|
| | Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs | |
| |
| Author | Message |
|---|
Ali Alkatiri Administrator


Number of posts: 1050 Age: 54 Location: Jakarta Registration date: 2008-08-27
 | Subject: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Wed Jan 14, 2009 11:36 pm | |
| Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Medical Author: Melissa Conrad Stoppler, MD Medical Editor: Dennis Lee, MD Heart attack is the number one killer of both men and women in the U.S. Each year, about 1.1 million Americans suffer a heart attack, and 460,000 of these are fatal. Most of the deaths from heart attacks are caused by ventricular fibrillation of the heart that occurs before the victim of the heart attack can reach an emergency room. Those who reach the emergency room have an excellent prognosis; survival from a heart attack with modern treatment should exceed 90%. The 1% to 10% of heart attack victims who die later include those victims who suffer major damage to the heart muscle initially or who suffer additional damage at a later time. Fortunately, procedures such as coronary angiogram and PTCA (coronary balloon angioplasty), and clot dissolving drugs are available that can quickly open blocked arteries in order to restore circulation to the heart and limit heart muscle damage. In order to optimally benefit heart attack victims and limit the extent of heart damage, these treatments to open blocked arteries should be given early during a heart attack. Knowing the early warning signs of heart attack is critical for prompt recognition and treatment. Many heart attacks start slowly, unlike the dramatic portrayal often seen in the movies. A person experiencing a heart attack may not even be sure of what is happening. Heart attack symptoms vary among individuals, and even a person who has had a previous heart attack may have different symptoms in a subsequent heart attack. Although chest pain or pressure is the most common symptom of a heart attack, heart attack victims may experience a diversity of symptoms that include:
- Pain, fullness, and/or squeezing sensation of the chest
- Jaw pain, toothache, headache
- Shortness of breath
- Nausea, vomiting, and/or general epigastric (upper middle abdomen) discomfort
- Sweating
- Heartburn and/or indigestion
- Arm pain (more commonly the left arm, but may be either arm)
- Upper back pain
- General malaise (vague feeling of illness)
- No symptoms (Approximately one quarter of all heart attacks are silent, without chest pain or new symptoms. Silent heart attacks are especially common among patients with diabetes mellitus)
Even though the symptoms of a heart attack at times can be vague and mild, it is important to remember that heart attacks producing no symptoms or only mild symptoms can be just as serious and life-threatening as heart attacks that cause severe chest pain. Too often patients attribute heart attack symptoms to "indigestion," " fatigue," or " stress," and consequently delay seeking prompt medical attention. One cannot overemphasize the importance of seeking prompt medical attention in the presence of symptoms that suggest a heart attack. Early diagnosis and treatment saves lives, and delays in reaching medical assistance can be fatal. A delay in treatment can lead to permanently reduced function of the heart due to more extensive damage to the heart muscle. Death also may occur as a result of the sudden onset of arrhythmias such as ventricular fibrillation. What should you do if you experience these symptoms? Doctors agree that if you're in doubt, get checked out anyway. Even if you're not sure if something is really wrong, you should call 9-1-1 if you experience heart attack symptoms. Prompt administration of drugs can help restore circulation to the heart and increase your chances of survival. Reference: U.S. NIH, National Heart, Blood, and Lung Institute (NHLBI)</FONT> _________________
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.
|
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Fri Jan 01, 2010 12:08 pm | |
| BIOLOGI JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH Jantung merupakan suatu organ otot berongga yang terletak di pusat dada. Bagian kanan dan kiri jantung masing masing memiliki ruang sebelah atas (atrium yang mengumpulkan darah dan ruang sebelah bawah (ventrikel) yang mengeluarkan darah. Agar darah hanya mengalir dalam satu arah, maka ventrikel memiliki satu katup pada jalan masuk dan satu katup pada jalan keluar.
Fungsi utama jantung adalah menyediakan oksigen ke seluruh tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida). Jantung melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida; jantung kemudian mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke jaringan di seluruh tubuh.
FUNGSI JANTUNG Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol); selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua atrium mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua ventrikel juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan.
Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida dari seluruh tubuh mengalir melalui 2 vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam ventrikel kanan. Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan.
Darah yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri. Peredaran darah diantara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam atrium kiri akan didorong ke dalam ventrikel kiri, yang selanjutnya akan memompa darah yang kaya akan oksigen ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru.
PEMBULUH DARAH Keseluruhan sistem peredaran (sistem kardiovaskuler) terdiri dari arteri,arteriola, kapiler, venula dan vena. Arteri (kuat dan lentur) membawa darah dari jantung dan menanggung tekanan darah yang paling tinggi. Kelenturannya membantu mempertahankan tekanan darah diantara denyut jantung. Arteri yang lebih kecil dan arteriola memiliki dinding berotot yang menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau menurunkan aliran darah ke daerah tertentu.
Kapiler merupakan pembuluh darah yang halus dan berdinding sangat tipis, yang berfungsi sebagai jembatan diantara arteri (membawa darah dari jantung) dan vena (membawa darah kembali ke jantung). Kapiler memungkinkan oksigen dan zat makanan berpindah dari darah ke dalam jaringan dan memungkinkan hasil metabolisme berpindah dari jaringan ke dalam darah.
Dari kapiler, darah mengalir ke dalam venula lalu ke dalam vena, yang akan membawa darah kembali ke jantung. Vena memiliki dinding yang tipis, tetapi biasanya diameternya lebih besar daripada arteri; sehingga vena mengangkut darah dalam volume yang sama tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah dan tidak terlalu dibawah tekanan.
PASOKAN DARAH KE JANTUNG Otot jantung (miokardium) sendiri menerima sebagian dari sejumlah volume darah yang mengalir melalui atrium dan ventrikel Suatu sistem arteri dan vena (sirkulasi koroner) menyediakan darah yang kaya akan oksigen untuk miokardium dan kemudian mengembalikan darah yang tidak mengandung oksigen ke dalam atrium kanan. Arteri koroner kanan dan arteri koroner kiri merupakan cabang dari aorta; vena kardiak mengalirkan darah ke dalam sinurskoroner, yang akan mengembalikan darah ke dalam atrium kanan. Sebagian besar darah mengalir ke dalam sirkulasi koroner pada saat jantung sedang mengendur diantara denyutnya (selama diastol ventrikuler).
GEJALA-GEJALA PENYAKIT JANTUNG 1. Nyeri Jika otot tidak mendapatkan cukup darah (suatu keadaan yang disebut iskemi), maka oksigen yang tidak memadai dan hasil metabolisme yang berlebihan menyebabkan kram atau kejang. Angina merupakan perasaan sesak di dada atau perasaan dada diremas-remas, yang timbul jika otot jantung tidak mendapatkan darah yang cukup. Jenis dan beratnya nyeri atau ketidaknyamanan ini bervariasi pada setiap orang. Beberapa orang myang mengalami kekurangan aliran darah bisa tidak merasakan nyeri sama sekali (suatu keadaan yang disebut silent ischemia). Jika darah yang mengalir ke otot yang lainnya (terutama otot betis) terlalu sedikit, biasanya penderita akan merasakan nyeri otot yang menyesakkan dan melelahkan selama melakukan aktivitas (klaudikasio).
Perikarditis (peradangan atau cedera pada kantong yang mengelilingi jantung) menyebabkan nyeri yang akan semakin memburuk ketika penderita berbaring dan akan membaik jika penderita duduk dan membungkukkan badannya ke depan. Aktivitas fisik tidak menyebabkan nyeri bertambah buruk. Jika menarik nafas atau menghembuskan nafas menyebabkan nyeri semakin membaik atau semakin memburuk, maka kemungkinan juga telah terjadi pleuritis (peradangan pada selaput yang membungkus paru-paru).
Jika sebuah arteri robek atau pecah, penderita bisa merasakan nyeri tajam yang hilang-timbul dengan cepat dan tidak berhubungan dengan aktivitas fisik. Kadang arteri utama (terutama aorta) mengalami kerusakan. Suatu aneurisma (penonjolan aorta) bisa secara mendadak mengalami kebocoran atau lapisannya mengalami robekan kecil, sehingga darah menyusup diantara lapisan-lapisan aorta (diseksi aorta). Hal ini secara tiba-tiba menyebabkan nyeri hebat yang hilang-timbul karena terjadi kerusakan yang lebih lanjut (robeknya aorta) atau berpindahnya darah dari saluran asalnya. Nyeri dari aorta seringkali dirasakan di leher bagian belakang, diantara bahu, punggung sebelah bawah atau di perut.
