flu babi), tradisi lama pun bisa berubah. Ini terjadi di kampus Northeastern University di Boston, AS.

Pihak universitas meniadakan tradisi jabat tangan untuk para mahasiswa yang diwisuda. Padahal tradisi saat para mahasiswa menerima gelar diploma mereka tersebut telah lama berlangsung.

Bahkan di kampus Cisco Junior College di Texas, acara wisuda dibatalkan!

Selain itu banyak universitas seperti Dartmouth College di New Hampshire, Western Illinois University dan Tulane University di New Orleans menghentikan program belajar di Meksiko.

Lain lagi dengan Slippery Rock University di Pennsylvania. Kampus tersebut akan mengadakan wisuda terpisah bagi para mahasiswa yang baru kembali dari Meksiko.

Di Boston, sekitar 20 ribu orang berkumpul dalam acara wisuda di Northeastern University pada Jumat, 1 Mei waktu setempat. Pihak kampus tidak mau mengambil risiko. Sekitar 100 botol pembersih tangan disediakan gratis untuk hadirin. Bahkan saat membagikan ijazah, para petinggi kampus tidak menjabat tangan mahasiswa seperti yang selama ini berlaku.

Juru bicara universitas, Michael Armini mengungkapkan, pihak kampus hanya menjalankan rekomendasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "Kami mengikuti panduan mereka untuk meminimalisir kontak," kata Armini seperti dilansir Reuters, Sabtu (2/5/2009).

Kampus Cisco Junior College bahkan membatalkan seremoni wisuda yang seharusnya digelar pada Jumat, 1 Mei. Sebagai gantinya, ijazah para mahasiswa yang lulus akan dikirimkan melalui pos.

"Kami mengerti banyak yang akan kecewa dengan keputusan kami," ujar rektor Colleen Smith. "Namun kami yakin bahwa lebih penting melindungi para mahasiswa kami, pegawai dan keluarga daripada mengadakan seremoni wisuda pada saat ini," imbuhnya.

Ratusan sekolah dan kampus di AS juga diliburkan sementara karena wabah flu H1N1 ini. Termasuk School of Dental Medicine Harvard di Boston yang meliburkan mahasiswanya hingga Rabu, 6 Mei mendatang. Ini dilakukan setelah dua mahasiswa dinyatakan sebagai kasus dugaan flu H1N1 dan tujuh mahasiswa lainnya menunjukkan gejala-gejala seperti flu.

"Semua upaya tengah dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi dan menyembuhkan mahasiswa-mahasiswa yang terjangkit," demikian statemen Harvard.

(ita/ita)
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Mon Jun 15, 2009 3:06 pm

185 Kasus Flu Babi di China


Virus Influenza A(H1N1)

Senin, 15 Juni 2009 | 09:46 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - China kembali melaporkan terdapat 20 kasus flu babi sehingga total jumlah kasus itu hingga saat ini mencapai 185. Kementerian Kesehatan China lewat situsnya di internet melaporkan sebagian besar kasus flu babi terdapat di Beijing, Shanghai, China bagian tengah, timur serta selatan.

Negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia ini telah memberlakukan karantina terutama terhadap penumpang angkutan udara di terminal kedatangan. Hal itu di antaranya dilakukan dengan peningkatan deteksi virus H1N1 lewat pemeriksaan temperatur penumpang di sejumlah bandar udara.

Sejauh ini belum terdapat laporan korban jiwa akibat meluasnya kasus flu babi di China. Hong Kong yang melakukan perhitungan kasus flu babi secara terpisah telah memastikan adanya 11 kasus baru sehingga total kasus flu babi di bekas wilayah koloni Inggris itu mencapai 84.

JIM
Sumber : AP
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Waspadai Musim Pancaroba   Thu Jun 18, 2009 1:36 pm

Waspadai Musim Pancaroba

MUSIM Pancaroba! Demikian masyarakat menyebut iklim saat ini. Hal itu karena seringnya terjadi perubahan cuaca dari terik matahari yang panas di musim yang sudah masuk pada kemarau menjadi hujan lebat kadang disertai petir dan angin ribut dengan udara yang tiba-tiba dingin. Demikian sebaliknya. Suhu udara jadi sering berganti. Pagi dan malam hari yang biasanya dingin menjadi terasa sangat panas. Perubahan cuaca yang drastis ini tentu saja membuat tubuh harus pandai beradaptasi dengan cuaca. Untuk itu dibutuhkan stamina yang prima atau fit. Jika tidak, tubuh menjadi kurang dapat beradaptasi. Inilah yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit terutama bagi mereka yang sering bekerja keras dan kurang beristirahat.

Penyakit yang sering menyerang tubuh di musim pancaroba atau musim peralihan adalah flu, batuk, pilek, demam, gangguan saluran napas atau infeksi saluran pernapasan, radang tenggorokan, masuk angin, influenza, gangguan pencernaan seperti diare, dan tifus abdominalis. Kemunculan penyakit-penyakit tersebut kasusnya menjadi tinggi pada awal perubahan musim pancaroba disebabkan juga banyaknya bakteri atau virus yang mencemari lingkungan sekitar kita ditambah menurunnya daya tahan atau stamina kita pada musim peralihan ini. Berikut ini adalah solusi agar tubuh tetap fit di tengah cuaca yang kurang bersahabat :

  • Konsumsi makanan bergizi. Daya tahan tubuh yang baik selain butuh makanan yang cukup jumlahnya, juga harus memenuhi semua unsur gizi yang dibutuhkan tubuh yaitu : karbohidrat, lemak,protein, vitamin,dan mineral. Istirahat yang cukup. Tidur 6-8 jam sehari. Kurang istirahat dapat menurunkan daya tahan tubuh kita.

