Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 25 ... 47  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Thu Apr 22, 2010 4:06 pm

5 MENIT PERTAMA SELAMATKAN NYAWA
Kamis, 5 Agustus 2010 | 14:12 WIB
Kompas.com - Serangan jantung merupakan keadaan darurat medis. Jangan menunda mencari bantuan medis karena dalam situasi ini setiap waktu berpacu dengan kerusakan otot jantung dan bisa menimbulkan komplikasi bahkan kematian.

Gejala utama serangan jantung adalah rasa tertekan atau remasan kuat di dada. Rasa tertekan ini bisa menjalar ke leher dan terkadang disertai keringat dingin dan rasa lemas. "Bila muncul kondisi ini seseorang harus curiga apakah ia mengalami serangan jantung, apalagi kalau orang itu punya faktor risiko, seperti merokok atau menderita diabetes," kata dr.Santoso Karo Karo, Sp.JP, dari RS.Jantung Harapan Kita Jakarta.

Santoso menjelaskan, dalam 5 menit pertama, orang yang menderita serangan jantung harus segera mencari bantuan medis. "Pergilah ke rumah sakit, bukan tempat dokter praktek karena di rumah sakit tersedia bantuan yang diperlukan untuk membatasi kerusakan jantung," paparnya di sela acara kesehatan jantung di Yayasan Jantung Indonesia, Rabu (4/8/10).

Bila jarak antara rumah sakit dan pasien terlalu jauh, pasien serangan jantung bisa diberi pertolongan darurat dengan mengunyah empat tablet aspirin. Obat antikoagulan seperti aspirin atau heparin akan membuat darah tidak lagi membentuk bekuan. "Untuk orang yang punya faktor risiko atau riwayat serangan jantung, sebaiknya selalu membawa aspirin ke manapun. Begitu muncul serangan, langsung kunyah-kunyah, bukan di telan dengan air," papar Santoso.

Dalam buku Mayo Clinic Family Health Book disebutkan, di menit-menit awal begitu terjadinya serangan jantung, akan terjadi fibrilasi ventrikel. Irama jantung yang tidak stabil ini menimbulkan denyut jantung yang tidak efektif dan otot jantung bergetar tanpa manfaat. Tanpa perawatan langsung, fibrilasi ventrikel akan mengakibatkan kematian mendadak. Penanganan pertama serangan jantung adalah pemakaian AEDs (automatic external defribrillators). Penangangan selanjutnya akan dilakukan di rumah sakit, termasuk dengan pemberian obat-obatan untuk memulihkan aliran darah menuju jantung, seperti aspirin.

Dalam kasus serangan jantung, menurut Santoso, terdapat masa emas (golden period) untuk menyelamatkan nyawa. "Dalam waktu 20 menit sejak terjadinya serangan jantung pasien harus mendapat pertolongan. Namun yang penting 5 menit pertama pasien harus curiga sehingga bisa mencari bantuan," katanya. Yang harus dikenali adalah serangan jantung terkadang muncul tanpa pola yang khas. "Bisa juga berupa rasa nyeri di bagian iga atau lambung sehingga sering dikira sakit maag. Perasaan tertekan juga sering dikira masuk angin sehingga sering terlambat di bawa ke rumah sakit," urainya.

Pada sebagian orang, gejala utama serangan jantung adalah tiba-tiba mengalami napas pendek-pendek yang tidak atau bisa diikuti rasa nyeri dada. Ada juga yang terkena serangan jantung dengan hanya mengalami gejala jatuh pingsan secara mendadak. Yang terpenting, bersikaplah waspada, terutama bila Anda memiliki riwayat keluarga penderita penyakit jantung, merokok, memiliki kadar kolesterol tinggi, atau menderita diabetes.


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 6:55 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Thu Apr 22, 2010 4:12 pm

BERJALAN KAKI, LANGKAH SEHAT HALAU DM DAN SAKIT JANTUNG
Rabu, 26 Mei 2010 03:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Apakah Anda termasuk orang yang malas berolahraga? Jika iya, maka berjalan kaki merupakan alternatif pengganti olahraga yang manfaatnya tak kalah efektif. Sebuah studi mengungkap, berjalan kaki membuat metabolisme tubuh berjalan optimal. Seperti diketahui, metabolisme tubuh yang tidak berjalan normal berkaitan erat dengan sejumlah faktor pemicu resiko penyakit jantung dan diabetes seperti kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, minimnya kadar kolesterol baik.

Peneliti dari Pennington Biomedical Research Center, Peter T. Katzmarzyk menyatakan, keberadaan sejumlah faktor pemicu menjadikan individu kian rentan ketimbang seseorang yang tidak memiliki faktor pemicu. "Banyak individu yang memiliki kelebihan berat badan mengalami masalah dengan metabolisme tubuhnya, tetapi bagi individu dengan berat normal juga mengalami masalah yang sama," tegasnya seperti dikutip dari Healthday, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, di tahun 2005-2006, Katzmakzyk bersama koleganya mencatat rekaman keseharian 1446 orang dewasa berusia rata-rata 47.5 tahun. Partisipan dengan catatan akselerometer (alat yang mengukur seberapa jauh seseorang berjalan) terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, individu yang berjalan kurang dari 5.000 langkah per hari, kedua, individu yang berjalan rata-rata antara 5.000 hingga 9.000 langkah perhari dan ketiga, individu yang berjalan rata-rata lebih dari 10.000 langkah perhari.

Usai mendata setiap partisipan, peneliti lalu melihat beberapa faktor pengiring seperti kelamin dan usia. Dari temuan peneliti diketahui, lebih dari 56 persen yang memiliki jumlah langkah sedikit bermasalah dengan metabolisme tubuhnya. Namun, 13 persen dari individu yang rajin berjalan kaki juga mengalami masalah yang sama. Secara keseluruhan, sepertiga partisipan memiliki masalah dengan metabolisme tubuhnya.

Sementara itu, pada kelompok kedua, peneliti mencatat Lebih dari 40 persen partisipan kelompok kedua memiliki kemungkinan terhindar dari gangguan metabolisme. Sedangkan pada kelompok ketiga, sebanyak 72 persen partisipan kemungkinan terhindar dari gangguan metabolisme tubuh. Peneliti juga mencatat setiap 1.000 langkah tambahan berdampak pada penurunan 8-13 persen lemak di pinggang, penurunan kolesterol jahat dan meningkatnya kolesterol baik. "Terdapat semacam tren disana (hasil riset). Hasil riset bukanlah sekedar angka ajaib, Sesuatu lebih baik ketimbang tidak sama sekali, dab sesuatu yang lebih tentu jauh lebih baik," tukasnya.

Secara terpisah, Peneliti dari University of Tennessee, David R. Bassett Jr mengatakan studi baru memperlihatkan hasil yang signifikan karena lebih ketat dibandingkan penelitian sebelumnya ketika menggali hubungan antara berjalan kaki dan gangguan metabolisme tubuh. "Berapapun catatan langkah seseorang itu sangat penting bagi kesehatan mereka. Peneliti mengukur catatan berjalan yang dilakukan, bukan pada seberapa cepat anda berjalan. Namun, berjalan santai baik untuk kesehatan Anda," pungkasnya.


Last edited by gitahafas on Wed Jun 15, 2011 7:39 pm; edited 12 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Thu Apr 22, 2010 4:18 pm

PENYAKIT JANTUNG BUKAN LAGI MONOPOLI ORANG KAYA
Jum'at, 29 April 2011 | 18:16 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta -World Health Organitation (WHO) memberikan peringatan bahwa 80 persen kasus penyakit jantung terbanyak terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Lagipula, penyakit ini tidak lagi melanda golongan sosial ekonomi atas saja. Kini, serangan penyakit jantung lebih tersebar di berbagai kelas sosial. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Dr Anna Ulfah Rahajoe mengatakan biang penyakit jantung bisa bermacam-macam. Yang paling umum menjadi penyebab adalah kegemukan, naiknya gula darah, hipertensi, dan naiknya jumlah kolesterol jahat dalam tubuh.

Dulu orang beranggapan serangan itu disebabkan faktor tunggal. Ternyata, penyebabnya sangat kompleks. Itu, yang menurut Anna, menyulitkan pengobatan penyakit. Contohnya, pengobatan penyakit jantung dengan terapi Statin hanya akan mengurangi kolesterol jahatnya (LDL) saja. Namun, obat itu tak bisa meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Kadar trigliserin dalam tubuh juga tidak turun. "Hal tersebut terjadi karena adanya resiko sisa yang tidak bisa dihilangkan meskipun telah dilakukan pengobatan. Resiko ini yang ingin kami berantas," ujar Anna.

Dokter spesialis jantung lainnya, Dr Ika Prasetya, SpPd, K-KV, FINASIM, menambahkan, gangguan metabolisme seperti kencing manis, darah tinggi, kolesterol, dan kegemukan dapat berujung pada jantung dan penyempitan pembuluh darah. Untuk itu perlu juga dikaitkan pencegahan gangguan metabolisme sebagai pencegahan sakit jantung dan stroke. "Jika kita dapat mengurangi 1 jenis potensi penyakit maka semakin mudah penanganannya," ungkap Ika. Penyakit jantung dianggap penyakit yang berbahasa karena menyebabkan kematian atau kecacatan pada orang usia produktif. Penyakit ini bisa mempengaruhi Produk Domestik Bruto dari sebuah negara, bahkan biaya pengobatannya yang mahal pun dapat membebani anggaran belanja Negara.

Untuk meningkatkan pengetahuan soal penanganan penyakit jantung ini, PERKI bersama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengadakan konferensi CardioMetabolic. Konferensi selama tiga hari ini nantinya menghasilkan perumusan apa saja yang menjadi faktor resiko penyakit jantung, bagaimana hubungan penyakit jantung dengan penyakit dalam, serta memberdayakan dokter umum untuk melakukan tindakan preventif sejak awal. "Dokter umum sebagai ujung tombak kami akan lebih diberdayakan," kata Dr Anna.


Last edited by gitahafas on Mon Jun 13, 2011 2:26 pm; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Thu Apr 22, 2010 4:20 pm

TIPS SEHAT MENKONSUMSI DAGING
Rabu, 17 November 2010 | 10:34 WIB
Kompas.com — Banyak di antara kita yang masih percaya bahwa daging merah, seperti sapi, kambing, atau babi, adalah salah satu penyebab terbesar timbulnya penyakit jantung. Padahal, jika daging dipilih dan diolah dengan benar, kita dapat mengurangi kadar lemak jenuh di dalamnya, menghindari kulit keriput lebih awal, penyumbatan pembuluh arteri, dan juga peningkatan kolesterol. Berikut caranya:

1. Pilih yang terbaik. Apabila Anda ingin membeli daging, pilihlah yang masih segar, baru, dan memiliki kandungan lemak paling rendah.

2. Tanpa lemak. Sebagai pembeli, Anda bisa meminta untuk dipilihkan daging tanpa lemak kepada si penjual. Biasanya di supermarket besar, daging tanpa lemak lebih mudah dijumpai karena sudah diberi label "tanpa lemak".

3. Buang lemaknya. Potong dan buang bagian berlemak yang masih menempel pada daging sebelum diolah.

4. Rebus atau panggang. Olah daging dengan cara direbus atau dipanggang daripada digoreng karena hanya akan menambah kandungan lemak dan kolesterolnya. Jika Anda masih ingin menggoreng daging, gunakan minyak zaitun yang telah terbukti sangat ampuh dalam memerangi kolesterol.

5. Hapus minyak. Hapus kelebihan minyak dan kalori pada daging yang dipanggang dengan menggunakan tisu minyak.

6. Tahu batasnya. Kurangi mengonsumsi daging, yaitu tidak lebih dari satu potong daging atau sekitar 85 gram daging merah dalam seminggu.

Ternyata sangat mudah bukan? Mengonsumsi daging rendah lemak dan mengandung lemak tak jenuh dapat membuat usia Anda 6 tahun terlihat lebih muda.


Last edited by gitahafas on Mon Jun 13, 2011 2:27 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Sun Apr 25, 2010 8:49 am

PERUBAHAN IKLIM TINGKATKAN KEMATIAN JANTUNG
Kamis, 12/08/2010 13:45 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Roma, Bila pemanasan global terus berlanjut akan lebih banyak lagi orang yang meninggal karena masalah jantung. Karena perubahan iklim yang ekstrem, maka akan menambah beban bagi jantung dan meningkatkan risiko kematian jantung. Sebuah studi di British Medical Journal menemukan bahwa penurunan suhu 1 derajat celsius pada satu hari di Inggris terkait dengan 200 serangan jantung tambahan. Selain itu, gelombang panas juga dapat menjadi penyebab meningkatnya kematian jantung, seperti yang ditunjukkan oleh peristiwa di Paris selama musim panas. Lebih dari 11.000 orang meninggal dalam karena udara panas Prancis pada paruh pertama bulan Agustus tahun 2003, saat suhu naik menjadi 40 derajat celsius.

Kebanyakan orang meninggal karena terjadi kematian jantung mendadak yang berhubungan dengan kondisi jantung lain selain serangan jantung biasa. Pada musim panas yang sama, Inggris juga memecahkan rekor dengan kenaikan suhu yang menyebabkan kematian lebih dari 2.000 orang. Dan para ahli memperkirakan bahwa pada tahun 2080-an, peristiwa serupa akan terjadi setiap tahun.

Menurut ahli, risiko yang ditimbulkan oleh perubahan suhu panas dan dingin yang sangat ekstrem paling rentan terhadap orang tua. Sebagian besar korban adalah orang berusia 70 hingga 80-an tahun. Peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine menganalisis data pada 84.000 pasien yang dirawat di rumah sakit dengan serangan jantung antara 2003 dan 2006.

Peneliti menemukan bahwa penurunan suhu 1 derajat celsius dari suhu harian rata-rata dikaitkan dengan 2 persen kumulatif dalam risiko serangan jantung selama 28 hari, bahkan dalam musim panas. Suhu yang dingin dapat membuat darah lebih rentan terhadap pembekuan dan hal ini jelas dapat menimbulkan risiko jantung. Hal ini sebenarnya sebagian dapat diatasi dengan aspirin, yaitu obat pengencer darah.

"Tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca berdasarkan perubahan pada gaya hidup penduduk dan tingkat individu mungkin memiliki manfaat besar bagi kesehatan dan perlindungan iklim," ujar Dr Paola Michelozzi dan Manuela De Sario, dari Lazio Region Department of Epidemiology di Roma, seperti dilansir dari BBC, Kamis (12/8/2010). Misalnya, menurut Paola, menurunkan asupan lemak jenuh dengan mengurangi konsumsi produk hewani adalah pilihan makanan sehat yang direkomendasikan dalam pedoman pencegahan penyakit jantung koroner dan juga dapat menjadi strategi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:54 am; edited 9 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator


Number of posts: 1044
Age: 54
Location: Jakarta
Registration date: 2008-08-27

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Mon Apr 26, 2010 12:53 am

Doctors failing to adequately treat cholesterol in heart disease patients

Lynsey Alger

A greater number of heart attacks, strokes and deaths could be prevented if more doctors followed existing guidelines on cholesterol-lowering targets, say European experts.

Currently, only half of all patients at high risk of heart disease are being assigned correct targets for lowering cholesterol levels. Women, in particular, are at risk of incorrect cholesterol targets.

According to a German study of 25,250 patients, 55 percent of male patients and 49 percent of female patients were assigned appropriate LDL cholesterol targets. [Eur Heart J 2010;Mar 10:Epub ahead of print]

The survey, which involved 907 doctors and looked at the way they assessed their patients’ risk factors when assigning cholesterol-lowering targets, also showed primary care physicians were more likely to underestimate women’s risk. For example, in patients with an identical history and with a recent heart attack, only 60 percent of women were given correct treatment targets for reducing LDL levels compared to 68 percent of men.

“In our study we observed an average difference in LDL target levels of just over 17 mg/dL between physicians with the least and best guideline knowledge, and this difference will certainly lead to a sizeable difference in major heart-related problems,” said lead author of the study, Professor Heribert Schunkert.

Failure to treat to target could, therefore, have some highly damaging consequences by default. Yet if all doctors simply adhered to the guidelines it could result in an estimated 50-80 fewer heart attacks, strokes and cardiovascular deaths per 1,000 patients over a 10 year period, say the authors.

Schunkert, who is a clinical cardiologist and head of the Medizinische Klinik II at the Universitätsklinik Schleswig Holstein, Germany, said that though the figures were a “rough estimate, the numbers highlight the enormous health implications reflected in our findings.”

“We hope that the data from our study will remind physicians of the need to observe relevant guidelines to calculate individually every patient’s target value, so that they can deliver the best possible care to all their patients,” said Schunkert.

“Physicians may need more assistance in determining the risk of their patients, for instance with nurse practitioners or computer programs calculating the risk from the patients’ electronic file notes,” he continued. “We believe efforts should be made to make guidelines simpler and easier to understand and follow; instruments to identify high-risk patients more easily should be developed; and special attention should be paid to women and patients without known cardiovascular disease, but with an accumulation of risk factors, since both groups appear frequently to escape the notice of doctors for aggressive cholesterol-lowering treatment.”

Speaking on behalf of the European Society of Cardiology, Professor Ian Graham, consultant cardiologist at the Adelaide and Meath Hospital, Ireland, said: “This interesting study suggests that about one half of German primary care physicians have difficulty in assigning appropriate therapeutic target values for LDL cholesterol in subjects with raised blood cholesterol levels. If the target is not clear, less adequate therapy is likely. The study used American target levels for LDL and the situation may be worse than this because European target values for LDL cholesterol are slightly more stringent than American ones.”

_________________

The doctor of the future will give no medicine,
but will instruct his patient in the care of the human frame,
in diet and in the cause and prevention of disease.
Back to top Go down
View user profile http://www.ilunifk83.com
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Fri Apr 30, 2010 9:20 pm

6 ALASAN PEREMPUAN HARUS SADAR JANTUNG
Kamis, 4 Februari 2010 | 10:46 WIB
KOMPAS.com - Jika Anda perempuan berusia 20- 30 tahun, mungkin Anda merasa tidak begitu peduli dengan kesehatan jantung atau pembuluh darah Anda. Itu kan penyakit orang tua, begitu mungkin komentar Anda. Namun data statistik menunjukkan adanya hubungan antara angka kejadian serangan jantung dengan tingkat kepedulian terhadap kerja dan fungsi jantung. Ada banyak penyebab kenapa Anda harus concern dengan penyakit jantung.

Berikut contohnya:
1. Penyakit kardiovaskular adalah pembunuh nomor satu bagi perempuan.
Penelitian di Amerika tahun 2003 memperlihatkan bahwa hanya 13 persen perempuan yang sadar akan bahaya penyakit jantung dan stroke. Padahal kenyataannya, penyakit kardiovaskular adalah pembunuh yang paling luas. Di tahun 2005 ada lebih dari 400 ribu perempuan yang meninggal akibat serangan jantung. Sedangkan penyakit kanker hanya lebih sedikit, yakni sekitar 200 ribu kasus. Empat dari 6 kasus kematian pada perempuan di Amerika akibat penyakit jantung.

2. Penyakit kardiovaskular menyerang perempuan berbagai usia.
Penyakit ini bisa menyerang kapan pun bahkan di usia remaja sekalipun. Remaja, dewasa, dan orang tua, bisa terserang akibat gaya hidup yang meningkatkan resiko serangan jantung. Kekurangan aktivitas fisik, merokok, dan pola makan yang buruk, bisa menjadi penyebab utamanya. Semakin muda, harusnya semakin lebih cepat Anda memperbaiki pola hidup.

3. Angka kematian pada perempuan lebih tinggi dari pada angkat kematian pria.
Perempuan lebih banyak meninggal akibat stroke ketimbang pria. Bahkan dalam satu tahun jika dibandingkan ada 42 persen perempuan yang meninggal akibat stroke. Sementara pria hanya 24 persen. Kabar buruknya lagi, usia serangan itu di bawah 50 tahun, dan pada usia itu mereka punya kans dua kali lipat untuk terserang stroke dibanding pria.

4. Bertahan bukan berarti sembuh.
Salah satu penyakit penyerta serangan jantung adalah stroke. Meskipun kebanyakan dari mereka bisa bertahan, tapi mereka terserang kerusakan fisik atau cacat permanen. Stroke bisa mengakibatkan masalah yang serius. Sebab, 15-30 persen dari mereka umumnya bergantung pada orang lain. Bahkan 2/3 dari mereka yang mengalami serangan jantung gagal untuk mencapai kesembuhan.

5. Tidak mudah mendeteksinya.
Perempuan dan laki-laki memiliki gejala yang berbeda. Sebab penyakit ini datang tanpa memberi tanda, atau sering disebut "silent killer". Bahkan mereka yang mengalami serangan jantung tidak menunjukkan gejala apa pun pada awalnya. Namun 71 persen dari perempuan mengaku mengalami gejala mirip flu, kadang bahkan tanpa gejala sakit dada. Gejala lainnya adalah tegang di leher, sakit perut, muntah, kaku di kepala dan leher, dan sulit bernafas.

6. Suku etnis dan kesehatan jantung.
Mereka yang keturunan Afrika Amerika dan Amerika latin lebih rentan terhadap penyakit ini, sebab mereka cenderung mengalami resiko terserang lebih besar dibanding orang kulit putih. Faktor pendukung lainnya adalah kegemukan, kurang olahraga, darah tinggi, dan diabetes. Kematian akibat penyakit jantung lebih banyak terjadi pada perempuan berkulit hitam (berwarna, RED) ketimbang kulit putih.

Perempuan bia menurunkan resiko terserang penyakit jantung hingga 82 persen dengan membudayakan hidup sehat. Berapa pun usia Anda, ayo mulai hidup terencana. Hindari merokok, menjaga berat badan, tetap aktif, makan makanan sehat, menghindari makanan berkolesterol, menjaga tekanan darah, dan kadar gula darah.


Last edited by gitahafas on Tue Jan 25, 2011 2:51 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Sun May 02, 2010 5:46 pm

TRANSFUSI DARAH BISA MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG
Selasa, 03/08/2010 16:30 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Kentucky, Transfusi darah sangat penting dalam banyak pengobatan di rumah sakit, terutama saat proses operasi. Tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa menjalani transfusi darah selama operasi dapat meningkatkan kematian, terutama karena serangan jantung.

Setiap hari, ada ribuan liter darah yang disumbangkan sebagai pertempuran ahli bedah untuk menyelamatkan kehidupan. Juga banyak orang yang menerima darah dari orang asing untuk mengatasi masalahnya di atas meja operasi. Sejak Perang Dunia Kedua, ketika transfusi darah pertama kali dilakukan, dunia kedokteran menganggap transfusi darah menjadi sangat penting bagi pasien untuk menjalani berbagai macam operasi.

Tapi penelitian terbaru menemukan bahwa pasien yang menjalani transfusi darah selama proses operasi, dapat mengalami risiko kematian yang lebih tinggi. Terutama akibat dari serangan jantung, stroke dan penyakit serius seperti septicaemia, pneumonia dan kanker kelenjar getah bening. Peneliti sedang menyelidiki dua kemungkinan yang menjadi penyebab. Pertama adalah darah yang didonorkan. Peneliti curiga, bukannya memperkuat kapasitas orang sakit untuk menangkis infeksi, darah yang didonorkan saat operasi justru dapat membuat pasien tidak mampu menahan serangan bakteri dan virus.

Kedua, transfusi darah dapat memicu peradangan di pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke setelah operasi.
Hal ini disebabkan karena selama jangka waktu 30 hari, darah yang disimpan akan mengalami perubahan penting yang dapat menyebabkan kontaminasi ke beberapa penerima. Diperkirakan bahwa ketika darah disimpan, enzim beracun yang dikeluarkan oleh sel darah merah dan penumpukan produk-produk limbah tubuh dalam darah dapat menyerang sistem kekebalan tubuh.

Transfusi adalah terapi hidup hemat yang telah membuat pengobatan bedah kompleks menjadi mungkin dilakukan. Tetapi juga memiliki efek yang tidak diinginkan pada sistem kekebalan. Asal tahu saja, darah terdiri dari empat elemen utama, yaitu sel darah merah, sel darah putih, platelet dan plasma. Sebagian besar transfusi melibatkan sel darah merah yang telah dipisahkan dari komponen lain dalam darah, karena sel darah merah ini bertanggung jawab untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Nah, ketika pasien kehilangan darah selama operasi, pasien tidak memiliki cukup sel darah merah untuk menjaga tubuh dalam posisi pemulihan penuh. Tanpa sel darah merah, organ mulai gagal berfungsi dan dapat mematikan. Peneliti di University of Kentucky menemukan pasien biasanya membutuhkan sekitar 3 liter untuk membantu operasi. Jika transfusi darah yang dilakukan hanya 1 kantung (sekitar satu gelas) dapat meningkatkan kematian dalam waktu 30 hari dengan kemungkinan sebesar 32 persen.

"Saya terkejut bahwa dari satu kantung darah dapat menyebabkan risiko yang begitu besar. Tapi saya percaya bahwa dokter bedah, dokter anestesi dan profesional medis lain kurang menghargai dampak negatif dari transfusi darah," ujar Dr Andrew Bernard, peneliti dari University of Kentucky's College of Medicine, seperti dilansir dari Dailymail, Selasa (3/8/2010).

Selama 50 tahun terakhir, penggunaan sel darah merah donor telah diperluas dari pendarahan karena kejadian tertentu hingga ke dalam ruang operasi rutin. Sayangnya, selama ini belum pernah ada penelitian besar yang pernah meneliti efektivitas atau keamaan dari transfusi darah. Juga tidak ada panduan yang jelas pada saat dokter bedah harus mengatur darah yang disumbangkan.


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:53 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Sun May 02, 2010 7:47 pm

TERJEBAK MACET 1 JAM BISA PICU SERANGAN JANTUNG
Senin, 19/07/2010 10:09 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Boston, Berhati-hatilah buat orang dengan gangguan jantung atau paru-paru saat menghadapi kemacetan parah. Paparan polusi lalu lintas di tengah kemacetan selama 1 jam bisa memicu kematian jantung mendadak. Polusi lalu lintas memang berbahaya bagi siapapun, tak terkecuali individu yang sehat. Tapi risiko tersebut akan semakin besar bila terjadi pada orang dengan gangguan jantung atau paru-paru.

Berdasarkan pemantauan dengan menggunakan alat portabel 24 jam, yang dipakai oleh pasien penyakit paru-paru dan penyakit jantung atau pernah serangan jantung sebelumnya, menunjukkan adanya hubungan antara penurunan detak jantung dan paparan polutan udara yang berkaitan dengan lalu lintas, seperti unsur-unsur karbon dan nitrogen dioksida.

Temuan baru-baru ini bahkan menambahkan bukti hubungan jangka pendek yang terkait antara penurunan detak jantung dan polusi lalu lintas.
"Hal ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa studi sebelumnya menemukan bahwa orang memiliki peningkatan risiko serangan jantung hanya dalam waktu satu jam setelah terjebak dalam kemacetan," jelas peneliti Harvard School of Public Health, dalam siaran berita universitas seperti dilansir dari MSNNews, Senin (19/7/2010). Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Occupational and Environmental Medicine edisi Juli.

Menurut studi itu, paparan tinggi dari polusi lalu lintas dapat menurunkan variabilitas denyut jantung. Penurunan ini merupakan faktor risiko terjadinya kematian jantung mendadak. Penurunan variabilitas detak jantung atau heart rate variability (HRV) adalah suatu ukuran kemampuan jantung untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan, yang mengindikasikan lemahnya kontrol jantung oleh sistem saraf otonom.

Penelitian yang dilakukan Harvard School of Public Health ini tidak menemukan adanya kaitan yang signifikan antara penurunan HRV dengan tingkat polusi udara di lingkungan tempat tinggal partisipan tapi hanya terjadi di jalanan yang macet. (mer/ir)


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 6:57 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Wed May 05, 2010 5:41 am

PEROKOK SAYANGI JANTUNGMU
Senin, 31 Mei 2010 | 15:48 WIB
Kompas.com - Banyak orang masih beranggapan bahwa rokok hanya merusak paru-paru. Padahal, berbagai penyakit lain mengintai para perokok, salah satunya adalah serangan jantung. Merokok merupakan faktor risiko peringkat pertama untuk penyakit kardiovaskular. Jika Anda merokok, risiko terkena serangan jantung atau stroke menjadi dua kali lipat lebih besar dibanding dengan mereka yang bukan perokok. "Rokok merupakan salah satu faktor risiko serangan jantung, selain faktor risiko lain seperti hipertensi, kolesterol, dan gula darah tidak terkontrol," kata dr.Aulia Sani, SpJP (K), ahli jantung dan pembuluh darah dari RS.Harapan Kita, Jakarta.

Dalam jangka panjang, rokok akan menganggu proses metabolisme kolesterol sehingga pada orang yang merokok ditemukan kadar lemak jahatnya (LDL) tinggi. Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan penyempitan arteri. Pembuluh arteri para perokok mempunyai lebih banyak timbunan lemak (plak) dibanding dengan yang bukan perokok. Efek penimbunan lemak tersebut diperparah dengan naiknya tekanan darah sebagai efek buruk nikotin dan karbonmonoksida, yang dihirup dari asap rokok. Dengan merokok, kelenjar adrenalin akan terangsang untuk mengeluarkan hormon yang sesaat akan meningkatkan tekanan darah dan membuat jantung bekerja lebih keras. Selain itu, merokok menurunkan jumlah oksigen yang dipasok ke jantung.

"Makin awal menjadi perokok, makin cepat seseorang mengalami kelainan jantung. Akibatnya di usia produktif ia sudah terkena berbagai penyakit," papar dr.Aulia. Oleh sebab itu, pria berusia di atas 30 tahun, apalagi ia seorang perokok, disarankan untuk memeriksakan kondisi jantungnya. "Penyakit jantung itu baru muncul kalau penyakitnya cukup berat, misalnya penyempitan sudah 70 persen. Sebelumnya tidak akan terasa gejala apa pun," ujarnya. Cepat lambatnya pengaruh rokok bagi kesehatan sangat tergantung pada kondisi individu. "Memang tergantung pada kerentanan tubuh seseorang dan jumlah rokok yang diisap. Tapi kita tidak pernah tahu bagaimana daya tahan tubuh kita, lagipula secara statistik pasien penyakit jantung sebagian besar adalah perokok," tegasnya.


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 1:33 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Wed May 05, 2010 5:43 am

MATI MUDA KARENA JANTUNG
Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 23/12/2009 12:06 WIB
Jakarta, Kasus kematian akibat serangan jantung pada usia muda semakin sering terjadi. Padahal sebelumnya penyakit jantung lebih banyak menyerang orang yang sudah tua. Kenapa kini banyak fenomena mati muda karena jantung? Seperti yang baru saja dialami aktris muda Hollywood Brittany Murphy yang meninggal di usia 32 tahun pada 20 Desember 2009. Masih simpang siur penyebab serangan jantung yang dialami Brittany, ada yang menduga karena overdosis, anorexia atau serangan jantung murni. Serangan jantung terjadi akibat pengerasan pembuluh darah karena adanya kerak yang menempel. Kerak tersebut makin lama makin menumpuk yang bisa menyumbat saluran pembuluh darah koroner yang mengakibatkan orang menjadi cepat capek dan sesak nafas.

"Fenomena baru ini diakibatkan oleh generasi muda sekarang yang sudah berubah pola makannya, kalau dulu orang lebih banyak mengonsumsi makanan yang berserat tinggi tapi anak muda sekarang lebih memilih makan fast food. Sebenarnya fenomena seperti ini tidak hanya di Indonesia tapi juga negara lain seperti jepang dan China," ujar Dr. H. Aulia Sani, SpJP(K) FJCC FIHA saat dihubungi detikHealth, Rabu (23/12/2009).

Lebih lanjut Dr Aulia menerangkan makanan-makanan seperti itu memiliki kadar kolesterol, lemak dan garam yang sangat tinggi, sehingga bisa membuat orang yang masih muda sudah terkena hipertensi atau penyakit kolesterol. Ditambah lagi kurangnya aktivitas atau olahraga dari orang-orang muda ini, karena lebih banyak duduk di depan komputer, bekerja menggunakan lift atau menonton televisi saja.

Selain itu generasi sekarang lebih menyukai konsumsi soft drink dibandingkan dengan minum air putih atau teh, padahal kadar gula dalam soft drink tersebut tinggi bisa memicu timbulnya diabetes yang menjadi faktor risiko dari penyakit jantung. "Faktor risiko dari penyakit jantung itu ada empat yaitu hipertensi, kolesterol, diabetes dan merokok. Keempat hal ini yang bisa memicu timbulnya penyakit jantung," ujar dokter yang berpraktik di RS Pusat Jantung Harapan Kita, Jakarta. Memiliki orangtua atau keluarga yang mempunyai riwayat penyakit jantung memang bisa memberikan kontribusi, tapi faktor keturunan ini sebenarnya bisa dicegah asalkan generasi tersebut memiliki pola hidup yang sehat dan benar.

"Tapi kalau generasi muda sering ngemil, malas olahraga, tidurnya telat sehingga istirahat kurang serta merokok, maka fenomena serangan jantung di usia muda bisa terjadi lebih cepat lagi. Apalagi ditambah dengan anak-anak sekolah yang sudah merokok, maka semakin dini mereka merokok risikonya semakin besar," ujar dokter berusia 64 tahun. Dr Aulia menambahkan untuk menghindari semakin maraknya fenomena serangan jantung di usia muda, hal paling penting yang harus dilakukan adalah mengubah pola hidup (life style modification) dengan rajin berolahraga, konsumsi makanan sehat bukan fast food, perbanyak minum air putih dan tidak merokok. (ver/ir)


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 1:34 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Sat May 08, 2010 7:43 pm

POLUSI PICU SERANGAN JANTUNG MENDADAK
Minggu, 6 Juni 2010, 20:25 WIB Irina Damayanti, Anda Nurlaila
VIVAnews - Semakin kotor udara yang dihirup seseorang, risiko terkena serangan jantung mendadak pun semakin besar. Partikel polusi, debu dan polutan diyakini bisa menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah penyebab penyakit jantung. Ilmuwan dari Monash University di Melbourne menemukan, hubungan langsung antara peningkatan partikel polutan di udara dan kemungkinan serangan jantung. "Polusi udara berdampak buruk bagi kesehatan kita," kata Komisaris Lingkungan Uni Eropa, Janez Potocnik. Ilmuwan yang dipimpin Dr Martine Dennekamp mencatat bahwa partikel di udara memicu serangan jantung, bahkan kematian mendadak pada orang yang tidak memiliki gejala penyakit jantung. Menghirup polutan mengurangi usia rata-rata manusia delapan bulan bahkan dua tahun lebih cepat, pada kota-kota yang paling tercemar.

Studi meneliti lebih dari 8.000 kasus serangan jantung mendadak pada usia 35 tahun atau lebih tua, telah terjadi di Melbourne antara 2003 dan 2006.
Peningkatan konsentrasi polutan di udara terkecil kurang dari 2,5 mikron partikel meningkatkan risiko serangan jantung yang akan bertahan hingga dua hari. Setiap kenaikan polusi 4,26 mikrogram per meter kubik, akan meningkatkan risiko serangan jantung sebanyak empat persen lebih tinggi dari rata-rata selama 48 jam berikutnya. Studi menemukan risiko polusi udara bagi orang-orang berusia 65-74 tahun jauh lebih tinggi. Sekitar 146 ribu warga Inggris mengalami serangan jantung mendadak. Sebagian besar diantaranya terjadi di atas usia 50 tahun. (hs)
• VIVAnew


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 1:23 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Thu May 20, 2010 10:03 pm

DAMPAK POLUSI UDARA LEBIH BURUK DARI DUGAAN
Kamis, 12 Agustus 2010 | 12:23 WIB
KOMPAS.com — Para ahli kini makin yakin bahwa polusi udara berdampak lebih buruk bagi kualitas kesehatan. Bukan cuma sebatas pada kesehatan pernapasan, melainkan juga bagian tubuh lain yang ikut menderita. Kualitas udara yang buruk terbukti berhubungan erat pada penyakit jantung, pembuluh darah, dan otak. Para pakar kesehatan dari American Heart Association menyebutkan, kaitan antara penyakit jantung dan polusi udara semakin terbukti sejak mereka menerbitkan kajiannya pada tahun 2004 lalu. Dalam penelitian yang dipublikasikan bulan Mei 2010 lalu, para ahli jantung itu juga menemukan kaitan antara polusi udara dan berbagai penyakit lain, seperti stroke, gangguan irama jantung, serangan jantung, dan penyakit vaskular.

Walaupun risikonya bersifat individual tergantung pada faktor risiko yang mungkin dimiliki tiap orang, seperti kebiasaan merokok, adanya tekanan darah tinggi, dan obesitas, tetapi pengaruh dari pencemaran udara tetaplah tinggi. Hal yang paling merisaukan, menurut para ahli, adalah partikel halus yang berasal dari jelaga pembakaran bahan bakar minyak, mesin diesel atau pembakaran kayu, yang banyak ditemukan dari pabrik, pembangkit energi, atau kendaraan bermotor.

"Partikel halus ini bisa masuk ke dalam paru-paru," kata Norman Edelman, chief medical officer dari American Lung Association. Para ahli menyebutkan, partikel halus itu bisa menyebabkan inflamasi di paru yang bisa menyebar ke pembuluh darah, merusaknya, dan membuatnya lebih rentan pada penyempitan atau sumbatan di pembuluh darah. Teori lain menyebutkan, partikel berukuran sangat kecil itu akan terserap ke pembuluh darah atau ke darah dan menyebabkan kerusakan secara langung. Udara yang tercemar juga memicu aktivitas sistem saraf yang abnormal dan berpengaruh pada jantung dan pembuluh darah.

Beberapa penelitian juga secara nyata membuktikan kaitan antara polusi udara dan penyakit asma, terutama pada anak-anak. Penelitian lain menyebutkan, paru-paru anak yang tinggal di lingkungan dengan kondisi udara yang buruk kurang bisa berkembang dan berfungsi dengan baik, dan efeknya akan bersifat jangka panjang, bahkan seumur hidup.

Hal ini seharusnya menjadi concern penduduk yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta. Sebab, tingkat polusi udara di kota ini masih sangat tinggi. Sektor transportasi menyumbang tingkat polusi sekitar 70 persen akibat minimnya transportasi massal yang ramah lingkungan.


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 1:32 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Fri May 21, 2010 6:27 am

APA PENYEBAB STRES NOMOR 1 ?
Minggu, 01/11/2009 08:18 WIB Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, Coba ingat-ingat lagi, hal apa yang membuat Anda merasa sangat stres menjalani hidup? Sebuah poling internasional pun dilakukan oleh para peneliti untuk mengetahui faktor apa yang paling membuat manusia di seluruh belahan dunia merasa sangat stres. Sebanyak 150 partisipan dari 16 negara di dunia diminta untuk memilih diantara 3 faktor yang paling membuat mereka stres, yaitu uang, keluarga atau kesehatan. Dan ternyata, faktor pertama yang menempati urutan teratas penyebab stres adalah uang.

Partisipan yang mewakili sebagian besar warga di dunia sepakat, uang memang alasan nomor satu sumber stres. Mereka mengaku, dibanding masalah keluarga atau kesehatan, uang jauh lebih besar menyebabkan stres. Hasil poling menunjukkan, bahwa partisipan lebih khawatir dan stres ketika memiliki masalah keuangan.
Hasil poling yang dikutip dari Glamour, Minggu (1/11/2009) pun menyebutkan negara-negara yang merasa stres karena uang dan juga yang tidak. Menurut poling, negara yang merasa paling stres karena uang adalah Malaysia (58%), diikuti China dan Singapura (55%) sedangkan di urutan ketiga ada Amerika (48%).

Sementara itu, negara yang sedikit mengkhawatirkan dan tidak dibikin stres oleh uang adalah Rusia (15%), Perancis (18%) dan Italia (19%). Ketiga negara tersebut lebih stres ketika masalah keluarga dan kesehatan muncul daripada soal uang. Uang ternyata menjadi hal yang sangat ditakutkan setiap orang. Uang memang tidak bisa lepas dari kehidupan. Bahkan ada pepatah yang mengatakan uang bukanlah
segalanya tapi dengan uang segalanya akan lebih mudah. Uang mempengaruhi hampir semua faktor kehidupan, termasuk kesehatan fisik, mental dan juga masalah keluarga.

"Jika sedang sakit, butuh uang untuk berobat ke dokter. Untuk makan makanan bergizi dan enak pun dibutuhkan uang. Dan untuk jalan-jalan dengan keluarga, uang juga harus ada. Jadi semua hal memang berkaitan dengan uang," ujar Kathleen Fifield, seorang partisipan yang mengikuti poling tersebut. Meskipun hasil poling mengatakan bahwa uang adalah penyebab stres nomor satu, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi.. Bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki dan terus berusaha jalani hidup dengan tekun dan sabar adalah kunci mengatasi segala jenis stres.


Last edited by gitahafas on Wed Jun 15, 2011 1:12 pm; edited 11 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs   Fri May 21, 2010 5:32 pm

MERAMAL KESEHATAN JANTUNG
Senin, 18 Januari 2010 | 10:27 WIB
KOMPAS.com - Mungkin Anda sering mendengar kisah tentang orang yang masih muda namun terkena serangan jantung. Lalu Anda bertanya dalam hati, "dapatkah itu terjadi pada saya?" Dalam kebanyakan kasus, serangan jantung bukan jatah bagi mereka yang masih muda. Namun betapa pun kecilnya kemungkinan terkena serangan jantung, bukan berarti Anda boleh mengabaikannya. Akan mengalami serangan jantung atau tidak, dalam banyak hal Anda sendiri yang menentukan. Menurut para ahli, ada tiga cara tes sederhana untuk memprediksi kemungkinan kita terkena serangan jantung. Dokter Anda mungkin akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang rumit untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung Anda. Namun ada tiga cara sederhana yang bisa Anda lakukan sendiri di rumah.

1. Tes tidur
Jawablah pertanyaan ini: Apakah Anda sering mengantuk di siang hari? Bila iya, maka risiko Anda terkena penyakit jantung makin besar. Penelitian yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association menyebutkan, waktu tidur yang cukup akan mengurangi risiko penyakit jantung hingga 33 persen. Saat Anda kurang tidur, tubuh akan melepaskan hormon stres yang bisa menyebabkan pembuluh darah mengerut dan menimbulkan peradangan. Bila Anda sering mengantuk dan lelah di siang hari, bisa jadi kualitas dan kuantitas waktu tidur Anda kurang baik.

2. Tes vitamin D
Rendahnya kadar vitamin D bisa meningkatkan risiko penyakit darah tinggi dan inflamasi pada pembuluh darah. Kadar vitamin D yang cukup pada orang dewasa sekitar 30-40 ng/ml. Untunglah karena tinggal di negara tropis yang kaya akan matahari, risiko kekurangan vitamin D bagi orang Indonesia tak begitu besar.

3. Tes jari
Sel pelapis yang menutup pembuluh darah, termasuk di jari telunjuk, kita terdiri dari lapisan tunggal yang disebut dengan endotel yang berfungsi menghasilkan zat kimia yang memengaruhi fungsi pembuluh darah, misalnya untuk membesar, berkontrasi, mengecil, dan sebagainya. Perubahan pada endotel bisa terlihat bahkan bertahun-tahun sebelum tanda-tanda gangguan jantung muncul. Karena itu para ahli meyakini kondisi endotel yang prima bisa jadi tolak ukur penyakit jantung dan stroke. Untuk mengujinya, Anda bisa menggetes temperatur jari telunjuk menggunakan detektor suhu dan mengukur tekananan darah dengan manset yang dililitkan di lengan. Saat manset memompa, aliran darah ke tangan akan berkurang dan suhu jari telunjuk turun. Setelah lima menit, manset dilonggarkan dan aliran darah kembali normal. Makin cepat suhu jari telunjuk naik, makin sehat endotel.

Bila hasil ketiga tes ini menunjukkan Anda berisiko terkena serangan jantung, konsultasikan dengan dokter. Selain itu, Anda juga dapat berusaha mengubah atau mengendalikan risiko ini dengan menjaga tekanan darah, kadar kolesterol, berat badan, dan menghindari rokok.


Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 1:32 pm; edited 11 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
 

Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs

View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 47Goto page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 25 ... 47  Next

 Similar topics

-
» SdKfz 251/9 early vs. late?
» Atienza Kali-Mass Attack Strategies
» Earthquake Warning For California!!
» What are your worst migraine symptoms?
» The symptoms of Slender Man exposure

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-