Katup diantara atrium kiri dan ventrikel kiri bisa menonjol ke dalam atrium kiri pada saat ventrikel kiri berkontraksi (prolaps katup mitralis). Penderita kadang merasakan nyeri seperti ditikam atau ditusuk jarum. Biasanya nyeri terpusat di bawah payudara kiri dan tidak dipengaruhi oleh posisi maupun aktivitas fisik.
2. Sesak nafas Sesak nafas merupakan gejala yang biasa ditemukan pada gagal jantung. Sesak merupakan akibat dari masuknya cairan ke dalam rongga udara di paru-paru (kongesti pulmoner atau edema pulmoner).
Pada stadium awal dari gagal jantung, penderita merasakan sesak nafas hanya selama melakukan aktivitas fisik. Sejalan dengan memburuknya penyakit, sesak akan terjadi ketika penderita melakukan aktivitas yang ringan, bahkan ketika penderita sedang beristirahat (tidak melakukan aktivitas). Sebagian besar penderita merasakan sesak nafas ketika sedang berada dalam posisi berbaring karena cairan mengalir ke jaringan paru-paru. Jika duduk, gaya gravitasi menyebabkan cairan terkumpul di dasar paru-paru dan sesak akan berkurang.
Sesak nafas pada malam hari (nokturnal dispneu) adalah sesak yang terjadi pada saat penderita berbaring di malam hari dan akan hilang jika penderita duduk tegak. Sesak nafas tidak hanya terjadi pada penyakit jantung; penderita penyakit paru-paru, penyakit otot-otot pernafasan atau penyakit sistem saraf yang berperan dalam proses pernafasan juga bisa mengalami sesak nafas. Setiap penyakit yang mengganggu keseimbangan antara persediaan dan permintaan oksigen bisa menyebabkan sesak nafas (misalnya gangguan fungsi pengangkutan oksigen oleh darah pada anemia atau meningkatnya metabolisme tubuh pada hipertiroidisme).
3. Kelelahan atau kepenatan Jika jantung tidak efektif memompa, maka aliran darah ke otot selama melakukan aktivitas akan berkurang, menyebabkan penderita merasa lemah dan lelah. Gejala ini seringkali bersifat ringan. Untuk mengatasinya, penderita biasanya mengurangi aktivitasnya secara bertahap atau mengira gejala ini sebagai bagian dari penuaan.
4. Palpitasi (jantung berdebar-debar) Biasanya seseorang tidak memperhatikan denyut jantungnya. Tetapi pada keadaan tertentu (misalnya jika seseorang yang sehat melakukan olah raga berat atau mengalami hal yang dramatis), dia bisa merasakan denyut jantungnya. Jantungnya berdenyut dengan sangat kuat atau sangat cepat atau tidak teratur. Dokter bisa memperkuat gejala ini dengan meraba denyut nadi dan mendengarkan denyut jantung melalui stetoskop. Palpitasi yang timbul bersamaan dengan gejala lainnya (sesak nafas, nyeri, kelelahan, kepenatan atau pingsan) kemungkinan merupakan akibat dari irama jantung yang abnormal atau penyakit jantung yang serius.
5. Pusing & pingsan Penurunan aliran darah karena denyut atau irama jantung yang abnormal atau karena kemampuan memompa yang buruk, bisa menyebabkan pusing dan pingsan. Gejala ini juga bisa disebabkan oleh penyakit otak atau saraf tulang belakang, atau bisa tanpa penyebab yang serius. Emosi yang kuat atau nyeri (yang mengaktifkan sebagian dari sistem saraf), juga bisa menyebabkan pingsan.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 6:24 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Fri Jan 01, 2010 12:28 pm | |
| SERANGAN JANTUNG Serangan Jantung (infark miokardial), (myocard infarct),(miokard infark) adalah suatu keadaan dimana secara tiba-tiba terjadi pembatasan atau pemutusan aliran darah ke jantung, yang menyebabkan otot jantung (miokardium) mati karena kekurangan oksigen.
PENYEBAB Serangan jantung biasanya terjadi jika suatu sumbatan pada arteri koroner menyebabkan terbatasnya atau terputusnya aliran darah ke suatu bagian dari jantung. Jika terputusnya atau berkurangnya aliran darah ini berlangsung lebih dari beberapa menit, maka jaringan jantung akan mati. Kemampuan memompa jantung setelah suatu serangan jantung secara langsung berhubungan dengan luas dan lokasi kerusakan jaringan (infark). Jika lebih dari separuh jaringan jantung mengalami kerusakan, biasanya jantung tidak dapat berfungsi dan kemungkinan terjadi kematian. Bahkan walaupun kerusakannya tidak luas, jantung tidak mampu memompa dengan baik, sehingga terjadi gagal jantung atau syok.
Jantung yang mengalami kerusakan bisa membesar, dan sebagian merupakan usaha jantung untuk mengkompensasi kemampuan memompanya yang menurun (karena jantung yang lebih besar akan berdenyut lebih kuat). Jantung yang membesar juga merupakan gambaran dari kerusakan otot jantungnya sendiri. Pembesaran jantung setelah suatu serangan jantung memberikan prognosis yang lebih buruk. Penyebab lain dari serangan jantung adalah:
#Suatu bekuan dari bagian jantungnya sendiri. Kadang suatu bekuan (embolus) terbentuk di dalam jantung, lalu pecah dan tersangkut di arteri koroner. # Kejang pada arteri koroner yang menyebabkan terhentinya aliran darah. Kejang ini bisa disebabkan oleh obat (seperti kokain) atau karena merokok, tetapi kadang penyebabnya tidak diketahui.
GEJALA Sekitar 2 dari 3 orang yang mengalami serangan jantung, beberapa hari sebelum terjadinya serangan merasakan nyeri dada yang hilang-timbul, sesak nafas atau kelelahan. Nyeri dada semakin sering muncul bahkan setelah melakukan aktivitas fisik yang ringan. Unstable angina seperti ini bisa berakhir menjadi suatu serangan jantung. Nyeri di pertengahan dada menjalar ke punggung, rahang atau lengan kiri; atau yang lebih jarang menjalar ke lengan kanan. Nyeri bisa timbul di tempat-tempat itu tanpa nyeri dada sama sekali.
Nyeri pada serangan jantung mirip dengan nyeri pada angina tapi lebih hebat dan lebih lama, tidak berkurang dengan istirahat maupun pemberian nitroglliserin. Kadang-kadang nyeri dirasakan di perut dan disalahartikan sebagai salah makan, terutama karena setelah penderita bersendawa nyeri agak berkurang atau hilang untuk sementara waktu. Gejala lainnya adalah rasa seperti akan pingsan dan jantung berdebar. Irama jantung abnormal (aritmia) bisa mempengaruhi kemampuan memompa jantung atau bisa menyebabkan cardiac arrest (jantung berhenti memompa secara efektif), sehingga terjadi penurunan kesadaran atau kematian.
Selama serangan, penderita bisa merasakan gelisah, berkeringat dan cemas dan bisa merasa ajalnya akan segera tiba. Bibir, tangan dan kaki tampak kebiruan. Penderita usia lanjut bisa mengalami disorientasi (linglung). Sebanyak 1 diantara 5 orang yang mengalami serangan jantung, hanya memiliki gejala yang ringan atau tanpa gejala sama sekali. Serangan jantung seperti ini hanya bisa dikenali dari pemeriksaan rutin EKG beberapa waktu kemudian.
KOMPLIKASI Komplikasi yang sering terjadi adalah ruptur miokardial, gumpalan darah, aritmia (gangguan irama jantung), gagal jantung atau syok atau perikarditis.
Ruptur miokardial Otot jantung yang mengalami kerusakan akan menjadi lemah, sehingga kadang mengalami robekan karena tekanan dari aksi pompa jantung. 2 bagian jantung yang sering mengalami robekan selama atau setelah suatu serangan jantung adalah dinding otot jantung dan otot yang mengendalikan pembukaan dan penutupan salah satu katup jantung (katup mitralis). Jika ototnya robek, maka katup tidak dapat berfungsi sehingga secara tiba-tiba terjadi gagal jantung yang berat.