  • Sempatkan berolahraga secara rutin minimal 3 kali seminggu selama 30 menit.

  • Konsumsi minuman sulpemen yang tepat. Sebagian besar dari kita sulit memenuhi kebutuhan gizi harian dengan diet yang seimbang, sehingga suplemen penambah stamina diperlukan terutama di musim pancaroba. Pilih minuman penambah stamina yang benar-benar mengandung vitamin B yang lengkap yang diperlukan untuk menjaga stamina tubuh seperti vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B8 dan B12. Selain itu, makanan/minuman energi tersebut dalam kemasannya harus mencantumkan kandungan zat, aturan pakai, masa kadaluarsa dan nomor registrasi badan pengawasan obat makanan (BPOM).

  • Kelola Stress dengan baik. Hanya dengan belajar mengelolanya secara tepat, kita dapat terhindar dari dampak negatif stress seperti sulit tidur, nafsu makan berkurang yang pada akhirnya mempengaruhi daya tahan tubuh kita.
    Perbanyak minum air putih minimal 8 gelas sehari.

  • Menjaga kebersihan makanan dan minuman, membersihkan sesudah buang air besar atau menjelang makan serta menjaga kebersihan lingkungan, memberantas lalat, nyamuk, kecoa, semut.

  • Bila terjadi keluhan yang serius, segera pergi ke dokter.


Lakukan tips di atas secara rutin dan berkelanjutan maka kita akan terhindar dari penyakit pancaroba untuk masuk ke dalam tubuh kita.

Sumber: Harian Analisa
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Wed Jun 24, 2009 11:28 am

abu, 24/06/2009 11:09 WIB
Kasus Flu Babi Telah Mencapai Lebih dari 52 Ribu Kasus
Rita Uli Hutapea - detikNews

AFP

Video Terkait


Virus Flu Babi Merambah AS

Jenewa - Jumlah kasus flu H1N1 (flu babi) terus bertambah. Secara global, sejauh ini sudah lebih dari 52 ribu kasus flu H1N1 yang dilaporkan.

Menurut data terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti dilansir News.com.au, Rabu (24/6/2009), hingga kini telah tercatat 52.160 kasus flu H1N1 di dunia. Dari jumlah itu telah dilaporkan setidaknya 231 kematian.

Kasus terbanyak di dunia masih terjadi di Amerika Serikat (AS) dengan 21.449 kasus termasuk 87 kematian. Kasus terbanyak kedua di dunia juga masih terjadi di Meksiko dengan 7.624 kasus termasuk 113 kematian. Diikuti kemudian dengan Kanada yang telah melaporkan setidaknya 5.710 kasus termasuk 20 kematian.

Hingga kini para peneliti virus masih berupaya untuk menemukan vaksin flu tipe baru ini. Beberapa waktu lalu WHO telah mengumumkan status pandemi flu babi. Pandemi flu ini merupakan yang pertama kali dalam kurun waktu 40-41 tahun.

Belum jelas sampai berapa lama pandemi flu ini akan berlangsung. Namun WHO telah mengingatkan bahwa pandemi flu bisa saja berlangsung satu atau dua tahun lamanya.

(ita/iy)
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Sat Jun 27, 2009 9:00 am

Kamis, 25/06/2009 16:53 WIB
Flu Babi Masuk Indonesia
Lagi Dua WN Australia Suspect Flu Babi Dirawat di RSUP Sanglah
Gede Suardana - detikNews

ilustrasi

Denpasar - WN Australia suspect influenza H1N1 atau flu babi di Bali terus bertambah. Dua orang kembali menjalani perawatan di ruang Nusa Indah, RSUP Sanglah.

Dua orang pasien asal Australia ini adalah anak-anak jenis kelamin laki-laki berusia 10 tahun dan perempuan Tayla Mario (14) yang menginap di Hotel Sofitel, Seminyak, Bali. Keduanya masuk RSUP Sanglah, pukul 14.58 wita, Kamis (25/6/2009).

"Pasien ditetapkan suspect flu H1N1 karena menderita flu, batuk dan demam di atas 37,8 derajat celcius, sakit tenggorokan serta berasal dari daerah endemik, Australia," kata Ketua Tim Penanganan Flu H1N1 dr Agus Somia di RSUP Sanglah, Denpasar, Kamis (25/6/2009).

Kedua pasien ini diduga terpapar karena berada dalam satu pesawat dengan Bobie Masoner (22) yang telah dinyatakan positif terjangkit virus influenza H1N1, dalam perjalanan dari Victoria, Australia ke Bali. Mereka tiba di Bandara Ngurah Rai dengan pesawat Garuda GA 719, Jumat (19/6/2009).

Sebelumnya, Kepala Bidang Pelayanan Medik dr Gusti Lanang Suartawan menjelaskan bahwa tiga orang menderita gejala flu, batuk, demam dirawat di ruang Nusa Indah. Namun, dari hasil pemeriksaan, ternyata dua orang yang dinyatakan suspect influenza H1N1. "Mereka yang mengantar ke rumah sakit adalah keluarga kedua pasien," kata Somia.

Ditetapkannya, dua WN Australia sebagai suspect influenza H1N1 maka jumlah warga asing yang dirawat di RSUP Sanglah bertambah menjadi empat orang. Mereka adalah, Bobie dinyatakan positif H1N1 sedangkan tiga lainnya terduga terjangkit virus serupa.
(gds/djo)
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Wed Jul 22, 2009 10:49 am

Rabu, 22/07/2009 09:49 WIB
WHO: 700 Orang Meninggal Akibat Flu Babi
Rita Uli Hutapea - detikNews

Reuters



Jenewa - Virus flu H1N1 (flu babi) kian mengganas. Sejauh ini lebih dari 700 orang telah meninggal di dunia akibat virus flu tipe baru itu.

Demikian disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seperti dilansir kantor berita AFP , Rabu (22/7/2009).

Juru bicara WHO Aphaluck Bhatiasevi mengatakan, jumlah kematian akibat flu babi saat ini telah lebih dari 700 kematian. Jumlah kematian yang sebelumnya dirilis WHO pada 6 Juli adalah sebanyak 429 kematian.

Menurutnya, untuk menekan penyebaran flu babi, penutupan sekolah merupakan salah satu langkah yang bisa dipertimbangkan.

"Penutupan sekolah merupakan salah satu langkah meringankan yang bisa dipertimbangkan negara-negara," kata Bhatiasevi kepada wartawan di Jenewa.

"Setiap negara akan menghadapi pandemi di tingkat yang berbeda di waktu yang berbeda, jadi ini sepenuhnya tergantung pada negara-negara untuk mempertimbangkan langkah-langkah meringankan yang cocok untuk mereka," imbuhnya.

WHO telah mengingatkan bahwa pandemi flu babi saat ini tak bisa dihentikan. Bahkan tingkat penyebarannya sangat cepat, melebihi kecepatan pandemi flu yang pernah terjadi sebelumnya di dunia.
(ita/iy)
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Tue Jul 28, 2009 10:45 am

Flu A-H1N1, Total Kasus Mencapai 416



Artikel Terkait:

  • UI Siap Kerja Sama Ciptakan Vaksin Flu A-H1N1
  • Flu Babi Sebabkan Jantungan pada Anak?
  • Hati-hati, 15 Provinsi Sudah Terjangkit Flu Babi
  • Eropa Percepat Tes Vaksin Influenza yang Baru
  • Pasien Suspek Flu A-H1N1 Dirawat di Sampit

    Senin, 27 Juli 2009 | 19:40 WIB
    Laporan wartawan KOMPAS Elok Dyah Messwati

    JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus influenza A-H1N1 terus bertambah. Sampai Senin (27/07) pukul 19.00 WIB terdapat tambahan kasus baru influenza A-H1N1 sebanyak 16 kasus (8 laki-laki dan 8 perempuan).

    Mereka berasal dari DKI Jakarta (13 kasus) dan Banten (3 kasus). Semu a kasus adalah Warga Negara Indonesia. 1 Kasus diantaranya memiliki riwayat perjalanan ke Hongkong.

    "Secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 di Indonesia berjumlah 416 kasus terdiri dari 237 laki-laki dan 179 perempuan," papar Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Senin (27/7).

    Data kasus berdasarkan tanggal pengumuman yaitu 24 Juni 2 kasus, 29 Juni 6 kasus, 4 Juli 12 kasus, 7 Juli 8 kasus, 9 Juli 24 kasus, 12 Juli 12 kasus, 13 Juli 22 kasus, 14 Juli 26 kasus, 15 Juli 30 orang, tanggal 16 Juli 15 kasus, 20 Juli 1 5 kasus, tanggal 22 Juli 67 kasus, 23 Juli 83 Kasus, 24 Juli 21 Kasus, 25 Juli 19 Kasus, 27 Juli 38 Kasus.

    Tjandra Yoga menyatakan, sudah 15 provinsi ditemukan kasus positif influenza A-H1N1 yaitu Bali, Banten, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa T engah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesai Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Jambi.

    Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Namun angka kematiannya rendah yakni 0,4%.

    Masyarakat dapat mencegah penularannya dengan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tanga n dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/ sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter.
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Fri Jul 31, 2009 5:13 pm

20 Juta Vaksin Siap Pertengahan 2010




Artikel Terkait:

BANDUNG, KOMPAS.com — PT Bio Farma berencana merampungkan vaksin bagi flu burung serta influenza A-H1N1 pada 2010 sebanyak 20 juta dosis. Jika selesai, Indonesia menjadi negara yang mampu memproduksi vaksin bagi kedua jenis influenza itu setengah tahun lebih lama dari Jepang.

Menurut Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Bio Farma Iskandar di Bandung, Kamis (23/7), pada Agustus pihaknya akan mengoptimalkan benih untuk pembuatan vaksin. Bulan September tahap eksperimen akan dimulai dan pada Oktober dilanjutkan dengan pengujian klinis, antara lain diujikan kepada manusia.

”Untuk Jepang, Agustus ini memulai tahap pengujian klinis. Australia sudah uji klinis. Produksi vaksin di Indonesia kemungkinan hanya setengah tahun lebih lama dari Jepang,” ujarnya.

Untuk tahap uji klinis, menurut Iskandar, direncanakan menyebarkan 5.000 dosis vaksin kepada manusia sehat melalui jaringan rumah sakit. Jika 20 juta dosis vaksin diproduksi, distribusinya akan diatur pemerintah.

Bantuan badan dunia

Iskandar menjelaskan, untuk pengembangan vaksin penangkal virus H5N1 ataupun H1N1, PT Bio Farma sejak tahun 2007 menerima bantuan 2 juta dollar (sekitar Rp 20 miliar) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pengembangan kapasitas. Tahun 2009 Bio Farma kembali dibantu 1,5 juta dollar (sekitar Rp 15 miliar). Ada tambahan bantuan dari pemerintah sebesar Rp 700 miliar.

Semula, hibah itu akan dipakai membuat vaksin flu burung. Namun, setelah virus H1N1 merajalela, pengembangan juga untuk menghadapi virus tersebut.

Membuat vaksin, katanya, butuh sumber daya manusia yang sangat hebat. Untuk kondisi normal, setidaknya butuh 12 tahun untuk pengembangan vaksin. ”Kami sudah berupaya secepat mungkin memproduksi vaksin flu,” ujar Iskandar.

