|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Sun Jan 22, 2012 7:29 am | |
| SUMBER KALSIUM SELAIN SUSU Lusia Kus Anna | Sabtu, 21 Januari 2012 | 09:45 WIB Kompas.com - Bila ingin memiliki tulang kuat, ada dua nutrisi kunci yang harus dipenuhi, yakni kalsium dan vitamin D. Kalsium diperlukan untuk mendukung struktur tulang dan gigi, sedang vitamin D akan meningkatkan penyerapan kalsium dan pertumbuhan tulang. Bicara mengenai kalsium, ingatan orang pasti langsung menuju kepada susu. Memang ada alasan mengapa susu identik dengan kalsium. Delapan ons susu rendah lemak mengandung 90 kalori dan memenuhi 30 persen kebutuhan harian kalsium. Kendati demikian masih banyak sumber kalsium lain yang tak kalah hebat dan mudah ditemui sehari-hari.
1. Ikan sardin Ikan sardin ternyata kaya akan vitamin D dan kalsium. Biasanya ikan kecil ini dijual dalam bentuk kalengan, tetapi akan lebih baik jika Anda mengonsumsi ikan sardin segar.
2. Telur Meski telur hanya mengandung enam persen dari total kebutuhan vitamin D harian, tetapi bahan pangan ini mudah didapat. Vitamin D dalam telur terdapat dalam bagian kuningnya.
3. Salmon Ikan ini lebih terkenal akan kandungan omega-3, tetapi salmon berukuran 3 ons mengandung lebih dari 100 persen kebutuhan vitamin D harian. Rutin mengonsumsi ikan ini bukan hanya menguatkan tulang tapi juga menyehatkan jantung. Ikan lain yang kaya vitamin D adalah tuna.
4. Bayam Tidak suka minum susu? Bayam bisa menjadi alternatif sumber kalsium Anda. Satu cangkir bayam mengandung 25 persen kebutuhan kalsium, ditambah serat, zat besi, dan vitamin A. Selain bayam, Anda juga bisa mendapatkan kalsium dari sayuran berdaun hijau.
5. Jus jeruk Segelas jus jeruk segar bisa menjadi sumber kalsium dan vitamin D. Beberapa jus jeruk siap minum juga sudah difortifikasi dengan vitamin lainnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Sat Jan 28, 2012 8:43 pm | |
| 10 FAKTA TENTANG MINYAK JUM'AT, 27 JANUARI 2012, 06:30 WIB Mona Indriyani VIVAnews - Bunyi kriuk di tiap gigitan, membuat gorengan digemari tiap kalangan. Bahkan banyak yang menyantapnya sembari kerja, duduk santai atau cemilan di jalan. Tapi bagi para penderita kolesterol, makanan ini sangat dihindari. Mereka percaya, makanan yang diolah dengan jumlah minyak banyak, maka mengandung kolesterol yang tinggi. Sebenarnya semua minyak aman untuk dikonsumsi, asal kita tahu bagaimana mengolahnya. Berikut adalah beberapa fakta tentang minyak:
1. Semua minyak yang dijual di pasar adalah non kolesterol. 2. Kolesterol terjadi karena pemakaian minyak yang berulang dan pemanasan yang tinggi. 3. Minyak yang baik adalah minyak yang memiliki titik panans diatas 190 derajat celcius. 4. Memasukkan bahan beku ke dalam minyak akan mempercepat kerusakan minyak. 5. Jauhkan dari paparan sinar matahari dan simpan di tempat sejuk. Minyak akan tahan selama 2 tahun. 6. Maksimal penggunaan minyak adalah 3 kali penggorengan. 7. Minyak bekas menggoreng makanan berbumbu rempah sebaiknya jangan digunakan berulang, karena dikhawatirkan akan menyebabkan toksik. 8. Gunakan indera pencium sebelum menggunakan, bau tengik menunjukan minyak telah teroksidasi dan rusak. 9. Perhatikan kemasan pada saat membeli. Kemasan yang rusak akan menurunkan kualitas minyak. 10.Penggumpalan minyak terjadi karena suhu penyimpanan teralu rendah, tetapi minyak tetap aman dikonsumsi.(eh) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Tue Feb 07, 2012 9:18 pm | |
| CERDAS GUNAKAN ANTIBIOTIKA Asep Candra | Selasa, 7 Februari 2012 | 10:39 WIB KOMPAS.com - Tidak jarang, antibiotika dianggap sebagai obat dewa yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Padahal, antibiotika tidak bisa dikonsumsi untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan virus. Sembarangan mengonsumsi antibiotika hanya membuat tubuh sembutuhkan obat yang lebih kuat. Selain lebih mahal, jika punya efek samping yang juga lebih berat. Antibiotika adalah obat yang digunakan untuk membunuh bakteri. "Karena itu, antibiotik diberikan ketika ada tanda-.anda infeksi bakteri," kata Dr. Tonny Loho, Sp.PK(K) dari Divisi Infeksi Departemen Patologi Klinik FKUI-RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Ada banyak jenis antibiotika dan masing-masing bekerja dengan cara berbeda pada berbagai jenis bakteri. Dokter akan memutuskan yang paling balk untuk infeksi yang diderita pasiennya. Meskipun antibiotika adalah obat yang manjur, obat ini tidak mengobati segala jenis penyakit. Antibiotika tidak manjur melawan penyakit yang disebabkan oleh virus. Jadi obat yang satu ini tidak bisa mengobati flu, sebagian besar penyakit bronkitis akut, hidung meter, dan sebagian besar sakit tenggorokan yang bukan disebabkan bakteri Streptococcus. Ada bahaya bila kita minum antibiotika ketika tidak membutuhkannya. Antibiotika bakal tidak bisa bekerja secara efektif saat kita benar-benar memerlukannya. Setiap kali kita minum antibiotika, di tubuh bersarang bakteri-bakteri yang tidak bisa dibunuh si antibiotika. Bakteri ini kemudian bermutasi dan semakin sulit dibasmi. Antibiotika yang biasa digunakan untuk membunuhnya tak lagi mempan. Bakteri tersebut menjadi bakteri yang resisten terhadap antibiotika.
