Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Obat dan Makanan

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : 1, 2, 3 ... 25 ... 49  Next
AuthorMessage
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts: 1044
Age: 54
Location: Jakarta
Registration date: 2008-08-27

PostSubject: Obat dan Makanan   Fri Apr 17, 2009 4:58 pm

BPOM Tak Pernah Tarik Phenylpropanolamine



Kamis, 16 April 2009 | 19:51 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Elok Dyah Messwati

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan menyanggah mengeluarkan berita mengenai dilarangnya kandungan phenylpropanolamine/PPA dalam obat batuk dan flu yang beredar di Indonesia.

"Tidak benar pada tanggal 1 Maret 2009 US-FDA mengeluarkan pengumuman tentang penarikan PPA. Saat ini tidak ada informasi terbaru terkait keamanan PPA. Pada bulan November 2000, US-FDA menarik obat yang mengandung PPA karena diduga ada hubungan dengan perdarahan otak dengan penggunaan PPA dosis besar sebagai obat pelangsing," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dr Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta, Kamis (16/4).

Menanggapi maraknya isu tentang informasi soal Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (US-FDA) yang menarik PPA pada tanggal 1 Maret 2009, Husniah menyatakan bahwa BPOM masih mengizinkan peredaran obat flu dan batuk yang mengandung phenylpropanolamine/PPA, namun dengan mereduksi kandungan menjadi 15 mg per dosis.

Di Indonesia, PPA hanya disetujui sebagai obat untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat dalam obat flu dan batuk dan tidak pernah disetujui sebagai obat pelangsing.

"Obat flu dan batuk yang mengandung PPA dan dijual di Indonesia, telah mendapat izin edar aman dikonsumsi sesuai aturan pakai yang ditetapkan. Dosis PPA yang diizinkan 15 mg per dosis," kata Husniah Rubiana.

_________________

The doctor of the future will give no medicine,
but will instruct his patient in the care of the human frame,
in diet and in the cause and prevention of disease.


Last edited by Ali Alkatiri on Tue Jun 01, 2010 9:33 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile http://www.ilunifk83.com
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu Jan 28, 2010 2:40 pm

PHENYLPROPANOLAMINE
Rabu, 15 April 2009, 14:27 WIB Petti Lubis
VIVAnews - Masih ingatkah Anda beberapa tahun lalu tentang ramainya penarikan obat flu di pasaran, yang mengandung PPA (Phenylpropanolamine) dosis tinggi? Kini, isu tersebut kembali merebak lewat pesan singkat (short messages service/SMS). Kali ini isinya mengenai penarikan obat flu yang mengandung Phenylpropanolamine (PPA) yang dianggap berbahaya karena menyebabkan pendarahan di otak.

Menurut Irawati Subrata, farmakolog, PPA adalah adalah sintetis dari senyawa sympathomimetic amine yang secara struktural mirip dengan presor amines epinephrine, phenylephrine, aphedrine dan stimulan sistem saraf pusat. Di sini, PPA merupakan sediaan umum yang terdapat dalam obat flu dan batuk pilek. Dan, tentu saja ratusan merk obat flu yang beredar luas di masyarakat hampir semuanya mengandung PPA.

“Selama kandungan PPA pada obat tidak melewati batas 15 mg per tablet masih aman dikonsumsi. Jika melebihi kadar tersebut memang bisa membahayakan kesehatan. Di antaranya bisa menyebabkan pendarahan di otak dan stroke,” katanya.
Tapi, meskipun isu lama, Irawati menyarankan agar kita, sebagai pemakai obat bebas lebih cermat membaca kemasan obat.
Karena itu, ia memberikan beberapa tips agar Anda terbiasa membaca label kemasan obat. Kendati dianggap lebih aman dari obat resep dokter, sebelum mengonsumsi obat bebas sebaiknya Anda perhatikan dulu beberapa hal yang tercantum pada kemasan atau selebaran yang ada di dalam kemasan. Seperti:

- Nama produk : umumnya berkaitan dengan merek.

- Bahan aktif : bahan yang berkhasiat dalam sediaan obat. Pastikan kandungan Phenylpropanolamine kadarnya di bawah 15 mg.

- Golongan :merupakan kategori produk seperti obat batuk, antihistamin, atau antipiretik.

- Kegunaan : menjelaskan gejala atau penyakit yang akan dicegah atau diobati.

- Peringatan : perhatikan kapan boleh atau tidaknya menggunakan obat tersebut, kapan harus berhenti, kapan harus ke dokter dan kemungkinan efek sampingnya.

- Aturan pemakaian: berapa banyak takaran penggunaan, bagaimana cara pemakaian, dan berapa lama obat digunakan.

- Informasi lain : menyangkut cara penyimpanan.

- Kedaluarsa : berakhirnya batas waktu masa aktif dari obat yang bersangkutan yang memungkinkan obat menjadi kurang aktif atau menjadi toksik/beracun.

- Bahan tambahan : bahan yang ditambahkan sebagai pengikat, pewarna, penambah rasa atau aroma.

- Kontra indikasi: tidak boleh dikonsumsi oleh penderita penyakit tertentu.
• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Mon Jul 26, 2010 2:46 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Mon Apr 26, 2010 10:24 am

RESEP OBAT GENERIK JADI WAJIB
Kamis, 18 Maret 2010 | 12:44 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang bertujuan untuk merevitalisasi kewajiban peresepan obat generik di sarana pelayanan pemerintah. Siaran pers dari Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan Kamis (18/3/2010), menyebutkan, revitalisasi kewajiban peresepan obat generik tersebut adalah dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Melalui peraturan Menkes tersebut, dokter di Puskesmas dan RS pemerintah wajib meresepkan obat generik baik untuk diambil di sarana pelayanan kesehatan maupun untuk diambil di luar.

Selain itu, apoteker juga diberikan kewenangan untuk mengganti obat merek dagang/obat paten dengan obat generik yang sama komponen aktifnya, dengan persetujuan dokter dan/atau pasien. Pelaksanaan peraturan tersebut dipantau secara berjenjang dan diatur dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.03.01/MENKES/159/I/2010 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.

Sebagai bagian dari pembinaan, maka pelanggaran terhadap kewajiban peresepan dapat dikenakan sanksi administratif sesuai ketentuan yang berlaku.Rilis tersebut mengemukakan, komponen biaya terbesar dalam pelayanan kesehatan adalah obat yang dapat mencapai hingga 70 persen dari total biaya. Oleh karena itu, intervensi penggunaan obat merupakan upaya yang strategis dalam pengendalian pembiayaan pelayanan kesehatan.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 19, 2010 1:25 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu Apr 29, 2010 9:41 pm

MENGAPA PERLU MINTA OBAT GENERIK PADA DOKTER?
Kamis, 30 Juli 2009, 16:44 WIB Petti Lubis, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Saat tubuh dalam keadaan sakit baik demam, sakit kepala, pilek, atau batuk tentunya kita ingin segera sembuh. Jika penyakit tidak terlalu parah biasanya kita mengonsumsi obat-obat yang dijual di pasaran. Tetapi jika parah, tentunya segera memeriksakan ke dokter. Harapan pasien saat ke dokter tentu ingin segera sembuh. Agar cepat pulih, biasanya pasien langsung meminta resep obat paten agar penyakit cepat hilang. Jika Anda termasuk pasien yang sering meminta obat paten pada dokter sebaiknya segera ubah kebiasaan Anda. "Seharusnya resep yang dibuat dokter itu berdasarkan prinsip dosis serendah-rendahnya, harga semurah-murahnya dan efektif. Ingatlah kalau mahalnya harga obat tidak menjamin lebih efektif menyembuhkan penyakit," kata dokter Handrawan Nadesul, dalam acara seminar "Pemakaian Obat Keras di Masyarakat" yang diselenggarakan Pfizer Press Club di Hotel Sahid Jakarta, Kamis 30 Juli 2009.

Untuk itu mulai sekarang ubahlah pola pikir Anda. Jangan memandang sebelah mata obat generik atau yang berharga murah. Karena, harga tidak mempengaruhi kualitas obat. Sembuh membutuhkan waktu, dan jika Anda diberikan resep obat generik jangan langsung menolaknya. Nantinya jika Anda terbiasa diberikan obat paten, maka saat diberikan obat generik nantinya tidak mampu mengatasi penyakit. Lalu, yang juga harus Anda ketahui setiap obat memiliki efek samping sekecil apapun itu. Efek samping obat salah satunya adalah kerusakan hati dan ginjal. Selain itu, ada juga risiko hipersensitivitas, dan kecanduan. Apalagi jika seseorang banyak mengonsumsi obat keras dan banyak obat.
Untuk menghindari mengonsumsi obat keras dan banyak obat, sebagai pasien Anda harus lebih kritis dalam menerima resep yang diberikan dokter. Tanyakan pada doketr sedetail mungkin apakah obat yang diberikan benar-benar dibutuhkan. Lalu, tanyakan juga fungsi tiap obat yang tertulis pada resep. "Makin panjang resep bisa dikatakan resep tersebut makin tidak rasional. Apalagi jika setelah obat habis dikonsumsi, gejala penyakit tidak kunjung sembuh," kata dokter Hendrawan. Jika Anda mengalami kejadian seperti yang dicontohkan dokter Hendrawan, bisa jadi obat yang diberikan tidak tepat. Anda bisa bertanya atau mencari "second opinion" dengan berkonsultasi dengan dokter lain.

OBAT MAHAL BELUM TENTU TERBAIK
Lusia Kus Anna | Asep Candra | Rabu, 11 Mei 2011 | 18:35 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketidaktahuan pasien akan obat yang dibutuhkan, ditambah dengan membanjirnya berbagai jenis obat di pasaran, membuat pasien sering mengejar obat yang harganya mahal. Bagi sebagian besar pasien, harga mahal dianggap menjadi jaminan khasiat yang manjur. Menurut Prof Iwan Dwiprahasto, Guru Besar Farmakologi dan Terapi dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pertimbangan ekonomi perlu diperhatikan dalam menimbang jenis obat. "Harga mahal bukan jaminan, perhatikan outcome yang kita dapatkan dari harga yang kita keluarkan," katanya di sela acara diskusi "Penatalaksanaan dan Pembiayaan Kanker di Indonesia" yang diadakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan PT Roche di Jakarta, Rabu (11/5/2011). Selain harga obat, perlu ditimbang juga ongkos-ongkos lainnya, misalnya lama sedikitnya waktu untuk sembuh serta efek samping yang mungkin timbul. "Kita justru rugi jika memilih obat murah, tapi lama sembuh sampai dua minggu. Lebih baik yang agak mahal sedikit, tetapi setelah seminggu sudah bisa produktif lagi mencari uang," imbuhnya. Ia menambahkan, prinsip menimbang-nimbang itu harus memerhatikan tiga faktor. Pertama adalah hasil klinis, yang meliputi efek samping serta efikasi obat. "Jangan sampai kita juga harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengatasi efek samping obat-obatan itu," paparnya.

Pertimbangan kedua adalah sisi ekonomis atau jumlah biaya, dan terakhir adalah faktor humanistik yang meliputi rasa kepuasan pasien dan keyakinan untuk sembuh. "Prinsip cost-efective dalam memilih obat bukanlah memilih yang termurah, pilih yang harganya terjangkau, tetapi efektivitasnya sama dengan obat yang mahal," katanya. Dalam pengobatan kanker, ia mengatakan bahwa tidak semua obat cocok untuk setiap orang. "Manjur tidaknya obat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari diagnosis, tahap penyakit, usia, dan kondisi kesehatannya secara umum," imbuhnya. Ia mengatakan, biaya terapi yang tinggi dan terpaksa menguras sumber-sumber dana yang ada juga tidak bisa menjadi pilihan jika justru hanya memperpanjang penderitaan pasien. "Buat apa mengeluarkan dana besar untuk menambah dua bulan usia pasien, tetapi kualitas hidupnya buruk. Itu sama saja dengan menambah penderitaannya," katanya. Menurut Dr dr Djumhana Atmakusuma, Sp.PD, KHOM dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, pasien dan keluarga sering kali bersikap tidak rasional dalam pengobatan kanker. "Semua hal akan dilakukan untuk mencari kesembuhan, bahkan meski harga obatnya sangat mahal. Rasionalitas dikalahkan oleh keinginan untuk membantu pasien," katanya.


Last edited by gitahafas on Sun Aug 14, 2011 2:15 pm; edited 9 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu Apr 29, 2010 9:45 pm

MENGENAL OBAT GENERIK
Sabtu, 18 September 2010 | 09:48 WIB
Kompas.com - Obat generik adalah obat yang diproduksi dengan mengopi formula obat paten atau obat originator. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa obat generik memiliki persamaan dengan obat paten dalam hal zat aktifnya (zat utama dalam obat), dosis, indikasi (khasiatnya) dan bentuk sediaan (tablet, kapsul, sirop, dan sebagainya). Jadi dapat dipastikan khasiat obat generik akan semujarab obat patennya bila diberikan dengan cara yang sama.

Nah, obat generik ada yang dijual tanpa merek sebagai obat generik berlogo (OGB) ataupun obat generik bermerek. Tidak ada perbedaan antara obat generik berlogo dengan obat generik bermerek. Perbedaannya hanya pada kemasan dan harga. OGB umumnya diberi logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan "Generik" di tengah lingkaran. Namanya biasanya diambil dari zat aktifnya.

Sedangkan obat generik bermerek yang lebih umum disebut obat bermerek adalah obat yang diberi merek dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya. Contoh, OGB untuk obat alergi adalah Cetirizin, sedang obat generik bermeknya ada yang memiliki nama dagang Zyrtec.

Obat generik bermerek memiliki harga yang lebih mahal sedikit dibanding OGB. Namun harganya tetap tidak semahal obat paten. Secara umum harga obat generik berkisar 80-85 persen lebih rendah dibandingkan obat paten. Bahkan pemerintah Indonesia telah menetapkan harga obat generik rata-rata 1/20 dari harga obat paten atau obat originator. Contohnya, menurut data tahun 2009, obat darah tinggi (Capoten, obat originator) dijual seharga Rp &.990. Sedangkan harga obat generiknya dengan nama Kaptropil 25 mg hanyalah Rp 172. Bisa dibayangkan betapa murahnya harga obat generik. Harga obat originator mencapai 46,5 kali dibandingkan obat generik.

Mengapa harga obat generik lebih murah dibandingkan obat paten? Sebab untuk memproduksi obat generik tidak diperlukan lagi riset penemuan dan pengembangan obat yang sangat mahal biayanya. Selain itu obat generik hanya memerlukan riset formulasi agar kadarnya dalam darah atau disolusinya sebanding dengan obat originatornya. Obat generik pun dijual dalam kemasan besar, sehingga tidak diperlukan biaya pengemasan. Obat ini pun tidak diiklankan atau dipromosikan sehingga tiadak membutuhkan biaya promosi atau iklan. Dengan begitu, harga obat benar-benar ditekan. Inilah yang menyebabkan harga obat generik jauh lebih murah.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 19, 2010 1:12 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Fri Apr 30, 2010 12:25 pm

SALAH KAPRAH OBAT GENERIK
Jumat, 30 April 2010 | 10:10 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Wajah Eko (33) tampak muram siang itu. Sorot matanya yang kosong menatap sebuah poster yang menempel di dinding apotik sebuah rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Selatan. Eko kebingungan karena harus menebus obat senilai ratusan ribu rupiah untuk menyembuhkan sakit herpes yang dideritanya. Ayah dua anak itu tak menyangka kalau harga obat yang harus ditebusnya di apotik bisa semahal itu. Usut punya usut, dokter ternyata meresepkan obat paten untuk penyakitnya. Eko tidak paham kalau ia sebenarnya dapat meminta dokter atau apoteker untuk mengganti resepnya dengan obat generik tanpa merek yang harganya relatif jauh lebih terjangkau.

"Saya kira resep dokter tak bisa diutak-atik lagi alias harga mati buat kesembuhan penyakit saya," ungkap karyawan swasta di kawasan Palmerah itu.
Jika faktor biaya menjadi pertimbangan utama Eko, tidak demikian halnya dengan pasien lain bernama Angga (34). Ia mengaku tak keberatan dengan keputusan dokter meresepkan obat paten demi khasiat "ces pleng" yang selama ini diyakininya. Kalau pun harus memilih, Angga mengaku tetap menolak diberikan resep obat generik karena khawatir sakitnya akan lebih lama.

"Saya agak ragu dengan obat generik karena sembuhnya suka lama. Walau harus keluar kocek lebih mahal, obat paten memberi saya jaminan cepat sembuh," ujar lelaki yang berprofesi sebagai wartawan ini. Potret masyarakat tentang penggunaan obat di atas adalah bukti masih terjadinya distorsi informasi tentang obat generik dan obat paten (originator) di masyarakat. Akibat mitos yang kadung melekat, masyarakat kurang yakin dengan obat generik karena harganya yang murah, tak bergengsi serta diragukan khasiat dan kemanfaatannya. Di lain pihak, tak sedikit masyarakat yang kesulitan membeli obat karena harganya sangat mahal.

Menurut guru besar Farmakologi Universitas Indonesia, Prof Arini Setiawati, PhD, distorsi ini sebenarnya tidak perlu terjadi bila masyarakat benar-benar memahami benar informasi tentang obat generik dan obat originator. Arini menjelaskan, obat generik tak perlu diragukan khasiatnya karena secara teori memiliki persamaan dengan obat originator dalam hal zat aktif, dosis, indikasi dan bentuk sediaan.

"Obat generik adalah obat yang mengcopy obat originator dan diberi nama generik. Dengan begitu, obat ini memberikan efikasi dan keamanan yang sama," ujarnya pada media forum yang diselenggarakan Sanofi-Aventis di Jakarta akhir Maret lalu. Obat generik, lanjut Arini, harganya memang lebih murah ketimbang obat paten. Tetapi, bukan dikarenakan mutu atau efikasinya rendah. Obat generik tak memerlukan biaya riset dan pengembangan yang mahal seperti halnya obat originator atau paten.

"Yang diperlukan hanyalah riset untuk membuat formulasi agar dapat setara dengan obat originator sehingga dapat dijual dengan harga murah," ujar anggota tetap Komisi Nasional Penilai Efikasi dan Keamanan Obat Jadi/Obat Modern di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ini. Obat paten, terang Arini, sangat wajar bila harganya mahal karena biaya yang dibutuhkan untuk risetnya mencapai 900 juta dollar (hampir Rp 900 miliar) hingga 1,8 juta miliar dollar AS. Selain itu, ekslusivitas obat paten ini terbilang relatif singkat. Walaupun diberikan perlidungan paten bekisar antara 17 hingga 20 tahun, tapi kesempatan untuk dipasarkan sebagai obat paten sekitar lima tahun saja.

"Oleh sebab itu harganya mahal karena harus menutup biaya pengembangan tersebut dalam waktu yang relatif singkat," ujarnya. Arini menambahkan, masyarakat Indonesia sudah saatnya mengubah pola pikir tentang obat generik dan paten. Pasalnya, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, masyarakat sudah semakin terbiasa menggunakan obat generik. Buktinya, peresepan obat generik terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data IMS Health National Prescription Audit (NPA) menyebutkan, peresepan obat generik di AS yang hanya 19 persen pada tahun 1984 telah meningkat pesat pada 2007 menjadi 67 persen.

Salah kaprah
Obat generik, lanjut Arini, saat ini dipasarkan di Indonesia dalam dua jenis yakni dengan menggunakan nama generiknya dan memakai merek dagang. Salah satu jenis yang dijual dengan nama generiknya adalah obat generik berlogo (OGB) yang merupakan program pemerintah. OGB dapat dikenali dengan logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan "Generik" di tengah lingkaran. Sementara itu satu jenis lainnya yakni obat generik bermerek justru tidak diperlakukan sebagai obat generik. Dengan kemasan lebih menarik memakai nama dagang tanpa mencantumkan logo, harga obat bermerek ini jauh lebih mahal dibanding obat generik tanpa merek, padahal kandungan zat aktifnya sama.

Alhasil, fenomena ini menjadikan obat generik bermerek seakan-akan 'diposisikan' sama seperti obat paten. Salah kaprah terhadap obat generik bermerek ini pun tidak terelakkan. Diakui Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), Marius Widjajarta, praktik salah kaprah obat generik menjadi masalah dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Betapa tidak, obat generik bermerek yang kandungannya tak jauh berbeda dengan obat tanpa merek dijual dengan harga tidak rasional. "Bahkan ada yang bisa sampai 200 kali dari harga asli obat generik tanpa merek," ujar Marius.

Padahal, hampir 70 persen obat yang beredar di Indonesia saat ini adalah obat generik bermerek. Sedangkan sisanya adalah obat paten dan obat generik tanpa merek. Peredaran obat paten di Indonesia, kata Marius, tidak banyak yakni hanya sekitar 7 persen saja. Obat-obat paten ini contohnya adalah obat untuk HIV/AIDS, obat-obat kanker dan flu burung. "Yang lain itu paten-patenan. Yang lebih kejam, tak sedikit oknum dokter yang meresepkan obat generik bermerek kepada pasien, tetapi menyebut obat tersebut sebagai obat paten. Padahal jelas, itu melanggar etika profesi kedokteran," ujar Marius.

Benang kusut
Marius yang juga anggota Tim Rasionalisasi Harga Obat Generik Nasional di Kementerian Kesehatan menilai masalah obat generik adalah benang kusut yang tak pernah selesai dari tahun ke tahun. Rumitnya masalah pengaturan obat generik di Indonesia adalah akibat ketidaktegasan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, menegakkan kebijakan soal peredaran obat generik bermerek. Harga obat generik sebenarnya telah diatur melalui Keputusan Menteri Kesehatan, tetapi anehnya, peraturan ini hanya diterapkan pada obat generik tanpa merek saja.

"Di sinilah benang kusutnya, yang liar adalah obat generik bermerek, yang tak mau tunduk pada peraturan itu. Pemerintah dalam hal ini Dirjen Bina Kefarmasian tidak ada niatan untuk menetapkan harga obat generik bermerek," ujar Marius. Kalaupun Menkes telah membuat peraturan baru yang mewajibkan seluruh dokter di layanan kesehatan pemerintah mewajibkan peresepan obat generik, peraturan itu diyakini Marius tidak akan berjalan efektif. Peran apoteker sebagai profesi yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan di bidang kefarmasian pun belum bisa diharapkan.

Senada dengan Marius, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Priyo Sidipratomo, manilai karut marutnya masalah obat generik lebih disebabkan karena lemahnya penegakkan peraturan tata niaga farmasi. Sementara profesi dokter pun tak bisa sepenuhnya disalahkan karena mereka kerap mengalami masalah dan keterbatasan di lapangan. Masalah peresepan obat generik, kata Priyo, biasanya muncul ketika dokter dihadapkan pada kendala kekosongan stok obat. Karena obat generik tanpa merek langka, dokter akhirnya beralih pada obat generik bermerek atau obat paten.

Namun Priyo pun tak mengelak bila ada segelintir oknum dokter yang bertindak melawan etika profesi. "Dokter-dokter yang disponsori itu jelas tidak etis, berlawanan dengan etika. Namun itu hanya terjadi di kota-kota besar, di kota kecil sangat jarang," ungkapnya Salah satu solusi yang dapat mengatasi masalah ini, lanjut Priyo, adalah penerapan sistem asuransi kesehatan secara universal sebagai jalan keluar mengatasi pembiayaan kesehatan di Indonesia. "Dalam dunia kedokteran, itu tidak bisa dibersihkan 100 persen, kecuali dengan asuransi kesehatan. Dokter yang baik hanya akan lahir dalam sistem pelayanan kesehatan yang baik. Jadi intinya harus ada sistem yang baik," terangnya.

Hak pasien
Demi kemaslahatan, Priyo tak lupa pun berpesan agar pasien selalu membiasakan diri meminta resep obat generik setiap kali datang berobat ke dokter. "Sampaikan saja, karena ini adalah hak setiap pasien," ujarnya. Ia pun meyakinkan bahwa di mata para dokter, citra obat generik sebenarnya tidak pernah luntur. "Pandangan para dokter tentang obat generik sejauh ini bagus. Tidak ada masalah dari sisi efikasi dan khasiatnya. Bahkan di semua institusi milik pemerintah, para dokter sudah diwajibkan meresepkan obat generik," ujar Priyo.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 19, 2010 1:23 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Fri Apr 30, 2010 9:53 pm

MITOS TENTANG OBAT GENERIK
Kamis, 16 September 2010 | 14:45 WIB
Kompas.com - Anggapan bahwa obat generik adalah obat kelas dua hingga kini masih beredar di masyarakat. Inilah mengapa terkadang pasien ragu-ragu meminta obat generik saat berkonsultasi ke dokter. Padahal mutu obat generik sama baiknya dengan obat paten. Kalau ada perbedaan semata-mata dari sisi ekonominya saja.

Mitos: Obat generik tak seampuh dan seaman obat paten
Fakta: BPOM dan FDA mensyaratkan obat generik memiliki kualitas, keampuhan, kemurnian dan kestabilan yang sama dengan obat paten imbangannya karena memiliki unsur aktif yang sama. Berarti obat generik memiliki risiko dan manfaat yang juga sama dengan obat paten tersebut.

Mitos: Obat generik bekerja lebih lambat di dalam tubuh
Fakta: Obat generik harus menghasilkan jumlah unsur aktif yang sama dengan waktu yang sama seperti obat paten aslinya.

Mitos: Obat generik memiliki lebih banyak efek samping
Fakta: BPOM dan FDA memantau laporan efek samping obat dan tidak menemukan perbedaan yang nyata dalam peristiwa timbulnya efek samping.

Mitos: Obat generik dibuat dengan fasilitas yang kurang memenuhi standar
Fakta: FDA dan BPOM melakukan ribuan kali pemeriksaan setiap tahun untuk memastikan bahwa fasilitas pabrik obat paten maupun generik memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Sesungguhnya sekitar saparuh dari seluruh obat generik diproduksi oleh perusahaan obat paten yang membuat duplikasi dari obat paten mereka sendiri atau obat paten dari perusahaan lain.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 19, 2010 12:48 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Fri Apr 30, 2010 10:01 pm

AGAR OBAT LEBIH MANJUR
Kamis, 17/02/2011 11:33 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Banyak orang mengeluh obat yang diminum tidak manjur. Ternyata ada kuncinya agar manfaat obat tersebut jadi manjur. Bagaimana caranya? Ilmuwan dari Oxford, Cambridge dan 2 universitas lain dari Jerman menemukan sembuh tidaknya suatu penyakit bukan hanya tergantung obatnya, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pikiran. Pasien akan lebih cepat sembuh jika dalam pikirannya tidak ada keragu-raguan tentang jenis dan khasiat obat yang dipakainya. Hal ini dibuktikan dalam eksperimen yang melibatkan 22 relawan, para ahli membuktikan bahwa kekuatan pikiran sangat berperan dalam kesembuhan penyakit.

Di awal eksperimen, rangsang nyeri diberikan dengan intensitas sedang melalui alat pemanas yang ditempelkan di permukaan kulit para relawan. Para relawan diminta memberi skor rasa sakit dengan rentang 0-100 dan diperoleh skor rata-rata yakni 66. Selanjutnya para relawan mendapat obat pereda nyeri dari golongan opiat lewat injeksi intravena. Tanpa diberi tahu obat apa yang diinjeksikan, para relawan diminta menilai lagi rasa sakitnya dan ternyata rata-rata berkurang menjadi 55.

Begitu tahu bahwa obat yang disuntikkan adalah pereda nyeri, rata-rata skor rasa nyeri menjadi semakin rendah yakni 39. Penurunan intensitas nyeri ini menunjukkan bahwa dengan meyakini fungsi obat yang diberikan, pasien lebih banyak mendapat manfaat dari obat tersebut. Demikian juga ketika para relawan diberitahu bahwa pemberian obat itu sudah dihentikan, rata-rata skor rasa nyeri kembali meningkat menjadi 64. Padahal menurut perhitungan para ahli, efek obat yang disuntikkan seharusnya masih bekerja hingga beberapa jam kemudian.

"Temuan ini menegaskan bahwa dokter tidak boleh mengabaikan pentingnya memberi informasi pada pasien tentang obat apa yang diberikan dan apa fungsinya," ungkap salah satu peneliti, Prof Irene Tracey seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (17/2/2011). Dokter harus jelas memberikan info ke pasien obat ini untuk apa, sehingga pasien mengerti fungsi obatnya dan ketika minum yakin akan manfaat obat tersebut sehingga memberikan efek yang lebih manjur. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan baru-baru ini dalam jurnal Science Translational Medicine.


Last edited by gitahafas on Sat Aug 13, 2011 2:45 pm; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 06, 2010 7:00 am

MENGAPA OBAT PATEN MAHAL?
Jumat, 17 September 2010 | 11:38 WIB
Kompas.com — Obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang bergantung pada jenis obatnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001, masa berlaku hak paten di Indonesia adalah 20 tahun. Selama masa 20 tahun itulah, perusahan farmasi pemegang hak paten memiliki hak eksluksif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Perusahaan lain tidak diperkenankan memproduksi dan memasarkan obat serupa, kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik paten. Penemuan obat paten memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang sangat mahal, sekitar 900 juta dollar AS sampai 1,8 miliar dollar AS. Jadi, wajar bila obat paten memasang harga yang "aduhai".

Ada beberapa alasan yang menyebabkan obat paten menjadi mahal.
1. Obat paten melalui proses penemuan dan pengembangan dari banyak tahap. Berawal dari proses penemuan obat (sintesis, skrining), dilanjutkan dengan uji preklinik, uji klinik, persetujuan otoritas regulatori dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau Food and Drug Administration, dan terakhir proses pemasarannya.

2. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tahapan itu 12-15 tahun. Contohnya, untuk melakukan uji klinis saja dibutuhkan waktu lebih kurang 10 tahun (6-7 tahun) dan menghabiskan 60 persen dari seluruh biaya pengembangan sehingga sisa waktu yang dimiliki perusahaan farmasi untuk mengedarkan obat tersebut terbilang singkat, yaitu kurang dari 5 tahun. Status obat paten dapat diperpanjang jika, misalnya, dilakukan studi pada anak. Itu pun tambahan waktunya hanya selama 6 bulan.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 19, 2011 2:16 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Fri May 07, 2010 1:56 pm

KECANDUAN OBAT TIDUR TINGKATKAN RISIKO KEMATIAN
Selasa, 14/09/2010 10:02 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Quebec City, Seseorang yang mengalami ketergantungan akan menganggap obat tidur seperti permen, bisa dikonsumsi kapan saja. Padahal jika terlalu banyak, obat tersebut bisa meningkatkan risiko kematian. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh para psikolog dari Laval University. Penelitian yang berlangsung antara tahun 1994 hingga 2007 itu melibatkan 14.000 responden dengan rentang usia 18 hingga 42 tahun. Peningkatan risiko kematian akibat penggunaan obat tidur selama berlebihan dilaporkan mencapai angka 30 persen. Peningkatan paling tinggi dicapai pada penggunaan lebih dari sekali dalam sebulan.

Salah satu alasannya terletak pada efek samping dari obat-obatan tersebut. Menurunnya kemampuan koordinasi, respons waktu dan tingkat kewaspadaan menyebabkan pecandunya rentan mengalami kematian akibat jatuh atau bentuk kecelakaan lainnya. Alasan lainnya adalah pengaruh obat-obatan itu pada sistem pernapasan. Efek ini bisa memicu gangguan berupa penyumbatan saluran napas selama tidur, sehingga dapat meningkatkan risiko kematian mendadak.

Beberapa jenis obat tidur dan obat penenang juga memberikan efek pada sistem syaraf pusat. Ketika dikonsumsi secara berlebihan, diduga efeknya bisa memicu hasrat atau kecenderungan untuk bunuh diri. "Obat-obatan ini bukan permen, setiap kali menggunakannya sama sekali bukan tanpa risiko," ungkap Genevieve Belleville yang memimpin penelitian itu, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (14/9/2010).

Karena itu Belleville menyarankan pemberian obat sebagai pilihan terakhir untuk mengatasi kegelisahan dan susah tidur. Sebelum mengambil pilihan tersebut, dokter perlu mempertimbangkan terapi kognitif-behavioral yang cukup efektif mengatasi gangguan tersebut. "Memadukan pendekatan farmakologis untuk terapi jangka pendek, dengan penanganan secara psikologis untuk jangka waktu yang lebih panjang merupakan strategi paling menjanjikan dalam meredakan gangguan tidur dan kegelisahan," tambah Belleville.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 19, 2010 1:14 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 9:13 am

BAHAYA JANGKA PANJANG OBAT TIDUR
Senin, 13 September 2010 | 14:40 WIB
KOMPAS.com — Ketika badan terasa capek, pasti kita berharap langsung tidur. Sayangnya, tak semua orang bisa langsung lelap semudah itu. Bagi mereka, obat tidur tampaknya sebanding dengan istirahat malam. Namun, waspadalah karena penelitian mengaitkan bahaya konsumsi obat tidur dalam jangka panjang. Obat tidur ternyata tidak sekadar membuat tidur nyenyak. Penelitian dr Genevieve Belleville dari Kanada menunjukkan, mereka yang terbiasa menenggak obat tidur tiga tablet atau lebih memiliki risiko kematian lebih cepat dibanding orang yang tidak minum obat tidur. Dampak lain dari penggunaan obat tidur adalah gangguan kesehatan kronis, seperti kecanduan alkohol atau rokok, serta kemungkinan menyebabkan depresi.

Efek samping dari obat tidur ini menarik perhatian para peneliti mengingat banyak obat tidur yang dijual bebas. Di Inggris, diperkirakan 10 juta obat tidur diresepkan setiap tahunnya. Pil-pil tidur yang bisa dijual bebas itu biasanya mengandung antihistamin yang tinggi, seperti yang biasa diresepkan dokter, misalnya Valium. Kasus ini dirasa krusial. Oleh karena itu, peneliti tidak membedakan antara para pengguna obat tidur skala berat dan mereka yang sesekali menggunakannya. "Obat-obatan ini bukan permen dan bisa membawa mereka dalam bahaya," kata Belleville. Berdasarkan penelitian selama 12 tahun dan menganalisis lebih dari 12.000 data di Kanada, dr Belleville menyatakan bahwa tingkat kematian signifikan serta lebih tinggi bagi pengguna pil tidur dan mereka yang mengonsumsi obat untuk mengurangi kecemasan.

Setelah memperhitungkan kadar alkohol dan tembakau terhadap kesehatan fisik, aktivitas fisik, dan depresi, dr Belleville menemukan bahwa obat tidur yang ada dapat meningkatkan 36 persen risiko kematian. "Mereka juga lebih rentan terkena setiap jenis penyakit yang berasal dari parasit hingga kanker," kata dr Belleville. Temuan lain dari efek samping obat tidur ini juga tidak bisa dianggap enteng. "Obat tidur dan obat anti-kecemasan berpengaruh pada waktu reaksi dan koordinasi sehingga membuat seseorang lebih mudah jatuh dan kecelakaan," katanya.

Bagi mereka yang bermasalah dengan jantung, Belleville menemukan bahwa obat tidur bisa menekan sistem pernapasan yang akan memperburuk masalah pernapasan saat tidur. "Obat-obatan ini juga bekerja pada sistem saraf pusat sehingga memengaruhi penilaian dan suasana hati. Ada bahaya obat ini meningkatkan risiko bunuh diri," ujarnya. Ia mengatakan, terapi perilaku kognitif telah menunjukkan hasil yang baik dalam mengobati insomnia dan kegelisahan. Oleh karena itu, dokter bisa mendiskusikan terapi sistematis tersebut dengan pasien mereka sebagai pilihan. "Menggabungkan pendekatan farmakologis dalam jangka pendek dengan pengobatan psikologis adalah strategi yang menjanjikan untuk mengurangi kecemasan dan mempromosikan tidur," kata dr Belleville.

Kendati demikian, penelitian tersebut mendapat kritik. Profesor Jim Horne dari Universitas Loughborough menyebutkan, penelitian itu masih perlu dikaji lebih lanjut. "Perlu dipertanyakan juga reaksi apa yang terjadi apabila orang-orang tersebut tidak menggunakan obat tidur," katanya. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Psychiatry, Kanada, ini bersumber dari Survei Kesehatan Nasional Kanada. Pesertanya meliputi orang-orang yang berusia 18 hingga 102 tahun dan disurvei setiap dua tahun antara tahun 1994 dan 2007.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 19, 2011 2:17 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 9:32 am

OBAT HALAL DI INDONESIA
04-05-2010 | Bekti-medicastore.com
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim mencapai 203 juta jiwa merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Oleh karena itu pentingnya penyediaan obat yang halal merupakan hal yang wajar untuk dilakukan dan dapat menjadi pangsa pasar tersendiri bagi para produsen obat di Indonesia. “Ajaran Islam sendiri mewajibkan setiap pemeluknya untuk memastikan kehalalan apa-apa yang dikonsumsinya, baik berupa makanan, minuman ataupun obat-obatan”, demikian menurut ketua MUI KH. Ma’aruf Amin dalam acara seminar nasional “Pentingnya Penyediaan Obat Halal di Indonesia” yang diselenggarakan oleh LPPOM MUI dan berlangsung pada tgl 31 Maret 2010 kemarin di Balai Kartini, Jakarta.

Definisi obat menurut Permenkes no 1010/Menkes/Per/XI/2008 adalah obat jadi yang merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan termasuk produk biologi dan kontrasepsi yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan kesehatan. Sedangkan yang dapat menjadi titik kritis dari segi kehalalannya pada obat adalah penggunaan beberapa bahan yang digunakan sebagai bahan tambahan pada produk ataupun proses pembuatannya yang dapat bersumber dari bahan haram. Seperti misalnya penggunaan gelatin untuk cangkang kapsul atau coating vitamin yang dapat terbuat dari babi ataupun sapi, alkohol untuk pelarut obat-obatan (tetapi apabila kandungan alkohol dalam obat tersebut < 0,5% masih ditolerir oleh bagian fatwa MUI) serta penggunaan bagian tubuh/sel dari binatang untuk proses pembuatan vaksin termasuk sebagai media pertumbuhan vaksin.

Menurut Departemen Kesehatan sendiri sampai saat ini memang belum ada ketentuan pencantuman label halal pada produk obat di Indonesia, persyaratan yang ditetapkan kepada produk obat lebih kepada persayaratan mutu dan keamanan. Tetapi menurut Dra. Sri Indrawaty Apt, M.Kes dari Bina Kefarmasian dan Alkes Departemen Kesehatan menyebutkan bahwa untuk obat-obatan yang mempunyai indikasi penggunaan bahan non halal dalam proses pembuatan ataupun pada produk akhirnya akan ditanya asal-usul bahan tersebut dan dimintai sertifikat dari lembaga syariat setempat. Kemudian apabila ternyata produk obat tersebut memang mengandung bahan yang haram, maka harus dicantumkan dalam penandaannya untuk obat yang haram, seperti :

contoh label 1 contoh label 2
Contoh Label : Informasi didalam kotak berwarna merah diatas dasar putih

Menurut LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) untuk menentukan halal tidaknya suatu produk bukan merupakan hal yang mudah. Hal ini karena untuk menentukan halal atau tidak bukan hanya berdasar dari asal bahan baku, bahan tambahan atau bahan penolong yang digunakan saja tetapi juga harus diketahui proses produksinya. Karena mungkin saja walaupun bahan bakunya halal tetapi ketika dalam proses pembuatannya tercampur/bersinggungan dengan bahan yang tidak suci atau haram maka hasil akhir produk yang dihasilkan pun akan menjadi tidak halal.

Walaupun demikian menurut KH. Ma’aruf Amin ada beberapa kondisi tertentu yang dapat membuat sesuatu yang wajib menjadi tidak wajib yaitu keadaan darurat (ad-dharurah). Kadaan darurat tersebut menimbulkan dispensasi mengenai bolehnya mengkonsumsi yang haram untuk pengobatan, karena yakin adanya bahaya yang mengancam/menimbulkan kematian bila tidak mengkonsumsi obat tersebut dan belum ada obat lain yang dapat menggantikan obat tersebut. Contoh kasusnya adalah penggunaan vaksin meningitis untuk orang yang akan pergi haji/umrah yang marak menjadi pemberitaan tahun lalu karena diyakini telah terkontaminasi dengan bahan dari babi. Untuk kasus tersebut MUI membolehkan penggunaan vaksin meningitis itu karena sampai saat ini masih belum ditemukan vaksin meningitis lain yang halal. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa keadaan darurat tersebut hanya bersifat sementara, dalam arti apabila telah ditemukan obat lain yang lebih halal maka harus diganti segera.

Dari seminar nasional tersebut diharapkan didapatkan hasil kepastian hukum mengenai perlunya pelabelan halal untuk produk obat yang beredar di Indonesia. Hal ini karena selama ini pelabelan halal tersebut masih berupa himbauan yang sifatnya tidak mengikat. Dengan adanya label halal pada produk obat yang digunakan, maka diharapkan umat muslim di Indonesia akan menjadi lebih tenang untuk mengkonsumsi obat-obatan dalam hal penyembuhan penyakitnya.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 26, 2010 2:53 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 9:46 am

JOHNSON & JOHNSON TARIK 43 PRODUK OBAT DARI PASAR
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth - Jumat, 07/05/2010 11:12 WIB
Washington, Anak perusahaan Johnson & Johnson, McNeil Consumer Healthcare Products menarik 43 produk obat bebas untuk bayi dan anak-anak di beberapa negara. Termasuk di antaranya adalah obat merek Tylenol, Motrin dan Benadryl.
Seperti dilansir dari USAtoday dan WebMD, Jumat (7/5/2010), penarikan dilakukan sejak Jumat lalu (30/4/2010) setelah badan pengawas obat dan makanan AS atau FDA menemukan adanya kesalahan pada produk-produk tersebut.

FDA menerima laporan 70 orang yang mengalami dampaknya yakni mual, sakit perut, muntah dan diare ketika menghirup bau produk-produk tersebut.
Johnson & Johnson mengakui, produk-produk itu tercemar oleh bahan kimia pada saat pengangkutan. Selain itu, FDA juga menemukan beberapa produk yang kandungan zat aktifnya melebihi yang tertera di label. McNeil sendiri tidak tahu pasti berapa banyak produk di pasaran yang akan ditarik. Diyakini sangat banyak karena meliputi pasar AS, Uni Emirat Arab, Fiji, Kanada, republik Dominika, Dubai, Guam, Guatemana, Puerto Rico, Panama, Kuwait, Trinidad dan Tobago.

Perusahaan tersebut menghimbau konsumen untuk menukarkan produk yang telah ditarik. Apabila terlanjur mengonsumsi dan merasakan gejala yang tidak lazim setelah mengkonsumsi, konsumen diminta untuk melapor. Berikut data produk yang ditarik dilansir dari WebMD:
No. Nama Produk Nomor NCD
1 TYLENOL INFANTS' DROPS -
2 CONCENTRATED TYLENOL INFANTS' DROPS 1 OZ. GRAPE FLAVOR 50580-144-01
3 CONCENTRATED TYLENOL INFANTS' DROPS 0.5 OZ. GRAPE FLAVOR* 50580-144-15
4 CONCENTRATED TYLENOL INFANTS' DROPS 1 OZ. CHERRY DYE FREE 50580-167-01
5 CONCENTRATED TYLENOL INFANTS' DROPS 0.5 OZ. CHERRY FLAVOR 50580-143-15
6 CONCENTRATED TYLENOL INFANTS' DROPS 1 OZ. CHERRY FLAVOR 50580-143-30
7 CONCENTRATED TYLENOL INFANTS' DROPS 0.5 OZ. GRAPE - HOSPITAL 50580-144-18
8 CONCENTRATED TYLENOL INFANTS' DROPS 0.25 OZ. GRAPE - SAMPLE 50580-144-40
9 CHILDREN'S TYLENOL SUSPENSIONS -
10 CHILDREN'S TYLENOL SUSPENSION 2 OZ. CHERRY BLAST FLAVOR 50580-123-02
11 CHILDREN'S TYLENOL SUSPENSION 4 OZ. CHERRY BLAST FLAVOR 50580-123-04
12 CHILDREN'S TYLENOL DYE-FREE SUSPENSION 4 OZ. CHERRY FLAVOR 50580-166-04
13 CHILDREN'S TYLENOL SUSPENSION 4 OZ. GRAPE SPLASH 50580-296-04
14 CHILDREN'S TYLENOL SUSPENSION 4 OZ. BUBBLEGUM FLAVOR 50580-407-04
15 CHILDREN'S TYLENOL SUSPENSION 4 OZ. VERY BERRY STRAWBERRY FLAVOR 50580-493-04
16 CHILDREN'S TYLENOL SUSPENSION 1 OZ. CHERRY BLAST FLAVOR - SAMPLE 50580-123-01
17 CHILDREN'S TYLENOL SUSPENSION 4 OZ. CHERRY BLAST FLAVOR - HOSPITAL 50580-123-03
18 CHILDREN'S TYLENOL PLUS SUSPENSIONS -
19 CHILDREN'S TYLENOL PLUS SUSPENSION 4 OZ. COUGH & SORE THROAT CHERRY FLAVOR 50580-247-04
20 CHILDREN'S TYLENOL PLUS SUSPENSION 4 OZ. COUGH & RUNNY NOSE CHERRY FLAVOR 50580-249-04
21 CHILDREN'S TYLENOL PLUS DYE-FREE SUSPENSION 4 OZ. COLD & STUFFY NOSE GRAPE FLAVOR 50580-253-04
22 CHILDREN'S TYLENOL PLUS DYE-FREE SUSPENSION 4 OZ. COLD & COUGH GRAPE FLAVOR 50580-254-04
23 CHILDREN'S TYLENOL PLUS DYE-FREE SUSPENSION 4 OZ. MULTI-SYMPTOM COLD GRAPE FLAVOR 50580-255-04
24 CHILDREN'S TYLENOL PLUS SUSPENSION 4 OZ. FLU BUBBLEGUM FLAVOR 50580-386-04
25 CHILDREN'S TYLENOL PLUS SUSPENSION 4 OZ. COLD GRAPE FLAVOR 50580-387-04
26 CHILDREN'S TYLENOL PLUS SUSPENSION 4 OZ. COLD & ALLERGY BUBBLEGUM FLAVOR 50580-390-04
27 CHILDREN'S TYLENOL PLUS SUSPENSION 4 OZ. MULTI-SYMPTOM COLD GRAPE FLAVOR 50580-391-04
28 MOTRIN INFANTS' DROPS -
29 CONCENTRATED MOTRIN INFANTS' DROPS 1 OZ. BERRY DYE FREE 50580-198-01
30 CONCENTRATED MOTRIN INFANTS' DROPS 0.5 OZ. BERRY DYE FREE 50580-198-15
31 CONCENTRATED MOTRIN INFANTS' DROPS 0.5 OZ. BERRY FLAVOR* 50580-100-15
32 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSIONS -
33 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 4 OZ. BERRY DYE FREE 50580-184-04
34 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 2 OZ. BERRY FLAVOR 50580-601-02
35 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 4 OZ. BERRY FLAVOR 50580-601-04
36 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 4 OZ. TROPICAL PUNCH FLAVOR 50580-215-04
37 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 4 OZ. GRAPE FLAVOR 50580-603-04
38 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 4 OZ. BUBBLEGUM FLAVOR 50580-604-04
39 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 1 OZ. GRAPE SAMPLE 50580-603-01
40 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 1 OZ. BUBBLEGUM SAMPLE 50580-604-01
41 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 1 OZ. BERRY SAMPLE 50580-601-01
42 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 4 OZ. BERRY HOSPITAL 50580-601-50
43 CHILDREN'S MOTRIN SUSPENSION 4 OZ. COLD BERRY FLAVOR 50580-902-04
44 CHILDREN'S ZYRTEC LIQUIDS IN BOTTLES -
45 CHILDREN'S ZYRTEC 4 OZ. BUBBLEGUM SYRUP 50580-721-04
46 CHILDREN'S ZYRTEC DYE FREE 4 OZ. GRAPE SYRUP 50580-730-04
47 CHILDREN'S ZYRTEC SUGAR-FREE DYE-FREE 0.5 OZ. GRAPE 50580-730-15
48 CHILDREN'S ZYRTEC SUGAR-FREE DYE-FREE 0.5 OZ. BUBBLEGUM 50580-721-15
49 CHILDREN'S ZYRTEC SUGAR-FREE DYE-FREE 2 X 4 OZ. BUBBLEGUM LIQUID 50580-721-08
50 CHILDREN'S BENADRYL ALLERGY LIQUIDS IN BOTTLES -
51 CHILDREN'S BENADRYL ALLERGY 4 OZ. BUBBLEGUM FLAVORED LIQUID 50580-535-04
(up/ir)


Last edited by gitahafas on Fri Aug 13, 2010 2:53 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 9:54 am

TERAPI HARIAN ASPIRIN
03-10-2006 | http://www.mayoclinic.com Edited by Scientific medicastore
Apakah Aspirin sehari sekali baik untuk Anda?
Hal ini tidak mudah diputuskan. Cari tahu dahulu keuntungan dan kerugian menggunakannya.
Terapi Aspirin membantu mengurangi resiko dari serangan jantung dan stroke, tetapi hal ini tidak berlaku untuk semua orang. Apakah baik untuk Anda? Terapi ini baik hanya bila Anda pernah mengalami serangan jantung atau stroke, atau memiliki resiko tinggi terkena keduanya maka terapi Aspirin ini perlu Anda pertimbangkan. Lalu kemudian, konsultasikan dengan dokter, lanjutkan bila disetujui oleh dokter. Meskipun penggunaan Aspirin satu atau dua pada waktu tertentu aman untuk sebagian besar orang dewasa mengatasi sakit kepala atau demam, penggunaan Aspirin harian dapat menimbulkan efek samping yang serius. Bagi orang sehat yang memiliki resiko serangan jantung atau stroke yang kecil, resiko penggunaan Aspirin mungkin lebih besar dari pada keuntungannya. Lain halnya bila orang tersebut dalam resiko tinggi dan pernah mengalami serangan jantung dan stroke, penggunaan Aspirin sehari sekali mungkin dapat menyelamatkan nyawa.

Bagaimana cara Aspirin mencegah serangan jantung atau stroke?
Aspirin menghambat proses pembekuan darah. Saat berdarah, sel pembeku darah, yang disebut platelet, berkumpul di tempat luka. Platelet ini umumnya membentuk suatu lapisan yang dapat menutup pembuluh darah yang terbuka, sehingga pendarahan dapat berhenti. Bagaimanapun, darah juga dapat membeku entah di pembuluh darah yang mensuplai jantung dan otak dengan darah. Bila pembiluh darah telah sempit akibat penumpukan lemak, pembekuan darah dapat dengan cepat menutup arteri. Bila hal ini terjadi, maka darah akan berhenti mengalir menuju jantung atau otak sehingga akan terjadi serangan jantung atau stroke. Aspirin dapat mengurangi aksi penggumpalan darah sehingga mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke.

Apakah terapi Aspirin berbeda antara pria dan wanita?
Studi tentang penggunaan Aspirin harian pertama kali dilakukan pada pria. Studi lanjutan telah difokuskan untuk efek Aspirin pada wanita untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang timbul akibat jenis kelamin. Ternyata, Aspirin lebih efektif untuk menghambat stroke pertama kali pada wanita, akan tetapi untuk menghambat serangan jantung lebih efektif pada pria. Resiko terjadinya pendarahan ternyata sama pada pria maupun wanita.

Apakah Saya perlu minum Aspirin?
Apakah Anda memerlukan terapi Aspirin setiap hari bergantung pada risiko Anda terhadap penyakit jantung dan stroke. Jika Anda pernah mengalami serangan jantung atau stroke, kemungkinannya adalah dokter Anda akan berbicara dengan Anda untuk menggunakan Aspirin untuk mencegah peristiwa kedua. Anda mungkin tahu penggunaan Aspirin harian dapat menolong mencegah serangan jantung tambahan atau stroke,akan tetapi Anda mungkin heran untuk mempelajari bahwa terapi Aspirin harian juga bila berhenti bisa mempunyai efek rebound yang sebetulnya mungkin menambah risiko serangan jantung atau stroke.

Jika Anda mempunyai faktor risiko besar, tetapi pernah terkena serangan jantung atau stroke, Anda mungkin mendapat keuntungan dengan mengambil Aspirin harian. Mencegah serangan jantung atau stroke pertama disebut pencegahan pokok dan mungkin menjadi strategi baik bagi orang yang memiliki risiko tinggi terjadi peristiwa ini. Terlebih dulu, Anda harus membicarakan dengan dokter Anda apakah Anda mempunyai kondisi dimana Aspirin dapat berbahaya bagi Anda. Misalnya, jika Anda mudah berdarah, mempunyai penyakit maag atau asma, Aspirin mungkin tidak aman bagi Anda. Jika Anda mempunyai kerusakan jantung, Aspirin mungkin mengurangi keefektifan beberapa pengobatan Anda, oleh sebab itu bicarakan dengan dokter Anda. Sangat penting untuk mengatakan pada dokter Anda pengobatan atau suplemen lain yang Anda gunakan, meski hanya ibuprofen. Penggunaan Aspirin dan ibuprofen bersama mengurangi efek bermanfaat Aspirin. Penggunaan Aspirin dengan obat pencegah penggumpalan lain bisa membahayakan.

Pertimbangkan resiko serangan jantung dan stroke Anda
Dalam memutuskan bersama dengan dokter Anda untuk terapi harian Aspirin, penting untuk waspada terhadap segala faktor resiko untuk serangan jantung dan stroke.

Faktor resiko utama untuk serangan jantung dan stroke adalah:
1. Jenis Kelamin. Pria lebih beresiko terkena serangan jantung dan stroke dibanding wanita, hingga usia 65 tahun resiko menjadi sama.
2. Sejarah keluarga pernah terkena serangan jantung atau stroke. Anda memiliki resiko tinggi bila ada sejarah serangan jantung pada orang tua atau keluarga dekat.
3. Usia. Semakin tua maka resiko akan semakin besar.
4. Merokok. Merokok adalah faktor utama untuk terkena penyakit kardiovaskular.
5. Tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tinggi dan tidak terkontrol meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke. Hal ini juga menyebabkan keefektifan terapi Aspirin ini turun.
6. Kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi, terutama tingginya kadar low-density lipoprotein (LDL) dan rendahnya kadar high-density lipoprotein (HDL), ikut berperan terhadap resiko tersebut.
7. Diabetes. Orang yang sakit diabetes beresiko tinggi terkena serangan jantung dan stroke.

Pertimbangkan resiko pendarahan dan komplikasi
Sekalipun Anda mempunyai faktor risiko untuk serangan jantung atau stroke, jangan langsung menggunakan Aspirin. Jika Anda sudah mengambil obat pencegah penggumpalan seperti warfarin (Coumadin) untuk kondisi lain, menggabungkannya dengan Aspirin mungkin membuat darah Anda terlalu encer, dengan begitu menambah risiko pendarahan. Mungkin ada beberapa kondisi yang sesuai untuk menggabungkan dosis rendah Aspirin dengan warfarin (misalnya, dengan katup jantung buatan macam tertentu untuk pencegahan stroke sekunder), tetapi terapi ini selalu perlu dengan cermat dibicarakan dengan dokter Anda. Pengobatan lain dan herbal suplemen juga mungkin menambah risiko pendarahan.

Selalu konsultasikan dengan dokter Anda tentang semua pengobatan Anda, resep dan obat bebas dan suplemen yang Anda gunakan, sebelum memulai terapi Aspirin harian. Dibawah ini adalah komplikasi menggunakan Aspirin:
1. Stroke hemorragik. Meskipun Aspirin dapat menolong mencegah stroke yang berhubungan dengan pengumpalan darah, tetapi dapat juga menambah resiko stroke pendarahan (hemorrhagic stroke).

2. Pendarahan gastrointestinal. Pengunaan Aspirin harian juga meningkatkan resiko terkena sakit maag. Dan jika Anda memiliki ulcer yang parah, menggunakan Aspirin akan menyebabkan pendarahan lebih banyak, mungkin hingga dapat mengancam jiwa.

3. Reaksi alergik. Bila Anda alergi terhadap Aspirin, mengunakan Aspirin dalam jumlah berapapun mungkin dapat memicu reaksi alergik yang serius.

4. Tinnitus dan kehilangan pendengaran. Terlalu banyak Aspirin (overdosis) dapat menyebabkan tinnitus dan akhirnya kehilangan pendengaran pada beberapa orang.

Bila Anda menggunakan Aspirin dan Anda harus menjalani prosedur operasi sederhana atau operasi gigi, pastikan untuk memberi tau ahli bedah atau dokter gigi bahwa Anda menggunakan Aspirin dan berapa banyaknya. Bila tidak, Anda akan beresiko mengalami pendarahan selama pembedahan.
Food and Drug Administration (FDA) juga memperingatkan bahwa orang yang menggunakan Aspirin harian seharusnya tidak minum alkohol karena dapat menambah pengenceran darah.

Dapatkah Saya menggunakan Aspirin bila saya rutin menggunakan ibuprofen untuk kondisi lainnya?
Ibuprofen meniadakan keuntungan dari terapi harian Aspirin bila digunakan secara bersamaan. Keduanya mengurangi tindakan pembekuan darah oleh platelet. Aspirin tetap efektif apabila digunakan 2 jam sebelum dosis tunggal harian dari ibuprofen. Bagaimanapun, menggunakan ibuprofen dengan dosis ganda atau menggunakan ibuprofen sebelum Aspirin dapat mengganggu efek perlindungan dari Aspirin. Penggunaan ibuprofen secara jarang, kurang dari 60 kari per tahun tidak mengganggu kemampuan Aspirin untuk mengurangi resiko serangan jantung. Bila membutuhkan hanya dosis tunggal dari ibuprofen, gunakan 2 jam setelah penggunaan Aspirin. Bila perlu menggunakan ibuprofen lebih sering, bicarakan dengan dokter obat pengganti lainnya.

Berapa banyak Aspirin yang harus Saya minum?
Sampai saat ini masih diperdebatkan berapa dosis untuk mencegah serangan jantung dan stroke. Beberapa studi menyarankan dosis rendah sama baiknya seperti dengan dosis normal. Dokter Anda akan meresepkan dosis harian antara 81 mg hingga 325 mg.

Apa yang terjadi bila Saya berhenti menggunakan Aspirin tiap harinya?
Bila Anda menjalani terapi Aspirin dan ingin berhenti, sangat penting untuk membicarakan pada dokter Anda sebelum melakukan perubahan. Menghentikan secara tiba-tiba terapi Aspirin dapat menyebabkan efek rebound yang memicu penggumpalan darah, dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut.

Bila Saya menggunakan Aspirin setiap hari, apakah tetap aman menggunaknnya saat serangan jantung?
Untuk beberapa orang yang pernah mengalami serangan jantung, dokter akan merekomendasikan untuk mengunyah atau menelan Aspirin dengan dosis biasa. Rekomendasi ini berlaku bila Anda menjalani terapi Aspirin harian. Dengan mengunyah Aspirin, maka proses absorbsi akan lebih cepat dan mengurangi penundaan efek dari Aspirin.

Bila Anda memiliki kelainan pendarahan tertentu, Anda tidak dianjurkan untuk menggunakan Aspirin saat serangan jantung terjadi, Anda juga bukan merupakan calon yang tepat untuk terapi harian Aspirin.
Jangan gunakan Aspirin jika Anda pikir Anda mendapat stroke, karena tidak semua stroke disebabkan oleh pembekuan darah, kadang juga karena terjadi pecahnya pembuluh darah. Menggunakan Aspirin dapat menyebabkan pendarahan stroke makin parah. Tenaga medis akan menilai apakah stroke tersebut disebabkan karena penggumpalan atau pendarahan, Aspirin akan diberikan jika terjadi penggumpalan.

Perlukah Saya menggunakan Aspirin dalam bentuk salut?
Aspirin salut enterik dibuat agar dapat melewati lambung dan tidak hancur hingga mencapai usus. Hal ini bermaksud agar orang-orang yang menggunakan Aspirin harian terutama yang memiliki gastritis atau ulcer tidak mengalami iritasi pada lambung. Kekurangannya adalah perlu lebih banyak waktu untuk mengabsorbsi Aspirin dalam bentuk salut enterik. Studi lain mengatakan bahwa Aspirin dengan salut enterik kurang poten daripada Aspirin tanpa disalut, sehingga efek pada pengenceran darahnya kurang.

Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengerti lebih baik perbedaan terapetik antara Aspirin biasa dengan Aspirin dengan salut enterik. Bila Anda punya pertanyaan seputar bentuk sediaan yang cocok dengan Anda, konsultasikan dengan dokter Anda.

Apakah superAspirin?
Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca tentang ?Superaspirin?. Superaspirin merupakan obat baru sebagai pengganti atau tambahan dari suplemen. Pengobatan ini menghambat penggumpalan platelet dan menurunkan resiko penggumpalan darah. Meskipun memiliki efek yang sama dengan Aspirin, obat ini bekerja dengan mekanisme yang berbeda sehingga dapat digunakan bersama Aspirin untuk beberapa orang yang membutuhkan daya pembekuan lebih.

Yang termasuk dalam kelas obat ini termasuk clopidogrel (Plavix), eptifibatide (Integrilin) dan lainnya. Pengobatan ini dapat digunakan saat:
1. Saat serangan jantung atau stroke yang berkaitan dengan pembekuan darah
2. Sebelum dan sesudah angioplasty untuk mengurangi pembekuan darah akibat operasi.
3. Mengobati penyakit pembuluh darah.

Superaspirin merupakan pilihan bila Anda resisten terhadap Aspirin (sehingga efek pembekuan darah tidak terjadi) atau bila Anda tidak bisa mentoleransi efek sampingnya.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 13, 2010 2:43 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Obat dan Makanan   Thu May 13, 2010 9:57 am

ASPIRIN DARI MASA KE MASA
Irna Gustia - detikHealth - Minggu, 20/06/2010 10:41 WIB Laporan dari Beijing
Beijing, Khasiat kulit pohon Willow digunakan orang Mesir Kuno dan diikuti Hiprokrates pada ribuan tahun silam sebagai obat penghilang rasa sakit, demam dan peradangan. Ilmuwan moderen kemudian menemukan senyawa rahasianya yang dikembangkan dalam obat moderen. Senyawa kimia yang ditemukan tersebut bernama Asam Asetilsalisilat (ASA) yang disintesis dalam bentuk murni oleh Felix Hoffmann pada tahun 1887 yang menjadi cikal bakal Aspirin. Kepopuleran Aspirin terus berlanjut dan dikenal sebagai obat rumah tangga di hampir semua negara Amerika, Eropa, Australia dan Asia.

Efek Aspirin sebagai pertolongan pertama untuk mengatasi rasa sakit atau nyeri telah digunakan selama 100 tahun terakhir. Saking populernya, Aspirin menjadi santapan penelitian oleh ilmuwan baik dalam temuan baru atau pun yang mengkritisinya. "Aspirin menjadi obat yang paling banyak diteliti baik dalam temuan baru atau yang membantahnya," kata Profesor Peter Elwood, MD, DSc, FRCP, FFPHM dari Departement of Epidemilogy di Cardiff University College of Medicine Inggris ketika berbicara dalam acara 'Scientific Tutorial for Journalist' yang diadakan Bayer Schering Pharma di Marco Polo Beijing, China.

Semua hasil-hasil penelitian itu kata Profesor Elwood kemudian dilakukan meta analisis untuk memastikan kesahihannya. Dari sinilah kemudian muncul khasiat lain Aspirin yang tak cuma penghilang rasa sakit, nyeri dan demam. Aspirin berkembang menjadi pengobat dan pencegah penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah darah/stroke). Menurut Profesor Thomas A Pearson, MD, MPH, PhD dari University of Rochester Medical Center, New York AS, dalam acara World Congress of Cardiology di Beijing 16-19 Juni 2010, Aspirin bisa mencegah terjadinya penggumpalan darah pemicu utama jantung dan stroke. Penggunaan dosis rendah setiap hari bagi orang yang berisiko terkena penyakit kardiovaskular terbukti bisa mengurangi risiko penggumpalan darah. Risiko penggumpalan darah ini terjadi pada penderita tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, obesitas (kegemukan), merokok dan kurang bergerak.

Penelitian Aspirin sebagai pengobat dan pencegah kardiovaskular dikembangkan sejak tahun 1970-an. Sejak saat itu Aspirin menjadi 'teman' wajib penderita jantung dan kolesterol tinggi. "Hasil studi 6 penelitian menunjukkan Aspirin bisa mengurangi risiko serangan jantung fatal dan stroke mulai dari pengurangan 15 persen hingga 66 persen," kata Profesor Pearson. Penggunaan Aspirin dalam dosis kecil tiap hari sebesar 100 mg atau kurang untuk orang yang berisiko terkena kardiovaskular, juga telah dilindungi oleh Bayer dengan senyawa yang aman untuk menghindari iritasi lambung. Bayer membuat efektifitas ASA lebih baik dari obat generik lainnya karena hanya menggunakan dosis rendah untuk pencegahan kardiovaskular.

Hal itu diamini oleh Dr. Ronally Rasmin, SpJP dari RS Budhi Asih Jakarta dalam penjelasan tertulisnya, Minggu (20/6/2010) yang mengakui cara kerja Aspirin dosis rendah yang lebih luas. "ASA Generik yang non-coated, dosisnya lebih besar dan lebih diindikasikan pada kasus demam, nyeri dan untuk anak. Sedangkan ASA dosis rendah keluaran Bayer sudah coated tablet, lepasnya di dalam sel cerna terukur dan diindikasikan karena cara kerjanya untuk jumlah penyakit yang lebih luas seperti kardiovaskular, perokok, dislipidemia selain angina," katanya.

Profesor Pearson mengatakan penggunaan Aspirin yang terbukti efektif untuk kardiovaskular juga telah diikuti dengan penelitian Aspirin untuk pengobatan dan pencegahan kanker, Alzheimer dan preeklamsia (darah tinggi saat hamil). "Sudah banyak penemuan Aspirin yang bisa untuk pencegahan kanker usus besar (kolorektal), kanker payudara, kanker prostat, kanker paru, Alzheimer dan preeklamsia yang sepertinya manfaatnya tinggal menunggu pembuktian lebih lanjut saja," kata Profesor Pearson.

Diakui Profesor Pearson, perhatian Aspirin masih terpusat pada manfaat pengobatan dan pencegah kardiovaskular. Tapi menurutnya penelitian lain menjanjikan penggunaan aspirin yang makin dinamis di waktu-waktu mendatang. Publik akan menunggu kejutan apalagi dari Aspirin yang tak hanya sebagai obat nyeri dan demam tapi menjadi obat dan pencegah kardiovaskular. Apakah nama Aspirin yang melegenda dalam dunia medis selama 1 abad ini akan memunculkan khasiat baru lagi?(ir/up)


Last edited by gitahafas on Fri Aug 13, 2010 2:44 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Obat dan Makanan

View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 49Goto page : 1, 2, 3 ... 25 ... 49  Next

 Similar topics

-
» 137 pelajar keracunan makanan
» Obat dan Makanan
» Buah Segar Bikin Paru-paru Sehat
» [TIPS] 6 Makanan yang Bikin Kenyang Lebih Cepat
» salamatkah makanan dari cina?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-