Direktur Pemasaran PT Bio Farma Sarimuddin Sulaeman mengungkapkan, dia belum bisa memberikan jawaban mengenai mekanisme distribusi ataupun pemasaran vaksin ini karena masih dalam tahap riset dan pengembangan.

Sementara itu, jumlah pasien positif influenza A-H1N1 di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat, bertambah 10 orang. Total pasien positif menjadi 18 orang.

”Mereka adalah yang datang sejak Senin (20/7). Mayoritas memiliki riwayat pergi ke luar negeri yang terjangkit virus itu. Namun, saat ini sudah membaik, ada yang sudah dinyatakan sembuh,” kata Wakil Ketua Tim Penanganan Infeksi Khusus RSHS Primal Sudjana di Bandung. Sebelumnya delapan pasien dinyatakan positif. (ELD/GRE/CHE)
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Mon Aug 03, 2009 2:30 pm

Pandemi Flu Digugat


Kapal pesiar mewah Voyager of the Sea tiba di Marseille, Perancis selatan, Sabtu (1 Agustus).Para penumpang dilarang turun dari kapal karena 60 awak kapal terserang virus influenza A- H1N1.

Senin, 3 Agustus 2009 | 07:34 WIB

PARIS, KOMPAS.com — Inggris dan Perancis, dua negara bertetangga, mempunyai jumlah penduduk hampir sama. Inggris berpenduduk 60,71 juta dan Perancis 62,94 juta. Tingkat kesejahteraan serta fasilitas kesehatan kedua negara sama-sama maju dan modern. Namun, penyebaran flu timpang.

Hal ini menimbulkan pertanyaan soal kesahihan pandemi influenza A-H1N1. Melihat fakta seperti ini seharusnya kedua negara sama-sama berstatus pandemi jika virus influenza A-H1N1 menjadi semakin ganas.

Logikanya, kedua tetangga ini akan mengalami masalah yang persis sama terkait A-H1N1 karena kondisi di kedua nyaris sama. Apalagi pada masa ini garis perbatasan antarnegara tidak lagi jelas.

Segalanya kini menjadi serba terbuka. Orang semakin mudah berpindah dari satu negara ke negara lain.

Penyebaran virus pun menjadi kian sulit terbendung. Namun mengherankan, kondisi Inggris dan Perancis ternyata jauh berbeda. Dalam dua pekan terakhir, sedikitnya ditemukan 250.000 kasus positif influenza A-H1N1 di Inggris, 27 penderita influenza A-H1N1 meninggal di Inggris, dan 4 orang di Skotlandia. Sebaliknya di Perancis ”hanya” ditemukan 1.022 kasus positif A-H1N1 dan seorang penderita yang meninggal.

Tingginya jumlah kasus di Inggris membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 12 Juni menyatakan ada pandemi influenza A-H1N1 di Inggris.

Situasi berbeda

Muncul pertanyaan kenapa hal ini bisa terjadi. Pakar penyakit menular dan mantan pejabat Palang Merah Inggris, Marc Gentilini, menduga sistem pemantauan dan antisipasi penyakit di Inggris tidak seteliti Perancis yang lebih cepat mencegah penyebaran virus sejak awal. ”Ini dugaan saya. Sulit untuk mengetahui persis tentang hal itu,” ujarnya.

Pengajar pada Warwick Business School di Inggris, Alyson Warhurst, mengaku tidak heran jika terjadi pandemi di Inggris. Pasalnya, Inggris rentan terhadap virus A-H1N1 itu karena padatnya penduduk, banyaknya warga yang tinggal di kota, dan warga pendatang.

”Risiko tinggi untuk Perancis terkait jumlah turis masuk. Kepadatan penduduk Perancis juga berbeda,” ujarnya.

Ada banyak hipotesis tentang perbedaan kecepatan penyebaran virus di kedua negara itu. Pakar epidemiologi di University of Warwick, Thomas House, menduga salah satunya adalah cuaca Inggris yang lembap dan kerap berkabut.

Tidak ada yang tahu pasti. Namun yang jelas, menurut Kepala Program Flu di Pusat Antisipasi dan Pengendalian Penyakit Eropa Angus Nicoll, penyebaran influenza itu selalu heterogen. ”Namun, kasus di antara negara-negara tidak harus seimbang.” (AFP/LUK)

Sumber : Kompas Cetak
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Poer
Moderator
Moderator


Number of posts : 90
Age : 58
Registration date : 2008-08-28

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Mon Aug 03, 2009 2:54 pm

Iya nih...............................
Lama2 bikin pusing dan paranoid juga nih babi!
Back to top Go down
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Tue Aug 04, 2009 4:11 pm

A-H1N1 Rambah 18 Provinsi




Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, memeriksa siswa SD Muhammadiyah I Sidoarjo yang pekan lalu terserang flu dan demam, Senin (3/Agustus) di Sidoarjo. Siswa diperiksa pada bagian telinga, hidung, dan tenggorokan untuk mengetahui adanya dugaan penyebaran virus flu A- H1N1.

Artikel Terkait:

Selasa, 4 Agustus 2009 | 09:23 WIB

Jakarta, Kompas - Hingga 2 Agustus 2009, kasus positif influenza A-H1N1 sudah merambah 18 provinsi. Sementara itu, di sejumlah daerah, penderita baru terduga dan mereka yang positif terserang influenza A-H1N1 terus bertambah.

Provinsi-provinsi tersebut adalah Bali, Banten, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, dan Lampung.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, ada tambahan kasus baru positif influenza A-H1N1 dari Kalteng dan Lampung.

Sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Juni 2009, di seluruh dunia sampai 27 Juli 2009 tercatat 134.503 orang positif terkena influenza A-H1N1.

Di Provinsi Kalimantan Barat, satu pasien Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso, Pontianak, berinisial L (19), warga Pal XI, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Senin (3 Agustus), dinyatakan positif terjangkit virus influenza A-H1N1. Pasien tersebut merupakan pasien pertama positif flu A-H1N1 di Kalbar. Ia mendapat perawatan intensif di ruang isolasi.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Subuh, pasien tersebut adalah perempuan yang sebelumnya bekerja di Kuching, Serawak, Malaysia, dan baru pulang ke Kubu Raya pada 28 Juli. Di pintu perbatasan di Entikong, Kabupaten Sanggau, ia terdeteksi petugas menderita gejala flu serupa flu A-H1N1.

Dinas Kesehatan Kalbar tengah melacak anggota keluarga atau warga lain yang sempat kontak dengan pasien itu untuk mencegah penularan.

Sementara itu, ratusan siswa SD Muhammadiyah I Sidoarjo, Jawa Timur, yang terserang virus flu pekan lalu, mulai diperiksa kesehatannya oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo. Penyebaran amat cepat karena ruang kelas tertutup. Siswa yang terserang flu dianjurkan mengenakan masker untuk mencegah penularan. Sebelumnya sekolah diliburkan dua hari.

Di Desa Baliase, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, seorang warga, M Safar (59), saat ini dirawat di RS Undata, Palu, karena diduga terjangkit flu A-H1N1. Safar menderita demam, mual-mual, muntah, dan batuk.

Di Denpasar, Bali, ratusan siswa dari 1.138 siswa SD Cipta Dharma terserang flu secara bersamaan selama sepekan terakhir. Karena kekhawatiran guru dan orangtua, sekolah meliburkan empat hari, 1 Agustus hingga 5 Agustus mendatang.

Di Sumatera Utara, 321 santri Darul Arafah, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, terserang infeksi saluran pernapasan atas secara serentak dalam tiga hari. Petugas kesehatan melokalisasi penderita di tempat khusus. (Tim Kompas)
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Wed Aug 12, 2009 10:34 am

41 Kasus Baru Flu A-H1N1, Total Kasus 812 Kasus





Artikel Terkait:

Selasa, 11 Agustus 2009 | 21:37 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Depkes kembali melaporkan hasil laboratorium yang menunjukkan 41 kasus baru positif flu A-H1N1 yang terdiri dari 31 pria dan 10 perempuan. Sehingga total kasus menjadi 812.

"Kasus baru tersebut terdiri dari 36 WNI dan 5 WNA," ucap Kepala Badan Litbangkes Depkes Prof dr Agus Purwandianto dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (11 Agustus).

Tambahan kasus baru tersebut, paparnya, berasal dari 9 provinsi yaitu DKI Jakarta (19 orang), Jawa Timur (1 orang), Jawa Barat (4 orang), Bali (12 orang), Banten (1 orang), NAD (1 orang), Sulawesi Tengah (1 orang), Sulawesi Selatan (1 orang), dan DIY (1 orang).

"Lima WNA tersebut berasal dari negara Cekoslovakia, Korea, New Zealand, Filipina, dan Polandia," kata Prof Agus.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof Dr Tjandra Yoga Aditama menambahkan, hingga saat ini sudah 23 provinsi ditemukan kasus positif A-H1N1 dengan jumlah 812 orang yang terdiri dari 456 pria dan 356 perempuan. "Tiga di antaranya meninggal dunia," ujarnya.

Sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada 11 Juni 2009, lanjut Prof Tjandra, di seluruh dunia tercatat 162.380 kasus positif A-H1N1 di 168 negara serta 1.154 di antaranya meninggal dunia.

"Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita sehingga penyebarannya sangat cepat namun bisa dicegah," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Depkes tidak henti-hentinya mengingatkan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, lalu bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Selain itu, jika ada gejala influenza minum obat penurun panas serta gunakan masker dan tidak ke kantor, sekolah, atau tempat keramaian.

"Istirahat di rumah selama 5 hari. Jika dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter," ujar Prof Tjandra.

C8-09
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts : 1123
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Mon Sep 28, 2009 1:16 pm

WHO Minta Masyarakat Waspadai Munculnya Resistensi Obat

Senin, 28 September 2009 | 10:10 WIB

Jenewa, Jumat - Penggunaan obat antivirus untuk influenza A-H1N1 sejak dini sangat membantu penanganan penyakit itu, tetapi para tenaga kesehatan harus waspada dan berhati-hati agar tidak terjadi resistensi obat.

Demikian terungkap dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia untuk PBB (WHO), pekan lalu.

Resistensi terhadap antivirus H1N1 mulai dilaporkan terjadi secara sporadis. Namun, diduga kasus resistensi belum meluas. Monitoring global WHO mendeteksi 28 virus resistan sejauh ini. Di masing-masing kasus, virus menjadi resistan pada oseltamivir, tetapi tidak zanamivir.

Tenaga kesehatan di berbagai negara semakin berpengalaman dalam menggunakan obat seperti oseltavimir yang diproduksi sebagai Tamiflu oleh Roche Holding dan Gilead Sciences serta zanamivir, obat hirup produksi Relenza oleh GlaxoSmithKline.

Para pekerja kesehatan, berdasarkan pengalaman, mengetahui bahwa pemberian secara dini obat-obat tersebut pada pasien yang diduga terkena influenza A- H1N1 atau mempunyai gejala awal penyakit tersebut mengurangi risiko dan komplikasi.

Kualitas kesehatan pasien dengan penyakit yang parah juga meningkat. Pengalaman-pengalaman di lapangan tersebut kemudian mengabaikan pentingnya menjaga efektivitas obat.