Otot jantung pada dinding yang membatasi kedua ventrikel (septum) atau otot pada dinding luar jantung juga bisa mengalami robekan. Robekan septum kadang dapat diperbaiki melalui pembedahan, tetapi robekan pada dinding luar hampir selalu menyebabkan kematian. Otot jantung yang mengalami kerusakan karena serangan jantung tidak akan berkontraksi dengan baik meskipun tidak mengalami robekan. Otot yang rusak ini digantikan oleh jaringan parut fibrosa yang kaku dan tidak dapat berkontraksi. Kadang bagian ini akan menggembung pada saat seharusnya berkontraksi. Untuk mengurangi luasnya daerah yang tidak berfungsi ini bisa diberikan ACE-inhibitor.
Otot yang rusak bisa membentuk penonjolan kecil pada dinding jantung (aneurisma). Adanya aneurisma bisa diketahui dari gambaran EKG yang tidak normal, dan untuk memperkuat dugaan ini bisa dilakukan ekokardiogram. Aneurisma tidak akan mengalami robekan, tetapi bisa menyebabkan irama jantung yang tidak teratur dan bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan memompa jantung. Darah yang melalui aneurisma akan mengalir lebih lambat, karena itu bisa terbentuk bekuan di dalam ruang-ruang jantung.
Bekuan darah Pada sekitar 20-60% orang yang pernah mengalami serangan jantung, terbentuk bekuan darah di dalam jantung. Pada 5% dari penderita ini, bekuan bisa pecah, mengalir di dalam arteri dan tersangkut di pembuluh darah yang lebih kecil di seluruh tubuh, menyebabkan tersumbatnya aliran darah ke sebagian dari otak (menyebabkan stroke) atau ke organ lainnya. Untuk menemukan adanya bekuan di dalam jantung atau untuk mengetahui faktor predisposisi yang dimiliki oleh penderita, dilakukan ekokardiogram. Untuk membantu mencegah pembentukan bekuan darah ini, seringkali diberikan antikoagulan (misalnya heparin dan warfarain). Obat ini biasanya diminum selama 3-6 bulan setelah serangan jantung.
DIAGNOSA Jika seorang pria diatas 35 tahun atau seorang wanita diatas 50 tahun mengeluh nyeri dada, biasanya dipertimbangkan kemungkinan suatu serangan jantung. Diagnosis serangan jantung bisa diperkuat dengan melakukan pemeriksaan berikut:
1. EKG Bila diduga terjadi suatu serangan jantung, maka EKG merupakan pemeriksan diagnostik awal yang paling penting. Beberapa kelainan bisa terlihat pada EKG, tergantung ukuran dan lokasi dari kerusakan jantung.
2. Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah dilakukan untuk menentukan kadar enzim tertentu. Enzim CK-MB dalam keadaan normal ditemukan di dalam otot jantung dan dilepaskan ke dalam darah jika terjadi kerusakan jantung. Peningkatan kadar enzim ini akan tampak dalam waktu 6 jam setelah serangan jantung dan menetap selama 36-48 jam. Kadar enzim ini biasanya diperiksa pada saat penderita masuk rumah sakit dan setiap 6-8 jam selama 24 jam berikutnya.
3. Ekokardiogram Ekokardiogram akan menggambarkan berkurangnya pergerakan sebagian dari dinding ventrikel kiri (ruang jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh), yang merupakan petunjuk adanya kerusakan karena serangan jantung.
4. Radionuclide imaging. Penggambaran dengan radionuklida bisa menunjukkan berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otot jantung, yang merupakan petunjuk adanya jaringan parut (jaringan yang mati) akibat serangan jantung.
PENGOBATAN Serangan jantung merupakan suatu keadaan darurat. Separuh kematian akibat serangan jantung terjadi dalam waktu 3-4 jam pertama setelah terjadinya gejala. Semakin cepat pertolongan diberikan, semakin besar kemungkinan penderita dapat tertolong. Seseorang yang diduga mengalami serangan jantung biasanya dirawat di unit perawatan jantung, dan untuk menilai kerusakan jantung, dilakukan pemantauan ketat terhadap irama jantung, tekanan darah dan jumlah oksigen dalam darahnya.
Pengobatan Awal Biasanya segera diberikan tablet Aspirin yang harus dikunyah. Pemberian obat ini akan mengurangi pembentukan bekuan darah di dalam arteri koroner. Beta-blocker diberikan untuk memperlambat denyut jantung dan supaya jantung tidak bekerja terlalu berat memompa darah ke seluruh tubuh.Oksigen seringkali diberikan melalui sungkup muka atau selang kecil yang dimasukkan ke dalam lubang hidung. Dengan pemberian oksigen, maka tekanan oksigen di dalam darah akan meningkat sehingga lebih banyak oksigen yang sampai ke jantung dan kerusakan jantung dapat diperkecil.
Jika suatu penyumbatan dalam arteri koroner dapat segera diatasi, maka jaringan jantung dapat diselamatkan. Bekuan darah dalam arteri seringkali dapat dilarutkan dengan terapi trombolitik, yaitu dengan memberikan streptokinase, urikinase dan aktivator plasminogen jaringan. Agar efektif, obat ini diberikan secara intravena dalam waktu 6 jam setelah terjadinya gejala serangan jantung; karena jika sudah lebih dari 6 jam, beberapa kerusakan sifatnya akan menetap.
Pengobatan dini meningkatkan aliran darah pada 60-80% penderita dan bisa meminimalkan kerusakan jaringan jantung. Aspirin (mencegah pembentukan bekuan darah dari platelet) atau heparin (menghentikan perdarahan) bisa menambah efektivitas dari terapi trombolitik.
Terapi trombolitik bisa menyebabkan perdarahan, sehingga biasanya tidak diberikan kepada penderita yang: - mengalami perdarahan saluran pencernaan - memiliki tekanan darah tinggi yang berat - baru menderita stroke - baru menjalani pembedahan. Penderita lanjut usia yang tidak memiliki keadaan tersebut diatas, bisa menjalani terapi trombolitik dengan aman.
Beberapa rumah sakit menggunakan angioplasti atau pembedahan bypass arteri koroner segera setelah serangan jantung. Nitroglycerin bisa mengatasi nyeri dengan mengurangi beban kerja jantung, dan biasanya pada awalnya diberikan secara intravena. Jika obat yang digunakan untuk meningkatkan aliran darah arteri koroner juga tidak berhasil mengurangi gejala serangan jantung, biasanya diberikan suntikan morfin. Morfin juga merupakan obat penenang dan mengurangi beban kerja jantung.
Pengobatan Lanjutan Seseorang yang baru mengalami serangan jantung, harus menjalani tirah baring di dalam ruangan yang tenang selama beberapa hari; karena kegembiraan, aktivitas fisik dan stres emosional bisa memperberat kerja jantung.Pelunak tinja dan pencahar bisa digunakan untuk mencegah sembelit.Kecemasan dan depresi sering terjadi setelah suatu serangan jantung. Kecemasan yang berat bisa membebani jantung, sehingga diberikan obat penenang. ACE-inhibitor secara rutin diberikan untuk mengurangi pembesaran jantung, yang sering terjadi setelah suatu serangan jantung.
PROGNOSIS Sebagian besar penderita yang bertahan hidup selama beberapa hari setelah serangan jantung dapat mengalami kesembuhan total; tetapi sekitar 10% meninggal dalam waktu 1 tahun. Kematian terjadi dalam waktu 3-4 bulan pertama, terutama pada penderita yang kembali mengalami angina, aritmia ventrikuler dan gagal jantung.
REHABILITASI Rehabilitasi jantung merupakan bagian yang penting dalam proses penyembuhan. Tetap berbaring di tempat tidur lebih dari 2-3 hari akan menyebabkan terhentinya aktivitas fisik dan kadang menyebabkan depresi dan rasa ketergantungan. Pada hari ketiga atau keempat setelah terjadinya serangan jantung, penderita secara bertahap dilatih duduk, melakukan kegiatan pasif, berjalan ke kamar mandi dan melakukan kegiatan yang tidak menimbulkan stres (misalnya membaca) . Setelah 3-6 minggu, penderita harus secara perlahan meningkatkan aktivitasnya. Jika tidak terjadi sesak nafas dan nyeri dada, aktivitas normal bisa kembali dilakukan setelah sekitar 6 minggu.
PENCEGAHAN # Sedapat mungkin mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit arteri koroner, terutama yang dapat dirubah oleh penderita: Berhenti merokok # Menurunkan berat badan # Mengendalikan tekanan darah # Menurunkan kadar kolesterol darah dengan diet atau dengan obat # Melakukan olah raga secara teratur.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Thu Mar 10, 2011 9:04 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Fri Jan 01, 2010 12:52 pm | |
| 5 TANDA SERANGAN JANTUNG YANG PALING SERING TERJADI Selasa, 25/05/2010 07:50 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Jantung adalah pertahanan terakhir tubuh selain otak yang menentukan kehidupan seseorang. Jika aliran darah tidak lancar bisa menyebabkan gagal jantung dan kematian. Kenali 5 tanda yang paling sering terjadi jika terkena serangan jantung. Saat ini penyakit jantung koroner masih menjadi hal yang menakutkan banyak orang. Tapi masyarakat belum terlalu mengenali gejala dari penyakit ini.
Berdasarkan penelitian dari MiDAS di Milan, Italia tahun 2006 lalu, hampir sekitar 52 persen penderita penyakit jantung koroner tidak mengalami keluhan nyeri dada atau sering disebut dengan silent ischemia. Penyakit jantung koroner adalah suatu penyakit akibat penyempitan atau tersumbatnya pembuluh darah arteri koroner, yaitu pembuluh darah yang mengaliran darah dengan membawa sari makanan dan oksigen yang dibutuhkan otot jantung agar bisa berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh.
"Jantung manusia memompa darah ke seluruh tubuh secra konstan yaitu sekitar 4-5 liter darah setiap menitnya. Karena itu jika aliran darah tersebut tidak lancar bisa mengakibatkan kerusakan otot jantung yang menyebabkan gangguan pompa jantung (gagal jantung) dan kematian," ungkap Dr M. Taufik Arifin Pohan, SpJP dalam siaran pers, Selasa (25/5/2010). Dr Taufik menuturkan rasa sakit yang terasa di dada bagian tengah kiri akibat kurangnya oksigen yang dialirkan ke otot jantung karena penyempitan tersebut.
Lima tanda atau gejala peyakit jantung koroner (serangan jantung) yang paling sering terjadi adalah: 1. Rasa tertekan (serasa ditimpa beban, sakit, terjepit dan terbakar) yang menyebabkan sesak napas dan tercekik di leher. 2. Rasa sakit ini bisa menjalar ke lengan kiri,leher dan punggung. 3. Rasa sakitnya bisa berlangsung sekitar 15-20 menit dan terjadi secara terus menerus. 4. Timbul keringat dingin, tubuh lemah, jantung berdebar dan bahkan hingga pingsan. 5. Rasa sakit ini bisa berkurang saat sedang istirahat, tapi akan bertambah berat jika sedang beraktivitas.
Pemicu serangan jantung antara lain olahraga yang berlebihan, marah yang mengeluarkan banyak emosi atau kegiatan lain yang dilakukan secara berlebihan. "Meski demikian, deteksi awal dan penanganan cepat saat terjadi serangan bisa memberikan manfaat pencegahan dari bahaya kematian dan gagal jantung di kemudian hari," ungkap dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah.
Salah satu cara yang bisa menjadi solusi diagnostik dan penanganan penyumbatan pembuluh darah koroner adalah dengan angiografi koroner. Prosedur pemeriksaan ini menggunakan minimal invasif dengan sinar X (X-ray) yang bertujuan memeriksa struktur pembuluh darah jantung, ruang jantung, katup jantung dan otot jantung dengan kamera khusus. Hingga kini pemeriksaan tersebut masih menjadi standar emas untuk memperlihatkan bagian-bagian pembuluh darah koroner yang mengalami penyempitan, karena memiliki tingkat ketepatan paling tinggi yaitu mendekati 100 persen.
Prosedur ini dengan cara menginjeksikan sejumlah bahan kontras ke dalam selang pipa (kateter) yang melalui pembuluh darah utama tubuh (aorta), sehingga didapatkan pencitraan gambar yang lebih jelas saat kontras tersebut berjalan melalui arteri koroner. Hal ini sangat penting untuk tindakan intervensi kardiologi, karena memiliki akurasi penempatan dan ukuran stent atau alat koreksi akan menjadi lebih tepat. Namun bukan berarti penyakit ini tidak bisa dicegah, ada dua cara pencegahan yang bisa dilakukan agar terhindar dari penyakit jantung koroner yaitu pencegahan primer dan pencegahan sekunder.
Pencegahan primer, yaitu berusaha agar terhindar dari penyakit jantung koroner saat belum terdeteksi penyakit jantung koroner tapi ada faktor risiko dari keluarga atau memiliki diabetes melitus. Pencegahan sekunder, yaitu pencegahan dari seorang penderita penyakit jantung koroner agar terhindar berulangnya penyempitan pembuluh darah koroner kembali.
"Hal yang harus dilakukan adalah mengontrol kadar lemak darah kolesterol, menjaga tekanan darah agar terkontrol, berhenti merokok, menghindari makanan berlemak, mencukupkan konsumsi sayur dan buah, berolahraga teratur, mengurangi berat badan serta stres," ujar dokter kelahiran 49 tahun silam ini.
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:27 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Tue Jan 12, 2010 6:49 am | |
| GEJALA GEJALA SERANGAN JANTUNG
1. Rasa tidak enak pada rongga dada, rasa diremas atau sakit di dada bagian tengah atau didaerah tulang belikat atau tulang belakang.
2. Rasa tidak enak atau sakit yang menyebar ke bagian bagian lain tubuh bagian atas, seperti pada salah satu lengan atau keduanya, punggung, leher, dagu, atau perut.
3. Napas pendek tersengal sengal, sesak, lemas, lelah tanpa sebab yang jelas, kembung atau terasa penuh gas di perut.
4. Detak jantung tidak teratur, berdebar debar dan gelisah yang tidak dapat dijelaskan.
5. Keringat berlebihan atau keringat dingin.
6. Pusing disertai muntah muntah atau pingsan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Fri Jan 15, 2010 4:45 pm | |
| SAKIT DI DADA TIDAK SELALU TANDA PENYAKIT JANTUNG Senin, 02/11/2009 14:00 WIB Nurul Ulfah - detikHealth Jakarta, Nyeri dada sering dikaitkan dengan penyakit jantung. Tapi jangan salah dulu, tak selamanya nyeri di dada adalah pertanda jantung. Namun jangan senang juga, berhati-hatilah karena bisa jadi itu pertanda penyakit kronis lain. Apa saja? Ketika bagian atas jantung (myocardium) tidak menerima asupan darah dan dinding bagian kiri tidak punya suplai darah, timbul rasa nyeri di dada. Sakit dada yang berasal dari jantung disebut juga dengan angina. Umumnya terjadi di bagian tengah dada, tepatnya di bagian tulang dada tapi bisa merambat ke bagian leher hingga lengan.
Mereka yang nyeri dada akibat sakit jantung akan merasa sangat berat ketika bernafas atau merasa seperti ada orang yang mengikat bagian dadanya. Gejala ini memang sangat umum terjadi pada penderita penyakit jantung, tapi mereka yang tidak punya riwayat penyakit itu pun sebaiknya waspada bila timbul rasa nyeri di dada. Dikutip dari Dailymail, Senin (2/11/2009), Dr Ellie Cannon pun menyebutkan penyakit lainnya yang memicu rasa sakit di dada, diantaranya :
1.Infeksi paru-paru Penyakit akibat infeksi paru-paru bisa pneumonia atau bahkan flu. Infeksi ini sering menimbulkan gejala sakit dada yang dikenal dengan pleuritic chest pain. Gejalanya hanya terjadi di satu sisi paru-paru dan terasa sangat tajam dan menusuk, apalagi ketika mengambil nafas dalam-dalam. Gejala ini juga bisa terjadi ketika ada gumpalan dalam paru-paru yang dikenal dengan pulmonary embolus. Gejala ini bisa mengakibatkan susah bernafas dan kekurangan oksigen. Biasanya rasa nyeri dada akibat infeksi paru-paru datang hanya sesekali dan tidak konsisten.
2. Nyeri otot dada Nyeri pada bagian otot dada diakibatkan adanya inflamasi (peradangan) pada sendi-sendi antara tulang rusuk dan tulang rawan. Sakit dada jenis ini biasanya terjadi terus menerus dan akan terasa semakin parah ketika bergerak, batuk atau bersin. Tidak sama dengan penyebab sakit dada lainnya, nyeri pada otot dada bisa ditimbulkan sendiri dengan cara menekan bagian dada yang sakit.
3. Penyakit lainnya Jika Anda merasa tidak memiliki semua penyakit itu tapi terkadang sering mengalami nyeri di dada, mungkin Anda punya penyakit yang belum terdeteksi yang berasal dari liver, empedu, payudara atau bahkan perut. Rasa gelisah pun ternyata bisa memicu rasa sakit di dada.
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:27 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Tue Jan 19, 2010 12:27 pm | |
| GEJALA SERANGAN JANTUNG PADA PEREMPUAN Jumat, 02/04/2010 12:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Serangan jantung masih dianggap penyakit kaum laki-laki, padahal perempuan juga bisa terkena. Tapi banyak perempuan yang tidak menyadari sehingga jarang terdeteksi. Kenali gejala serangan jantung pada perempuan. Penelitian yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa perempuan sering mengalami gejala satu bulan atau lebih sebelum akhirnya mendapatkan serangan jantung. Diantara 515 perempuan yang diteliti, sebanyak 95 persen mengatakan bahwa mereka baru mengetahui gejala yang berbeda setelah satu bulan sebelum terkena serangan jantung atau Acute Myocardial Infarction (AMI).
"Sayangnya banyak perempuan yang tidak tahu bahwa gejala yang dialaminya adalah tanda serangan jantung, karena gejala yang timbul bisa secara signifikan berbeda dengan kaum laki-laki," ujar C Noel Bairey Merz, M.D ketua American College of Cardiology's Prevention and Cardiovascular Diseases Committee, seperti dikutip dari Medicinenet, Jumat (2/4/2010).
Berdasarkan penelitian didapatkan sekitar kurang dari 30 persen perempuan mengalami nyeri dada atau rasa ketidaknyamanan sebelum serangan jantung, dan sebanyak 43 persen tidak mengalami nyeri dada selama fase serangan jantung. Namun kebanyakan dokter tetap mempertimbangkan nyeri dada sebagai gejala serangan jantung yang penting bagi laki-laki dan perempuan.
"Semakin jelas bahwa gejala yang dialami oleh perempuan tidak bisa ditebak seperti laki-laki. Hal ini menunjukkan harus adanya kesadaran baik dari pihak perempuan maupun dokternya mengenai gejala yang dapat mengarah ke serangan jantung," ujar Patricia A Grady, PhD, RN, direktur dari NINR (National Institute of Nursing Research). Patricia menambahkan hal ini penting agar tidak melewatkan kesempatan sedini mungkin untuk mencegah atau mengurangi AMI, karena hingga kini AMI masih menjadi penyebab pertama kematian pada laki-laki maupun perempuan.
Sebelum serangan jantung, ada beberapa gejala yang biasanya dialami oleh perempuan yaitu: 1. Kelelahan yang tidak biasa (dialami sekitar 70 persen perempuan) 2. Gangguan tidur (dialami sekitar 48 persen) 3. Sesak napas (dialami sekitar 42 persen) 4. Gangguan pencernaan (dialami sekitar 39 persen) 5. Rasa ketakutan (dialami sekitar 35 persen).
Saat serangan jantung terjadi ada beberapa gejala yang biasa menyertai yaitu: 1. Sesak napas (dialami sekitar 58 persen) 2. Lemah (dialami sekitar 55 persen) 3. Kelelahan yang tidak biasa (dialami sekitar 43 persen) 4. Keringat dingin (dialami sekitar 39 persen) 5. Pusing (dialami sekitar 39 persen).
Perempuan yang mengalami kematian akibat serangan jantung karena tidak menyadari gejala yagng timbul. Untuk itu kenali gejala serangan jantung yang terjadi pada perempuan karena penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa melihat jenis kelaminnya. (ver/ir)
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:30 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Sat Jan 23, 2010 4:20 am | |
| PAHAMI TANDA TANDA SERANGAN JANTUNG Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 05/08/2009 16:55 WIB Jakarta, Penyakit jantung koroner atau serangan jantung merupakan sakit yang paling banyak mengakibatkan kematian mendadak. Serangan jantung bikin bergidik karena prosesnya ada yang dalam hitungan detik saja. Ayo, pahami tanda-tanda serangan jantung? Penyakit jantung sendiri terdiri dari berbagai macam, seperti penyakit jantung koroner (serangan jantung), penyakit jantung hipertensi, penyakit jantung anemia, penyakit jantung tiroid serta penyakit jantung bawaan.
Serangan jantung itu sendiri disebabkan oleh adanya atherosclerosis yaitu pengerasan pembuluh darah karena adanya kerak yang menempel. Kerak tersebut makin lama makin menumpuk yang bisa menyumbat saluran pembuluh darah koroner sehingga mengakibatkan orang menjadi cepat capek atau sesak nafas. "Kerak yang menumpuk tersebut suatu saat nanti bisa pecah dan menutupi saluran pembuluh darah itulah yang disebut dengan serangan jantung. Serangan jantung yang mengakibatkan kematian mendadak biasanya karena kerak tersebut menutupi seluruh pembuluh darah," ujar Dr. Sally Aman Nasution, SpPD dalam jumpa pers di RSCM, Jakarta, Rabu (5/8/2009).
Dr. Sally mengatakan ada beberapa hal yang menunjukkan tanda-tanda serangan jantung, yaitu: 1. Nyeri di dada, nyeri yang dirasakan seperti diperas atau tertimpa benda berat. Nyeri ini terjadi pada tulang dada bagian tengah yang rasa sakitnya bisa menjalar ke lengan kiri, tulang punggung, rahang bawah atau juga ke ulu hati. Biasanya menyebabkan sesak nafas dan terjadi selama 10-15 menit. 2. Mengeluarkan keringat yang berlebihan. 3. Mual dan muntah. 4. Pemicu lainnyanya seperti olahraga yang berlebihan, marah yang mengeluarkan banyak emosi atau kegiatan lain yang tidak biasa dilakukan secara berlebihan.
Jika mengalami tanda-tanda tersebut segera beri pertolongan dengan membawa pasien ke rumah sakit agar cepat ditangani, karena jika serangan jantung yang terjadi masih ringan pasien masih bisa disembuhkan.
Untuk itu sebaiknya setiap orang mengenali faktor risiko yang ada pada diri masing-masing atau keluarganya. Faktor risiko sendiri dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Faktor yang tidak bisa dimodifikasi, seperti usia, jenis kelamin laki-laki biasanya lebih sering, ada riwayat keluarga berpenyakit jantung dan menopause karena hormon estrogen sudah tidak bisa melindungi lagi. 2. Faktor yang bisa dimodifikasi, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol (kolesterol tinggi kerak makin tebal), merokok, gaya hidup buruk, obesitas dan kepribadian (sering stres, cemas atau emosional).
"Beberapa hal yang menyebabkan serangan jantung tersebut berat atau ringan tergantung dari berapa pembuluh yang tersumbat, kondisi dasar jantungnya apakah memang sudah ada kelainan atau belum dan luasnya serangan," ujar Dr. Sally dari Divisi Kardiologi Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM. Kematian akibat serangan jantung bisa mencapai 10 persen yang rata-rata disebabkan oleh keterlambatan pertolongan, beratnya serangan yang terjadi dan masalah keuangan. Untuk itu kenalilah apakah Anda atau orang terdekat sekitar Anda memiliki faktor risiko penyakit jantung dan tanda-tandanya. Periksalah kesehatan seperti pemeriksaan kolesterol, gula darah dan pemeriksaan lainnya secara rutin setidaknya setahun sekali.
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:38 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Sat Jan 23, 2010 4:33 am | |
| TANDA TANDA PENYAKIT JANTUNG YANG SERING DIREMEHKAN Nurul Ulfah - detikHealth - Jumat, 19/02/2010 11:01 WIB New York, Ketika dada terasa sakit, dikiranya ada gangguan pencernaan. Ketika napas terasa berat setelah olahraga atau jalan-jalan, dikiranya masalah paru-paru. Jika Anda berpikir demikian, Anda salah. Semua gejala yang sering dianggap remeh itu adalah gejala penyakit jantung. Banyak orang yang merasa dirinya sehat sering meremehkan gejala itu dan menganggapnya hal biasa. "Hal itu sering terjadi setiap waktu, setiap minggu, setiap hari. Banyak orang yang secara fisik tampak sehat tapi mengeluh seperti itu," ujar pakar kardiolog Dr Kenneth Rosenfield seperti dikutip dari CNN, Jumat (19/2/2010).
Minggu lalu contohnya, mantan presiden Bill Clinton masuk rumah sakit setelah mengalami rasa tidak nyaman pada bagian dadanya. Clinton yang pernah menjalani operasi pada tahun 2004 mulai merasa lelah pada saat natal. "Saya tidak terlalu memperhatikannya hingga sekitar 4 hari yang lalu saya merasa sedikit sakit di dada dan merasa perlu memeriksakan diri," katanya. Tanda-tanda penyakit jantung atau pembuluh arteri terhambat sebenarnya berbeda-beda tiap orang. Untuk itu tiap orang sebaiknya tahu gejala apa saja yang mengindikasikan penyakit jantung, karena suatu gejala bisa saja berbeda dari yang lain.
Menurut American Heart Association, National Heart Lung and Blood Institute dan Mayo Clinic, tanda-tanda berikut perlu dicurigai sebagai penyakit jantung. 1. Rasa tidak nyaman pada dada Meski tidak semua orang mengalaminya, namun rasa tidak enak atau sakit di dada adalah tanda umum penyakit jantung. Rasa sakitnya memang tidak terlalu berat tapi terjadi rutin. Rasa sakit itu relatif sedang dan sering hilang muncul. Rolanda Perkins (39 tahun) baru saja mengalami serangan jantung dua minggu lalu. Awalnya ia mengabaikan rasa sakit di dada karena dikiranya itu hanya masalah pencernaan. "Saya tahu ada sesuatu yang salah dengan sakit itu, tapi saya kira itu hanya masalah pencernaan saja. Rencananya saya akan pergi ke dokter besok pagi tapi ternyata sebelum pagi itu datang saya sudah sesak nafas dan kena serangan jantung," tutur Parkins. Parkins yang kini rutin menjalani olahraga mengatakan bahwa seseorang sebaiknya mendengarkan apa yang tubuh coba katakan melalui suatu tanda. "Tubuh saya berusaha mengatakan sesuatu waktu itu tapi saya tidak mendengarkannya," ujar Parkins.
2. Rasa tidak enak pada bagian atas tubuh Dr Rosenfield dari the Massachusetts General Hospital mengatakan bahwa rasa sakit di beberapa bagian atas tubuh bisa mengindikasikan penyakit jantung. "Saya sering mengatakan pada pasien bahwa gejala yang terasa di daerah pinggang ke atas patut dicurigai penyakit jantung," ujar Dr Rosenfield. Rasa sakit, berat dan tidak nyaman di daerah punggung, leher, lengan, pinggul, bahu, siku, rahang, tenggorokan hingga daun telinga juga berhubungan dengan penyakit jantung. Tapi tentu saja rasa tidak nyaman di daerah itu belum tentu juga penyakit jantung. Untuk itu, pastikan Anda tahu riwayat penyakit keluarga apakah ada yang punya penyakit jantung atau tidak. Jika ya, kemungkinan gejala-gejala di daerah itu juga merupakan tanda penyakit jantung
3. Masalah pencernaan Dr Malissa Wood dari Harvard Medical School mengatakan ada hubungan yang sangat erat antara masalah pencernaan dengan jantung. Ketika Anda sering merasa sakit perut dan mual-mual tanpa sebab, bisa jadi itu pertanda ada masalah di jantung. Dan hal itu memang benar-benar terbukti saat Dr Wood mengalami gejala itu. Setelah dicek, ternyata 92 persen pembuluh koronernya sudah terhambat dan harus segera dilakukan operasi. Jadi ketika Anda sering mengalami masalah pencernaan, ditambah punya tekanan darah tinggi, segera periksa ke dokter.
4. Gejala flu Ketika seorang pasien yang rutin melakukan pemeriksaan jantung EKG tapi merasa tidak punya gejala penyakit jantung ditanya 'Apakah Anda punya tanda-tanda penyakit jantung?', ia menjawab tidak. Tapi ia mengaku sering mengalami flu berat. Dr Robert Superko, pengarang buku 'Before the Heart Attacks' menyebutkan bahwa gejala lelah, capek atau tidak enak badan sering dikaitkan dengan gejala flu, padahal menurut Dr Robert itu adalah salah satu gejala penyakit jantung yang seringkali tidak terdiagnosa.
5. Napas pendek Napas pendek adalah tanda yang paling harus dicurigai sebagai penyakit jantung, bahkan jika Anda tidak punya gejala sakit dada atau gejala penyakit jantung lainnya. Jika Anda punya tanda-tanda seperti di atas sebaiknya segera periksakan ke dokter karena Anda tidak pernah tahu terkena penyakit jantung atau tidak sampai memeriksanya dengan pasti. (fah/ir)
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:46 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Sat Jan 23, 2010 5:26 am | |
| REHABILITASI SETELAH SERANGAN JANTUNG Setelah terjadinya serangan jantung, program rehabilitasi sebaiknya sudah dimulai sedini mungkin, yaitu segera setelah keadaan umum penderita memungkinkan. Dari sekitar 70% penderita yang masih hidup setelah mendapat serangan jantung, ternyata masih mempunyai kemampuan jantung yang cukup untuk dapat kembali ke pekerjaan semula dalam waktu 2 - 4 bulan setelah terkena serangan.
Rehabilitasi dini belum dapat dilakukan bila: 1. Keluhan sesak napas, sakit didada dan berdebar debar. 2. Debar jantung lebih dari 120 kali/menit atau kurang dari 50 kali/menit, atau naik 20 kali per menit pada penderita yang mendapat obat beta bloker. 3. Debar jantung tak beraturan. 4. Tekanan darah sistolik turun 10 - 15 mmHg atau bahkan naik 180 mmHg. 5. Adanya perubahan dari grafik normal pertanda kekurangan oksigen otot bertambah berat.
Idealnya sebelum dipulangkan dari RS dilakukan pemeriksaan yaitu Latih Jantung Minimal, kira kira harus mencapai target debar jantung 70% dari debar jantung maksimal. Pemeriksaan harus dihentikan bila ada nyeri dada, sesak, kelelahan, pusing, kejang otot, denyut jantung melebihi maksimum yang dianjurkan. Latih Jantung Minimal menggunakan sepeda statis, pasien dimonitor ECG, tekanan darah dan denyut jantung sebelum dan sesudah latihan. Denyut jantung maksimal disesuaikan dengan usia adalah: 20 - 29 tahun : 170 kali/menit 30 - 39 tahun : 160 kali/menit 40 - 49 tahun : 150 kali/menit 50 - 59 tahun : 140 kali/menit 60 - 69 tahun : 130 kali/menit Dan pada penderita infark miocard, debar jantung yang dicapai selama latihan harus dikurangi menjadi 70% debar jantung maksimal.
Aktivitas fisik yang sangat dianjurkan adalah JALAN KAKI. Bila sudah sanggup jalan kaki 4,8 - 5,6 km dalam 1 jam ( setara 4 - 5 mets=satuan energi yang dibutuhkan oleh otot dalam mengerjakan satu gerakan terus menerus dalam satu satuan waktu ) tanpa ada salah satu keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, berdebar, dll, dianggap sudah dapat bekerja dengan beban kerja 3 - 4 mets seperti pekerjaan kantor, dll.
Khusus mengenai aktifitas seksual, harus diketahui dengan benar karena aktifitas seksual meningkatkan tekanan darah sistolik dan juga denyut jantung. Aktifitas seksual memerlukan energi sekitar 3 - 4 mets pada pre dan post orgasme, sedangkan pada periode orgasme mencapai 4 - 5 mets. Jadi sebaiknya aktifitas seksual baru dilakukan apabila bekas penderita telah mencapai kemampuan latihan sebesar 5 - 6 mets, kemampuan ini sesuai dengan kemampuan naik tangga. Sebelum melakukan aktifitas seksual, hindari: 1. Hindari aktifitas seksual setelah makan kenyang atau dalam keadaan badan lelah. 2. Suasana yang tidak menyenangkan seperti kepanasan, kedinginan, suasana lingkungan tidak nyaman. 3. Gunakan posisi yang paling sedikit menggunakan tenaga seperti misalnya posisi 'side by side' 4. Segera hubungidokter bila sesak napas atau denyut jantung tidak berkurang setelah 15 menit selesai senggama. 5. Bila timbul nyeri dada saat senggama, ambil obat secepat mungkin ( misalnya nitrogliserin ). Jika nyeri dada tidak hilang segera hubungi dokter. 6. Banyak bekas penderita yang mengalami impotensi, ini kemungkinan besar karena gangguan fisik yang ada dan psikis. Umumnya akan hilang sendiri. 7. Segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah seksual, konsultasikan dengan dokter yang paham mengenai hal ini.
Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan ILUNI FK 1983
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:25 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Thu Feb 04, 2010 8:39 pm | |
| SERANGAN JANTUNG BUKAN AKHIR KEHIDUPAN SEKS Senin, 24/05/2010 14:30 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Chicago, Beberapa orang mengurangi atau bahkan menghindari hubungan seks setelah mengalami serangan jantung, karena takut kambuh. Ternyata tidak selamanya harus demikian, karena itu pasien tidak boleh sungkan untuk membicarakannya dengan dokter. Menurut sebuah penelitian yang dikutip dari Telegraph, Senin (24/5/2010), pasien dan dokter jarang membicarakan seksualitas selama perawatan karena serangan jantung. Hanya 46 persen pasien pria dan 34 persen pasien wanita yang pernah melakukannya saat keluar dari rumah sakit. Jumlah pasien yang memperbincangkan seksualitas dengan dokter makin menurun dalam setahun berikutnya. Hanya 40 persen pasien pria dan 18 persen pasien wanita yang melakukannya. Dampaknya, baik pria maupun wanita cenderung mengurangi frekuensi berhubungan seks. Ini dilakukan tanpa anjuran dari dokter, semata-mata karena khawatir bahwa aktivitas tersebut akan memicu kekambuhan.
Ahli kandungan dan peneliti seksualitas dari University of Chicago, Prof Lindau mengatakan bahwa hubungan seks digolongkan sebagai aktivitas ringan yang tidak membahayakan pasien jantung. Menurutnya dokter bertugas untuk menyampaikan informasi yang benar tentang hubungan seks setelah serangan jantung. "Jika seseorang bisa naik turun tangga, maka berhubungan seks tidak basalah baginya. Kematian saat berhubungan seks pada orang yang pernah mengalami serangan jantung sangat kecil," ungkap Lindau. Dan ketika dibicarakan dengan dokter, hubungan seks tidak lagi menakutkan bagi pasien serangan jantung. Inilah yang terungkap dalam penelitian Prof Lindau.
Penelitian tersebut mengamati 1.200 pria dan 600 wanita yang mengalami serangan jantung. Para pasien yang rata-rata berusia 60 tahun itu disurvei selama mendapat perawatan di rumah sakit hingga setahun sesudahnya. Pada pria, terungkap bahwa pembicaraan tentang seksualitas dengan dokter meningkatkan kepercayaan diri utnuk berhubungan seks hingga 70 persen. Pada wanita juga efektif, meski hanya meningkat sebesar 40 persen. Penelitian itu dipresentasikan dalam konferensi The American Heart Association yang berlangsung di Washington DC. Depresi dan perubahan suasana hati (mood) memang sering terjadi pada pasien yang mengalami serangan jantung, dan turun mempengaruhi kehidupan seksual. Namun biasanya hal itu akan membaik dalam 3 bulan setelah selesai menjalani perawatan.
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:24 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Fri Feb 05, 2010 6:51 pm | |
| SERANGAN JANTUNG TAK PENGARUHI SEKS KOMPAS.com — Pasien yang pernah mengalami serangan jantung pada umumnya khawatir untuk melakukan hubungan seks karena tak ingin dilarikan ke rumah sakit lagi. Padahal, risiko terkena serangan jantung saat sedang bercinta sebenarnya sangat kecil. "Serangan jantung seharusnya tidak menghalangi seseorang untuk menikmati hubungan seks. Apalagi risiko untuk terjadinya serangan jantung lagi ketika berhubungan seks sangat kecil," kata Dr Edward Havranek, kardiologis dari Denver Health Medical Center. Ia menambahkan, jumlah aktivitas fisik yang dikeluarkan seseorang ketika berhubungan intim sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan. "Jauh lebih kecil dibanding membersihkan salju," katanya.
Para ahli dari Mayo Clinic mengatakan, tekanan terhadap jantung saat melakukan hubungan seks boleh dikatakan hampir sama dengan berjalan cepat atau naik tangga. Karena itu, aktivitas seksual harus dilakukan seperti aktivitas lain, berhati-hati tetapi tidak perlu takut. Topik mengenai hubungan seksual pascaserangan jantung ini menjadi salah satu topik yang dibicarakan para ahli jantung dalam pertemuan American Heart Association. Para dokter menyebutkan, berhubungan seks aman setelah pasien merasa nyaman dan bisa melakukan olahraga ringan atau sanggup naik tangga dua lantai. Bila timbul nyeri dada, itu merupakan tanda Anda harus berhenti dan berkonsultasi pada dokter.
Dalam sebuah penelitian terhadap 1.184 pria dan 576 wanita berusia 60 tahun dan pernah mengalami serangan jantung diketahui, satu tahun pascaserangan jantung, dua pertiga responden pria dan 40 persen responden wanita mengaku tetap aktif secara seksual. Para pria pada umumnya lebih aktif secara seksual dan berusaha menjaga kehidupan seksualnya setelah serangan jantung. Namun, kebanyakan pasien mengatakan mereka berani berhubungan seks jika dokter menyatakan aman untuk jantung mereka.
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:24 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Thu Feb 11, 2010 9:19 am | |
| EMOSI Tidak sedikit serangan jantung terjadi pada orang orang yang sesungguhnya tampak sehat sehat saja dan hampir tidak mempunyai faktor resiko seperti tekanan darah tinggi, kencing manis ataupun hiperkolesterol.
Perasaan negatif, termasuk marah, memang bukan sekedar urusan emosi semata, melainkan dapat berefek buruk pada fisik, seperti jantung. Pada saat marah meluap, hipothalamus, suatu bagian otak seukuran kacang almond, yang terletak tepat diatas batang otak, memerintahkan kelenjar anak ginjal untuk membanjiri darah dengan hormon katekolamin dan kortisol. Hormon hormon stress ini akan membuat jantung berdegup lebih kencang, tekanan darah melonjak, otot otot menegang, napas memburu dan asam lambung meningkat. Perasaan negatif yang terus menerus dipelihara membuat keping keping darah menjadi mudah lengket satu sama lain.
Dalam 30 tahun terakhir, terdapat bukti bukti bahwa cara orang berpikir, merasa dan bersikap dalam mengatasi stress, berpengaruh kuat, bahkan dapat berdampak fatal terhadap jantung. Melalui ribuan wawancara dengan pasien serangan jantung, para ilmuwan mendapati bahwa perilaku mudah naik pitam, lepas kontrol emosi di ruang kerja, memisahkan diri dari teman teman dan keluarga, serta terus mengalami depresi, bisa menggerus fungsi pompa jantung.
Penelitian yang dilakukan ilmuwan asal John Hopkins University membuktikan, mereka yang bertemperamen panas walaupun berusia muda, beresiko 3x lipat menderita penyakit jantung sebelum berusia 55 tahun.
Para ilmuwan asal Inggris, saat menyelidiki selama 7 tahun, orang orang yang diketahui sehat secara fisik, tetapi cepat tegang dan mudah jengkel, menemukan, ternyata sesungguhnya kesehatan orang orang itu rapuh. Para pengumbar emosi ini ternyata 54% lebih kerap mengalami stroke, payah jantung dan menjalani operasi jantung atau pemasangan cincin/stent pada pembuluh jantung, dibandingkan mereka yang bebas dari perasaan negatif. Hasil studi dengan peneliti utama, Mark Hamer PhD, dari University Colege, London, dipublikasi dalam Journal of the American College of Cardiology ( JACC ) pada Desember 2008.
Sebuah studi yang dipublikasikan di JACC edisi Maret 2009, walaupun dengan sampel terbatas, untuk pertama kali membuktikan secara langsung adanya keterkaitan emosi dengan instabilitas listrik jantung yang berpotensi memunculkan irama jantung ganas.
Ternyata ada korelasi antara sifat mudah stress serta naik pitam dengan pola hidup tidak sehat. Para pemarah cenderung banyak merokok, kecanduan alkohol, pola makan tidak terkontrol dan kurang berolahraga. Perilaku tidak sehat ini akan memudahkan timbulnya kerak kerak ( plak aterosklerosis ) pada dinding dalam pembuluh yang memperdarahi jantung ( pembuluh koroner ). Letupan emosi berpotensi meretakkan atau memecahkan kerak kerak yang rapuh pada dinding dalam pembuluh koroner. Bila kerak itu retak atau pecah, gumpalan darah akan mudah terbentuk sehingga pembuluh koroner tersumbat. Sumbatan liang koroner ini bisa menyebabkan serangan jantung karena pasokan oksigen dan zat zat nutrisi bagi sel sel jantung terhenti.
Studi membuktikan, hati ( lever ) para pemarah, baik laki laki maupun perempuan, memproduksi lebih banyak protein peradangan yang disebut sebagai C-reactive protein ( CRP ). Pertanda peradangan ini dikenal luas berperan sebagai prediktor penyakit jantung dan stroke.
Emosi yang tidak sehat bukan hanya memicu penyakit, melainkan juga meruntuhkan keberhasilan tindakan atau pengobatan. Berbagai riset secara konsisten membuktikan, walaupun pengobatan ataupun operasi jantung secara teknis berhasil, para penderita baik laki laki maupun perempuan tidak lantas dapat kembali hidup normal. Bila masih mudah marah dalam kehidupan sehari hari, bisa jadi akan kembali ke ruang gawat darurat walaupun pengobatan atau operasi sebelumnya dinyatakan sukses.
Sumber: Kompas, Kamis 11 Februari 2010 |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Wed Apr 14, 2010 1:27 pm | |
| PENYAKIT JANTUNG BERTOPENG MASUK ANGIN Merry Wahyuningsih - detikHealth - Jumat, 16/04/2010 08:06 WIB Jakarta, Nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, rahang, dan perut, lalu mual, pusing serta keringat dingin sering dianggap sebagai masuk angin. Jika sering mengalaminya sebaiknya waspada, karena itu merupakan salah satu gejala penyakit jantung yang menyerupai masuk angin. Banyak yang mengira gejala itu masuk angin karena nyeri yang terjadi kurang dari 30 menit dan setelah beristirahat gejalanya bisa berkurang. Padahal yang terjadi adalah penyempitan pangkal pembuluh darah koroner kiri (Left Main Disease). Kondisi ini membuat tekanan darah menuju jantung menurun sehingga mengakibatkan pusing, keringat dingin. Jika penyempitan merembet ke penyumbatan darah total bisa mengakibatkan kematian mendadak.
"Kadang-kadang orang menganggap gejala ini seperti masuk angin," ujar Dr dr Muhammad Munawar, SpJP (K), FIHA, FESC, FACC, FSCAI, FAPSIC, FASCC, FCAPSC, ahli penyakit jantung RS Khusus Jantung Binawaluya, dalam acara Media Briefing & Experience di RS Khusus Jantung Binawaluya, Jl TB Simatupang, Jakarta, Kamis (15/4/2010). Dr Munawar menjelaskan, Left Main (LM) Disease adalah penyempitan pada pangkal pembuluh koroner kiri lebih dari 50 persen sebelum bercabang menjadi pembuluh koroner kiri depan (Left Anterior Descending/LAD) dan pembuluh koroner kiri belakang (Left Circumflex/LCx).
Penyempitan ini paling sering disebabkan oleh aterosklerosis, yaitu timbunan plak berupa endapan lemak, trombosit, makrofag dan leukosit yang dapat menyebabkan penyumbatan darah. Pembuluh darah koroner kiri ini fungsinya sangat penting karena memberikan suplai sekitar 80 persen pada ventrikel kiri, yang merupakan bagian jantung yang terpenting untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Maka penyempitan pada LM akan memberikan implikasi yang lebih berat dibandingkan dengan penyempitan pada daerah lain. Pada penyempitan di LM, gejala sudah timbul dengan aktifitas yang lebih ringan dibandingkan dengan penyempitan di tempat lain, sehingga menyerupai gejala masuk angin. Namun, gejala ini sangat subjektif antara masing-masing individu.
Beberapa pemeriksaan tambahan diperlukan untuk menunjang diagnosis yakni elektrokardiografi (EKG), uji latih jantung (treadmill test) ataupun dengan Multi Slice CT Scan (MTCT Scan). Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis adalah dengan angiosgarfi koroner. Penyempitan pada LM selain memberikan gejala yang lebih nyata, juga mempunyai risiko tinggi kejadian penyumbatan total yang mendadak akibat pecahnya plak aterosklerosis. Bila terjadi penyumbatan mendadak ini, yang dalam bahasa awam disebut suatu serangan jantung, maka dapat terjadi kematian mendadak sebelum pasien dibawa ke rumah sakit. Oleh karena itu, penyempitan pada LM harus ditangani dengan segera.
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:23 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Tue Apr 20, 2010 8:48 pm | |
| MASUK ANGIN ATAU SAKIT JANTUNG? Selasa, 20 April 2010 | 10:36 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Apakah Anda sering mengalami gejala-gejala seperti ini: dada nyeri dan sesak napas? Mula-mula nyeri itu hanya terasa di dada sebelah kiri, tetapi lama-kelamaan menjalar sampai bahu, leher, dan lengan kiri. Bahkan, terkadang rasa nyeri itu bisa sampai ulu hati dan menusuk ke belakang. Nyeri bahkan akan semakin menggila saat Anda menarik napas dalam. Rasa nyeri itu terkadang datang tidak hanya saat beraktivitas, tetapi juga saat bersantai. "Bila itu terjadi pada Anda, jangan menyepelekan gejala seperti ini," ujar Emanoel Oepangat, pakar penyakit jantung dari Siloam Hospital, Tangerang.
Menurut dia, banyak orang menyangka gejala-gejala itu sebagai masuk angin. Dugaan itu bisa jadi salah karena gejala-gejala tersebut juga merupakan tanda-tanda awal dari penyakit jantung.Gejala awal dari penyakit jantung hampir sama dengan masuk angin. Itulah sebabnya, banyak orang yang lantas mengabaikan gejala ini. Kalaupun ada yang mengambil tindakan, mereka lebih suka mengobati dengan cara kerokan. "Padahal, kerokan hanya untuk menghilangkan angin saja," ujarnya.
Hilangnya rasa nyeri setelah kerokan juga berarti penyakit hilang. Maklum, gejala nyeri di jantung hingga sesak napas terkadang hilang dengan sendirinya. Namun, terkadang bisa timbul disertai rasa nyeri yang hebat. "Kalau sudah terlalu sering muncul, rasanya bisa seperti ditusuk-tusuk," imbuh Harmani Kalim, ahli penyakit jantung di Rumah sakit Harapan Kita, Jakarta Barat.
Menurut para ahli jantung, gejala seperti ini muncul karena pembuluh darah mengalami penyempitan. Alhasil, distribusi makanan bagi jantung atau oksigen tidak bisa berjalan normal. Padahal, oksigen dibutuhkan untuk mendukung kinerja jantung.
"Bila pasokan oksigen berkurang, kinerja jantung terganggu, bahkan bisa mengakibatkan serangan jantung atau yang sering dikenal gagal jantung," lanjutnya. Oleh karena itu, para pakar jantung menyarankan agar Anda lebih waspada bila mengalami kram atau nyeri pada jantung. Apalagi bila sudah disertai dengan sesak napas.
Harmani menambahkan, timbulnya nyeri dada juga merupakan tanda telah terjadi kerusakan pada otot-otot jantung yang memompa darah. Kerusakan tersebut akan terus berkembang seiring pertambahan umur. Jadi, "Begitu nyeri terasa, lebih baik segera ke dokter atau ahli jantung," imbuh Emanoel. Maklum, jika terlambat, dokter atau ahli jantung hanya punya waktu sekitar 12 jam untuk bisa kembali melebarkan pembuluh darah tersebut.
Sikap waspada juga dibutuhkan lantaran penyakit jantung termasuk salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan Kementerian Kesehatan menyebutkan, sejak tahun 2007 penyakit jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia dengan jumlah kematian lebih dari 220.000 jiwa per tahun. Jumlah itu di atas penyakit tuberkulosis yang jumlah kematiannya 127.000 jiwa per tahun.
Angka kematian ini juga semakin bertambah setiap tahunnya seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang suka mengudap makanan tinggi lemak. Selain itu, faktor gaya hidup yang tak sehat, seperti gemar merokok, menenggak alkohol berlebihan, penyakit hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi, juga menambah banyak deretan penderita penyakit jantung. (Adi Wikanto)
Last edited by gitahafas on Mon Aug 23, 2010 11:36 am; edited 2 times in total |
|  | | | | Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |