Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Obat dan Makanan

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 25 ... 49  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 9:58 am

WHO KELUARKAN PEDOMAN OBAT ANAK
Sabtu, 19 Juni 2010 | 07:44 WIB
Kompas.com - Badan kesehatan dunia (WHO) untuk pertama kalinya menerbitkan pedoman penggunaan 240 obat-obatan penting untuk anak di bawah usia 13 tahun. Pedoman tersebut berisi informasi mengenai indikasi penggunaan, dosis dan efek samping obat, termasuk peringatan anak yang tidak boleh mengonsumsi obat tertentu. Pedoman setebal 528 halaman itu juga menyebutkan interaksi obat yang umum terjadi. "Supaya efektif, obat harus dipilih secara hati-hati dan dosisnya disesuaikan dengan usia, berat badan, dan kebutuhan anak," kata Dr.Hans Hogerzeil dari WHO. Ia menambahkan, tanpa suatu pedoman para tenaga kesehatan termasuk dokter anak akan sulit meresepkan suatu obat yang tepat berdasarkan bukti yang sedikit.

Beberapa negara memang telah membuat pedoman sendiri mengenai obat untuk anak, tapi sampai saat ini belum ada standar yang sifatnya universal. Pedoman yang dibuat WHO ini diterbitkan dalam bahasa Inggris, namun pemerintah tiap negara boleh menerjemahkannya supaya bisa dipakai sebagai rekomendasi.Tiap tahunnya 8,8 juta anak berusia kurang dari 5 tahun meninggal karena berbagai penyakit, seperti diare dan pneumonia. Padahal, menurut WHO kematian tersebut sebenarnya bisa dicegah dengan obat-obatan yang tepat.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 13, 2010 3:05 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 10:23 am

PUYER, NASIBMU DIMATA 'JAS PUTIH'
RACIKAN KHUSUS - Edisi Juni 2008 (Vol.7 No.11) Frmacia
Perang antara kelompok pro dan kontra puyer di kalangan dokter sampai saat ini terus berlanjut. Namun semua itu hendaknya berpulang pada kepentingan pasien. Tak seperti biasanya, dalam beberapa bulan terakhir ini forum mailing list angkatan penulis penuh dengan puluhan message setiap hari. Salah satu pemicunya adalah message dari teman sejawat penulis, sebut saja dr Yuli, yang menyatakan, puyer itu racun! Spontan saja pernyataan itu memicu perdebatan teman-teman sejawat lainnya. Apa salahnya puyer? Bukankah praktik peresepan puyer sudah berlangsung lama?

Teman sejawat penulis itu tentu saja tidak serta merta menyalahkan puyer tanpa alasan. Beliau 'melemparkan' beberapa contoh peresepan obat yang ditulis oleh – meminjam istilahnya – 'dokter zaman sekarang'. Kasus pertama, seorang anak berusia 6 bulan menderita batuk pilek sejak 1 minggu. Karena tak kunjung sembuh, oleh ibunya dibawa ke dokter. Setelah diperiksa ini itu, ibunya diberi resep obat sebagai berikut: augmentin syrup 3x1 sendok teh/hari, bronchophyllin syrup 3x1/2 sendok teh/hari, dan racikan puyer (romilar 2 mg, trifed _ tablet, venterol 1 mg, ventolin 0,5 mg, xyzal 1/3 tablet) 3x1 bungkus/hari.

Kasus kedua, seorang dokter spesialis anak meresepkan obat kepada anak batuk pilek 1 minggu sebagai berikut: claneksi dry syrup 125 mg, transpulmin syrup, parasetamol syrup, dan racikan puyer (salbutamol 2 mg, mucopect 30 mg, kenacort, INH 300 mg, vitamin B 12,5 mg). "Masa batuk pilek satu minggu anak 6 bulan dikasi obat asma, antibiotik, antialergi, antibatuk..crazy! (yang ada anaknya mati bukan karena batuk pilek tapi karena OBAT)," imbuhnya lagi.

Di Bangku Kuliah
Selama masa pendidikannya, seorang calon dokter diajarkan cara-cara meracik puyer. Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ilmu racik-meracik puyer diajarkan oleh Departemen Farmasi selama 2 minggu di semester 7-8 dan 3 minggu di semester 9-10 (berdasarkan kurikulum lama). Meracik puyer layaknya memasak di dapur. Obat-obat yang diperlukan ditimbang sesuai keperluan. Lalu, digerus dan dicampur dalam mortir. Setelah itu, dibagi-bagi secara merata ke dalam beberapa kertas pembungkus. Tampak sederhana, bukan? Tapi di balik itu, tersimpan berbagai perdebatan mengenai layak tidak layak, rasional irrasional terhadap praktik puyer ini.

Bagi yang kontra beralasan,
Pertama, puyer tidak higienis. Saat menggerus, alur dan mortir yang digunakan sering tidak dalam keadaan bersih, bahkan bekas pakai dari racikan resep obat sebelumnya. Jadi bukan tidak mungkin puyer yang akan dibuat tercampur dengan sisa-sisa obat yang menempel pada dinding mortir dari resep sebelumnya.

Kedua, komposisi puyer tidak tercampur rata dalam tiap kertas pembungkus. Setelah obat digerus dan dicampur dalam mortir, obat dibagi-bagi dengan mata telanjang, tidak ditimbang. Jadi besar kemungkinan komposisi puyer berbeda antar kertas pembungkus.

Ketiga, peresepan puyer sangat irrasional. Ambil contoh kasus diatas. Dalam satu puyer terkandung 5-6 macam obat. Maka timbullah pertanyaan miris, bagaimana interaksi antar obat dalam satu puyer tersebut? Apakah obat yang semula berbentuk tablet mempunyai stabilitas yang sama setelah digerus menjadi bubuk? Lebih jauh lagi, bila pasien belakangan diketahui menderita efek samping, bagaimana cara kita melacak obat mana yang menimbulkan efek samping itu?

Mereka yang masih pro tidak mau kalah. Menurut mereka, tidak semua obat yang tersedia di pasaran mempunyai bentuk sediaan sirup atau drop. Kalaupun ada, harganya lebih mahal. Hal itu bisa digambarkan sebagai berikut, untuk mendapatkan parasetamol 500 mg, cukup menebus 1 butir tablet parasetamol 500 mg dengan harga Rp 200; bandingkan dengan membeli satu botol parasetamol sirup 100 mg/5 ml isi 60 ml seharga Rp 10.000 atau lebih tergantung merek, jadi untuk mendapatkan dosis 500 mg diperlukan 25 ml yaitu Rp 4000an. Jadi setelah dihitung-hitung, puyer masih ideal di negeri kita yang jumlah orang miskinnya cukup banyak. Selain itu, dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak sehingga kejadian dosis berlebih dapat dicegah. Pemberiannya jauh lebih mudah, cukup sekali teguk setiap kali hendak minum. Bayangkan betapa susahnya bila harus memberikan anak beberapa macam obat dari botol-botol yang berbeda.

Salah Indikasi?
Permasalahan lain dari peresepan puyer adalah indikasi pemakaiannya. Puyer paling sering diberikan pada bayi dan anak dengan keluhan batuk pilek (common cold). Berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa penyebab tersering dari common cold adalah virus, bukan bakteri. Pada kenyataannya, seperti kasus di atas, antibiotik sering diberikan. Bahkan dicampur pula dengan cough suppressant (dextrometorphan, kodein), dan dekongestan (efedrin).

American Academy of Pediatrics Committee on Drugs melalui publikasinya dalam Pediatrics 1997 menegaskan, belum ditemukannya studi sahih mengenai efektivitas dan keamanan dari kodein dan dextrometorphan. Selain itu, menekan batuk justru lebih berbahaya bagi pasien karena batuk adalah mekanisme normal tubuh untuk mengeluarkan benda asing. Batuk karena infeksi virus biasanya tidak akan bertahan lama, dan dapat diobati dengan minum banyak cairan. Lagi-lagi perihal peresepan antibiotik, cough suppressant, dan dekongestan pun menuai banyak perdebatan di kalangan "jas putih".

Praktik di Lapangan
Sudah sering kita ketahui bahwa ilmu kedokteran itu tidak saklek. Apa yang dibaca di jurnal atau textbook belum tentu sama dengan apa yang ditemukan di lapangan. Begitu juga dengan praktik puyer ini. Mereka yang pro puyer beralibi bahwa anak yang diberi puyer lebih cepat sembuh daripada yang tidak diberi. Selain itu, studi epidemiologi mengenai etiologi common cold lebih banyak berasal dari luar negeri. Belum ada studi di Indonesia. Jadi mungkin saja di Indonesia etiologi common cold disebabkan oleh bakteri. Buktinya, anak batuk pilek yang diberi antibiotik lebih tokcer. Begitu pendapat dr Yohanes yang berpraktik di daerah Bekasi.

Sementara itu, dr Sukapdji yang berpraktik di daerah Senen, mengomentari perihal penambahan cough suppressant dan dekongestan. Menurutnya, meskipun secara penelitian belum diketahui efektivitasnya, tapi pemberian cough suppressant dan dekongestan tetap dirasa perlu. Cough suppressant dan dekongestan diyakininya dapat mengurangi gejala batuk pilek anak, sekaligus juga mengurangi kepanikan orang tua si anak. "Mana ada sih orang tua yang tega melihat anaknya terus batuk dan meler," selorohnya.

Di pihak lain, kelompok yang kontra puyer mengaku tidak mudah memberi edukasi kepada keluarga si anak. Dr Wepe, misalnya," Saya juga nggak setuju yang namanya puyer.. tapi kalau melihat dari fakta kehidupan sehari-hari susah banget mengubah persepsi masyarakat. Selama saya jaga klinik, kebanyakan orang tua yang membawa anaknya berobat, dengan suara yang lantang dan jelas langsung meminta saya meresepkan anaknya obat puyer, dengan alasan lebih manjur. Lalu, ketika saya menerangkan panjang lebar mengenai puyer kepada mereka, alhasil mereka hanya bengong. Dan sepengamatan saya, mereka tidak balik lagi ke saya atau pindah ke hari yang lain. Pernah juga sewaktu jaga klinik di daerah Manggarai, saya menerangkan tentang puyer, risk and benefit-nya beserta fakta bahwa puyer hanya ada di Indonesia. Satu-satunya tanggapan mereka adalah 'Wah dokter ternyata keren juga, pernah keluar negeri ya dok?!!!!"

Rintangan tak hanya dari keluarga si anak tetapi terkadang juga kepentingan klinik atau rumah sakit tempat dokter tersebut berpraktik. Hal itu sempat dialami dr Kusumastuti. "Yang saya lihat selama ini, kalau pasien itu diedukasi lama, pasti mereka sudah merasa resah dan gelisah menunggu saya selesai menjelaskan. Belum lagi kalau di tempat kerja kita menghendaki kita memberikan obat yang banyak biar pasiennya merasa cepat sembuh. Saya sering dimarahi oleh perawat karena tidak memberikan antibiotik. Kata mereka (perawat-red) kalau saya tidak meresepkan antibiotik, mereka yang akan dimarahi (oleh pemilik klinik). Ketika saya menjelaskan alasannya, mereka tetep merasa mereka benar, karena semua dokter yang ada di klinik itu selalu memberikan antibiotik. Ketika saya ajukan bukti penelitian, mereka hanya menjawab 'Itu kan hanya penelitian bukan dalam praktek....'. Saya sedih karena mereka adalah orang medis, tetapi kenapa mereka tidak mau buka mata?" keluhnya.

Lalu bagaimana dengan praktik di luar negeri? Apakah benar hanya Indonesia yang 'melegalkan' praktik puyer? Kuskus, dokter umum yang berpraktik di klinik Buin Batu Nusa Tenggara, menuturkan," Saya pernah bertanya dengan dokter bule disini. Kalau ada pasien batuk pilek biasanya diberikan apa? Secara singkat dokter bule itu menjawab, 'Saya tidak pernah beri obat apa-apa. Just paracetamol. That's all!' Kenyataan berbeda ketika saya terapkan ke pasien lokal. Mereka semua protes,'Dok, masa saya tidak dapat obat? Kan hidung saya mampet. Kasih apa kek, vitamin juga boleh.'"

Yeo, dokter umum yang juga bekerja sebagai asisten peneliti di salah satu laboratorium biologi di Jakarta, punya pendapat lain. "Saya mempunyai teman seorang dosen farmasi yang pernah meraih gelar doktor di Monash University (Australia). Menurut beliau, penggunaan puyer di Australia masih ada. Apoteker yang menganalisa resep, termasuk menghitung dosis, menilai interaksi obat dan memutuskan apakah dibungkus dalam kertas atau ke dalam kapsul. Kalau dibungkus dalam kertas kesalahan dosis akibat obat masih menempel di kertas lebih besar kemungkinannya dibandingkan dengan dikemas di dalam kapsul. Di Australia, 'tukang ngulek' puyernya tidak mesti seorang apoteker tetapi apoteker tetap mengawasi. Jadi intinya ada pengawasan oleh pharmacist."

Perang antara kelompok pro dan kontra puyer di kalangan dokter sampai saat ini terus berlanjut. Rasanya benar kata Prof dr Iwan Dwiprahasto MMedSc PhD dalam pidato pengukuhan guru besarnya di UGM,"Menggeruskan tablet untuk dijadikan puyer, kapsul, bahkan sirup untuk sediaan anak, atau menggeruskan tablet atau kaplet untuk dijadikan salep dan krim adalah bentuk off label use yang jama ditemukan. Hal itu telah terjadi secara turun temurun, berlangsung selama puluhan tahun tanpa ada yang sanggup menghentikannya."

Selagi belum ada aturan yang jelas, rasanya sah-sah saja bagi mereka yang tetap meresepkan puyer. Namun hendaknya semua itu berpulang kepada kepentingan pasien, dalam hal ini, bayi dan anak. Gabriela Mistral, peraih Nobel dalam bidang sastra dari Chili, memperingatkan melalu penggalan syairnya: "We are guilty of many errors and many faults, but our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life. Many of the things we need can wait, the child cannot wait. Right now is the time his bones are being formed, his blood is being made, and his senses are being developed. To him we cannot answer 'tomorrow'. His name is Today."


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:13 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 10:30 am

JANGAN ANGGAP ENTENG ALERGI
Jumat, 12 Juni 2009 | 20:59 WIB
KOMPAS.com - Setelah mendapat air susu ibu secara eksklusif selama hampir enam bulan, Dian mulai diberi susu formula oleh ibunya. Satu jam setelah minum susu formula, raut wajah bayi mungil itu tampak pucat pasi. Hanya dalam hitungan menit, bayi berusia enam bulan itu pun memuntahkan seluruh
cairan susu yang dikonsumsinya. Usai memuntahkan isi perutnya, bayi itu pun menangis dalam dekapan ibunya. Dalam kondisi panik, Dian segera
dibawa orang tuanya ke rumah sakit terdekat di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dian didiagnosis menderita alergi susu sapi. Menurut dokter yang menanganinya, ada kemungkinan alergi itu diturunkan dari garis keturunan orang tuanya. Memang saya menderita alergi. "Kalau kena udara dingin atau debu, saya langsung pilek, kadang gatal-gatal," ujarnya.

Selain muntah begitu minum susu formula, timbul bercak kemerahan hampir di sekujur tubuh Dian.Ati, ibu dari Dian, lalu memutuskan menghentikan pemberian susu formula kepada anaknya selama sepekan. Atas anjuran dokter, ia lalu memberi susu formula hipoalergenik. Memang sempat nggak mau minum, mungkin karena rasanya kurang enak. "Yang penting, anak saya tidak lagi muntah dan ruam merah," tuturnya.

Ketika Dian menginjak usia satu tahun, Ati kemudian mengganti susunya dengan susu formula biasa. Ternyata putrinya tidak lagi menunjukkan gejala alergi. Dokter bilang, kalau sudah satu tahun sebaiknya dicoba dengan susu formula biasa. Awalnya sempat takut juga kalau alerginya malah kambuh. "Setelah dicoba, ternyata anak saya tidak mengalami gejala alergi," kata Ati senang. Lain lagi cerita tentang Cut Fabiayya. Ia justru menderita alergi susu sapi dari makanan yang dikonsumsi ibunya. Saat berusia lebih dari satu bulan, bagian pipinya ruam merah. Ia juga mencret berulang kali dalam sehari. Padahal begitu lahir, ia mendapat ASI secara eksklusif dari ibunya.

Setelah diperiksa dokter, ia ternyata menderita alergi susu sapi. Bakat alergi itu berasal dari kedua orang tuanya yang menderita asma. Penyebabnya,
selama menyusui, ibunya mengonsumsi susu sapi untuk ibu menyusui dan makan beberapa jenis makanan yang berpotensi memicu terjadinya alergi.
"Sekarang saya pantang makan ikan laut, telur dan kacang tanah, susunya juga diganti susu kedelai," kata Rifsia, ibu dari Cut Fabiayya.

Meningkat
Angka kejadian penyakit alergi pada anak meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat modern, pencemaran lingkungan, dan zat-zat dalam makanan. "Alergi adalah reaksi kekebalan yang menyimpang dari normal dan menimbulkan gejala yang merugikan tubuh," kata dr Zakiudin Munasir, Ketua Divisi Alergi-Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dalam seminar, Mei lalu, di Jakarta.

Dalam tubuh terdapat lima jenis antibodi atau imunoglobulin, yaitu imunoglobulin G, A, M, E, dan D. Imunoglobulin E adalah antibodi yang banyak berperan
pada reaksi alergi. Dalam tubuh penderita alergi, ada imunoglobulin E berkadar tinggi, terutama imunoglobulin E yang spesifik terhadap zat-zat tertentu pemicu reaksi alergi, seperti debu, bulu binatang, serbuk bunga atau makanan tertentu, seperti telur, susu, ikan laut.
Di Amerika Serikat dilaporkan angka kejadian alergi pada anak prasekolah 10 hingga 12 p ersen, dan pada usia sekolah 8,5 sampai 12,2 persen. D
epartemen Pertanian Amerika Serikat menyebutkan, 15 persen dari total jumlah populasi penduduk di negara itu alergi terhadap jenis makanan tertentu. Sekitar 20 persen anak usia kurang dari satu tahun pernah mengalami reaksi alergi terhadap makanan.

Di Indonesia, angka kejadian alergi pada anak Indonesia belum banyak diteliti. Dari penelitian di Kelurahan Utan Kayu, Jakarta Pusat, ternyata 25,5 persen
anak menderita alergi, antara lain gejala alergi pada hidung dan kulit. Dari hasil uji klinik pada 69 anak asma di Poli Alergi-Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, ternyata 45,31 persen di antaranya alergi terhadap kepiting, 37,53 persen alergi terhadap udang kecil, dan 26,56 persen alergi terhadap coklat. "Jangan anggap enteng alergi pada anak karena berisiko terhadap tumbuh kembang anak," kata Zakiudin Munasir. Gejala yang sering terlihat adalah muntah, diare berlanjut yang kadang disertai darah, dermatitis atopik seperti bintik-bintik merah dan gatal, gangguan pernapasan berupa batuk berulang dan asma.

Sebagian besar mengenai saluran cerna karena kontak yang pertama kali dan ditandai bengkak dan gatal di bibir sampai lidah dan orofarings, nyeri dan kejang perut, muntah sampai dengan derajat berat dengan tinja berdarah. Bila alergen makanan lolos dari saluran cerna, gejala alergi di organ-organ seperti kulit ( dermatitis atopik, urtikaria), hidung (rinitis), mata (konjungtivitis), saluran pernapasan (asma), susunan saraf pusat (sakit kepala), atau gejala sistemik yang fatal misalnya syok anafilaksis. Namun alergi sering sulit didiagnosis karena terjadi reaktivitas silang antar makanan. misalnya kacang tanah dengan kacang kedelai yang punya epitop sama meski memiliki protein berbeda. Selain itu, adanya alergi terhadap bahan adiktif atau bahan lain yang
terkandung dalam makanan itu seperti bumbu dan pengawet. Untuk memastikan adanya alergi, bisa dilakukan tes alergi, ujar Zakiudin.

Bersifat genetik
Seseorang bisa menderita alergi bila salah satu atau kedua orangtuanya memiliki riwayat alergi. Kemungkinan alergi lebih besar bila yang mempunyai riwayat alergi adalah ibu atau kedua orangtuanya. Hal ini menunjukkan alergi bersifat genetik. "Jenis alergi tidak selalu sama dengan orang tuanya," ujarnya. Reaksi alergi juga bisa dipicu oleh faktor lingkungan yaitu alergen, infeksi, polusi, dan aktivitas fisik berlebihan. Pada janin, bayi, dan anak-anak, pencetus alergi adalah orangtua dan orang sekitar, makanan, obat-obatan, dan lingkungan. "Makanan yang bisa memicu alergi terutama susu sapi, ikan laut, telur, dan kacang tanah," kata Zakiudin menambahkan.

Risiko mengalami alergi pada anak juga meningkat jika ibunya merokok saat hamil dan menyusui, diet dengan mengonsumsi makanan alergen. Anak-anak juga berisiko mengalami alergi bila tidak mendapat ASI atau memperoleh ASI dalam waktu singkat. S aat ini banyak ibu bekerja sehingga tidak bisa menyusui secara penuh. Jadi, bayi lalu minum susu formula. Pada anak yang berbakat alergi, susu formula berbahan dasar susu sapi bisa jadi
pencetus alergi, ujarnya.

Sebenarnya reaksi alergi bisa dicegah dengan menghindari pencetus alergi yaitu mengganti makanan sumber alergen dengan makanan dengan nilai gizi sama untuk mencegah malnutrisi. Umumnya alergi makanan pada anak akan menghilang dalam jangka waktu tertentu. Risiko alergi akan berkurang dengan pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan atau lebih karena ASI mengandung zat gizi lengkap, termasuk probiotik dan protein hypo allergenik, kata Zakiudin.

Bagi bayi yang telah berusia enam bulan ke atas bisa diberi makanan pengganti ASI dan susu formula. Tentunya susu yang diberikan dengan formula susu sapi yang sudah diproses. Susu hipoalergenik diberikan untuk mencegah terjadinya alergi pada bayi yang memang memiliki bakat alergi. Adapun susu formula non alergenik diberikan untuk bayi yang sudah alergi susu sapi. Alergi juga bisa dicegah dengan menghindari asap rokok pada ibu hamil dan menyusui, ujarnya. Pengobatan diberikan dengan obat-obatan antihistamin H1 dan H2. Adapun imunoterapi bagi bayi penderita alergi masih belum ada studi yang memadai untuk membuktikan hasilnya. Dengan pencegahan dan pengobatan yang tepat, anak penderita alergi bisa tumbuh kembang secara optimal.


Last edited by gitahafas on Thu Jul 08, 2010 5:34 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 10:45 am

OBAT KOLESTEROL UNTUK ANAK DISETUJUI
Rabu, 7 Juli 2010 | 11:43 WIB
Kompas.com - Uni Eropa telah menyetujui peredaran obat penurun kadar kolesterol golongan Lipitor untuk anak berusia 10 tahun ke atas. Obat produksi Pfizer ini ditujukan untuk menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida. Mereka yang diperbolehkan mengonsumsi obat ini adalah anak-anak yang memiliki kadar lemak darah tinggi karena faktor penyakit keturunan yang menyebabkan peningkatan kadar kolesterol secara ekstrim.

Lipitor merupakan salah satu jenis obat yang paling laris di dunia, mengingat ada begitu banyak orang yang menderita hiperkolesterol. Pada tahun 2009, obat ini dilaporkan membukukan keuntungan hingga 13 miliar dollar AS, namun hak paten obat ini akan berakhir di tahun 2011 yang akan menyebabkan penurunan profit bagi Pfizer.

Sampai saat ini, obat kolesterol terutama dikonsumsi oleh orang dewasa yang menderita penyakit jantung. Namun obat kolesterol juga dipakai oleh pasien yang lebih muda seiring dengan peningkatan penduduk yang obesitas dan gaya hidup kurang aktif. Obat golongan lipitor mendapat persetujuan para ahli untuk menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Namun obat ini memiliki efek samping berupa nyeri otot dan menyebabkan otot menjadi lemah. Ibu hamil, menyusui dan mereka yang mengalami gangguan liver tidak disarankan mengonsumsi obat ini.


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:17 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 10:50 am

PARASETAMOL BERISIKO PADA ANAK
Senin, 29/11/2010 10:14 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Wellington, Hati-hati memberikan obat turun panas pada anak. Salah satunya adalah parasetamol, sebab penelitian terbaru membuktikan obat ini dapat meningkatkan risiko asma dan alergi. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, para peneliti masih harus melakukan uji klinis untuk memastikannya. Peneliti juga belum tahu persis berapa dosis yangbisa menyebabkan efek samping semacam itu. Namun adanya keterkaitan antara parasetamol dengan risiko asma telah dibuktikan oleh para ahli dari University of Otago di Wellington. Untuk mengungkapnya, para ahli mengamati 505 bayi dan 914 anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini mengungap, penggunaan parasetamol pada bayi berusia kurang dari 15 bulan dapat meningkatkan risiko asma hingga 2 kali lipat. Sementara pada usia 6 tahun, parasetamol meningkatkan risiko alergi hingga 3 kali lipat.

"Kami pikir efek ini lebih terkait dengan jangka waktu pemakaian, bukan dosisnya. Semakin sering digunakan, parasetamol efek sampingnya makin besar," ungkap Prof Julian Crane yang memimpin penelitian tersebut, dikutip dari Ninemsn, Senin (29/11/2010). Prof Crane juga menegaskan bahwa efek samping ini tidak akan muncul serta merta hanya dalam beberapa kali pemakaian. Oleh karena itu orangtua tidak perlu khawatir selama penggunaan parasetamol tidak berlebihan. Meski ada keterkaitan antara parasetamol dengan risiko asma, tidak tertutup kemungkinan adanya faktor lain yang mempengaruhi. Oleh karena itu Prof Crane mendukung adanya penelitian lebih lanjut untuk mengungkapnya.


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:19 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 10:58 am

OBAT YANG BOLEH DIKONSUMSI BAYI
Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 09/06/2010 15:52 WIB
Jakarta, Orangtua kadang ragu saat harus memberikan obat untuk buah hatinya. Tapi jika anak sudah merasa kesakitan, akan lebih buruk lagi jika membiarkannya. Karena itu kenali obat-obat apa saja yang boleh dikonsumsi bayi. Obat yang diperuntukkan bagi bayi terkadang memang dijual bebas, tapi sebenarnya ada obat yang kurang efektif dan hanya memberikan efek plasebo saja. Efek plasebo adalah jika suatu obat dikatakan bisa membuat kondisi anak membaik, maka sepertiga populasi anak akan merasakan hal tersebut (kondisi membaik).

Seperti dikutip dari buku Your Baby Month by Month karangan Su Laurent dan Peter Reader, Selasa (8/6/2010) yang diterbitkan Esensi, Rabu (9/6/2010)
ada beberapa jenis obat untuk bayi, yaitu:
1. Jenis obat cair.
Kebanyakan obat-obatan khusus untuk bayi dibuat dalam bentuk cairan (sirup). Cara termudah untuk memberikannya adalah melalui pipet (tabung
suntik khusus untuk obat), usahakan untuk mengarahkan obat ke dinding dalam pipi bayi dan bukan ke pangkal tenggorokan sehingga bayi tidak tersedak.
2. Jenis obat supositoria. Jenis obat ini biasanya diberikan pada bayi melalui anus. Caranya masukkan obat yang ujungnya berbentuk seperti peluru ke lubang anus, lalu rapatkan kedua belah pantat bayi selama beberapa saat agar obat tidak terdorong keluar lagi.
3. Jenis obat tetes. Obat ini biasanya diberikan sebagai obat tetes mata, obat telinga atau obat untuk mengatasi masalah di hidung.

Tak ada salahnya jika orangtua meminta saran dari apoteker atau dokter mengenai obat-obatan yang bisa dibeli bebas tanpa resep dokter. Selain
itu pastikan juga bahwa obat tersebut sesuai dengan usia anak, menyimpannya di luar jangkauan anak-anak serta dosis yang diberikan tidak melebihi dosis harian. Ketahui obat-obat apa saja yang bisa dikonsumsi, yaitu:
Obat --- Kegunaan ----- Cara pakai
Parasetamol - Demam dan nyeri - Oral (mulut) dan anus (supositoria)
Ibuprofen - Demam, nyeri dan peradangan - Oral (mulut)
Obat batuk - Berbagai tipe batuk (kering, berdahak dan lainnya) - Oral (mulut)
Antihistamin - Reaksi alergi akut, alergi serbuk sari - Oral
Cairan rehidrasi - Gastroenteritis (peradangan organ perut dan usus) akut dan penyakit dengan risiko dehidrasi - Dicampur dengan air
(oralit) untuk diminum
Tetes hidung salin - Melapangkan hidung yang tersumbat - Nasal (lewat hidung)
Gaviscon bayi - Mengobati refluks gastroesofageal (naiknya asam lambung ke tenggorokan) - Dicampur dengan susu
Laktulosa - Sembelit ringan - Oral
Senna - Sembelit sedang - Oral
Krim steroid - Eksim yang meradang - Dioleskan pada kulit
Emolien - Kulit kering dan eksim - Dioleskan pada kulit
Gel gigi - Gusi nyeri - Dioleskan pada gusi
Lotion telur kutu - Kutu rambut - Digunakan pada kulit kepala
Obat cacing - Untuk cacing kremi - Bentuk tablet atau sirup

Hal terpenting yang harus dipahami oleh orangtua adalah jangan pernah memberikan aspirin pada anak di bawah usia 16 tahun kecuali diresepkan oleh dokter anak. Hal ini karena aspirin dihubungkan dengan penyakit langka yang berpotensi mematikan dan disebut dengan sindrom Reye.


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:10 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 11:05 am

INFORMASI UNTUK ORANGTUA SEPUTAR OBAT BATUK PILEK ANAK
Selama musim dingin, umum bagi anak-anak untuk terserang berbagai kuman respiratorik (pernafasan) yang menyebabkan mereka batuk dan menjadi sakit. Orang tua mungkin akan langsung mengambil obat pilek dan batuk anak untuk mencoba mengatasi hidung tersumbat dan batuk. Namun baru-baru ini muncul keprihatinan terhadap keamanan sekitar obat ini ketika digunakan oleh anak-anak. Orang tua dapat mengambil tindakan sekarang untuk menjaga agar anak mereka tetap aman.

Setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar 7.000 anak berusia 11 tahun dan yang lebih muda, masuk ke UGD rumah sakit setelah meminum obat pilek dan batuk, sekitar dua pertiga di antara mereka meminum obat tanpa pengawasan orang tua atau pengasuh di dekatnya, demikian menurut studi terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat. Anak antara usia 2-5 tahun adalah yang paling sering mengalaminya. Studi terdahulu juga sudah mengungkapkan jumlah kematian anak-anak karena kurang hati-hati diberi terlalu banyak obat.

Keprihatinan terhadap keamanan obat pilek dan batuk bagi anak-anak mendesak Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pada awal bulan lalu menganjurkan agar para orang tua mengurungkan niat memberikan obat ini pada anak berusia kurang dari 2 tahun. Pabrik pembuat obat secara sukarela telah menarik kembali obat yang diperuntukkan bagi anak-anak yang masih terlalu muda, dan seharusnya dapat membantu mengurangi jumlah anak yang mendapat efek negatif karena obat ini. Sementara itu, FDA saat ini sedang menilai apakah obat ini aman untuk digunakan oleh anak berusia lebih dari 2 tahun.

Selama studi terbaru saja, kebanyakan anak yang masuk ke UGD tidak perlu dirawat di rumah sakit. Namun banyak yang perlu pengobatan untuk mencegah penyerapan lebih lanjut obat ke dalam tubuh mereka. Orang tua dapat membantu mencegah peristiwa seperti ini dan melindungi anak mereka dengan mengikuti saran berikut:
* Jangan meletakkan obat di mana anak anda mungkin dapat meraihnya.
* Jangan beri tahu anak bahwa obat adalah permen.
* Jangan meminum obat untuk orang dewasa di hadapan anak anda.
* Jangan memberikan pada anak berusia kurang dari 2 tahun obat yang diperuntukkan bagi anak yang lebih besar.
* Jauhkan obat pilek dan batuk untuk anak berusia kurang dari 2 tahun.

Perubahan kemasan dan formulasi dari pabrik pembuat obat juga dapat berguna dalam mengurangi kunjungan rumah sakit berkaitan dengan obat pilek dan batuk, terutama untuk yang tidak diawasi penggunaannya. Beberapa strategi untuk membuat obat menjadi lebih sulit digunakan dan lebih tidak menarik bagi anak-anak seperti botol dengan tutup yang dimodifikasi, kemasan dosis tunggal untuk anak, dan tidak menggunakan bahan pewarna yang tidak
diperlukan.

Medicastore


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:18 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 11:08 am

MEMILIH OBAT BATUK PILEK YANG TEPAT
Minggu, 30 Agustus 2009 | 18:31 WIB
KOMPAS.com - Sebelum memutuskan untuk mengonsumsi obat, kita harus tahu dulu apa penyebab batuk-pilek yang diderita. Batuk-pilek bisa disebabkan alergi atau virus. Kalau penyebab batuk-pilek adalah karena alergi, tindakan yang paling tepat adalah menghindari faktor pemicu alergi. Sedangkan batuk- pilek yang disebabkan oleh virus jenis self-limiting disease dapat sembuh sendiri, asal daya tahan kita kuat. Oleh karena itu, yang paling baik adalah menjaga daya tahan tubuh agar tetap kuat. Caranya, dengan memiliki pola makan yang baik, dan rajin olahraga.

Namun jika kita masih perlu obat, sangat disarankan untuk mengetahui lebih dulu kandungan obat, lalu disesuaikan dengan keluhan. Sebagai informasi, umumnya obat pilek dibuat dalam bentuk kombinasi antara analgetik (antipiretik), antihistamin (anti alergi), dan adrenergik. Analgetik untuk meredakan demam atau nyeri yang biasanya menyertai pilek. Antihistamin untuk mengatasi reaksi alergi, yang salah satu tandanya adalah pilek. Adrenergik untuk
mengurangi sekresi cairan di hidung yang tersumbat. Sedangkan untuk batuk, obatnya ada dua jenis, yaitu ekspektoran atau antitusif. Ekspektoran untuk mengencerkan dan mengeluarkan dahak. Antitusif untuk meredakan batuk. Sekali lagi, sesuaikan obat dengan jenis keluhan yang dialami.

Anjuran
* Bacalah kemasan obat dengan teliti. Tiap kemasan mencantumkan kandungan obat, dosis, dan efek samping.
* Minumlah obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan, terutama untuk anak-anak. Dosis yang berlebih dapat menyebabkan keracunan.
* Jangan mengatasi batuk-pilek yang disebabkan oleh alergi dengan obat jenis kombinasi. Obati dengan obat khusus alergi (antihistamin).
(Dr. Allya Siddiqa, SpK & Lily Turangan/Prevention)


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:19 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 12:37 pm

PERHATIKAN KANDUNGAN OBAT BATUK
Senin, 31 Agustus 2009 | 16:45 WIB
Kompas.com - Tersedia berbagai jenis obat batuk yang dijual bebas di pasaran. Sebelum membeli obat batuk ataupun influenza, pastikan Anda tahu peruntukannya. Yang pasti, bedakan dulu batuknya, tergolong batuk produktif yang menghasilkan lendir (mukus) atau batuk kering. Dengan begitu, Anda bisa memilih obat batuk dengan tepat.

Anda bisa berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum memilih obat batuk ini:
1. Ekspektoran
Membantu mengencerkan lendir, sehingga lebih mudah mengeluarkannya. Obat batuk ekspektoran hanya digunakan bagi penderita batuk produktif dan kesulitan mengeluarkan lendir tersebut. Hanya saja, jangan bergantung sepenuhnya pada obat batuk ini. Anda juga harus minum banyak air guna mengencerkan dahak.

2. Mukolitik
Obat batuk ini berfungsi mengubah struktur lendir atau mukus. Dengan begitu, viskositas (kekentalan) akan berkurang dan mudah dikeluarkan oleh silia
melalui kerja ekspektoran.

3. Antitusif/Supresan
Membantu mengontrol atau menekan refleks batuk di tenggorokan dan paru. Caranya, dengan meningkatkan ambang rangsang batuk di pusat batuk pada otak. Obat batuk jenis ini biasanya digunakan untuk batuk kering. Obat batuk antitusif/supresan hendaknya digunakan dengan bijak. Jangan menggunakan
untuk batuk produktif. Bagaimanapun, batuk berguna karena membantu mengeluarkan lendir dari paru dan mencegah infeksi bakteri. Pada obat batuk supresan biasanya digunakan dekstrometorfan untuk mengobati batuk nonproduktif karena dekstrometorfan bekerja pada pusat batuk.

4. Dekongestan
Obat batuk dengan tambahan dekongestan biasanya berfungsi melegakan saluran napas dan membersihkan saluran hidung dari lendir.

5. Anthitasmin
Berfungsi meringankan gejala gatal atau alergi dan hidung berair. Obat batuk atau flu dengan antihistamin juga mengurangi produksi lendir atau mukus.


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:16 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Fri May 14, 2010 2:19 pm

BAHAYA MENYIMPAN OBAT KADALUWARSA
Tuesday, 29 June 2010 - Seputar Indonesia
MENYIMPANobat yang telah kedaluwarsa merupakan kebiasaan yang harus dibuang jauh-jauh. Bukan apa-apa,obat kedaluwarsa bakal mendatangkan bahaya,bahkan bisa menimbulkan kematian. Banyak dari kita yang memiliki kebiasaan masih menyimpan obat obatan yang telah kedaluwarsa selama bertahun-tahun di dalam lemari obat atau laci kamar mandi. Biasanya kita malas membuang barang lama tersebut. Atau kalaupun membuangnya, kita langsung menumpahkannya ke toilet atau wastafel. Kedua perilaku ini adalah kesalahan besar. Menyimpan obat yang sudah kedaluwarsa bakal menimbulkan bahaya bagi setiap orang di keluarga.Dan membuang cairan obat ke toilet bisa berbahaya bagi lingkungan. Obat lama yang telah membusuk di lemari obat tidak mungkin dapat membantu menyembuhkan penyakit Anda jika dibutuhkan.

“Alasan besar untuk membuang obat kedaluwarsa ini adalah bahwa obat tersebut akan tidak efektif (jika dikonsumsi). (Obat) akan kehilangan potensi dari waktu ke waktu,”kata Jeffrey C Delafuente, seorang dekan dan dosen di Sekolah Farmasi di Virginia Commonwealth University,Amerika Serikat “Setelah tanggal kedaluwarsa, tidak ada jaminan obat tersebut memberikan manfaat apa pun,” lanjutnya seperti dikutip healthday.com. Akibat tidak membersihkan obat lama, seseorang dengan asma parah misalnya, bisa saja meraih obat semprot kedaluwarsa saat terkena serangan asma. “Dengan kejadian seperti itu, dia dapat dilarikan ke bagian gawat darurat atau bahkan bisa meninggal akibat serangan itu,”ujar Delafuente.

Obat kedaluwarsa juga menimbulkan bahaya overdosis. Statistik dari American Association of Poison Control Center menunjukkan bahwa sebagian besar anakanak keracunan karena konsumsi obat yang disimpan lama atau obat dari resep dokter. Jadi, jika Anda harus menyingkirkan obat setelah tanggal jatuh tempo, apakah tepat membuangnya ke dalam toilet? Jangan! Para ahli biologi telah menemukan fakta bahwa obat yang masuk ke ekosistem akan memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan lingkungan. Hal itu diungkapkan Tiffany Parson,seorang ahli biologi di US Fish & Wildlife Service. “Kami khawatir tentang kerusakan habitat air. Dan obat akan menghancurkan lingkungan,”ujar Parson.

“Kami tidak mau obat bisa masuk ke dalam sistem saluran pembuangan. Jika Anda membuangnya ke tanah, ada potensi bahwa mereka bisa langsung menuju ekosistem perairan,dibandingkan jika Anda membuangnya di TPA (tempat pembuangan akhir),”tambahnya. Bahan kimia dalam obat dapat menyebabkan perubahan hormonal dan memengaruhi organisme akuatik pada tingkat sel. Parson mengatakan, obat yang berguna untuk menurunkan kolesterol misalnya, dapat menghambat metabolisme dan pertumbuhan ikan. Sedangkan obat antipsikotik dan obat kecemasan dapat memengaruhi tingkah laku, pertumbuhan, dan reproduksi ikan. “Ikan dapat memperlihatkan hormon yang berbeda jika mereka memiliki sel yang tidak normal,” ujar Parson.“Tentu saja kita tidak ingin adanya segala jenis kotoran dalam perairan kita.

Obat-obatan adalah salah satu zat yang potensial (dapat mengotori air),”terangnya. Namun, Anda tidak harus bergantung pada pabrik pengolahan limbah untuk menghilangkan bahan kimia farmasi dari air yang terkena limbah. “Sebagian besar fasilitas perawatan umum tidak memiliki teknologi untuk menyaring zat-zat dari kotoran,” ujar Parson. Hal itu menyebabkan para ahli menyarankan bahwa cara terbaik untuk menghancurkan obat kedaluwarsa adalah membuangnya di tempat sampah rumah tangga. Kata Delafuente, jangan mengikuti langkah menyimpan dan mengumpulkan obat lama seperti yang dilakukan apotek,instansi pemerintah, atau kelompok masyarakat. Kegiatan itu tidak baik dilakukan oleh konsumen.

“Di tingkat ritel atau toko obat, mereka bisa jadi memiliki layanan antar, mengumpulkan obat lama dan membuangnya, biasanya dengan cara dibakar,” tukasnya.Namun, menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA/Food and Drug Administration) ada beberapa jenis obat yang lebih baik dibuang ke tanah dibanding hanya diletakkan di tempat sampah. Obat-obatan tersebut di antaranya yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti metadon, OxyContin, Percocet, dan Dilaudid. Membuangnya ke toilet untuk memastikan bahwa obat tersebut tidak akan jatuh ke tangan yang salah.FDA memperingatkan, obat yang disebut di atas bisa fatal jika dikonsumsi oleh seseorang yang tidak membutuhkannya.

Delafuente mengatakan, pembuangan obat kedaluwarsa ke tempat sampah bisa disamarkan, yaitu dengan menghancurkan pil atau tablet tersebut lalu mencampurkannya dengan bubuk kopi atau serbuk gergaji sebelum memasukkannya ke tempat sampah. “Dengan cara ini sampah obat tidak terlihat menarik bagi siapa pun atau hal apa pun,”katanya. (rendra hanggara)


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:11 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Sun May 16, 2010 7:40 pm

CARA TEPAT MENYIMPAN OBAT
28-06-2004 dr. Theresia Diah Arini
Obat yang diperoleh dari resep dokter umumnya merupakan obat yang pemakaiannya memerlukan aturan khusus. Kekhususan ini disebabkan karena indikasi, dosis, dan aturan pakai obat yang sudah tertentu agar efek kerja obat sesuai yang diharapkan sedangkan efek samping tidak terjadi. Nah, ternyata masih ada satu faktor penting lagi yang perlu diperhatikan bila kita mendapat obat dari dokter, yaitu mengetahui dan melakukan penyimpanan obat tersebut secara tepat dan aman. Masalahnya, bila sampai terjadi kesalahan penggunaan obat, bukan tidak mungkin terjadi efek samping yang tidak ringan.

Berikut ini beberapa tips penyimpanan obat, yang berguna untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan :
1. Simpanlah obat pada wadah aslinya. Hal ini penting untuk menjaga agar etiket obat yang berisi aturan pakai, tidak sampai hilang atau tertukar.
2. Jangan menyimpan berbagai obat-obatan yang berbeda dalam satu wadah yang sama, agar obat tidak saling tertukar.
3. Upayakan agar label obat tidak sampai terlepas atau rusak sehingga dapat selalu dibaca sebelum meminumnya.
4. Biasakan selalu meneliti kembali obat-obatan apa saja yang akan diminum. Ada banyak obat yang memiliki kemasan dan bentuk yang mirip. Perhatikanlah dengan sungguh-sungguh, agar jangan sampai salah minum obat.
5. Simpan obat di lemari yang kering, berada dalam suhu ruang, dan tidak terkena cahaya matahari langsung. Hal ini penting agar obat tidak mengalami kerusakan.
6. Jangan meninggalkan obat di dalam mobil yang sedang diparkir. Panas matahari yang ada dalam mobil dapat menyebabkan obat mengalami kerusakan.

Jadi, ingatlah bahwa menyimpan obat secara aman, bukanlah hal yang remeh ataupun sepele. Kenyataannya, tidaklah jarang terjadi seseorang
mengalami keracunan obat akibat salah minum obat, atau meminum obat yang sudah rusak. Ironis ‘kan kalau obat yang sedianya diresepkan dokter demi kesembuhan malah menyebabkan masalah kesehatan yang baru yang tak kalah seriusnya?

Medicastore


Last edited by gitahafas on Thu Jul 21, 2011 11:04 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Tue May 18, 2010 12:17 pm

CARA CERDAS MEMBELI OBAT SECARA ONLINE
Kamis, 30 Juli 2009, 09:07 WIB Petti Lubis
VIVAnews - Berbelanja virtual bisa berarti lebih nyaman dan lebih hemat. Apalagi saat ini sejumlah apotek sudah menyediakan fasilitas pembelian online untuk konsumennya. Tapi, sebagai pembeli ada baiknya Anda berhati-hati. Bila memesan obat dari situs yang masih dipertanyakan, bisa jadi Anda mendapatkan obat yang belum disetujui Badan POM, atau bahkan telah terkontaminasi.

Untuk mendapatkan toko obat internet yang berkualifikasi, mintalah rekomendasi dari dokter atau penyedia asuransi Anda, atau lihatlah apakah apotek
langganan Anda sudah memiliki situs atau apotek online. Atau, buka situs vipps.info untuk melihat daftar toko obat online yang telah teregistrasi dari National Association of Boards of Pharmacies. Jika Anda menemukan situs yang belum dikenal, pastikan situs tersebut:

- Mengajukan permintaan resep dokter. Situs yang menyalurkan obat-obatan tanpa meminta resep sebaiknya jangan pernah dipakai – kendati situs ini
menyediakan ‘konsultasi cyber’.
- Mencantumkan nomor telepon, sehingga Anda bisa berbicara langsung pada apoteker.
- Terdapat ketentuan keamanan. Anda bisa menemukan ketentuan ini dengan mudah.
- Promosi tidak berlebihan. Pasalnya, jika promosi terlalu heboh, bisa jadi situs ini gadungan.
• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Fri Aug 13, 2010 3:01 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Tue May 18, 2010 12:21 pm

PINTAR MEMBACA OBAT
Kamis, 10 Desember 2009 | 13:54 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Pernah bingung saat menerima resep dokter atau membaca obat yang dijual bebas? Jangan malu, Anda tidak sendiri. Beberapa nama obat memang kerapkali membuat kening berkerut. Supaya tidak salah, jenis obat di bawah ini bisa memandu Anda mengetahui obat apa yang sebenarnya diminum.
1. ACE inhibitor atau penghambat angiotensin converting enzim (ACE). Penghambat ACE ini merupakan kelompok obat untuk menurunkan tekanan darah.
2. Antasid dan alginates. Antasid digunakan untuk masalah dyspepsia atau maag. Beberapa jenis antasid bisa dijumpai tanpa membutuhkan resep.
3. Antibiotika. Juga dikenal sebagai antibakteri, merupakan jenis obat yang digunakan untuk masalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
4. Antidepresan. Sesuai dengan namanya, obat ini untuk mengatasi depresi. Ada beberapa jenis obat antidepresan. Namun, dua jenis yang sering digunakan, yaitu obat tricyclic seperti amitriptiline dan imipramine serta selective serotonin re-uptake inhibitors (SSRIs) seperti fluoxetine.
5. Antihistamin. Dikenal sebagai obat untuk alergi, seperti demam dan beberapa jenis batuk dan pengobatan flu.
6. Benzodiazepine. Kelompok obat ini juga dikenal sebagai penenang minor dan sedatif. Yang banyak dikenal adalah diazepam (dengan nama valium) dan nitrazepam (dengan nama mogadon).
7. Beta-antagonist. Obat jenis itu misalnya inhaler yang digunakan untuk melegakan serangan asma, mengandung beta-antagonist.
8. Beta-blocker. Beta-adrenoreceptor sering disebut sebagai beta-blockers, bekerja untuk jantung dan sistem sirkulasi darah. Fungsinya, mengurangi tekanan darah.
9. Calcium-channel blockers. Obat ini digunakan untuk masalah yang berhubungan dengan jantung dan sistem peredaran darah, termasuk tekanan darah tinggi dan angina.
10. Kontrasepsi oral kombinasi. Merupakan salah satu dari banyak metode pencegahan kehamilan. Dinamakan demikian karena obat tersebut merupakan
kombinasi dari dua jenis hormon perempuan, yaitu estrogen dan progesterone.
11. Obat untuk mata. Beberapa kelompok termasuk dalam obat untuk mata, seperti glaukoma. Ada lima jenis obat yang digunakan untuk pengobatan glaukoma, yaitu miotik, simpatomimetik, penghambat beta, penghambat karbonik anhydrase, dan latanoprost.
12. H2 antagonist. Ada beberapa jenis obat untuk mengobati luka lambung dan salah cerna. Satu yang terpenting adalah obat-obatan dari jenis H2
antagonist.
13. Hormone replacement therapy (terapi sulih hormon).Terapi ini direkomendasikan kepada perempuan saat dan pasca menopause.
14. Inhaler steroid. Obat inhaler jenis kortikosteroid atau steroid, digunakan untuk mencedah terjadinya gejala asma.
15. Laksatif. Terdapat beberapa jenis obat laksatif yang bekerja dengan berbagai cara untuk meredakan atau mencegah terjadinya konstipasi (sembelit), seperti jenis diuretik.
16. Nonsteroid anti-inflammatory drugs (NSAIDs) atau obat nonsteroid antiperadangan. Biasa digunakan untuk mengurangi peradangan dan meredakan nyeri. Yang biasa digunakan adalah ibuprofen.
17. Parasetamol. Merupakan pereda nyeri. Kekuatannya hampir sama, tetapi tidak bekerja sebagai antiperadangan seperti aspirin.
18. Proton pump inhibitor, obat penghambat pompa proton. Merupakan jenis obat yang digunakan dalam mengobati luka pada lambung dengan menghambat produksi asam lambung.
19. Statin. Merupakan kelompok obat yang digunakan untuk menurunkan kolesterol darah.
20. Steroid topical. Kortikosteroid topical atau dikenal dengan krim steroid, digunakan pada kulit untuk meredakan eksim dan beberapa gangguan kulit lainnya. @diy


Last edited by gitahafas on Thu Jul 08, 2010 6:15 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Tue May 18, 2010 12:23 pm

MEMBACA TANDA DAN GOLONGAN OBAT
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth - Rabu, 02/06/2010 09:27 WIB
Jakarta, Ada beberapa jenis tanda yang terdapat dalam kemasan obat. Penandaan itu menunjukkan golongan obat, yang terkait dengan berbagai ketentuan yang mengaturnya. Penggolongan tersebut terdapat dalam Permenkes No. 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat Jadi seperti dilansir Rabu (2/6/2010).Tanda yang digunakan untuk setiap golongan tersebut adalah sebagai berikut:

Obat bebas
Obat bebas merupakan obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter dan bisa dijual di apotek maupun toko obat, contohnya parasetamol. Istilah lain untuk obat bebas adalah obat Over The Counter (OTC). Golongan ini diberi tanda berupa lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam.

Obat bebas terbatas
Golongan ini sebenarnya termasuk obat keras, namun hingga batas tertentu bisa diperoleh di apotek tanpa resep dokter.Tandanya berupa lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam, dan disertai salah satu di antara 6 jenis peringatan sebagai berikut:

P No. 1, Awas! Obat Keras, Bacalah Aturan Memakainya
P No. 2, Awas! Obat Keras, Hanya Untuk Kumur, Jangan Ditelan
P No. 3, Awas! Obat Keras, Hanya Untuk Bagian Luar Badan
P No. 4, Awas! Obat Keras, Hanya Untuk Luka Bakar
P No. 5, Awas! Obat Keras, Tidak Boleh Ditelan
P No. 6, Awas! Obat Keras, Obat Wasir, Jangan Ditelan

Contoh obat bebas terbatas adalah CTM.

Obat keras
Disebut juga obat golongan G (gevaarlijk: berbahaya) atau Ethical. Ditandai dengan lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam, serta huruf K berwarna hitam. Semua jenis psikotropika dan antibiotik termasuk dalam golongan ini. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, hanya bisa dibeli dengan resep dokter.

Narkotika
Tanda yang diberikan untuk obat golongan narkotika adalah lingkaran berwarna putih, dengan palang merah di dalamnya. Distribusi obat dalam golongan
ini diawasi secara ketat karena rawan penyalahgunaan sehingga hanya bisa dibeli dengan resep asli. Untuk pengobatan rutin, salinan resep bisa
digunakan di apotek yang menyimpan resep aslinya. Contoh narkotika yang dijual di apotek adalah codein.
(up/ir)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 5:50 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Wed May 19, 2010 5:58 am

MENGENAL JENIS FORMULA OBAT
Selasa, 6 Oktober 2009 | 14:47 WIB
KOMPAS.com — Selain bentuk tablet atau kapsul, masih banyak bentuk dan jenis kemasan obat. Variasi bentuk-bentuk tersebut membuat perbedaan pada cara penggunaan dan terkadang tingkat penyerapannya di usus. Apa saja bentuk dan jenis obat?

1. Tablet
Selain lebih mudah disimpan, tablet juga biasanya memiliki usia pakai yang lebih panjang dibanding obat bentuk lainnya. Khusus untuk vitamin dalam bentuk tablet biasanya juga ditambahkan dengan zat pembawa yang disebut excipient. Senyawa ini membuat tablet lebih mudah dicerna di usus. Saat ini juga banyak suplemen dalam bentuk tablet yang mudah ditelan atau biasa disebut dengan kaplet.

2. Kapsul
Beberapa jenis vitamin yang mudah larut, seperti vitamin A, D, dan E, pada umumnya dikemas dalam kapsul softgel. Sedangkan vitamin atau mineral lainnya dibuat dalam bentuk bubuk atau cair lalu dikemas dalam kapsul. Seperti tablet, kapsul juga mudah disimpan dan dikonsumsi. Dibanding dengan tablet, kapsul hanya memiliki sedikit zat tambahan karena relatif mudah diserap.

3. Bubuk
Orang yang agak sulit menelan pil bisa mengonsumsi obat dalam bentuk bubuk dan boleh dicampurkan dalam air atau makanan. Dosisnya juga lebih mudah disesuaikan. Obat dalam bentuk bubuk juga bersifat individual, misalnya untuk pasien yang alergi pada kandungan tertentu. Biasanya obat dalam bentuk bubuk lebih murah dibanding dengan tablet atau kapsul.

4. Cair
Formula obat berbentuk cair tidak hanya mudah ditelan tapi juga bisa diberi tambahan rasa. Kebanyakan formula obat untuk anak dibuat dalam bentuk ini. Beberapa jenis suplemen (seperti vitamin E) juga dibuat dalam bentuk cair agar lebih mudah dipakai di kulit. Tetes mata atau obat batuk merupakan jenis lain dari obat bentuk cair.

5. Kunyah
Beberapa jenis suplemen dan vitamin, biasanya dibuat dalam bentuk seperti permen yang mudah dikunyah. Formula kunyah ini direkomendasikan bagi mereka yang sulit mengonsumsi obat bentuk pil atau tablet.

6. Tablet isap
Beberapa jenis obat atau suplemen, misalnya vitamin B12, diformulasikan berbentuk tablet isap yang mudah larut di mulut. Tujuannya agar lebih mudah diserap masuk ke dalam pembuluh darah tanpa tercampur dengan asam lambung atau enzim di saluran cerna.

Sumber: The Healing Power of Vitamins, Minerals, and Herbs, Reader's Digest


BENTUK OBAT YANG BERBEDA BEDA ADA MAKNANYA
Rabu, 13/04/2011 16:17 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Ketika sedang sakit seseorang bisa mendapatkan obat dengan bentuk yang berbeda-beda. Variasi dari bentuk obat ini tidak hanya membuatnya menarik tapi memiliki makna tersendiri. Segala jenis bentuk obat yang ada memiliki karakteristik dan tujuan tersendiri. Kondisi ini biasanya disesuaikan dengan zat aktif atau bahan yang terkandung di dalam obat tersebut. Setiap jenis zat yang diformulasikan dalam obat memiliki kelarutan dan tempat penyerapan yang berbeda-beda, ada obat yang langsung masuk ke dalam pembuluh darah, larut di dalam usus atau lambung, serta tergantung dari efek yang ingin didapatkan. "Perbedaan-perbedaan tersebut tidak hanya membuat obat-obatan terlihat menarik, tapi karena memang ada tujuannya," ujar Elsa-Grace V Giardina, MD seorang farmakologi klinis di Columbia University Medical Center, seperti dikutip dari Health.com, Rabu (13/4/2011). Untuk itu ketahui perbedaan dari kapsul gel, tablet cepat larut dan juga tablet berlapis, yaitu:

Kapsul gel
Bentuk obat ini biasanya soft serta mengandung gelatin pada bagian kapsul yang berfungsi menahan cairan, bentuk obat ini bisa diserap lebih cepat dibandingkan dengan pil biasa. Kapsul gel bagus digunakan untuk orang yang mengalami kesulitan menelan obat, meskipun kadang bentuknya lebih besar karena harus menyesuaikan agar formulasinya tetap sama.

Tablet cepat larut
Tablet ini biasanya ditempatkan di bawah lidah lalu larut dan bahan yang terkandung di dalamnya akan memasuki aliran darah melalui selaput lendir di mulut. Obat ini berguna pada orang yang membutuhkan bantuan cepat karena penyerapannya lebih cepat dibandingkan dengan bentuk-bentuk lain. Tapi tidak banyak perusahaan yang bisa memproduksi obat ini karena sulit membuat rasanya tetap oke.

Tablet berlapis (coated tablets)
Lapisan halus pada tablet ini memudahkan seseorang dalam mengonsumsinya karena licin sehingga lebih mudah ditelan dan juga bisa menunda penyerapan. Dr Giardina mencontohkan aspirin yang dilapisi enteric membuatnya larut di dalam usus kecil dibanding lambung yang bisa menyebabkan iritasi.


SECEPAT APA OBAT BEREAKSI DALAM TUBUH?
Senin, 18/04/2011 12:33 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Efek suatu obat tidak selalu muncul seketika, kadang butuh jeda beberapa saat sejak waktu pemberian. Ada jenis obat yang memberikan efek sangat cepat, ada juga yang harus ditunggu sampai berjam-jam sampai benar-benar terasa khasiatnya.Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan aksi obat, antara lain ukuran partikel dan kondisi individual si pasien. Namun di antara berbagai faktor tersebut, jenis sediaan obat dan cara pemberian paling menentukan seberapa cepat obat bisa memberikan efek pada pasien. Dari berbagai sumber lembaga obat dan konsumen yang dilansir detikHealth, Senin (18/4/2011) dari sumber-sumber seperti www.doitnow.org, www.docstoc.com, FDA dan Mayoclinic ada kecepatan yang berbeda reaksi obat yang masuk ke dalam tubuh. Jenis-jenis obat yang memberikan efek paling cepat berdasarkan cara pemberiannya adalah:

1. Inhalasi (7-10 detik)
Obat hirup atau inhalasi yang dihirup maupun disemprotkan langsung ke hidung memberikan efek paling cepat dibandingkan jenis obat yang lain. Partikel obat yang terhirup akan masuk ke paru-paru dan langsung dibawa ke otak oleh pembuluh darah yang ada di sana.Dengan mekanisme yang sama, racun nikotin dalam rokok disebut-sebut hanya butuh 7 detik untuk memicu kerusakan di otak. Meski sama-sama tidak sehat, permen nikotin lebih lambat memicu kerusakan dibandingkan rokok biasa yang dihirup asapnya. Jenis obat inhalasi memang lebih diperuntukkan bagi pasien yang membutuhkan efek cepat misalnya pada serangan asma. Meski beberapa sumber menyebut efeknya muncul antara 7-10 detik, kecepatannya juga dipengaruhi faktor lain termasuk ukuran partikel dan kondisi individual si pasien.

2. Injeksi (15 detik - 5 menit)
Obat suntik atau injeksi termasuk jenis obat yang memberikan efek paling cepat, sehingga banyak dipilih dalam kondisi gawat darurat. Dibandingkan obat yang ditelan, obat suntik lebih cepat mencapai pembuluh darah sehingga cepat didistribusikan keseluruh tubuh. Kecepatan obat suntik dalam memberikan efek berbeda-beda tergantung jenis injeksi atau penyuntikan. Injeksi intravena memberikan efek paling cepat karena langsung disuntikkan ke pembuluh darah, sementara injeksi subkutan (di bawah kulit) dan intramuskular (di jaringan otot) efeknya lebih lambat. Pemberian obat suntik hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis, kecuali pada kondisi tertentu misalnya pasien diabetes tipe-1 yang sewaktu-waktu harus menyuntikkan insulin sendiri. Jenis obat suntik lain seperti pereda nyeri, antibiotik dan vitamin tidak boleh disuntikkan sendiri.

3. Obat topikal (5 menit - 30 menit)
Obat-obat topikal yang diberikan melalui permukaan tubuh seperti salep, koyok, tablet vagina dan supositoria merupakan jenis obat yang memberikan efek dengan kecepatan sanagt bervariasi. Tidak secepat injeksi dan inhalasi, namun sebagian ada yang lebih cepat dibandingkan obat telan. Efek yang cepat umumnya bersifat lokal, hanya di sekitar lokasi pemberian misalnya salep nyeri otot yang isinya anestesi lokal. Sementara obat topikal yang efeknya sistemik misalnya plester nikotin didesain untuk bekerja lebih lambat dengan durasi lebih lama, untuk mengatasi kecanduan rokok. Lokasi pemberian juga mempengaruhi kecepatan aksi obat. Untuk obat yang bersifat sistemik, pemberian di permukaan kulit luar memberikan efek lebih lambat dibandingkan dengan supositoria atau tablet vagina yang diserap melalui anus serta dinding vagina.

4. Obat oral (5 menit - 1 jam)
Obat-obat yang diberikan lewat mulut seperti tablet, kapsul dan sirup memberikan efek relatif lebih lambat dibandingkan injeksi dan inhalasi. Karena lambat, obat oral jauh lebih aman karena jika terjadi kesalahan masih ada kesempatan untuk memuntahkannya kembali. Kecepatan aksinya dipengaruhi banyak faktor, terutama bentuk sediaan. Sirup paling cepat karena tidak butuh waktu untuk disolusi atau memecah partikel, sedangkan yang paling lama adalah tablet salut selaput (film coated) yang didesain agar tidak pecah di lambung. Tablet hisap (sublingual) sebenarnya memberikan efek paling cepat, namun secara teknis tidak bisa dibandingkan dengan obat-obat oral lainnya. Penyerapan zat aktif pada tablet hisap tidak terjadi di saluran pencernaan melainkan di bawah lidah dan rongga mulut.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:30 pm; edited 9 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
 

Obat dan Makanan

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 49Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 25 ... 49  Next

 Similar topics

-
» 137 pelajar keracunan makanan
» Bahan Tambahan Makanan
» Obat dan Makanan
» Buah Segar Bikin Paru-paru Sehat
» [TIPS] 6 Makanan yang Bikin Kenyang Lebih Cepat

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-