Obat seringkali diberikan kepada pasien dengan kondisi tubuh baik dan gejala ringan yang diduga influenza A-H1N1. Padahal, pasien berkondisi tubuh baik yang datang dengan gejala ringan itu sebetulnya dapat pulih tanpa pengobatan.

Adapun anak-anak, wanita hamil, dan pasien dengan penyakit tertentu, seperti asma, diabetes, dan persoalan kekebalan tubuh, berpotensi penyakitnya menjadi semakin parah atau berujung kematian.

Risiko resistensi obat terutama tinggi terhadap orang berkekebalan tubuh lemah, yang sebelumnya pernah ditangani dengan menggunakan oseltamivir atau orang yang menggunakan antivirus sebagai prophylactic atau terapi pencegahan.

WHO mengimbau petugas kesehatan perlu menginvestigasi apakah telah terjadi resistensi. Jika terjadi resistensi, perlu diteliti sejauh mana resistensi terhadap obat itu telah menyebar.

Untuk negara berkembang

Koordinator Penanganan Kemunculan Variasi Flu Baru WHO, Dr David Nabarro, mengatakan, sejumlah negara maju setuju membagi vaksin influenza A-H1N1 mereka kepada negara berkembang.

Negara-negara berkembang sangat rentan terhadap influenza A-H1N1 karena tingginya angka penderita malaria, HIV/AIDS, dan tuberkulosis.

Produsen obat hanya dapat membuat vaksin A-H1N1 bagi separuh penduduk dunia per tahunnya. Dengan demikian, setiap negara harus membuat pilihan mengenai siapa penduduk yang akan mendapatkan vaksin itu.

Sebuah laporan hasil pertemuan di New York, Amerika Serikat, yang dipimpin Direktur Jenderal WHO Margaret Chan, menyebutkan, 85 negara berkembang akan benar-benar bergantung kepada donasi vaksin itu.

Negara-negara berkembang tersebut membutuhkan 1,48 miliar dollar AS per tahun untuk menghadapi pandemi H1N1, beberapa tahun ke depan. Sebagian besar dana itu akan digunakan untuk vaksin dan obat.

(www.who.int/REUTERS/INE)
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts : 23045
Age : 57
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Fri Dec 25, 2009 7:35 pm

FLU BABI
Senin, 27 April 2009, 12:26 WIB Renne R.A Kawilarang, Shinta Eka Puspasari
VIVAnews - Masyarakat internasional kini siaga dalam mengantisipasi wabah flu babi. Dalam waktu hitungan hari, flu yang mulai mewabah di Meksiko itu telah merenggut nyawa ratusan jiwa dan dikhawatirkan penyebaran bisa terus berlanjut. Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Minggu 26 April 2009, menerbitkan informasi dasar mengenai flu babi dan penularannya. Selain itu WHO juga mengungkapkan cara mencegah penularan flu babi dan obat yang bisa menyembuhkan penderita.

Apa yang dimaksud dengan flu babi?
Flu babi atau influenza babi adalah penyakit sistem pernapasan akut yang terjadi pada babi. Penyakit ini disebabkan virus influenza tipe A. Meski tingkat keparahan penyakit sangat tinggi, namun angka kematian terbilang rendah, antara satu hingga empat persen. Virus dapat menyebar melalui udara, kontak langsung dan tidak langsung melalui babi pembawa virus yang tidak menunjukkan gejala flu. Virus ini berkembang sepanjang tahun dengan peningkatan pada musim gugur dan dingin. Sebagian besar virus flu babi merupakan turunan virus H1N1, namun ada beberapa turunan virus ditemukan pada babi seperti H1N2, H3N1, H3N2. Babi juga dapat terinfeksi virus flu burung dan flu manusia. Virus-virus itu bahkan dapat menyerang secara bersamaan dan menciptakan mutasi rantai virus baru. Meski virus babi biasanya menyerang babi secara spesifik, terkadang virus ini juga menginfeksi manusia.

Di mana kasus infeksi virus flu babi terhadap manusia terjadi?
Sejak penerapan Regulasi Kesehatan Internasional pada 2007, laporan datang dari Amerika Serikat (AS) dan Spanyol.

Bagaimana manusia bisa terinfeksi?
Penularan flu babi ke manusia terjadi melalui babi yang terinfeksi, biasanya terjadi pada manusia yang jarang berhubungan langsung dengan babi. Transmisi antarmanusia memang telah terjadi namun hanya terjadi di kelompok tertutup.

Apakah produk olahan daging babi aman dikonsumsi?
Aman. Flu babi tidak menular melalui daging babi yang telah diolah. Virus flu babi mati pada suhu 70 derajat Celsius.

Di negara mana virus flu babi banyak ditemukan?
Otoritas Kesehatan Hewan Internasional tidak memiliki data pasti sebaran virus ini sehingga wilayah distribusi internasional melalui hewan tidak diketahui. Penyakit ini dikategorikan endemi di AS. Penyebaran virus flu babi juga terjadi di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa (termasuk Inggris, Swedia, dan Italia), Afrika (Kenya), dan Asia timur (China dan Jepang).

Bagaimana dengan resiko pandemi?
Manusia yang jarang atau tidak pernah melakukan kontak langsung dengan babi tidak memiliki imunitas yang bisa mencegah infeksi virus flu babi. Jika virus ini sudah bisa menular antarmanusia, pandemi influenza bisa terjadi. Dampak pandemi sangat sulit diprediksi. Hal ini bergantung kepada kekuatan virus, dan imunitas manusia.

Apakah ada vaksin yang dapat melindungi manusia dari virus flu babi?
Tidak ada. Sementara itu belum diketahui efektivitas vaksin virus flu biasa mengatasi flu babi. Ini disebabkan cepatnya perubahan rantai virus influenza. Maka WHO membutuhkan banyak sampel virus untuk mendapatkan vaksin yang bisa membunuh berbagai jenis virus.

Apa obat yang bisa digunakan untuk pengobatan?
Selama ini sebagian besar penderita flu babi dapat disembuhkan tanpa perawatan medis atau obat-obatan antiviral. Obat antiviral untuk influenza musiman dapat digunakan untuk mencegah dan mengobat pasien. Obat ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu adamantanes (amantadine dan remantadine) dan antineuraminidase influenza (oseltamivir dan zanamivir). Namun sejumlah virus flu mengembangkan resistensi terhadap obat antiviral sehingga mengurangi efektivitas obat dan perawatan. Virus flu babi yang berkembang di AS diketahui sensitif terhadap oselatmivir dan zanamivir namun imun terhadap amantadine dan remantadine. Saat ini informasi yang ada belum cukup untuk membuat rekomendasi penggunaan antiviral dalam mencegah dan menangani infeksi flu babi. Petugas medis harus membuat keputusan berdasarkan kondisi pasien dan penyebaran virus di wilayahnya. Di Meksiko dan AS, pemerintah merekomendasikan penggunaan oseltamivir dan zanamivir.


Last edited by gitahafas on Mon Dec 24, 2012 2:15 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts : 23045
Age : 57
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Wed Apr 07, 2010 6:52 am

TIPS MENGHINDARI FLU BABI
Rabu, 15/07/2009 13:42 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Flu babi (swine flu) saat ini telah menjadi pandemik di dunia. Indonesia yang dulunya tidak terjangkit swine flu, sekarang malah dihujani kasus swine flu yang dirawat di beberapa rumah sakit di Indonesia. Rata-rata pasien suspect swine flu ini baru saja pulang dari luar negeri, sehingga diduga virus H1N1 ini bukan berasal dari Indonesia. Dahsyatnya penyebaran flu babi membuat orang trauma. Ada beberapa vitamin dan makanan yang baik dikonsumsi untuk menghindari swine flu, seperti dilansir eHow, Rabu (15/7/2009):

1. Konsumsilah vitamin D karena bisa meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan flu H1N1. Konsumsi vitamin D dapat dengan meningkatkan produksi agen antimicrobial dalam tubuh. Antimicrobial ini bisa melawan swine flu dan tipe influenza lainnya.
2. Konsumsi vitamin C tidak hanya meningkatkan kadar sel darah putih yang bisa melawan infeksi, tapi juga bisa meningkatkan jumlah antibodi interferon yang menjaga swine flu agar tidak masuk ke dalam sel. Vitamin C ini bisa didapat dari makanan ataupun suplemen.
3. Konsumsi vitamin E yang membantu produksi sel-sel pembunuh alami sehingga bisa menghancurkan dan membunuh virus swine flu.
4. Makan makanan kaya akan vitamin A yang bisa meningkatkan respon kekebalan tubuh, namun jangan melebihi batas karena akan beracun jika berlebihan. Utamakan mengkonsumsi wortel.
5. Makan makanan kaya akan bioflavonoid yang bisa meningkatkan sisi reseptor sel sehingga virus H1N1 tidak bisa masuk ke dalam sel yang bisa menyebabkan infeksi. Bioflavonoid bisa ditemukan pada teh hijau dan teh putih, coklat, bawang putih, bluberri dan buah citrus. Untuk hasil yang terbaik kombinasikan dengan makanan yang kaya vitamin C dan kalsium.
6. Konsumsi suplemen Zink. Zink tidak hanya meningkatkan respon kekebalan tubuh, tapi juga bisa melawan virus swine flu lebih agresif.

Selain mengkonsumsi suplemen dan makanan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh, masyarakat juga diharuskan memperhatikan pola hidup dan kebersihan serta menghindari hal-hal yang bisa memicu terinfeksi virus H1N1.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghindari swine flu:
1. Tutup mult dan hidung dengan tisu ketika batuk dan bersin.
2. Buanglah tisu yang telah digunakan.
3. Cuci tangan setelah batuk atau bersin. Jangan memegang mulut, hidung atau mata karena virus bisa berkembang.
4. Hindari kontak dengan orang sakit.
5. Tetap di rumah jika merasa sakit, dan jangan keluar rumah sebelum sakitnya sembuh total selama kurang lebih 24 jam.
6. Sering-seringlah cuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun selama 20 detik setiap selesai memegang benda umum.
7. Jika ingin pergi ke luar negeri, cek kesehatan dengan dokter dan pastikan negara yang dikunjungi tidak terkena pandemi swine flu.
8. Tetap jaga kesehatan dan pola makan yang seimbang.

CARA CEGAH PENYEBARAN FLU BABI
Senin, 04 Mei 2009 17:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Ikarowina Tarigan
MEREBAKNYA flu babi kian meresahkan, terutama setelah WHO mengumumkan kemungkinan flu babi menjadi pandemi. Walaupun sampai saat ini belum ada indikasi kalau flu babi telah sampai ke Indonesia, tetap tidak ada salahnya untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Berikut 10 cara mencegah penyebaran flu babi.

1."Tidak pernah ada kata cukup: cucilah tangan Anda, cucilah tangan Anda dan cucilah tangan Anda," ujar Dr. Clifford W. Bassett, seorang assistant clinical professor of medicine di the Long Island College Hospital, seperti yang dikutip situs foxnews. Menurut Bassett, cuci tangan dengan sabun dan air paling tidak selama 20 detik setelah menyentuh objek, permukaan atau tangan orang lain, secara fisik bisa membuang virus flu.

2. Kalau tidak ada air, Anda bisa sering-sering menggunakan sanitizer yang menggunakan bahan dasar alkohol, khususnya jika Anda berada dalam suatu kondisi yang tidak memungkinkan Anda mencuci tangan. Jika menggunakan gel, gosoklah tangan Anda sampai gel-nya kering. Hal ini tidak memerlukan air, alkohol yang terkandung di dalamnya akan membunuh kuman-kuman di tangan. Tetapi, tidak semua lotion anti kuman bisa membunuh virus flu.

3. Jika Anda batuk atau bersin, tutuplah hidung dan mulut Anda. Selain itu, hindari menggosok atau menyentuh mata dan hidung."Jangan menyentuh muka Anda. Penyebaran flu seringkali terjadi melalui kontak tangan dengan tangan, jadi hindari menghadap langsung ke seseorang yang sedang batuk atau bersin," ujar Bassett. Jika Anda bersin ke tangan, pastikan Anda segera membersihkannya, dan bersihkan setiap kali Anda batuk atau bersin.

4. Batasi kontak dengan penderita, khususnya selama beberapa hari pertama mereka mengalami gejala-gejala flu.

5. Tinggallah di rumah jika Anda mengalami gejala-gejala flu. Lebih baik tidak usah berangkat kerja.

6. Bagi Anda yang mengalami stres berat, maka vitamin C bisa membantu Anda selama musim flu dan demam.

7. Konsumsilah diet yang seimbang dan jangan lupa istirahat yang cukup. Kedua hal ini merupakan langkah utama dalam menjaga sistem kekebalan tubuh agar terhindar dari stres berlebih. Jika cukup istirahat, tubuh Anda akan lebih siap melawan penyakit.

8. Jangan lupa mengingatkan anak Anda untuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan sehat.
Ingatkan mereka agar sering-sering cuci tangan, menutup mulut saat mereka batuk atau bersin serta menggunakan sanitizer saat tidak
ada air.

9. Jangan lupa membersihkan dan menggunakan desinfektan secara rutin pada permukaan-permukaan benda di rumah.
"Ingatlah, desinfektan tidak hanya membersihkan permukaan, tetapi juga menghancurkan kuman-kuman," terang Bassett. Ikutilah cara pemakaian desinfektan. Kuman bisa bertahan hidup di atas permukaan selama beberapa jam bahkan beberapa hari.

10. Jika mengalami gejala-gejala flu, segera periksakan diri ke dokter.


Last edited by gitahafas on Mon Dec 24, 2012 2:17 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts : 23045
Age : 57
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Influenza & Penyakit Virus Lain   Sat Apr 24, 2010 5:45 am

FLU BABI BUKAN PENGHALANG UNTUK BERCINTA
Jumat, 04/12/2009 11:25 WIB Nurul Ulfah - detikHealth
Washington, Bagaimana jika pasangan terserang flu babi? Mau berhubungan intim mungkin akan jadi susah karena takut ketularan. Tak perlu khawatir, berikut ini ada tips bagi yang tetap ingin menikmati seks tanpa harus takut tertular virus mematikan itu.

Pasangan yang terkena flu babi sebaiknya menjaga jarak mulut dan wajah. Karena penularan flu babi melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.
Tips itu diberikan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika, seperti dikutip dari Newsweek, Jumat (4/12/2009).

1. Ganti posisi Anda saat berhubungan intim
Jika biasanya pasangan saling berhadap-hadapan saat melakukan seks atau pemanasan, sekarang ubahlah posisi itu dengan saling membelakangi pasangan. Si pria berbaring dan telentang ke atas seperti biasa, dan si wanita duduk di atasnya sambil menghadap ke arah yang berlawanan dari pasangan. Semakin jauh jarak antara mulut Anda dan pasangan, semakin kecil pula risiko Anda bernafas dan menulari atau ketularan virus H1N1.

2. Ganti gaya berciuman
Meski berciuman dengan pasangan itu meningkatkan keintiman, tapi jangan lakukan itu jika salah satu dari Anda mengidap flu babi. Bukannya malah membawa kenikmatan tapi justru kesengsaraan. Buang jauh-jauh dan ucapkan selamat tinggal dengan gaya berciuman Anda yang lama, yaitu dari mulut ke mulut. Meski terasa agak aneh, cobalah ganti gaya berciuman secara langsung dengan saling meniupkan ciuman. Intinya, jangan pernah berciuman secara langsung karena berisiko memindahkan virus H1N1 dalam tubuh.

3. Ganti gaya berpelukan
Berpelukan bisa meningkatkan risiko perpindahan virus. Jika sebelumnya Anda biasa berpelukan dengan saling menyandarkan tubuh, kini ganti gaya itu dengan cukup memegang bahunya saja. Adanya jarak yang agak jauh akan membuat Anda jauh pula dari ketularan flu babi.

4. Ganti gaya bersalaman
Ketimbang bersalaman seperti biasa, sebaiknya lakukan salaman ala tonjokan menggunakan punggung tangan. Telapak tangan adalah tempat yang paling disenangi virus karena suhunya yang hangat. Selain itu biasanya tangan banyak digunkan untuk menyentuh wajah, yang tentunya semakin meningkatkan risiko transmisi virus ke telapak tangan.

Meski terasa berat untuk melakukannya, tapi cobalah pikirkan dampak ke depannya. Jangan sampai hasrat seks yang menggebu-gebu membuat pasangan terinfeksi virus. Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 9:33 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
Influenza & Penyakit Virus Lain
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 11Go to page : 1, 2, 3 ... 9, 10, 11  Next
 Similar topics
-
» Ubat Kanser Payudara Dan Pelbagai Jenis Penyakit Kanser Lain
» herpes simplex virus type 1 DNA within the beta-amyloid plaques that characterize Alzheimer's disease
» Lelaki mudah terkena penyakit kanser ?
» Lain Dulu Lain Sekarang
» B12 can cure any virus?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: