Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 10, 11, 12  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Thu Jul 22, 2010 8:32 pm

79% DOKTER PERCAYAKAN SUMBER INFORMASI DARI INTERNET
Kamis, 28/10/2010 14:55 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Dokter akan selalu membutuhkan informasi terkini mengenai kesehatan atau penyakit tertentu. Dari hasil survei Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekitar 79 persen dokter mempercayakan sumber informasinya dari internet. Hasil ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh IndoPacific Edelman yang bekerja sama dengan Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (URPM FKM UI). Survei ini melibatkan 300 dokter yang dipilih secara acak di daerah Jabodetabek yang terdiri dari 57 persen dokter umum dan 43 persen dokter spesialis.

Survei ini memperlihatkan bahwa sekitar 79 persen dokter mempercayai internet sebagai sumber informasi. Sumber informasi lain yang digunakan dokter adalah majalah kedokteran, jurnal kedokteran, seminar kedokteran dan juga media lain seperti koran, televisi atau tabloid. Sebagian besar dokter yang aktif menggunakan internet juga menyarankan pasiennya untuk menggunakan internet atau situs kesehatan sebagai acuan informasi yang terkait dengan kesehatan atau medis. "Setelah ada internet maka bisa mengubah komunikasi antara dokter dan juga klien (pasien) menjadi lebih efektif. Karena kalau informasinya sudah efektif, maka pengobatan yang dilakukan akan menjadi lebih baik," ujar Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH dari FKM UI, dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Prijo Sidipratomo, MD menuturkan bagi para dokter informasi bisa didapatkan dari jurnal-jurnal kedokteran yang cukup baik seperti New England Journal of Medicine. Sedangkan bagi masyarakat membaca jurnal mungkin agak sulit untuk dimengerti, karenanya salah satu tugas dokter adalah mengedukasi masyarakat. "Dipercayanya media dan situs di internet sebagai salah satu sumber informasi membuat saluran ini berpotensi digunakan untuk tujuan edukasi. Tapi hal ini harus tetap mempertimbangkan diagnosa dokter dan komunikasi yang tepat," ujar dr Prijo.

Dampak internet juga mempengaruhi hubungan antara dokter dan pasien. Hal ini karena pasien akan menjadi lebih kritis (banyak bertanya) atau ingin mendiskusikan informasi yang diterimanya dengan dokter. Kondisi ini tentu saja menuntut dokter untuk mencari informasi lebih banyak lagi dan juga memperbaiki cara berkomunikasinya. Dampak internet lainnya adalah membuat sebagian besar dokter menjadi lebih aktif berinteraksi dengan koleganya serta berbagi informasi kepada orang-orang lain selain pasien, misalnya melalui blog pribadinya.

Ditambahkan Prof Thabrany bahwa salah satu faktor yang membuat banyak masyarakat berobat ke luar negeri adalah komunikasi yang jelek antara dokter dan pasien. Karenanya kalau komunikasi keduanya sudah baik, maka bisa menurunkan jumlah pasien yang berobat ke luar negeri. Selain itu perlu juga menyadarkan masyarakat tentang haknya untuk bertanya, seperti sakit apa serta obat yang diberikan. Karena kalau tidak ada pertanyaan, maka tidak ada pencerahan tentang komunikasi yang baik antara dokter dan pasien.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 1:32 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Jul 25, 2010 4:18 pm

7 HAL YANG TIDAK DISUKAI DOKTER DARI PASIEN
Rabu, 02/12/2009 16:34 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Sebagai pasien pasti ada beberapa hal yang membuat seseorang penasaran dengan berbagai sikap yang ditunjukkan oleh seorang dokter. Terkadang sikap dokter ini membuat pasien berpikir apakah ada hal yang membuat dokter tidak suka dengannya. Hubungan antara dokter dan pasien memang terkadang terlihat aneh dan tidak seperti yang dibayangkan. Bisa dibilang dokter adalah orang yang paling tahu mengenai diri Anda dan beberapa rahasia kecil. Tapi sebagai pasien, sulit menebak apa yang dokter pikirkan mengenai dirinya, seperti saat dokter mengangkat alis atau berbisik pelan "Hemmm".
Ada 7 hal yang sebaiknya pasien perhatikan saat ke dokter seperti dikutip dari Health, Rabu (2/12/2009) yaitu:

1. Jangan selalu menduga-duga penyakit sendiri.
Banyak pasien yang mengatakan, 'dok sepertinya saya kena penyakit XX', yang menyimpulkan hanya berdasarkan ciri fisik saja, padahal mendeteksi penyakit tidak sama dengan membeli baju.

2. Jangan menunda untuk cerita hal yang penting.
Banyak pasien yang baru mengungkapkan sesuatu yang penting saat dokter tersebut sudah berjalan menjauhinya dengan kalimat awal "Ngomong-ngomong dok,...". Dokter tidak suka dengan hal tersebut, katakan saja semuanya secara langsung dan jujur.

3. Lupakan apa yang dilihat di iklan atau televisi.
Terkadang pasien ingin melakukan suatu tes karena melihat iklan di televisi atau media cetak. Padahal dokter hanya menginginkan pasiennya melakukan tes yang memang benar-benar dibutuhkannya.

4. Jangan khawatir dengan kondisi tubuh Anda.
Pasien seringkali meminta maaf pada dokter mengenai kondisi kuku, kaki atau apapun. Hal ini tidak perlu dilakukan karena dokter tidak peduli dengan kuku yang belum dipotong atau hal lainnya yang tidak berhubungan dengan kesehatan.

5. Bersikaplah jujur tentang seberapa sering Anda olahraga.
Saat dokter bertanya mengenai apakah Anda aktif, banyak pasien menjawab bahwa dirinya sangat aktif. Tapi setelah ditelusuri ternyata tidak seaktif yang diperkirakan. Dokter menginginkan Anda menjawab pertanyaannya secara jujur dan tidak perlu berbohong.

6. Jangan meminta pendapat kedua yang bukan dari dokter.
Banyak pasien yang bercerita pada dokter bahwa dirinya mendapat masukan lain tapi bukan dari dokter. Memang bagus mendengarkan pendapat orang lain, tapi dokter kurang menyetujui jika pendapat tersebut berasal bukan dari seorang dokter.

7. Ketahui fakta yang sebenarnya.
Dokter selalu terkejut dengan pemikiran orang-orang yang mengatakan obat A bisa menimbulkan efek samping. Karena itu lebih baik tanyakan langsung dengan dokter mengenai segala efek samping yang mungkin ditimbulkan.

Jika dokter mengangkat alis, mengerutkan kening atau berbisik sesuatu, kemungkinan ada salah satu hal di atas yang Anda lakukan.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Jul 25, 2010 4:45 pm

PENYEBAB MAHALNYA BIAYA BEROBAT
Selasa, 11/08/2009 18:08 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Banyak orang yang bilang bahwa kesehatan itu mahal harganya, tapi kebanyakan dari masyarakat baru menyadarinya ketika jatuh sakit atau harus dirawat di rumah sakit. Kenapa kesehatan bisa begitu mahal? Saat ini sudah menjadi hal yang umum bahwa untuk berobat bahkan di dokter pemerintah sekalipun membutuhkan uang yang tidak sedikit. Banyak hal yang menjadi penyebab mahalnya biaya kesehatan. Seperti dikutip dari MSN, Selasa (11/8/2009), inilah beberapa alasan yang meyebabkan biaya kesehatan menjadi mahal:

Dokter yang terlalu banyak menuntut
Para ahli mengatakan ini biasa disebut dengan pertahanan kedokteran, dalam hal ini dokter sering memeberikan pemeriksaan diagnosis, prosedur dan terapi lain yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pasien. Jadi, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kepada dokter yang bersangkutan mengapa pasien harus melakukan pemeriksaan tersebut.

Karena perempuan
Peneliti dari National Women's Law Center telah menemukan bahwa perempuan memiliki biaya kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini karena perempuan lebih sering mengunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan ataupun cek kesehatan. Perempuan lebih peduli dengan kesehatannya sejak masih usia produktif, sedangkan laki-laki biasanya setelah berusia 50 tahun atau setelah terkena suatu penyakit seperti sakit jantung atau diabetes.

Lebih memilih untuk mengobati penyakit dibandingkan dengan mencegahnya
Semua orang tahu bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, namun masyarakat biasanya malas untuk memeriksakan diri ke dokter dan lebih suka menggunakan uangnya untuk hal yang lain. Padahal uang yang akan dikeluarkan untuk mencegah suatu penyakit lebih sedikit dibandingkan dengan pengobatannya. Karena penyakit-penyakit tersebut biasanya merupakan penyakit kronis yang membutuhkan waktu dan biaya yang besar untuk mengobatinya, seperti kemoterapi atau operasi jantung.

Dokter dibayar untuk apa yang telah dilakukannya bukan untuk seberapa pedulinya dokter terhadap pasien
Kadang saat ke dokter atau berobat, pasien menerima tindakan yang seharusnya tidak diperlukan tapi pasien menerima begitu banyak obat yang harus diminum. Padahal belum tentu semua obat yang diberikan oleh dokter tersebut benar-benar dibutuhkan oleh pasien. Dokter yang peduli dengan pasiennya pasti akan memberikan penjelasan terhadap segala sesuatu yang dilakukan atau diberikan kepada pasien.

Selain hal tersebut, kemajuan teknologi juga bisa menyebabkan mahalnya biaya pengobatan. Teknologi kedokteran saat ini sangat berkembang pesat, banyak alat-alat baru diciptakan untuk bisa mengobati berbagai penyakit. Namun, ini bukanlah menjadi alasan yang utama mahalnya biaya kesehatan.

Jadi peribahasa yang selama ini sering didengar oleh masyarakat bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati memang benar, karena biaya yang dikeluarkan sebenarnya lebih sedikit. Dan jadilah pasien yang kritis ketika sedang berobat dimanapun, agar pasien tidak perlu menerima tindakan ataupun obat yang seharusnya tidak diperlukan.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 9:12 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:00 pm

KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN, PERCEPAT KESEMBUHAN
Jumat, 30 Juli 2010 | 10:54 WIB
:Kompas.com - Sehebat apa pun, para dokter tetap manusia, bisa membuat kesalahan diagnosis atau kelalaian. Pasien juga bukan sekedar objek. Dokter perlu menjelaskan kondisi dan tindakan medis yang dilakukan pada tubuh pasien. Karena itu komunikasi yang baik adalah unsur penting dalam proses penyembuhan pasien. Sayangnya, komunikasi dua arah seringkali tidak terjalin dalam hubungan dokter dan pasiennya. Pasien seolah takut untuk bertanya dan tak bisa dipungkiri masih banyak dokter yang tidak bersedia memperlakukan pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan. Kalau mau jujur, masih banyak oknum dokter yang bersikap arogan dan terkesan tak mau mendengar pendapat pasiennya.

Di berbagai tempat, mayoritas penyebab masalah antara dokter dan pasien disebabkan karena salah informasi yang menyebabkan salah interpretasi. Memang kesalahan dalam praktik medis tidak mungkin dihilangkan, karena manusia bukanlah mesin dan tidak pernah ada kasus pasien yang benar-benar identik. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini sudah ada upaya dari kalangan dokter sendiri untuk memperbaiki komunikasi dokter-pasien, namun sebagai pasien kita juga wajib mengetahui apa saja yang menjadi hak kita sebagai pasien dan membekali diri dengan informasi sehingga tidak harus melulu bersikap pasrah. Bila merasa ragu dengan keputusan dokter, pasien berhak mencari pendapat kedua dari dokter lain.

"Pasien yang aktif bertanya dan menyampaikan pendapat serta kekhawatirannya akan sangat membantu dokter untuk memahami pasien dan penyakitnya. Selama ini terdapat perbedaan yang besar antara apa yang diyakini pasien tentang penyakitnya dengan apa yang dokter ketahui," kata Richard Street Jr, seorang ahli komunikasi dari Texas A&M University, Amerika Serikat.

Secara teoretis untuk melakukan diagnosis, dokter perlu berkomunikasi dan memeriksa pasien. Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk-ngetukkan tangan (perkusi), dan menggunakan alat-alat kedokteran (auskultasi). Karena itu untuk mengetahui kondisi pasien juga tak dapat digantikan dengan konsultasi perawat lewat telepon. Dokter yang berhalangan hadir ketika pasiennya membutuhkan penanganan memang diperbolehkan mendelegasikan pada dokter lain. Tetapi, pendelegasian itu seharusnya dilakukan pada dokter lain yang memiliki kualifikasi kompetensi setara.


Last edited by gitahafas on Fri Jul 30, 2010 7:07 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:01 pm

KEBUTUHAN DIAGNOSA KESEHATAN MAKIN PENTING
Senin, 17 November 2008 | 19:54 WIB
SURABAYA, SENIN - Gaya hidup serba instan, praktis, cepat, dan nyaman menimbulkan kecenderungan hidup kurang sehat. Dengan pola gaya hidup masyarakat yang serba dinamis, kebutuhan diagnosa kesehatan tubuh secara berkala sangat dibutuhkan. Manajer Senior Klinik Gleneagles Diagnostic Centre Surabaya, Haryanto Njoto, Senin (17/11) di sela soft opening Gleneagles Diagnostic Centre Surabaya mengatakan, ritme gaya hidup masyarakat yang serba cepat memengaruhi pula kualitas kesehatan seseorang.

"Saat ini banyak tersedia restoran cepat saji, makanan dan minuman instan yang mengandung zat-zat kimia. Jika pola makan tak dikontrol dan orang tak pernah melakukan cek kesehatan, maka orang akan sangat rentan terhadap penyakit," ujarnya. Menurut Haryanto, pada umur 35 tahun hingga 45 tahun, orang mengalami fase klinis di mana ia tak menyadari adanya gangguan kesehatan. Namun, setelah umur 45 tahun, gejala-gejala penyakit mulai dirasakan, entah kelebihan berat badan, merasa cepat tua, hingga tekanan darah yang cenderung naik.

"Setelah usia 45 tahun berbagai macam penyakit mulai menyerang, seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, dan penyakit penuaan. Orang yang tak pernah mengetahui informasi detail tentang organ tubuhnya akan sulit melakukan antisipasi," tutur Haryanto. Haryanto mencontohkan, dalam 10 tahun terakhir penyakit jantung koroner pada umumnya diderita pasien berumur di atas 40 tahun. Namun, akhir-akhir ini penderita jantung koroner berumur di bawah 30 tahun.

Pentingnya sejarah kesehatan
Pada dasarnya, seseorang membutuhkan data base atau informasi detail tentang kesehatan organ tubuh secara berkala. Dengan mengetahui informasi ini, maka sejarah kesehatan seseorang akan terlihat sehingga mereka dapat melakukan prediksi untuk melakukan langkah antisipasi. Managing Director Gleneagles Diagnostic Centre Surabaya Hartanto Saputrajaya Nyoto mengungkapkan, kepedulian masyarakat terhadap kesehatan diawali dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Namun demikian, kadang sebagian masyarakat belum memahami pentingya diagnosa kesehatan.
"Diagnosa kesehatan bukanlah sesuatu yang menakutkan melainkan tindakan kondusif dalam menjaga kesehatan. Jika memahami keadaan tubuhnya, maka orang leluasa mengkonsumsi makanan yang aman bagi dirinya," ujarnya.

Kalah canggih
Dalam hal fasilitas, sebagian masyarakat menganggap peralatan diagnosa kesehatan di luar negeri lebih canggih. Padahal, fasilitas kesehatan serupa dapat pula ditemui di Indonesia. Vice Chair to the Board of Director Gleneagles Diagnostic Centre Surabaya Ivy Chou menambahkan, kini terdapat berbagai tempat diagnosa kesehatan bertaraf internasional di Surabaya. Karena itu, orang tak perlu pergi ke luar negeri untuk sekedar melakukan pemeriksaan awal kesehatan.


Last edited by gitahafas on Fri Jul 30, 2010 7:09 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Jul 30, 2010 4:01 pm

50% DOKTER PERCAYAKAN INFORMASI OBAT DARI DETAILMAN
Kamis, 28/10/2010 15:57 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Bagaimana dokter memberikan rekomendasi obat ke pasiennya? Ternyata untuk kepentingan informasi obat, 50 persen dokter mempercayakannya dari informasi medical representative atau detailman dari perusahaan farmasi. Tugas dari medical representative adalah memperkenalkan dan memberikan informasi terbaru mengenai obat-obatan kepada dokter dan juga apoteker. Dalam tugasnya ia memberikan informasi mengenai penggunaan klinis, dosis dan juga farmakologi obat-obatan tersebut.

"Tidak selamanya medical representative itu negatif, karena kalau informasi yang diberikan berbasis riset (evidence base) maka hasilnya adalah bagus," ujar dr Prijo Sidipratomo, MD, selaku Ketua Pengurus Pusat IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).
dr Prijo menuturkan bisa saja metode yang digunakan adalah dengan mengadakan seminar di suatu tempat dan mengumpulkan beberapa medical representative, lalu dalam seminar tersebut dikaji hasil penelitian dari perusahaan farmasi tersebut. Tapi metode ini tidak berjalan dengan baik, dan pola yang masih disukai adalah dengan cara menunggu dokter di tempat ia berpraktik.

"Medical representatvie menjadi sumber yang relevan karena tugas utamanya adalah menyampaikan informasi seputar obat-obatan, informasi ini berdasar riset yang dilakukan oleh perusahaan farmasi tersebut," ujar Parulian Simanjuntak, selaku Ketua Internasional Pharmaceutical Manufactures Group (IPMG). Parulian menambahkan majunya teknik pengobatan dipengaruhi oleh hasil riset dari industri farmasi, untuk itu penting menjalin komunikasi yang baik antara industri farmasi dan juga dunia kedokteran.

"Selain itu perusahaan farmasi juga bisa memanfaatkan program-program edukasi berbasis online dan membantu memberikan layanan kesehatan yang mudah diperoleh, terjangkau dan berkualitas bagi pasien," ungkap Parulian. Meski internet bisa memberikan informasi mengenai obat-obatan, tapi tetap saja ada keterbatasan informasi. Misalnya untuk informasi obat-obatan keras yang harus menggunakan resep hanya diperuntukkan bagi kalangan dokter saja dan masyarakat tidak bisa mengaksesnya.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 1:35 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sun Aug 01, 2010 8:26 am

GAME MAMPU TINGKATKAN KETERAMPILAN DOKTER
Kamis, 21 Agustus 2008 - 10:04 wib[
Game ternyata tidak selamanya berdampak negatif terhadap manusia. Penelitian tim psikolog Iowa State University, AS, menemukan, game ternyata mampu membantu para dokter bedah meningkatkan keterampilan tangan. Penelitian itu mengungkap, dokter bedah yang sering bermain game ternyata melakukan hanya sedikit kesalahan saat melakukan operasi.

"Penelitian ini membuktikan bahwa game memiliki berbagai dimensi. Ada dampak negatif dan ada pula dampak positifnya. Semua itu tergantung pada bagaimana game itu dimainkan, seberapa sering seseorang bermain game, dan kontennya apa," papar ketua tim peneliti Douglas Gentile. Gentile dan rekan-rekan melakukan penelitian terhadap 33 dokter bedah spesialis laparoscopyatau pembedahan yang melibatkan penggunaan tabung kamera kecil yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien dan dikendalikan oleh dokter.

Dari sana ditemukan bahwa dokter bedah yang suka bermain game ternyata mampu melakukan prosedur pembedahan kompleks dalam waktu 27 persen lebih cepat daripada dokter bedah laparoscopy yang tidak suka bermain game. Temuan lainnya, dokter bedah yang suka bermain game juga melakukan 37 persen sedikit kesalahan daripada rekan mereka yang tidak suka bermain game. Dalam kesempatan lain, Gentile dan rekan-rekan melakukan penelitian mengenai dampak sosial game para remaja dan pemuda. Gentile menemukan, remaja dan pemuda yang kerap bermain game-game berbau kekerasan ternyata menjadi lebih brutal dan sukar memaafkan. (sindo//srn)

Sumber: OKEZONE.com
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 07, 2010 5:21 pm

KECEWA PELAYANAN, ANAK PASIEN KALUNGKAN PARANG KE LEHER DOKTER
Sabtu, 07 Agustus 2010 | 12:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta — Aksi penyanderaan terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara. Seorang keluarga pasien mengalungi parang ke leher seorang dokter lantaran kecewa dengan pelayan rumah sakit. “Saya kira, dia tidak sungguh-sungguh berniat menciderai petugas,” ujar Direktur RSUD Koja, Togi Aswan Sinaga, Sabtu (7/Cool. Peristiwa terjadi malam tadi ketika Manik menjenguk ibunya, Tarkem, 60 tahun, yang tengah menderita diabetes. Warga Kampung Beting, Jakarta Utara, itu sempat terlibat cekcok dengan petugas lantaran ibunya masih saja menjalani pengobatan di ruang perawatan selama dua hari.

Emosi Manik makin memuncak lantaran pihak rumah sakit tetap enggan memindahkan Tarkem. Ia lalu mengeluarkan sebilah parang dan mengalungkannya ke leher dokter Adeline. Aksi Manik sontak membuat panik sejumlah perawat dan pasien. Beruntung, petugas keamanan berhasil membujuknya. “Pelaku langsung diamankan ke kantor Kepolisian Sektor Koja,” kata Togi. Menurut Togi, perawatan Tarkem telah dilakukan sesuai standar prosedur operasi pelayanan. Sebab, diabetes melitus bukanlah penyakit berat yang memerlukan perawatan intensif. “Ada skala prioritasnya,” katanya.

Meski demikian, Togi mengakui bahwa kemampuan RSUD Koja untuk melayani pasien di ruang Instalasi Gawat Daruat masih minim. “Dalam sehari bisa tiga sampai lima pasien yang mengantre. Karenanya pemanfaatan ruang Instalasi Gawat Darurat tidak bisa sepenuhnya diberikan kepada seluruh pasien,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Manik masih menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Reserse Kriminal Polsek Koja. Namun sayang, belum ada keterangan resmi yang bisa dikeluarkan pihak kepolisian. Kepala Kepolisian Sektor Koja, Komisaris Polisi Agung Sudarsana, belum bisa dihubungi.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Aug 17, 2010 12:11 pm

SEMANGAT JUANG DOKTER MUDA DI TANAH PAPUA
Selasa, 17/08/2010 08:31 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Orang muda yang baru lulus kuliah biasanya lebih senang bekerja di kota dengan segala macam fasilitasnya yang nyaman. Tapi tidak buat dr Rivaldi Dominggus Liligoly, menjadi dokter muda adalah mengabdi untuk membantu masyarakat di Papua agar bisa mendapatkan derajat kesehatan yang baik. Sudah 4 tahun usai tamat dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) dr Rivaldi bekerja di puskesmas di daerah yang sangat terpencil di pelosok Manokwari.

Dan semenjak 9 bulan lalu ia dipindah ke puskesmas kabupaten di Puskesmas Sanggeng kabupaten Manokwari, Papua Barat. Tak mudah memang menjadi dokter di suatu daerah terpencil seperti di Propinsi Papua Barat. Berbagai pengalaman suka dan duka dilalui dokter muda yang kini berusia 30 tahun ini. Alam Manokwari yang belum terjangkau infrastruktur kadang membuatnya harus berjalan kaki selama satu hari untuk bisa mencapai perkampungan masyarakat agar bisa membantu ibu melahirkan.

"Salah satu tantangan menjadi dokter di Manokwari adalah kondisi geografisnya yang terdiri dari pegunungan dan juga pesisir sehingga transportasi susah, terbatasnya komunikasi, serta kadang terhalang oleh adat istiadat yang berlaku disana," ujar dr Rivaldi yang menerima penghargaan sebagai tenaga kesehatan teladan oleh Kementerian Kesehatan saat ditemui detikHealth di sela-sela acara 'Penyerahan Penghargaan kepada 130 Tenaga Kesehatan Puskemas Teladan' di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin malam (16/8/2010). dr Rivaldi menuturkan terkadang menemui kesulitan dalam hal transportasi obat, distribusi makanan tambahan dan juga puskesmas keliling karena dibutuhkan perjalanan selama 3 jam dari kabupaten menuju puskesmas.

Berjalan selama satu hari dari satu kampung menuju kampung lain, membangun tenda (berkemah) di tengah perjalanan karena sudah larut malam atau melakukan pengobatan dengan peralatan seadanya, sudah menjadi hal yang biasa baginya. Tantangan lain yang harus dihadapinya adalah masih tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan tradisional, sehingga terkadang masyarakat lebih dulu menggunakan obat tradisional, jika tidak berhasil baru mendatangi dokter. Karena itu diperlukan pendekatan atau penyuluhan di masyarakat.

Menghadapi tantangan seperti ini dr Rivaldi mengaku ia biasanya mendekati kepala suku yang punya pengaruh besar di masyarakat untuk memberikan pengertian dan pemahaman. Baru setelah itu, ia bisa bekerja bersama-sama dan cara ini terbilang cukup efektif. Faktor dr Rivaldi yang juga putera Papua membuatnya agak sedikit lebih mudah melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar. "Saya menyadari ternyata masih ada manusia di balik gunung atau di daerah pesisir yang belum pernah merasakan sentuhan dokter," ungkapnya.

Diakuinya, tak mudah untuk pasien bisa mencapai puskesmas. Bayangkan jika seorang pasien harus dirujuk ke rumah sakit maka perjalanan yang harus ditempuh dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten selama 9 jam dengan menggunakan long boat (perahu). Dan di rumah sakit ini hanya didapati satu dokter bedah, satu dokter penyakit dalam, dua dokter obstetri dan ginekologi (kandungan) serta dua dokter anak. "Kadang kami harus merasakan tersiram ombak atau mabuk laut bersama-sama dengan pasien yang akan dirujuk, atau pasien terpaksa harus melahirkan saat dalam perjalanan ke rumah sakit akibat medan perjalanan yang cukup berat untuk dilalui," ujar dokter yang baru saja menikah satu tahun lalu.

dr Rivaldi menuturkan penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat Papua adalah malaria (karena masih termasuk daerah endemis), ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), cacingan (untuk daerah pedalaman akibat kurangnya pola hidup bersih dan sehat) serta penyakit jaringan otot dan tulang seperti rematik untuk daerah pegunungan karena udaranya yang dingin sekali. "Di daerah ini orang yang memiliki hemoglobin 3-4 atau orang yang menderita malaria +3 masih bisa berjalan, tapi kalau di daerah lain mungkin orang tersebut sudah harus masuk ICU," ungkapnya.

Tapi bagaimanapun juga dr Rivaldi menuturkan bahwa ia harus survive agar tetap bisa bertahan dan memberikan pelayanan bagi masyarakat. Karena untuk menjadi dokter di daerah sangat terpencil dibutuhkan stamina yang tinggi dan juga harus bisa menjaga dirinya sendiri sebelum bisa menolong orang lain. "Karena saya asli dari Papua, maka saya harus berbuat sesuatu untuk daerah saya dan juga saudara-saudara saya di Papua, seperti ada ikatan emosional yang lebih tinggi. Hal inilah yang membuat saya tetap bertahan dan semangat menjalani profesi ini," imbuhnya.

dr Rivaldi menuturkan bahwa ada kebanggaan atau kepuasan tersendiri yang dirasakannya jika ia berhasil menolong masyarakat. "Saya juga ingin melanjutkan pendidikan kedokteran saya untuk mengambil pendidikan spesialis. Nantinya saya ingin mengambil spesialis bedah," ujar dokter yang terpilih sebagai Tenaga Kesehatan Teladan 2010. Semoga saja impian dr Rivaldi bisa terlaksana, sehingga masyarakat di daerah terpencil di Papua tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.(ver/ir)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Aug 17, 2010 12:13 pm

PREDIKAT TELADAN UNTUK 130 TENAGA KESEHATAN PUSKESMAS
Selasa, 17/08/2010 08:03 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Puluhan ribu tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh puskesmas di Indonesia telah bekerja dengan baik dan menunjukkan prestasi kerja yang luar biasa. Atas dedikasinya tersebut, Menteri Kesehatan memberikan penghargaan terhadap 130 tenaga kesehatan puskesmas teladan dari 33 provinsi. "Para tenaga kesehatan ini adalah pahlawan bangsa yang telah menunaikan tugasnya dalam upaya mencapai tujuan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan," ujar Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DrPH dalam acara 'Penyerahan Penghargaan kepada 130 Tenaga Kesehatan Puskemas Teladang' di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin malam (16/8/2010).

Pemberian penghargaan ini mulai digelar sejak tahun 1980-an dan dilakukan secara rutin menjelang ulang tahun kemerdekaan RI. Acara ini pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan kinerja dari para tenaga kesehatan. Pada tahun ini Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan kepada 130 tenaga kesehatan teladan yang berasal dari 33 provinsi. Tenaga kesehatan teladan ini terdiri dari 45 laki-laki dan 85 perempuan yang meliputi 26 orang dokter, 7 orang dokter gigi, 19 orang bidan, 14 orang perawat, 27 orang tenaga kesehatan masyarakat (sanitarian dan promosi kesehatan), 4 asisten apoteker dan 33 orang nutrisionis.

Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Kemenkes Dr. Budihardja, DTM&H,MPH menuturkan tenaga kesehatan termuda yang mendapatkan penghargaan berusia 22 tahun 7 bulan yang berasal dari Puskesmas Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu. Sedangkan tenaga kesehatan tertua berusia 53 tahun 5 bulan yang berasal dari Puskesmas Tobelo Utara Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.

Menkes menuturkan sebaik apapun konsep dari rencana pembangunan yang disusun, tetap saja hasilnya tergantung pada pelaksanaan atau tenaga kesehatannya. Diharapkan semua tenaga kesehatan memiliki dedikasi yang tinggi. "Karenanya marilah kita tingkatkan kinerja, memadukan barisan dalam pembangunan kesehatan," ungkap Menkes.

Puskesmas merupakan ujung tombak terdepan pembangunan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs) dalam hal meningkatkan usia harapan hidup, menurunkan angka kematian bayi, menurunkan angka kematian ibu serta menurunkan prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita. "Berdasarkan data riskesdas 2010 didapatkan adanya penurunan terhadap prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita," tambahnya.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Tue Aug 24, 2010 5:18 am

REFLEKSI PERJUANGAN SEORANG DOKTER
RACIKAN KHUSUS - Vol.7 No.10, Mei 2008 Majalah Farmacia
Melihat kilas masa lampau, sejarah perjuangan kebangkitan Indonesia dimulai dari kalangan kedokteran. Jika menilik di satu titik ke belakang lebih dari satu abad lalu, bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Cengkraman kaki dan tangan penjajah merasuk di semua sendi kehidupan masyarakat. Ketika timbul wabah penyakit di daerah Banyumas, maka bangsa ini masih tergantung sepenuhnya pada Belanda yang menguasai wilayah Indonesia saat itu. Belum ada seorang bumi putera pun yang saat itu yang memiliki ilmu kesehatan untuk menghadapai penyakit di masyarakat. Namun kenyataannya, tenaga kedokteran bangsa Belanda tidak mungkin mampu memberantas berbagai wabah tersebut, apalagi berpijak pada kenyataan bahwa menghadapi penyakit bukanlah pekerjaan yang tanpa risiko.

Timbul gagasan untuk memberikan buku tuntunan kesehatan berbahasa Jawa atau Melayu kepada setiap kepala desa atau lurah. Namun gagasan tersebut dianggap tidak akan banyak membantu memecahkan masalah. Kemudian timbul ide untuk mengambil pemuda Melayu yang berbakat dan pintar dari daerah Jawa untuk dididik sebagai Juru Kesehatan Praktis yang nantinya akan dipekerjakan sebagai mantri cacar. Gagasan ini diterima. Keluarlah keputusan Gubernemen tahun 1849 sebagai ketetapan untuk melaksanakan ide tersebut.

Bulan Januari 1851, merupakan awal rintisan dibukanya pendidikan kedokteran bagi pemuda Indonesia. Sejumlah pemuda pribumi dididik di Rumah Sakit Militer Weltevreden dengan 15 mata ajaran. Jika awalnya murid-murid kursus hanya berasal dari pulau Jawa, maka selanjutnya diterima 6 murid dari luar Jawa, yaitu 2 orang dari Sumatera Barat, 2 orang dari Minahasa, dan 2 lagi dari pulau-pulau yang lain. Sistim pendidikan pun diubah menjadi 3 tahun, dan lulusan sekolah tersebut diberikan gelar Dokter Jawa. Kursus Juru Kesehatan itu pun berubah nama menjadi Sekolah Dokter Jawa.

Pada perjalanannya, sekolah Dokter Jawa berkembang menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) yang berperan dalam mengukir sejarah perjalanan bangsa ini. Peningkatan 'status' sekolah ini tidak terlepas dari peran Dr. H.F. Rool, Direktur Sekolah Dokter Jawa periode 1896-1899 dan kemudian menjadi pimpinan STOVIA dari tahun 1901–1908. STOVIA resmi berdiri tahun 1900. Sisa-sisa murid Sekolah Dokter Jawa yang masih ada, tidak lagi dicetak sebagai Dokter Jawa, namun meneruskan pelajarannya di STOVIA. Kurun waktu 1903-1904 STOVIA telah berhasil menghasilkan 11 orang Inlandsche Artsen (dokter bumiputra). Dengan gelar tersebut, para lulusan berhak mempraktekkan ilmu kedokteran yang mereka dapatkan. Lama pendidian yang harus dilewati pun telah bertambah menjadi 9 tahun.

Sekolah kedokteran STOVIA menjadi saksi betapa siswa-siswa sekolah kedokteran turut ambil bagian bagi perjalanan sejarah bangsa ini. Minggu, 20 Mei 1908, pukul 9 pagi di ruang kuliah anatomi, sebuah perkumpulan bernama Boedi Oetomo berdiri. Perkumpulan ini lahir di atas kesadaran para pendirinya, betapa penjajahan melahirkan kebodohan, kemelaratan, dan penderitaan bagi rakyat. Maka, kemajuan perlu dikejar salah satunya dengan pendidikan. Hanya dengan kepandaian dan kecerdasan cita-cita luhur sebuah bangsa dapat diperjuangkan. Cukuplah bangsa Indonesia direndahkan martabatnya oleh bangsa lain dalam hal ini penjajah sebagai bangsa yang bodoh dan dapat diambil keuntungan sebanyak-banyaknya.
Boedi Oetomo, Antara Dr. R. Soetomo, dan Dr. Wahidin

Sebagai motor penggerak Budi Utomo, nama Dr. R. Soetomo tidak bisa dilepaskan dari organisasi ini. Pemuda Soetomo, mencatatkan diri sebagai pelajar di STOVIA tatkala berusia 15 tahun pada tanggal 10 Januari 1903. Bersama teman-temannya seperti R.M. Goembrek, M. Soeradji, M. Goenawan Mangoenkoesoemo, M. Mohamad Saleh, dam M. Soeleimen Soetomo, ia memproklamirkan perkumpulan tersebut.

Sebelumnya, apa yang diusahakan Soetomo dan rekan-rekannya tidak terlepas dari idealisme seorang Dr. Wahidin Soedirohoesodo. Dokter yang telah pensiun ini menjadi pimpinan redaksi surat kabar "Retnodhumilah" tahun 1901-1906. Melalui surat kabar tersebut, Wahidin selalu berusaha membangkitkan pengertian golongan priyayi Bumiputera agar memberikan bantuan pada rakyat untuk meningkatkan kecerdasan mereka. Caranya adalah dengan membentuk Studiefonds atau dana pendidikan. Sekolah-sekolah yang sudah ada berdiri lebih ditujukan untuk kepentingan Belanda, yang membutuhkan tenaga yang dapat membaca dan menulis. Karena jika harus selalu mendatangkan tenaga dari Belanda maka ongkosnya terlalu mahal. Wahidin sendiri adalah lulusan Sekolah Dokter Jawa Weltevreden dan selanjutnya menjadi asisten dosen di almamaternya.

Meski suaranya menghimbau kalangan pribumi cukup keras melalui tulisan-tulisannya, namun Wahidin merasa seruan tersebut tidak membuahkan hasil. Wahidin pun mencoba cara lain, yaitu dengan terjun langsung ke lapangan mempropagandakan cita-citanya ke kalangan para bangsawan atau priyayi-priyayi bumiputera. Ia pun mengadakan perjalanan keliling Jawa menemui kalangan elit masyarakat, mengajak mereka ikut aktif memikirkan pendidikan bangsa yang masih rendah tingkat kecerdasannya. Ia membiayai sendiri perjalanannya tersebut.

Akhir tahun 1907, dalam perjalanan menuju Banten, Wahidin singgah di Stovia. Ia memaparkan cita-citanya kepada R. Soetomo dan M. Soeradji dan kedua siswa STOVIA tersebut sangat terkesan oleh segala upaya Wahidin. Dari pertemuan inilah Soetomo semakin terbakar untuk mendirikan Boedi Oetomo.

Upaya keras wahidin kerap menimbulkan anggapa salah bahwa ialah pendiri Boedi Oetomo. Meski bukanlah pendiri, namun ia orang yang paling gembira dan menyambut baik lahirnya perhimpunan ini. Wahidin bahkan menjadi ketua cabang Boedi Oetomo Yogyakarta dan mengupayakan berdirinya tiga buah sekolah, satu di Surakarta dan 2 lagi di Yogyakarta yang juga kelanjutan cita-citanya mengupayakan Studiefonds. Bahkan Kongres pertama Boedi Oetomo juga diputuskan diselenggarakan di Yogya, salah satunya dengan alasan, Yogyakarta merupakan kota tempat tinggal Wahidin.

Soetomo dan teman-temanya memang menyatakan kagum dan hormat pada perjuangan Wahidin. Dalam sebuah dokumen yang dikeluarkan Dinas Museum dan Sejarah tahun 1973, Soetomo mengatakan, "Pertemuan dengan Dr. Wahidin Soedirohoesodo ....., yang yakin kalau membentangkan cita-citanya, telah memberi bekas pada saya yang dalam...." Soetomo juga mengatakan, "Berbicara dengan Dr. Wahidin, mendengarkan akan tujuannya, menghilangkan perasaan dan tujuan yang terbatas, terbatas hanya untuk keperluan diri belaka."
Menjelang 100 tahun

Apa yang dilakukan Wahidin, menunjukkan bagaimana peran seorang dokter yang berjuang ikhlas untuk kepentingan bangsanya meski untuk itu ia menghabiskan harta kekayaannya. Sejarah pun berlanjut, mencatat nama-nama dokter yang turut membela kepentingan bangsa, meski namanya tidak sebenderang Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin.

Selama masa pendudukan tentara Jepang maupun perang kemerdekaan, tercatat beberapa nama dokter telah mengorbankan nyawanya. Prof. Dr. Achmad Mochtar, lulusan Stovia 1916 dan lulusan doktor di Amsterdam tahun 1926, ditembak mati dalam tahanan Kem Pek Tai, pada Juli 1944 di jakarta karena tuduhan palsu telah mencampur basil tetanus dalam vaksin. Dr. Marah Achmad Arif dan Dr. Soelaiman Siregar juga menghadapi tuduhan serupa hingga tewas akibat siksaan Jepang. Dr. Ismangil, lulusan Geneeskundige Gogeschool tahun 1937, dokter PETA yang ditembak Jepang karena terlibat dalam peristiwa Blitar. Dr. Kariadi, yang tewas dalam oertempuran lima hari di Semarang. Prof. Abdulrachman Saleh, lulusan Geneeskundige Gogeschool 1936 yang gugur dalam pesawat terbang yang ditembak Belanda. Dan masih banyak lagi deretan nama-nama dokter yang tewas seperti dikutip dari tulisan Prof. M.A. Hanafiah SM.

Beberapa nama dokter juga tercatat berperan di berbagai bidang non medis seperti dr. Adnan Kapau Gani yang pernah menjadi wakil perdana menteri atau selama revolusi fisik menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan. Dr. Gani juga mendapat julukan "The Greatest Smuggler of East Asia', karena keaktifannya menyelundupkan senjata untuk perjuangan bangsa. Dr. A. Halim sebagai menteri pertahanan, dan sederet nama lain.

Kini, lebih dari seratus tahun telah berselang, sejak cikal bakal Sekolah Kedokteran yang melahirkan pejuang dari kalangan medis, yang melahirkan kalangan intelektual yang sangat peduli akan nasib bangsa berdiri, sejak salah satu ruang kuliah menjadi saksi bisu kebangkitan bangsa pada tanggal 20 Mei yang amat lalu. Menjelang tanggal yang sama, ada sebuah pertanyaan menggayut, sejauh mana peran kita sebagai dokter saat ini? Siapkah kita kembali berjuang atas nama rakyat menghadapi musuh yang sama sekali berbeda, menghadapi penyakit-penyakit laten masyarakat seperti kebodohan dan kemelaratan, dan juga pendidikan yang tidak dinikmati semua pihak? Siapkah kita atas nama korps medik menuntaskan penyakit-penyakit seperti TBC, flu burung, demam berdarah, atau HIV yang tidak jua berakhir bahkan juga tidak terurai?


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 9:34 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Fri Aug 27, 2010 7:45 pm

KELUARGA TAK PERCAYAI DOKTER KALAU DIAGNOSA PASIEN BURUK
Vera Farah Bararah - detikHealth - Kamis, 01/07/2010 12:30 WIB
Pennsylvania, Dokter dan keluarga pasien kerap punya pendapat berbeda tentang kemungkinan kelangsungan hidup dari pasien yang kritis. Ketika dokter memberitahu hasil diagnosa pasien yang buruk, seringkali keluarga tak mau mempercayainya. Keluarga dari pasien kritis memiliki pandangan yang lebih optimis dibandingkan dokter, termasuk dalam hal kemungkinan kelangsungan hidup dari pasien. Meskipun pasien tersebut dalam kondisi kritis dan dirawat di ICU.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan apakah dokter sudah secara efektif mengkomunikasikan perkiraan kemungkinan prognosis pasiennya.
Pada studi terbaru yang dilakukan University of Pittsburgh Medical Center di Pennsylvania, keluarga pasien ternyata tidak mempercayai dokter ketika mengatakan 'sangat tidak mungkin untuk bertahan hidup' atau 'sangat mungkin untuk meninggal' atau 'pasien memiliki kesempatan 10 persen untuk bertahan hidup'.

Peneliti menemukan partisipan studi ini justru akan pergi dengan memiliki perkiraan yang lebih positif dibandingkan dengan prognosis yang dokter.
"Temuan utama dari studi ini adalah banyak keluarga pasien yang tidak mempercayai perkiraan dokter terhadap nilai nominalnya. Disarankan komunikasi yang efektif dengan keluarga dan tidak hanya mengenai angka perkiraan harapan hidup dari pasien," ujar Dr Douglas B. White dari University of Pittsburgh Medical Center di Pennsylvania, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (1/7/2010).

Dr White mengatakan dokter ICU harus membatasi jumlah informasi yang disampaikan pada keluarga pasien, sehingga anggota keluarga tidak terlalu kewalahan pada saat keluarga merasa putus asa. Kunci lain yang turut mempengaruhi adalah kepercayaan, karena dokter ICU bukanlah dokter keluarga yang berarti keluarga diminta untuk percaya pada penilaian dari orang asing. Keluarga dari pasien ICU biasanya tak hanya bergantung pada perkiraan dokter semata. Keluarga sering memiliki persepsi tersendiri mengenai kekuatan orang yang dicintainya, kepercayaan dan optimisme.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 9:35 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 28, 2010 6:51 am

JIKA DOKTER DAN SUSTER MENTERTAWAKAN PASIEN
Jumat, 17/09/2010 15:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Cebu City, Filipina, Dokter dan suster kadang bercakap-cakap ketika sedang mengoperasi pasien yang tidur tak sadarkan diri. Tapi jika dokter dan suster sampai menertawakan pasien yang dioperasi bisa kena tudingan pelanggaran privasi pasien. Maka itu dokter dan suster yang melakukan operasi harus memperhatikan perilakunya, jika tidak hal ini bisa menjadi kasus. Seperti yang terjadi di Filipina, beberapa dokter dan suster di Vicente Sotto Memorial Medical Center (VSMMC) dalam rekaman kamera terlihat sedang menertawakan pasiennya. Hal ini terjadi ketika dokter dan suster melakukan operasi pengangkatan botol parfum dari lubang anus pasien.

Peristiwa ini sebenarnya terjadi pada tahun 2008. Namun kejadian itu terus menjadi pelajaran bagi tenaga medis bagaimana pentingnya menjaga privasi pasien sebagai privasi yang suci. Gara-gara peristiwa itu, VSMMC mendapat kecaman luas karena tenaga medisnya dianggap tidak menghormati pasien, ketika pasien tidak sadarkan diri saat dioperasi.

Dalam video yang bisa dilihat di situs YouTube ini terlihat bahwa dokter yang terlibat dalam operasi ini terlihat tertawa penuh semangat selama melakukan operasi terhadap pasien bernama Jan-Jan (39 tahun). Tawa dokter makin keras ketika botol parfum setinggi 10 cm itu berhasil diangkat dari lubang anus. Bahkan dokter yang memegang botol parfum tersebut masih sempat-sempatnya menyemprotkan parfum itu ditangannya. Dr Emmanuel Gines, selaku jubir VSMMC dan kepala ruang darurat mengakui kejadian tersebut memang ada di rumah sakitnya. Dia telah meminta maaf ke publik atas kejadian tersebut pada April 2008.

Gines berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa apa yang terjadi pada pasien Jan-Jan adalah yang terakhir kalinya dan tidak akan terjadi lagi. Salah satunya adalah dengan menetapkan kebijakan yang ketat di dalam ruang operasi. Dia menuturkan sedikitnya terdapat enam dokter termasuk Dr Ariel Arias yang sedang diselidiki. Namun ia tidak bisa menyebutkan dengan pasti berapa jumlah perawat yang masuk dalam proses penyelidikan ini. Meski kasus ini sudah berlangsung lama seperti dilansir Sun.Star.com, Jumat (17/9/2010), pihak rumah sakit memang dituntut untuk terus menerus menjaga privasi pasiennya.

Para dokter senior mengingatkan dokter seharusnya terikat janji profesinya untuk menghormati privasi dari pasien, dan privasi itu suci. Dokter atau perawat juga tidak boleh mengumumkan penyakit yang diderita oleh seseorang termasuk penyakit AIDS. Saat dokter melakukan operasi terhadap pasiennya, dokter muda dan perawat bisa menyaksikannya selama bertujuan untuk pendidikan. Karena seorang dokter membutuhkan pelatihan dalam prakteknya. Namun tidak semua dokter bisa menyaksikan proses operasi, seperti dokter non-residen dan perawat yang tidak bertugas tidak diizinkan untuk menyaksikan operasi.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 9:36 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 28, 2010 6:52 am

ADA 'KONSPIRASI' DOKTER DENGAN PERUSAHAAN FARMASI
Rabu, 20 Oktober 2010 | 09:26 WIB
SINGAPURA, KOMPAS.com - Hasil riset menunjukkan, para dokter cenderung memberi resep obat buatan perusahaan farmasi yang mempromosikan produknya ke dokter bersangkutan. Alhasil, pasien harus membayar lebih biaya obat tersebut dan seringkali tidak memeroleh pengobatan yang tepat . Fakta tersebut adalah hasil penelitian yang digagas Geoffrey Spurling dari Universitas Queensland, Brisbane, Australia. Hasil analisis terhadap 58 studi di sejumlah negara itu juga mengungkapkan bahwa informasi dari perusahaan farmasi mempengaruhi para dokter dalam menetapkan resep kepada pasiennya. "Anda tak bisa mengatakan bahwa informasi dari perusahaan-perusahaan farmasi itu membantu peresepan obat para dokter seperti diklaim perusahaan-perusahaan farmasi itu," kata Spurling.

Klaim para dokter bahwa mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh informasi perusahaan farmasi saat memutuskan resep obat pasiennya juga tidak terbukti daalam hasil studi itu. "Anda patut mengatakan bahwa setidaknya pada saat tertentu, para dokter itu terpengaruh," ujar Spurling seperti dikutip Reuters. Beberapa peneliti yang terlibat dalam riset Spurling ini merupakan anggota "Healthy Skepticism", organisasi riset, pendidikan, bantuan hukum nirlaba internasional yang dibentuk untuk membantu mengurangi bahaya informasi kesehatan yang menyesatkan bagi publik.

Laporan penelitian itu menyebutkan bahwa para dokter yang menerima penjelasan maupun informasi dari perusahaan farmasi lebih mungkin memberi resep obat produksi perusahaan farmasi bersangkutan kepada pasiennya. Hasil 38 studi yang dilakukan juga menunjukkan adanya kecenderungan keterkaitan langsung antara informasi perusahaan farmasi itu dan peresepan obat. Namun hasil 13 studi lainnya tidak menunjukkan adanya keterkaitan itu, kata Suprling dan anggota tim riset pimpinannya dalam laporan penelitian yang dipublikasi jurnal "Public Library of Science PLoS Medicine" tersebut. Tidak satu pun hasil studi itu mendapati para dokter menjadi kurang sering memberi resep obat karena bahan promosi maupun informasi perusahaan farmasi.

Menanggapi hasil riset yang dilakukan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Denmark, Prancis, Estonia, Turki dan Australia, Dr.Sid Wolfe dari kelompok advokasi, Public Citizen, mengatakan bahwa industri farmasi tidak mengeluarkan dananya berikut staf penjualan obat kalau tingkat keberhasilannya nol.
"Mayoritas dokter mendapatkan informasi tentang obat-obatan dari industri farmasi ini," katanya. Para staf penjualan obat perusahaan farmasi ini bahkan sering membawakan makan siang ke kantor seorang dokter praktik maupun mengundang mereka ke acara-acara olah raga dan hiburan lainnya saat mereka memberikan penjelasan.

Menurut Spurling, hasil studi di Inggris terhadap lebih dari seribu orang dokter umum mendapati bahwa mereka yang lebih sering bertemu staf pemasaran obat cenderung lebih sering memberi resep-resep obat mahal. Namun, tidak ada jaminan bahwa pasien mendapatikan obat-obatan yang tepat bagi penyakitnya. Mengutip hasil-hasil studi yang ada, Spurling mengatakan, mutu resep obat yang diberikan para dokter kepada pasiennya itu berada di bawah standar pedoman maupun rekomendasi para ahli. Sebagai contoh, pedoman resmi di Amerika meminta para dokter menggunakan obat-obatan generik yang terlama dan termurah bagi para penderita tekanan darah tinggi dan diabetes sebelum beralih ke obat-obat paten yang lebih baru dan biasanya masuk kategori resep obat-obat berbahaya.

Temuan empiris ini mendorong para peneliti mengusulkan adanya pengaturan terhadap besaran dana yang boleh dialokasikan industri farmasi untuk kepentingan promosi produk mereka. Pada 2004 saja, perusahaan-perusahaan obat Amerika menghabiskan dana sebesar 57,5 miliar dolar AS untuk kegiatan promosi. "Kita perlu regulasi yang lebih atas promosi obat. Kita tidak mendapati adanya manfaat apapun," katanya. Selain itu, para dokter juga perlu mendapat informasi tentang obat dari sumber yang beragam seperti universitas dan organisasi-organisasi kredibel lainnya, katanya. "Seorang dokter yang lain tentu mengikuti informasi terkini soal obat dari kebiasaan membaca literatur dan jurnal-jurnal ilmiah," kata Wolfe.

Kalau para dokter tak punya waktu memperoleh informasi obat dari kebiasaan membaca melainkan bergantung pada penjelasan staf penjualan perusahaan farmasi, mereka berarti bukanlah dokter yang baik, katanya. Berkaitan dengan masalah ini, ProPublica, pendukung jurnalisme investigatif, dan sejumlah organisasi lainnya di AS membeberkan fakta bahwa tujuh perusahaan farmasi di negara adidaya itu membayar ribuan dollar AS kepada sedikitnya 17 ribu orang dokter untuk berbicara dengan sejawatnya tentang produk-produk obat perusahaan farmasi yang bermitra dengannya.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 9:38 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter   Sat Aug 28, 2010 6:53 am

MASIH BANYAK DOKTER YANG MERAGUKAN MUTU OBAT GENERIK
Jumat, 22/10/2010 18:21 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Pemerintah boleh saja mengklaim mutu obat generik tak kalah bagus dari obat bermerek. Namun kenyataannya penggunaannya belum maksimal, salah satunya karena beberapa dokter masih meragukan mutu obat yang dianggap murahan itu. "Salah satu kendala pemakaian obat generik adalah masih banyak dokter yang meragukan kualitasnya. Untuk itu mutu harus ditingkatkan," ungkap Dirjen Bina Farmasi dan Alat Kesehatan, Sri Indrawati, Apt dalam evaluasi kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan di gedung Kemenkes, jakarta, Jumat (22/10/2010.

Kesan murahan kadang-kadang muncul justru karena harganya memang sangat murah. Untuk itu dalam setahun ini Kemenkes banyak melakukan rasionalisasi harga, yang menyebabkan harga beberapa jenis obat generik justru mengalami kenaikan. Awal tahun 2010, obat generik yang mengalami kenaikan harga berjumlah 33 jenis, jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2007 yang hanya 6 jenis. Sebagian besar merupakan obat suntik yang dinilai terlalu murah sehingga tidak banyak industri yang berminat untuk memproduksinya.

Meski banyak yang mengalami kenaikan harga, jenis obat generik yang mengalami penurunan tercatat masih lebih banyak. Tahun ini 106 jenis obat generik telah diturunkan harganya, lebih banyak dibandingkan tahun 2007 yang hanya 61 jenis. Namun masalah harga dan mutu bukan satu-satunya kendala dalam menggalakkan pemakaian obat generik. Menurut Sri, 30 persen penyakit memang belum bisa diatasi dengan obat generik karena obatnya masih dilindungi paten. "Obat-obat kanker termasuk jenis obat yang belum banyak tersedia versi generiknya, jadi mau tidak mau masih pakai obat yang mahal," ungkapnya.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 9:41 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

View previous topic View next topic Back to top 
Page 4 of 12Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 10, 11, 12  Next

 Similar topics

-
» doa seorang pujangga
» Bina laman web pertama anda.
» Kesan Rumah Hijau
» Kajian Kesan Penggunaan Telefon bimbit
» Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-