Infeksi Sulit Bakteri yang makin bandel ini bisa menyebabkan infeksi yang lebih serius dan lebih lama. Untuk mengobatinya, butuh antibiotika yang lebih kuat dan mahal. Antibiotika lebih kuat ini bisa menimbulkan efek samping dibandingkan dengan antibiotika sebelumnya. Celakanya, bakteri resisten antibiotika ini bisa menyebar ke anggota keluarga, anak-anak, rekan kerja dan masyarakat sekitarnya. Masyarakat jadi punya risiko terkena infeksi yang semakin sulit dan mahal disembuhkan. Antibiotika yang biasa diresepkan dokter tidak lagi mempan. Di samping itu, minum antibiotika ketika tak dibutuhkan malah menimbulkan efek samping pusing, diare, dan sakit perut. Antibiotika menyebabkan iritasi dan pembengkakan usus besar. Ini terjadi karena antibiotika membunuh bakteri normal di usus dan menyebabkan bakteri C. difficile berkembang biak. Alhasil, terjadi diare, demam, dan kram perut. Wanita pun bisa terkena infeksi jamur vagina karena minum antibiotika sebab bakteri baik di vagina ikut terbunuh antibiotika. "Selain dikonsumsi seperlunya sesuai dengan resep dokter, pasien juga sebaiknya berhati-hati mengonsumsi ketika sedang mengusahakan kehamilan. Katakan kepada dokter sedang dalam program punya anak, sehingga dokter pun akan lebih berhati-hati meresepkan antibiotika. Banyak yang baru tahu dirinya hamil setelah terlambat haid dua minggu. Lebih balk jika seorang talon ibu memberi tahu dokter sebelum itu," kata Dr. Tonny Pasien juga boleh berinisiatif mengatakan kepada dokter apakah antibiotika pengobatan yang terbaik untuk penyakit yang diderita. Pasien boleh menyatakan kepada dokter tidak ingin mendapatkan antibiotika dan hanya mengonsumsinya ketika dibutuhkan.
Satu hal lain yang harus dipatuhi adalah tidak boleh minum antibiotika yang diresepkan untuk penyakit lain atau obat milik orang lain. Hal ini hanya menyebabkan penundaan pengobatan yang benar dan penderitanya jadi lebih sakit. "Sebenarnya mudah saja cara agar kita tidak sedikit-sedikit minum antibiotika. Menjaga kebersihan tangan dengan cuci tangan pakai sabun adalah cara yang sangat mudah, tetapi efektif," ujar Dr. Tonny. Cuci tangan pakai sabun dan dikeringkan dengan lap bersih ini harus dilakukan ketika usai bepergian ke tempat ramai, setelah buang air kecil dan besar, usai memegang hewan, serta sebelum mengolah makanan dan sebelum makan. Vaksinasi adalah langkah selanjutnya supaya tubuh tidak mudah tertular penyakit yang tak bisa diobati antibiotika, misalnya vaksin flu. Vaksin ini sudah tersedia di rumah sakit tertentu. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Wed Feb 08, 2012 8:05 pm | |
| JAMUR BERMANFAAT UNTUK OBAT DAN KESEHATAN Selasa, 20 Desember 2011 | 16:48 Suara Pembaruan [JAKARTA] Banyak masyarakat yang belum mengetahui kehebatan jamur khususnya jamur pangan karena dianggap sebagai sayuran biasa. Padahal selain memiliki nilai gizi dan lezat karena adanya kandungan asam glutamat, jamur juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan menyembuhkan penyakit. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2001 dengan terbentuknya tim jamur pangan BPPT sudah fokus dalam penelitian jamur pangan yang bisa mensubtitusi daging juga dijadikan obat. Tim berharap berbagai penelitian dan berbagai produk jamur olahan menjadi nuget, bakso, keripik jamur dan minuman (B-lemon) bisa meningkatkan daya saing jamur di Indonesia dan pendapatan petani jamur pun meningkat.
Kepala Bidang Teknologi Produksi Agrokimia BPPT Agus Masduki menjelaskan hingga saat ini banyak jenis jamur konsumsi yang mulai dibudidayakan seperti jamur merang, tiram, kuping, kancing dan shiitake. Sebab jamur mengandung immunomodulator, polisakarida (dalam bentuk beta-glukan) dan ikatan protein tertentu yang terbukti berkhasiat sebagai anti kolesterol, anti hipertensi, anti kanker, anti virus, anti diabetes, meningkatkan stamina dan kebugaran tubuh. "Jamur bisa menjadi pangan alternatif pengganti daging. Rasanya yang lezat karena kandungan asam glutamat yang bisa dijadikan bahan penyedap rasa non MSG," katanya dalam bincang iptek bertema Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Nilai Tambah Jamur Pangan (Edible Mushroom), di Jakarta, Selasa (20/12). Menurutnya berbagai penderita penyakit degeneratif di Indonesia seperti jantung koroner, kelainan pembuluh darah, kanker dan diabetes seharusnya dapat mengkonsumsi jamur yang bermanfaat bagi kesehatan penderita penyakit tersebut. World Health Organization memprediksi tiga tahun ke depan di dunia terdapat 300 juta penderita diabetes. Sementara itu penderita diabetes di Indonesia tahun 2000 mencapai 5,6 juta jiwa dan tahun 2020 diperkirakan mencapai 8,2 juta jiwa.
Bahkan lanjutnya hasil penelitian di Jepang pada jamur shitake (Lentinus edodes) menyebut kandungan beta-glukan dalam jamur itu dapat menghambat virus HIV-Aids. Direktur Pusat Teknologi Bioindustri BPPT Witono Basuki mengatakan pemerintah Malaysia sangat mendorong budidaya jamur dan memberi pinjaman cuma-cuma kepada para wirausahawan muda. "Indonesia pun harus mendorong ke arah itu. Sebab sejak dahulu nenek moyang kita sudah mengkonsumsi jamur karena efeknya baik untuk kesehatan," ujarnya. Budidaya jamur tiram sangat potensial selain digunakan untuk makanan juga obat-obatan. Jarum ini jelasnya harus dibudidaya di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut dan bersuhu 16-18 derajat celcius. Sedangkan jamur merang bisa dibudidaya di dataran rendah. Penanaman jamur menggunakan media baglog yang di dalamnya berisi serbuk gergaji kayu, kapur yang dihaluskan dan pupuk. Bibit jamur diletakan di dalam baglog untuk selanjutnya bisa dipanen 2 minggu-1 bulan. [R-15] |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Fri Feb 10, 2012 11:15 am | |
| HATI HATI GABUNG OBAT KIMIA - HERBAL Lusia Kus Anna | Jumat, 10 Februari 2012 | 06:58 WIB Jakarta, Kompas - Penggunaan obat kimia modern dan obat herbal, termasuk jamu, secara bersamaan untuk mengobati penyakit tertentu harus dilakukan secara hati-hati. Penggabungan secara serampangan bisa memperburuk kesehatan. ”Butuh pengetahuan dan penelitian lebih banyak untuk menggabungkan penggunaan jamu dan obat kimia secara bersamaan,” kata Ketua Program Studi Pengobatan Tradisional, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Arijanto Jonosewojo, dalam simposium ”Pentingnya Kualitas Ekstrak Obat Herbal sebagai Produk Perawatan Kesehatan dan Agen Terapetik” di Jakarta, Kamis (9/2). Uji klinik yang dilakukan di Rumah Sakit Umum dr Soetomo, Surabaya, menunjukkan, penggunaan obat antikolesterol simvastatin ataupun campuran daun jambu, temu lawak, dan jati belanda (obat tradisional) memberikan hasil yang baik jika digunakan secara sendiri-sendiri. Tetapi, jika digabung, hasilnya justru buruk. Hal yang sama terjadi pada penggunaan metformin dan teh hitam untuk mengobati diabetes. Jika kedua obat itu digunakan sendiri-sendiri, bisa menurunkan kadar gula darah rata-rata selama 1-3 bulan (HbA1C) hampir sama. Namun, jika digabung, penurunan HbA1C justru sangat kecil. ”Jika ingin menggabungkan, obat modern sebaiknya diminum lebih dulu. Setelah 1-2 jam, baru minum obat herbal,” katanya. Zat aktif dalam obat kimia umumnya lebih cepat diserap tubuh. Adapun obat herbal, selain lebih lambat diserap tubuh, terkadang bersifat mengikat zat dari obat kimia. Akibatnya, efek obat kimia jadi tidak maksimal. Arijanto, yang juga Kepala Poliklinik Obat Tradisional Indonesia RSU dr Soetomo, mengingatkan, ginseng tidak boleh digabung dengan obat digoxin (obat jantung) karena akan memperburuk kondisi jantung. Selain itu, bawang putih yang juga merupakan obat herbal antikoagulan tidak boleh digabung dengan obat kimia golongan asetasol atau clopidopril. Hal ini akan menimbulkan perdarahan. ”Masyarakat masih menganggap obat herbal lebih baik dibandingkan obat kimia. Padahal, tidak ada obat herbal yang 100 persen aman dan tidak semua obat kimia buruk,” katanya.
Belum berkembang Meski bangsa Indonesia mengenal dan merasakan manfaat tanaman obat sejak lama, hingga kini industri obat tradisional Indonesia belum berkembang. Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Hary Wahyu Triestanto Wibowo mengatakan, saat ini baru terdaftar 6 fitofarmaka dan 31 obat herbal terstandar. Adapun jamu jumlahnya mencapai ribuan. Jamu adalah tingkat terendah dalam pengelompokan obat tradisional Indonesia. Disusul obat herbal terstandar dan fitofarmaka sebagai tingkat tertinggi. Untuk meningkatkan status jamu menjadi obat herbal terstandar, harus ada uji nonklinik. Untuk menjadi fitofarmaka, harus dilakukan uji klinik dan uji nonklinik. Proses uji itu butuh biaya investasi besar. Karena itu, banyak produsen jamu enggan meningkatkan status produknya karena dengan status jamu saja sudah laku. ”Produsen hanya akan meningkatkan status produknya menjadi obat herbal terstandar atau fitofarmaka untuk meyakinkan keamanan produknya pada konsumen dan kepentingan ekspor,” ujarnya. Rudy Susilo dari Evoria GmbH, Jerman, mengatakan, pengolahan obat herbal di Indonesia banyak yang tak memenuhi standar. Orientasi bisnis produsen lebih besar sehingga kurang memperhatikan aspek keamanan obat bagi konsumen. Untuk mendapatkan obat herbal yang baik, seluruh proses produksi, mulai dari penanaman tanaman obat, perawatan, panen, pengeringan, ekstraksi, penyimpanan, pembuatan obat, hingga distribusinya, tidak bisa dilakukan asal-asalan. Bahan baku obat herbal harus bebas dari logam berat, jamur, ataupun pestisida. Proses produksi harus dilakukan secara modern, sama seperti yang dilakukan sebagian obat herbal China. Menurut Rudy, obat herbal tidak perlu diragukan manfaatnya. Yang harus dijaga adalah agar obat herbal aman dikonsumsi. ”Obat herbal sudah digunakan sejak ratusan tahun lalu dan menunjukkan khasiatnya,” katanya. Obat herbal, demikian Arijanto, sebaiknya digunakan untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, pemulihan, dan mengurangi penderitaan pasien. Untuk penyembuhan penyakit, masih disarankan menggunakan obat kimia. Dokter dapat memberikan obat herbal untuk melengkapi obat kimia dengan syarat ada permintaan tertulis dari pasien. (MZW) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Fri Feb 10, 2012 11:17 am | |
| KIAT AMAN KONSUMSI HERBAL Lusia Kus Anna | Kamis, 9 Februari 2012 | 17:19 WIB KOMPAS.com — Keberadaan tanaman obat sudah sejak ribuan tahun dikenal di Tanah Air. Beberapa tanaman itu sudah diteliti hingga tahap uji klinis, tetapi lebih banyak yang masih berupa pengetahuan turun-temurun. Ketahui cara aman mengonsumsi produk herbal. Bagian-bagian tanaman yang lazim digunakan sebagai obat herbal adalah akar, rimpang, serta simplisia, yakni tanaman yang diiris tipis, baik dalam bentuk segar maupun kering. Ada beberapa teknik mengolah tanaman obat, yakni dengan cara merebus, menyeduh, dan membuatnya sebagai serbuk. Menurut Dr Abdul Mun'im, ahli herbal dari Program Pascasarjana Herbal Departemen Farmasi FMPIA-UI, bahan herbal yang sebaiknya direbus adalah kelompok herbal yang memiliki zat aktif minyak atsiri, yakni herbal yang memiliki aroma kuat. Sementara herbal yang berupa dedauan bisa diolah dengan cara dikeringkan, sedangkan buah-buahan, seperti mengkudu, sebaiknya dikonsumsi segar untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Beberapa jenis bunga juga mudah rusak sehingga penanganannya harus hati-hati. Biasanya digunakan teknik seduh, misalnya pada rosella. "Herbal yang sudah direbus sebaiknya juga tidak dibiarkan terlalu lama karena seperti halnya makanan, tanaman herbal juga bisa jadi media pertumbuhan bakteri," kata Abdul. Kendati demikian, saat ini cukup banyak produk herbal yang diproduksi modern. Misalnya dibuat tablet, kapsul, atau bubuk. Namun, pada umumnya memiliki senyawa aktif yang relatif sama dengan herbal yang diolah tradisional. Yang berbeda mungkin harganya. Mayoritas tanaman berkhasiat di Indonesia dicampurkan dengan beberapa jenis tanaman agar khasiatnya saling melengkapi. Meski tidak memiliki aturan pakai yang baku, tetapi menurut Abdul secara umum obat herbal aman. "Kekurangan sekaligus kelebihan herbal adalah efeknya lemah sehingga untuk mengobati ia harus dipakai dalam jangka panjang. Dengan demikian, sebenarnya sangat kecil risikonya seseorang mengalami overdosis karena mengonsumsi herbal," pungkasnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Sun Feb 12, 2012 7:02 pm | |
| HEBOH TELUR KARET DI CHINA MINGGU, 12 FEBRUARI 2012, 13:33 WIB Pipiet Tri Noorastuti VIVAnews - Otoritas pengawas keamanan makanan di China melakukan investigasi terhadap temuan telur-telur yang dapat memantul seperti bola bekel setelah direbus. Kabarnya, telur-telur ini juga dapat membuat pria yang menyantapnya kehilangan kesuburan. Kemunculan telur-telur 'karet' itu cukup membuat masyarakat setempat was-was dengan efek buruknya terhadap kesehatan, seperti diberitakan kantor berita Xinhua, dikutip Reuters. Melihat teksturnya yang sangat kenyal dan cenderung keras, muncul kecurigan bahwa telur-telur yang beredar di sejumlah pasar tradisional itu palsu. Dugaan awal, telur-telur itu bukan dari unggas melainnya sengaja dibuat tangan oleh manusia demi keuntungan bisnis. "Investigasi kami lakukan untuk meredam kekhawatiran konsumen, setelah beberapa orang kedapatan membeli telur yang diduga telur buatan itu," kata otoritas terkait. Meski dugaan telur buatan menguat, namun masih ada kemungkinan bahwa tekstur keras itu tercipta lantaran ayam terlalu banyak mengonsumsi makanan kaya kandungan gossypol, senyawa yang mengikat protein dalam kuning telur. "Gossypol yang biasanya terkandung dalam residu benih kapas ditambahkan ke pakan ayam sebagai sumber protein tambahan," ujarnya. "Dan, gossypol dalam dosis tinggi dapat menekan aktivitas sperma, dan saat ini gossypol juga sedang diuji untuk alat kontrasepsi pria." Kasus makanan berbahaya di China mulai mencuat sejak tahun 2008. Mulai dari cerita tentang minyak goreng palsu, susu bermelamin, hingga semangka yang bisa meledak akibat terlalu banyak kandungan pupuk kimia. Tak heran, jika pemerintah setempat semakin ketat melakukan pengawasan dengan terbitnya undang-undang standar keamanan makanan. Undang-undang ini mengancam produsen makanan yang melanggar aturan dengan hukuman penjara hingga hukuman mati. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Thu Feb 23, 2012 8:17 pm | |
| AGAR TAK KETERGANTUNGAN OBAT PENENANG Dr. Andri, Sp.KJ | Asep Candra | Kamis, 23 Februari 2012 | 08:35 WIB KOMPAS.com - Sejak menuliskan beberapa artikel tentang bahaya penggunaan obat penenang yang termasuk golongan benzodiazepine saya banyak mendapatkan pertanyaan dari para pengguna obat ini yang kebetulan adalah penderita gangguan cemas atau depresi dengan gejala-gejala psikosomatik. Pertanyaan mereka biasanya adalah “Mengapa dokter saya memberikan obat penenang, apakah aman dimakan dan tidak membuat ketergantungan?”, lalu lebih lanjut mereka bertanya kembali“Mengapa dokter tidak menyarankan penggunaan Alprazolam, padahal saya baca kalau obat ini sangat efektif mengatasi kecemasan dan serangan panik?”. Pertanyaan ini kemudian dilanjutkan“Kalau memang dokter tidak menyarankan, mengapa rekan dokter memakai obat golongan ini?” Pada artikel ini saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang seringkali datang kepada saya berkaitan dengan penggunaan obat penenang golongan benzodiazepine terutama yang sangat sering diresepkan seperti jenis Alprazolam (dijual dengan merek Xanax, Alganax, Zypraz, dll).
Jangka Pendek Pertama kali saya ingin menegaskan kembali bahwa tidak semua obat yang diberikan psikiater adalah obat penenang. Obat penenang sebenarnya hanya merujuk pada obat yang dulu dinamakan Minor Tranquilizer yang biasanya merupakan obat-obat penenang golongan benzodiazepine. Obat ini biasanya dikenal juga dengan sebutan antianxietas/anticemas. Sejak 40 tahun ditemukan, obat ini memang sangat banyak berguna bagi kondisi pasien yang mengalami kecemasan. Efektifitasnya yang baik dan keamanannya yang cukup membuat obat ini sempat menjadi primadona (bahkan sampai saat ini) diresepkan bukan hanya oleh psikiater tetapi juga oleh semua dokter di dunia. Kerjanya yang spesifik pada sistem GABA, suatu sistem di otak yang bertanggung jawab terhadap kondisi kecemasan memang membuat obat ini sangat efektif untuk mengatasi kecemasan. Sayangnya dosis yang awalnya kecil jika tanpa kontrol ketat dari dokter yang memberi obat ini akan membuat potensi ketergantungan dan toleransi obat tetap ada. Contoh dalam keseharian adalah Alprazolam. Banyak para pasien yang sulit melepaskan diri dari obat ini awalnya memakai obat ini untuk terapi yang disarankan dokter dan dosisnya kecil. Namun karena kurangnya kontrol dan edukasi dokter yang kurang kepada pasien tentang efek obat ini, ada kecenderungan kenaikan dosis dipicu oleh keinginan pasien mendapatkan rasa nyaman yang biasanya mulai menghilang karena efek obat mulai tidak terasa pada dosis kecil (toleransi).
Rawan Ketergantungan Beberapa tahun belakangan ini banyak penelitian menyebutkan bahwa penggunaan obat golongan ini sudah semakin tidak pada tempatnya dan sering kali disalahgunakan. Bagi negara-negara eropa dan amerika yang kebanyakan orangnya terbiasa meminum alkohol, penggunaan obat golongan benzodiazepine juga menjadi masalah. Hal ini dikarenakan orang dengan riwayat penggunaan alkohol yang banyak (pecandu alkohol) lebih besar kemungkinannya untuk mengalami ketergantungan dan toleransi (bertambahnya dosis) akibat obat ini. Itulah mengapa hampir di semua buku teks yang membahas tentang obat golongan benzodiazepine, selalu diperingatkan akan bahaya ketergantungan yang besar pada pasien dengan riwayat penggunaan alkohol yang besar. Contoh paling gress adalah kematian Whitney Houston baru-baru ini. Untuk mencegah hal ini sebenarnya yang disarankan adalah jika memang perlu menggunakan obat penenang maka sebaiknya dipilih obat penenang yang waktu paruhnya relatif panjang atau menengah. Hal ini karena obat penenang dengan masa waktu habis di dalam darah yang panjang lebih kurang menimbulkan efek ketergantungan dan toleransi yang cepat dibandingkan dengan obat yang dengan waktu paruh pendek/singkat. Contohnya Alprazolam lebih mudah membuat toleransi atau ketergantungan daripada Diazepam. Selanjutnya penggunaan obat ini haruslah dalam pengawasan dokter. Pasien tidak diperkenankan membelinya sendiri apalagi mencoba-coba dosisnya sendiri. Walaupun sudah sejak tahun 2009 penjualan obat golongan benzodiazepine di apotek-apotek diperketat, kenyataannya masih banyak apotek yang masih mau melayani pembelian obat jenis ini tanpa resep. Pakailah dosis optimal terkecil dan dalam jangka waktu yang singkat. Inilah salah satu cara juga untuk menghindari ketergantungan dan toleransi dalam menggunakan obat penenang. Pasien biasanya akan dipantau dalam mengggunakan obat jenis ini dan saran dokter harus diperhatikan dengan baik. Jika merasa sudah terlalu lama (artinya sudah lebih dari 4 minggu), pasien bisa bertanya kepada dokternya kapan akan segera dilepaskan dari obat ini. Sebelum mengakhiri artikel ini saya hanya ingin menekankan kembali bahwa menurut pendapat saya pribadi yang diperkuat oleh beberapa tulisan di jurnal ilmiah dan buku teks yang saya baca, penggunaan obat penenang golongan benzodiazepine adalah bersifat sementara dan mempunyai peran sebagai obat simptomatik (mengurangi gejala) pada pasien cemas dan depresi. Pengobatan yang tepat untuk kasus-kasus depresi dan cemas tidak tergantung pada obat jenis ini. Semoga membantu Salam Sehat Jiwa |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Wed Feb 29, 2012 12:45 pm | |
| OBAT PENURUN KOLESTEROL PICU RISIKO DIABETES Lusia Kus Anna | Rabu, 29 Februari 2012 | 10:14 WIB Kompas.com - Badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat (FDA) akan mewajibkan produsen obat penurun kolesterol golongan statin untuk menyatakan di kemasan adanya efek samping peningkatan risiko diabetes. Keputusan tersebut diambil setelah banyaknya laporan dari pasien yang mengonsumsi statin mengalami kenaikan gula darah. "FDA juga mengetahui adanya studi yang menunjukkan statin terkait dengan peningkatan risiko diabetes melitus," demikian pernyataan FDA yang dikeluarkan Selasa (28/2). Beberapa obat penurun kolesterol golongan statin diantaranya adalah Lipitor, Pravachol, Crestor, Zocor, dan beberapa obat generik lainnya. "Kami ingin agar petugas kesehatan dan pasien mendapatkan informasi yang lengkap mengenai risiko statin. Namun pasien juga harus diyakinkan bahwa obat ini bermanfaat untuk menurunkan kolesterol," kata Mary Parks, direktur FDA divisi metabolisme dan endokrinologi. Perusahaan farmasi sendiri mengatakan bahwa penggunaan statin yang dikombinasikan dengan pola makan yang baik dan olahraga akan efektif untuk menurunkan kolesterol. Revisi lain yang akan dilakukan dalam kemasan obat statin adalah dihapuskannya anjuran bagi pasien untuk melakukan pemeriksaan enzim liver. Menurut FDA, enzim liver bisa diukur sebelum pasien mulai mengonsumsi statin. "Gangguan serius pada liver akibat statin sangat jarang dan sulit diprediksi," kata FDA. Meski begitu pasien harus melaporkan pada dokter jika mengalami gejala gangguan liver, seperti nyeri perut, kelelahan, berkurangnya nafsu makan, warna urin pekat, atau warna kulit menguning. FDA juga mengatakan adanya risiko penurunan daya ingat dan kebingungan jika mengonsumsi statin, namun risiko itu bisa dihilangkan jika konsumsi statin dihentikan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Sat Mar 03, 2012 8:19 pm | |
| JUS JERUK GANGGU KERJA OBAT, BENARKAH? Bramirus Mikail | Asep Candra | Jumat, 2 Maret 2012 | 17:05 WIB KOMPAS.com - Jika Anda penggemar berat buah atau jus jeruk, tapi di sisi lain sedang menjalani pengobatan jangka panjang dan harus mengonsumsi beberapa jenis obat-obatan, sebaiknya berhati-hati. Mengapa? Karena buah kaya vitamin C ini dapat memengaruhi dan mengganggu kerja dari obat-obatan. Katherne Zeratsky, ahli gizi dari Mayo Clinic mengatakan, jus jeruk atau produk jeruk lainnya dapat mengganggu beberapa jenis obat tertentu. Zeratsky mengatakan, meskipun interaksi yang ditimbulkan cukup ringan, tetapi pada beberapa kasus hal ini bisa berdampak serius dan menyebabkan masalah kesehatan. Ia juga mengimbau agar setiap orang melakukan konsultasi ke dokter atau apoteker sebelum mengonsumsi grapefruit (jeruk) atau produk buah jeruk lainnya apabila sedang mengonsumsi berbagai jenis obat. Apabila memungkinkan, akan lebih baik jika Anda tidak mengonsumsi jeruk sama sekali. Meskipun Anda minum obat dan produk jeruk dalam waktu yang berbeda interaksi tersebut akan tetap ada. Zeratsky mengungkapkan bahwa ada bahan kimia tertentu yang terkandung dalam buah jeruk yang dapat mengganggu metabolisme berbagai jenis obat dalam sistem pencernaan Anda. Kondisi ini dapat membahayakan pengobatan Anda dan menyebabkan efek samping yang serius. Selain jeruk masih ada banyak lagi makanan yang dapat memicu interaksi obat. Berikut adalah beberapa contoh obat-obat resep yang dapat memicu interaksi serius jika dikonsumsi bersamaa dengan produk jeruk. Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa berkonsultasi ke dokter atau apoteker untuk melihat apakah obat yang Anda konsumsi juga memiliki interaksi dengan apa yang sering Anda konsumsi :
* Obat anti kecemasan: Buspirone * Obat anti-aritmia: Amiodarone (Cordarone) * Antidepresan: Sertraline (Zoloft) * Antihistamin Fexofenadine: (Allegra) * Anti-retroviral: Saquinavir (Invirase), indinavir (Crixivan) * Obat anti kejang: Carbamazepine (Carbatrol, Tegretol) * Calcium channel blocker (obat hipertensi): Nifedipin (Procardia), Nimodipin (Nimotop), Nisoldipine (Sular) * Imunosupresan Siklosporin: (Neoral, Sandimmune), Tacrolimus (Prograf), Sirolimus (Rapamune) * Statin (obat penurun kolesterol): Simvastatin (Zocor), Lovastatin (Mevacor), Atorvastatin (Lipitor) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Sat Mar 03, 2012 8:22 pm | |
| HOBI MINUM JUS JERUK BERISIKO ASAM URAT Lusia Kus Anna | Jumat, 12 November 2010 | 10:43 WIB Kompas.com — Penyakit asam urat (gout) memang kebanyakan dialami oleh kaum pria. Namun, bukan berarti wanita bebas dari penyakit yang bisa menyebabkan nyeri sendi ini. Salah satu faktor yang bisa meningkatkan risiko ini adalah kebiasaan minum jus jeruk (orange juice) dua gelas setiap hari. Selain jus jeruk, minuman kalengan yang manis juga memiliki risiko yang sama jika diminum dua kali sehari. Para peneliti dari Universitas Boston mengatakan, minuman yang tinggi kandungan gula buah atau fruktosa bisa menyebabkan endapan asam urat yang terkumpul di dalam sendi dan menimbulkan rasa nyeri. Penelitian tersebut dilakukan dengan cara mengikuti pola makan 80.000 wanita selama 22 tahun. Mereka yang minum orange juice dua gelas setiap hari berisiko 40 persen terkena asam urat. Sementara itu, yang konsumsi minumannya lebih dari dua kali risikonya naik 2,4 kali.
Minuman kaleng yang tinggi gula, seperti soft drink, juga memiliki risiko terkena gout yang tinggi, yakni 70 persen. Karena itu, para peneliti menyarankan para penggemar minuman manis agar mulai mengurangi kebiasaannya tersebut. Untuk menghindari penyakit asam urat disarankan untuk mengurangi makanan yang mengandung senyawa purin, seperti sayur bayam, kangkung, bunga kol, jamur, asparagus, melinjo, daging, sarden, jeroan, kepiting, tiram, udang, dan kacang tanah. Selain karena faktor makanan, peningkatan produksi asam urat dalam darah juga bisa karena penyakit darah (penyakit sumsum tulang, polisitemia), obat-obatan (alkohol, obat-obat kanker, vitamin B12), penyebab lainnya adalah obesitas, penyakit kulit (psoriasis, kadar trigliserida yang tinggi). |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Sun Mar 04, 2012 7:31 pm | |
| NUTRISI MAKANAN BEKU LEBIH UTUH Lusia Kus Anna | Asep Candra | Sabtu, 3 Maret 2012 | 16:39 WIB KOMPAS.com - Banyak orang menghindari makanan yang dibekukan, dikeringkan, atau makanan kaleng dengan alasan tidak sehat. Padahal, berbeda dengan kepercayaan banyak orang, makanan beku justru memiliki banyak keunggulan. Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Science and Agriculture menemukan bahwa produk makanan segar sebenarnya sudah kehilangan banyak nutrisinya dibandingkan dengan makanan beku atau makanan kaleng. Untuk mendapatkan nutrisi secara utuh, idealnya kita mengonsumsi buah atau sayuran yang baru dipetik. Namun di zaman modern seperti sekarang ini hampir tidak ada orang di perkotaan yang menanam buah dan sayur di pekarangannya. Elizabeth Pivonka, ahli gizi dan presiden Produce for Better Health Foundation mengungkapkan, ada banyak alasan untuk memilih produk beku atau kaleng, antara lain biaya yang lebih murah dan nutrisi yang utuh.
Proses pembekuan makanan sebenarnya berfungsi untuk mengurangi kerusakan dinding sel pada makanan. Clarence Birdseye yang dikenal sebagai penemu teknik pembekuan makanan konon mempelajari teknik itu dari orang Eskimo. Keunggulan dari makanan beku antara lain prosesnya dilakukan tak lama setelah makanan tersebut dipetik atau ikan yang baru ditangkap. Dengan demikian nutrisi yang terbuang hanya sedikit. Berbeda dengan mitos yang dipercaya banyak orang, makanan beku atau kaleng tidak memerlukan zat pengawet. Ini karena tekniknya, yakni diletakkan dalam wadah kedap udara, memungkinkan makanan itu tetap awet. Selain itu Pivonka menjelaskan jenis pengawetan lain yang juga menjaga nutrisi makanan, yakni pengeringan. "Keuntungan dari makanan yang dibeku keringkan adalah nutrisinya utuh. Selain itu warna, tekstur, dan bentuknya tak rusak," katanya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Fri Mar 09, 2012 5:14 pm | |
| DAFTAR MAKANAN RENTAN MENYIMPAN RACUN JUM'AT, 9 MARET 2012, 08:04 WIB Pipiet Tri Noorastuti VIVAnews - Makanan merupakan sumber energi dengan kandungan nutrisi yang penting bagi tubuh. Namun, di balik manfaatnya, sejumlah makanan berpotensi menyimpan racun yang bisa membahayakan tubuh. Berikut sederet makanan yang rentan membuat tubuh keracunan jika dikonsumsi tanpa memerhatikan kondisi dan pengolahan yang baik.
Telur Seperti makanan lain, telur juga dapat terkontaminasi bakteri berbahaya, seperti Salmonella. Karenanya, biasakan selalu membeli telur dari toko yang bersih dan kredibel. Setelah mencuci permukaannya dengan air bersih, segera simpan di lemari es. Masak telur sampai matang sebelum mengonsumsinya. Bagi yang terbiasa menyantap telur mentah atau setengah matang, sebaiknya waspada karena telur mentah yang terinfeksi bakteri bisa memicu gejala keracunan berat.
Tuna Jenis ikan ini rentan terkontaminasi scombrotoxin, yang dapat menyebabkan kram dan sakit kepala. Pastikan menyimpan tuna di tempat dingin, kalau perlu di atas permukaan es. Tempat penyimpanan yang terlalu panas akan merangsang pelepasan racun yang sulit hilang lewat proses pemasakan. Hindari menyantap ikan tuna setengah matang tanpa tahu kondisi penyimpanannya sebelum diolah.
Tiram Tiram dan jenis kerang lainnya dikenal sebagai makanan yang paling berpotensi menyimpan racun dari lokasi berkembang biak. Jika ditangkap dari perairan yang tercemar, kerang-kerang itu kemungkinan besar juga telah terkontaminasi racun. Dan ketika masuk ke tubuh, bisa memunculkan reaksi seperti muntah, demam, dan diare. Berhati-hatilah saat membeli tiram atau kerang.
Kentang Kentang mengandung racun alami, yaitu solanin dan chaconine. Racun itu umumnya terkandung dalam kentang yang berwarna hijau, bertunas, dan secara fisik telah rusak atau membusuk. Terkonsentrasi di daerah yang berwarna hijau, kulit, atau daerah di bawah kulit. Karenanya, hindari mengolah daging kentang yang masih muda atau berwarna kehijauan. Hindari pula memasukkan tunas-tunas kentang yang menempel ke dalam olahan makanan.
Keju Paling rentan terkontaminasi bakteri, seperti Salmonellaor Listeria. Dalam kasus langka ekstrim bisa menyebabkan wanita hamil yang mengonsumsinya keguguran. Itulah mengapa wanita hamil disarankan menghindari konsumsi keju kiloan di pasar. Dan bagi penggila keju, biasakan membeli produk bermerek di supermarket yang tersegel dengan baik dan mencantumkan tanggal kedaluarsa.
Buah beri Rentan tercemar bakteri Cyclospora, yang bisa memicu kram, dehidrasi dan diare. Itulah mengapa ada beberapa orang yang alergi terhadap jenis buah seperti stroberi, raspberry, dan blackberry. (eh) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Mon Mar 12, 2012 8:09 pm | |
| 3 JENIS VITAMIN POPULER YANG BISA MEMBAHAYAKAN KESEHATAN Senin, 12/03/2012 16:52 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Vitamin telah dipuja-puja sekian lama sebagai zat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Perusahaan-perusahaan obat pun beramai-ramai mengeluarkan produk suplemen vitamin yang sampai sekarang masih diyakini manfaatnya. Nyatanya, beberapa jenis vitamin justru bisa berakibat buruk bagi tubuh. "Ada 50 penelitian berskala besar mengenai suplemen, dan tidak satu pun yang menunjukkan manfaatnya untuk mengatasi penyakit jantung atau kanker. Saya tidak mengerti, mengapa banyak orang masih meminum vitamin ini?" kata David Agus, dokter dan penulis buku 'The End of Illness' yang juga menjabat sebagai direktur Pusat Pengobatan Molekuler Terapan University of Southern California dan direktur Westside Norris Cancer Center di University of Southern California. Beberapa dokter lainnya juga mengibaratkan membeli vitamin itu seperti membuang uang ke dalam toilet. Sebab, jika tubuh mendapatkan vitamin tertentu lebih dari yang diperlukan, tubuh akan mengeluarkan kelebihannya lewat urin. Dalam setahun, warga Amerika menghabiskan sekitar 28 miliar US Dolar atau sekitar 256.8 triliyun untuk membeli suplemen makanan, termasuk vitamin dan suplemen herbal. "Bahkan beberapa orang rela menghabiskan uangnya yang justru dapat meningkatkan risiko kesehatannya sendiri tanpa disadari. Kebanyakan orang berpikir meminum banyak suplemen akan lebih baik, tapi lain halnya dengan vitamin," kata Dee Sandquist, ahli diet dan juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics di Amerika Serikat. Seperti dilansir US News, Senin (12/3/2012), berikut adalah tiga suplemen vitamin terpopuler yang justru bisa berbahaya bagi tubuh.
Suplemen vitamin E Banyak orang meyakini bahwa vitamin E ampuh untuk mencegah kanker. Pada tahun 2001, National Cancer Institute di Amerika Serikat melakukan penelitian untuk menguji apakah vitamin E dapat menurunkan risiko kanker prostat. Namun temuan mengungkapkan bahwa pria yang mengkonsumsi vitamin E justru memiliki kemungkinan 17 persen lebih tinggi terserang kanker prostat. Vitamin E merupakan faktor kunci dalam fungsi kekebalan tubuh dan komunikasi sel. Vitamin ini paling bagus diperoleh dalam makanan seperti biji gandum, biji bunga matahari, dan brokoli. Namun efeknya akan memburuk jika diminum secara teratur dalam dosis tinggi. Seperti halnya banyak vitamin lain, vitamin E akan kehilangan manfaatnya jika diminum berlebihan.
Vitamin A Vitamin A baik untuk menjaga ketajaman penglihatan dan ditemukan pada produk hewan dan nabati. Vitamin A juga penting untuk kesehatan reproduksi, kesehatan tulang, dan fungsi kekebalan tubuh. Suplemen vitamin A penting bagi orang pengidap penyakit yang menghambat penyerapan lemak, seperti penyakit celiac, penyakit Crohn, dan gangguan pankreas. Kelebihan vitamin A dapat berubah menjadi racun di dalam tubuh. Meminum vitamin A lebih dari yang dibutuhkan tubuh dari waktu ke waktu dapat menyebabkan penyakit hati yang serius, cacat lahir, dan gangguan sistem saraf pusat. Jenis vitamin A yang disebut beta-karoten juga diduga membantu mencegah kanker, tapi hanya jika diperoleh lewat makanan. Dalam bentuk pil, beta karoten justru berbahaya. Penelitian menemukan bahwa pria perokok yang mengkonsumsi suplemen beta-karoten memiliki kemungkinan 18 persen lebih besar mengalami kanker paru-paru dan memiliki kemungkinan 8 persen meninggal. Gerard Mullin, direktur layanan integratif nutrisi pencernaan di Rumah Sakit Johns Hopkins dan penulis buku 'The Inside Tract: Your Good Gut Guide to Great Digestive Health' telah banyak merawat pasien yang terserang kerusakan hati karena overdosis vitamin A. Menurutnya, banyak orang yang tidak tahu bahwa overdosis vitamin A bisa berbahaya. Pasien-pasiennya itu sempat berpikir bahwa vitamin A dapat melawan infeksi.
Vitamin C Vitamin C diyakini ampuh melawan infeksi. Berbagai suplemen dan tablet hisap vitamin C telah menjadi konsumsi yang umum di masyarakat. Padahal, fungsi perlindungan dalam sistem kekebalan tubuh hanya diperoleh dari vitamin C yang alami. Dasar ilmiah yang mendukung penggunaan suplemen vitamin C secara rutin untuk mengatasi pilek sangat lemah. Tidak ada bukti bahwa vitamin C dapat mencegah pilek. Tidak seperti vitamin A, vitamin C larut dalam air. Artinya, jika mengkonsumsi lebih dari yang dibutuhkan tubuh, kelebihannya dapat dikeluarkan tanpa menyebabkan maslaah. Namun beberapa efek samping seperti diare, kram perut, dan mual dapat terjadi. "Pada dosis cukup tinggi, vitamin C bisa menyebabkan batu ginjal. Asupan vitamin C lebih dari 500 miligram per hari sudah cukup untuk dapat menimbulkan masalah. Jumlah ini hanya setengah dari produk 1 gram vitamin C. Kasus ini memang jarang terjadi, tetapi pernah ada," kata Mullin. Asupan harian maksimum vitamin paling baik diperoleh dari kombinasi makanan dan suplemen. Meminum lebih dari jumlah yang direkomendasikan akan menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih besar dibandingkan manfaatnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Obat dan Makanan Sun Apr 01, 2012 6:50 am | |
| 10 MITOS PENGGUNAAN OBAT YANG KELIRU Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 29 Maret 2012 | 15:12 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Obat dapat dilihat sebagai pedang bermata dua. Dapat memberikan kesembuhan, namun dapat pula menyebabkan kesakitan bahkan kematian. Demikian disampaikan Prof. DR. dr. Rianto Setiabudy SpFK, dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Menurut Rianto, masalah penggunaan obat yang baik dan benar masih menjadi fenomena kompleks. Banyak mitos keliru yang berkembang di masyarakat tentang penggunaan obat yang justru dapat memperburuk derajat kesehatan seseorang. "Prinsipnya, gunakan obat yang mantab manfaatnya, aman, sesuai dengan kondisi seseorang dan terjangkau," kata Rianto saat acara forum diskusi di Jakarta, Kamis, (29/3/2012). Rianto menuturkan, penggunaan obat dapat dikatakan rasional apabila indikasi penggunaannya tepat, dosis dan cara pemberian tepat, lama pemberian tepat, dan biaya terjangkau. Sebagai Guru Besar Farmakologi FKUI, Rianto menjabarkan 10 mitos yang salah di masyarakat terkait penggunaan obat, seperti dijelaskan di bawah ini :
1. Meningkatkan dosis obat menyebabkan penyakit lebih cepat sembuh "Tidak benar. Salah besar jika ada orang yang beranggapan demikian," ucap Rianto. Ia menjelaskan, seorang pasien tidak boleh meningkatkan dosis obat tanpa sepengetahuan dokter yang bersangkutan. Tindakan ini dinilainya justru dapat menimbulkan masalah kesehatan yang baru.
2. Menggunakan lebih banyak jenis obat lebih manjur Penggunaan berbagai macam jenis obat untuk mengatasi satu jenis penyakit dengan alasan biar cepat sembuh bukan cara yang tepat. Penggunaan obat dengan jenis yang beragam akan percuma karena besar kemungkinan obat tersebut memiliki kandungan yang sama. "Kalau bisa pakai satu obat, pakai satu saja," katanya.
3. Obat "paten" atau mahal akan lebih manjur dari yang murah Tidak benar jika ada orang yang beranggapan dengan membeli obat yang mahal, maka penyakitnya bisa lebih cepat sembuh. Masyarakat harus tahu bahwa obat paten dan generik memiliki khasiat yang sama. "Bahkan kalau ada keluarga saya yang sakit, saya selalu kasih obat generik," ujar Rianto.
4. Kalau suatu obat terbukti manjur untuk orang lain, pasti akan manjur juga untuk saya Belum tentu. Tidak semua obat yang cocok bagi orang lain pasti cocok pula untuk Anda. Sebagai contohnya, seseorang yang sama-sama menggunakan kacamata minus belum tentu dapat menggunakan kacamata orang lain yang sama-sama memakai kacamata minus. "Jadi semua tergantung dari sejauh mana tingkat keparahan penyakit orang dan untuk memastikannya harus diperiksakan ke dokter," tegas Rianto.
5. Orang tipe "badak" perlu dosis besar "Apabila orang lain dosisnya cukup satu, saya tidak mempan dan harus makan dua atau tiga obat sekaligus' Pernyataan itu mungkin sering kita dengar. Tetapi menurut Rianto, tidak semua obat memiliki tingkat yang seramah itu jika dikonsumsi tidak sesuai dosis. "Karena ada obat yang apabila dikonsumsi berlebihan jutru akan menimbulkan efek samping berbahaya," ucapnya.
6. Suntik mempercepat sembuhnya sakit Banyak orang beranggapan suntik itu lebih manjur. Tetapi pada orang yang mengalami alergi pemberian obat dengan cara disuntik jauh lebih berbahaya dari pada yang diminum. "Jadi janganlah mendesak dokter untuk minta disuntik," katanya
7. Makan obat dalam waktu lama bisa merusak ginjal "Beberapa pasien hipertensi menderita stroke karena mitos yang ke tujuh ini," katanya. Banyak pasien berpikir, konsumsi obat yang banyak dan terus menerus dalam jangka waktu lama dapat merusak ginjal. Padahal keputusan mereka untuk memberhentikan minum obat justru dapat berdampak lebih fatal. "Jutru yang erusak ginjalnya itu adalah hipertensinya, bukan obatnya," jelanya
8. Obat tradisional atau herbal pasti aman Obat herbal atau tradisional belum tentu aman. Menurut Rianto, obat yang seratus persen aman adalah plasebo karena tidak memiliki khasiat.
9. Vitamin adalah kebutuhan esensial untuk mempertahankan kesehatan tubuh Seseorang tidak memerlukan asupan multivitamin. Karena sebanyak apa pun seseorang mengonsumsi vitamin, hal itu tidak akan mampu menggantikan posisi dari makanan.
10. Suplemen makanan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan Suplemen bentuknya memang seperti obat tetapi dia bukan obat. Produen boleh mengklaim apa aja tentang khasiat suplemen yang mereka buat tanpa harus membuktikan, asal tidak mengklaim menyembuhkan atau menceagh suatu penyakit. "Ini yang tidak disktehui konsumen," katanya. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |