|
| | Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Wed Nov 16, 2011 6:55 pm | |
| PENGOBATAN TRADISIONAL MASUK KURIKULUM KEDOKTERAN Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 16 November 2011 | 15:49 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Kompetensi pengobatan obat herbal di Indonesia perlu terus di tingkatkan. Salah satunya dengan memasukan ilmu pengetahuan kesehatan herbal ke dalam kurikulum pendidikan ilmu kedokteran. Rencananya, sebanyak 72 fakultas kedokteran di seluruh Indonesia siap untuk mengadopsinya. Demikian disampaikan oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer, Kementerian Kesehatan Abidinsyah Siregar usai acara seminar "Indonesia Cinta Sehat, Saatnya Jamu Berkontribusi" di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Rabu, (16/11/2011) Rencana tersebut menurut Abidin merupakan usulan dari Wakil Menteri Kesehatan yang baru Prof. dr. Ali Gufron Mukti, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). "Beliau membaca, karena ini adalah amanat UU Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, yang di dalamnya juga menyoroti pelayanan kesehatan tradisional, maka otomatis pengetahuan dan keilmuan ini harus mengalir ke dalam dunia pendidikan," ucapnya. Kapan pastinya program tersebut akan terlaksana, Abidin mengaku belum dapat memastikannya. Namun Ia berharap pengembangan ini bisa memberikan nilai tambah bagi calon dokter dalam mengatasi berbagai jenis penyakit dan punya lebih banyak pilihan dalam memberikan obat kepada pasien. "Ketika dia menjadi dokter, dia sudah punya pilihan dalam mengobati pasien, mau menggunakan obat-obatan konvensional atau herbal. Karena tidak semua penyakit harus dikasih obat. Apalagi, hariga obat makin kesini harganya makin mahal dan terus naik, karena impornya sekarang sudah di atas 95 persen. Otomatis pengobatan herbal bisa menjadi pilihan," jelasnya. Ia menambahkan, beberapa fakultas kedokteran seperti Universitas Airlangga, Diponegoro, Universitas Indonesia, Hassanudin, Universitas Sumatera Utara (USU), dan Gajahmada, sudah menaikan jumlah SKS terkait mata kuliah pengobatan herbal. "Meskipun baru 2 (dua) SKS, paling tidak akan membuat calon dokter mengerti. Jangan sampai ada kesan dokter tidak mengerti. Dokter Indonesia harus memiliki pengetahuan yang lebih berkembang, seimbang antara pengetahuan barat dan timur," tukasnya. Di beberapa negara, lanjut Abidin, seperti China, Korea, Amerika, Jerman dan Australia, sudah membagi ilmu kedokteran mereka ke dalam dua cabang kelompok, yaitu ada yang khusus untuk pengobatan tradisional dan pula yang khusus ilmu kedokteran modern. "Kalau kita sekarang baru mau mulai. Karena Undang-undangnya sendiri juga baru ada tahun 2009. Kita berharap Pak wakil menteri kesehatan selaku Ketua Umum AIPKI mengundang para dekan-dekan kedokteran se-Indonesia untuk mulai memikirkan hal ini, supaya dokter Indonesia tidak canggung lagi menggunakan kekayaan budaya, sebagai bagian dari pelayanan kesehatan," tandasnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Wed Nov 16, 2011 7:00 pm | |
| 2014, PENGOBATAN TRADISIONAL ADA DI 100 RUMAH SAKIT Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 16 November 2011 | 15:10 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia merupakan negara kedua terbesar di dunia setelah Brazil yang memiliki beragam sumber daya hayati dengan 30.000 ribu jenis tanaman dan sebanyak 9.600 jenis di antaranya terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Tetapi sayangnya, pemanfaatan tanaman obat masih sangat terbatas. Oleh karena itu, pada tahun 2014 Kementerian Kesehatan menargetkan sebanyak 100 rumah sakit pemerintah dapat memberi pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer. Demikian disampaikan Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer, Kementerian Kesehatan, Abidinsyah Siregar saat seminar "Indonesia Cinta Sehat, Saatnya Jamu Berkontribusi" di Gedung Kementerian Kesehatan, Rabu, (16/11/2011). Rencana tersebut menurut Abidin senapas dengan pasal 48 Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, yang mempertegas bahwa upaya pelayanan kesehatan meliputi 17 jeni pelayanan, di mana pada urutan kedua adalah pelayanan kesehatan tradisional.
"Pada tahun 2014, kami mengharapkan 50 persen kabupaten kota di Indonesia di mana didalamnya terdapat 2-3 Puskesmas dapat menyajikan pelayanan kesehatan tradisional. Disamping itu 100 rumah sakit pemerintah yang menyebar diseluruh wilayah Indonesia diharapkan mampu pula memberikan pelayanan tradisional sebagai alternatif maupun sebagai komplementer," katanya. Abidin mengatakan, minat masyarakat Indonesia terhadap penggunaan obat-obatan tradisional atau jamu cukup tinggi. Hal itu tercermin dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 yang menunjukkan, sebesar 50 persen penduduk Indonesia pernah mengonsumsi jamu, dan 96,6 persen di antaranya mengatakan jamu berkhasiat untuk meningkatkan kesehatan.
Untuk tahun 2011 ini, lanjut Abidin, baru ada 36 rumah sakit yang telah menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer. Dan baru 20 persen (100 Kabupaten/Kota) yang melaksanakan program pelayanan kesehatan tradisional. "Sudah ada klinik medik yang menangani khusus untuk pengobatan tradisional dan komplementer. Misalnya di RS. Dharmais, mereka sudah menggunakan herbal dan akupuntur. Tapi ingat, obat herbal bukan untuk mengobati, tapi mempercepat proses penyembuhan dan lebih ke preventif dan promotif. Yang mengobati tetap obat-obatan konvensional karena sudah diteliti," jelasnya. Abidin mengaku sudah menjamin keamanan penggunaan obat tradisional di rumah sakit karena sudah distandarisasi dan dapat dipertanggungjawabkan efektivitas, serta keamanannya. Disinggung tanaman obat apa yang menjadi unggulan Indonesia, Abidin mengatakan, "30 ribu jenis tanamaman herbal yang terdapat di Indonesia mempunyai kelebihan masing-masing. Kita belum menetapkan tanaman apa yang menjadi keunggulan. Tapi dengan proses, suatu ketika kita bisa tahu mana yang betul-betul menjadi unggulan," tandasnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Wed Dec 14, 2011 1:23 pm | |
| MENKES INGATKAN DOKTER PRIBADI NUNUN SOAL ETIKA Hindra Liu | Asep Candra | Selasa, 13 Desember 2011 | 11:02 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengingatkan dr Andreas Harry SpS (K), dokter pribadi tersangka kasus suap cek perjalanan Nunun Nurbaeti, soal profesionalisme dan kode etik dokter. Menkes mengatakan, setiap dokter terikat pada profesionalisme dan etika. "Ada sanksi di Majelis Kehormatan (MKDKI)," kata Menkes kepada para wartawan di sela-sela acara Penganugrahan Tanda Kehormatan Satyalancana Kebaktian Sosial kepada Pendonor Darah di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (13/12/2011). Menkes tidak merinci mengenai sanksi tersebut. Namun Menkes mengatakan, hal terberat justru adalah sanksi sosial yang diberikan kepada rekan-rekan sejawat dokter yang melanggar kode etik. Reputasi dokter yang melanggar kode etik akan hilang. Endang sendiri menolak memberikan komentar terkait hasil diagnosa dr Andreas. Menkes hanya mengatakan, dirinya mengembalikan itu kepada kode etik profesi dokter. Menkes mengatakan, idealnya, seorang dokter tidak mempublikasikan hasil diagnosa pasiennya kepada publik, kecuali diminta oleh pengadilan. Namun, kata Menkes, hal tersebut kembali kepada pasien. Seperti diwartakan, Dr Andreas Harry, ahli neurologist, sempat memperlihatkan rekam medik dan hasil CT scan Nunun saat jumpa pers mengenai penyakit yang diderita Nunun, ketika awal kasus ini mencuat. Nunun dikatakan menderita penyakit severe memory loss (gangguan memory berat) yang akan berlanjut menjadi Demensia tipe Alzheimers. Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi akan menyiapkan second opinion atau pendapat pembanding terkait penyakit Nunun. "Kita akan adakan pemeriksaan kesehatan terkait sakitnya Nunun, (second opinion) terhadap surat keterangan dokter yang beredar selama ini," ujar Wakil Ketua KPK, Bibit Samad Riyanto melalui pesan singkat, Senin (12/12/2011) kemarin.
Last edited by gitahafas on Mon Jan 16, 2012 9:56 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Mon Jan 16, 2012 9:54 am | |
| JUMLAH DOKTER CUKUP, SEBARAN TAK MERATA Lusia Kus Anna | Sabtu, 7 Januari 2012 | 06:55 WIB Jakarta, Kompas - Untuk mengatasi kekurangan dokter di daerah terpencil, pemerintah membuka lowongan dokter sebagai pegawai tidak tetap di puskesmas terpencil di 36 kabupaten di delapan provinsi. Namun, lowongan itu sepi peminat. ”Selain daerahnya sulit dan terpencil, pemerintah daerah juga enggan memberikan insentif tambahan bagi para dokter,” kata Kepala Biro Kepegawaian Kementerian Kesehatan Pattiselanno Roberth Johan, Jumat (6/1), di Jakarta. Pattiselanno enggan menyebutkan nama kabupaten yang tersebar di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Lain halnya dengan Papua, Papua Barat, dan Maluku, walaupun banyak daerah sulit, lowongan dokter diminati karena insentif pemerintah daerah sangat baik. Demikian juga Kabupaten Wakatobi di Sulawesi Tenggara yang wilayahnya berpulau-pulau. Sejak program Wajib Kerja Sarjana dihapuskan karena dianggap bertentangan dengan hak asasi manusia, dokter tak lagi wajib bertugas di daerah. Untuk memenuhi kebutuhan, pemerintah pusat mengangkat dokter pegawai tidak tetap berdasarkan usulan pemda.
Selama tahun 2011, pemerintah mengangkat 3.782 dokter umum untuk ditempatkan di daerah biasa, terpencil, dan sangat terpencil. Jumlah dokter yang ditempatkan di daerah sangat terpencil 2.352 orang. Selain dokter umum, diangkat juga 943 dokter gigi dan 34.609 bidan. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menyebut, rasio dokter per penduduk di Jawa dan luar Jawa hampir sama, 18,5 dan 18,1. Dokter di Jawa menghadapi masalah besarnya jumlah penduduk yang ditangani, sedangkan dokter di luar Jawa menghadapi luasnya wilayah, penduduk terpencar-pencar, dan medan yang relatif lebih sulit. Kesenjangan ini membuat 25 persen puskesmas tidak memiliki dokter. Banyak rumah sakit di luar Jawa tidak memiliki dokter spesialis. ”Masalah tenaga kesehatan di Indonesia bukan hanya jumlah, tetapi juga distribusi,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam Evaluasi Kinerja 2011 dan Program Prioritas 2012, Rabu, di Jakarta.
Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK), Kemkes, Bambang Giatno Rahardjo menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis di rumah sakit daerah, pemerintah sejak tahun 2008 memberi beasiswa bagi 3.200 dokter untuk mengikuti pendidikan spesialis. Mereka diharapkan selesai tahun 2013. Menurut Bambang, salah satu kendala pemerataan dokter adalah tidak adanya aturan atau kewenangan Menteri Kesehatan untuk menempatkan mereka. Jika Menkes menugaskan dokter pegawai tidak tetap di satu puskesmas tertentu, pemda bisa memindahkan mereka ke tempat lain dengan alasan lebih dibutuhkan. Di sisi lain, daerah kesulitan merekrut dokter untuk menjadi pegawai negeri sipil. Kecilnya gaji dan kurang kesempatan berkembang membuat dokter enggan. Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, BPPSDMK Kemkes, Tritarayati mengatakan, pemerintah juga menempatkan perawat, sanitarian, tenaga gizi, dan tenaga laboratorium di daerah terpencil, rawan bencana, atau konflik sosial. (MZW) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Mon Jan 16, 2012 9:55 am | |
| 5 HAL YANG HARUS DITANYAKAN KEPADA DOKTER Lusia Kus Anna | Jumat, 13 Januari 2012 | 12:57 WIB KOMPAS.com — Saat kita datang ke dokter tentu kita berharap semua masalah kesehatan kita terpecahkan. Namun sayangnya, dokter tetaplah manusia biasa, bukan pahlawan super. Sikap pasif seperti tidak memberikan keterangan dengan lengkap pada dokter mengenai gejala atau riwayat penyakit dalam keluarga bisa membuat dokter salah mengambil kesimpulan. "Mayoritas pasien menginginkan dokter yang sempurna, yang tahu semua hal. Padahal, tentu ada alasannya mengapa ada spesialisasi dalam dunia kedokteran," kata Travis Stork, MD, seorang dokter yang juga membawakan acara The Doctors. Untuk mencegah terjadinya salah paham dan salah duga, ada baiknya Anda membekali diri dengan informasi serta memberikan informasi yang lengkap kepada dokter. Anda juga perlu mengajukan pertanyaan yang tepat kepada dokter. Berikut panduannya.
1. Perlukah saya mencari opini kedua? Anda berhak menanyakan pada dokter perlu tidaknya mencari opini kedua dari dokter lain. Bila dokter menemukan kasus yang belum pernah ditemui, biasanya mereka juga akan berkonsultasi dengan rekannya yang lebih berpengalaman. Jadi, tak ada salahnya juga jika inisiatif itu datang dari Anda.
2. Jadi menurut dokter penyakit saya adalah.... "Bila Anda tidak yakin dengan penjelasan dokter, tanyakan saja," kata Stork. Dunia kedokteran tidak hitam dan putih, dan sering kali ada perbedaan besar antara apa yang disampaikan dokter dengan yang dipahami pasien. Jangan meninggalkan ruang praktik dokter jika Anda merasa belum yakin.
3. Apa tujuan dari tindakan ini? Mayoritas pasien menginginkan jawaban segera dan dokter tidak selalu memilikinya. Penegakan diagnosis sering tidak bisa dilakukan hanya dengan pemeriksaan fisik, tetapi juga pemeriksaan penunjang. Jika Anda marah-marah karena belum mendapat diagnosis yang pasti, dokter bisa bersifat defensif dan merasa tertekan untuk memberi jawaban yang belum diketahuinya. Dokter yang baik biasanya akan menjawab, "Selama belum diketahui dengan pasti apa yang terjadi, yang saya tahu adalah melakukan tindakan CT Scan ini untuk mencari tahu pasti penyakitnya".
4. Mungkinkah saya menderita penyakit ini? Makin lengkap informasi yang Anda berikan, makin membantu dokter dalam menegakkan diagnosis. Tugas Anda adalah merinci gejala yang dirasakan, kapan dimulai, dan mungkinkah terjadi pemburukan. "Hindari mengatakan hipotesis Anda sebagai pernyataan, misalnya, sepertinya saya menderita penyakit jantung. Sebaiknya setelah menjelaskan gejala dan menceritakan ada keluarga yang juga menderita penyakit, Anda bisa bertanya pada dokter, mungkinkah ini gejala penyakit jantung?"
5. Perlukah obat atau terapi lain? Banyak orang yang mengira dokter yang bagus adalah dokter yang tahu setiap obat untuk pasiennya. Padahal, tak ada seorang pun yang mengenal diri Anda sebaik Anda sendiri. "Makin terbuka Anda pada dokter, makin individual perawatan yang diterima. Misalnya, jika Anda tak suka minum obat, tanyakan pada dokter apakah perubahan gaya hidup bisa membantu. Misalnya saja untuk hipertensi, tanpa obat pun perubahan gaya hidup sehat bisa menurunkan tekanan darah. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Tue Feb 07, 2012 9:02 pm | |
| RUU PENDIDIKAN KEDOKTERAN BIKIN DOKTER SUBSPESIALIS TAK EKSIS Selasa, 07/02/2012 17:59 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Saat ini DPR bersama pemerintah sedang menggodok RUU Pendidikan Kedokteran, agar ada aturan yang jelas mengenai proses pendidikan kedokteran di Indonesia. Sayangnya, di dalam RUU tersebut tidak disebutkan mengenai program pendidikan subspesialis (konsultan), yang artinya nanti tidak akan ada lagi dokter-dokter subspesialis baru di Indonesia. Tujuan dibuatnya Undang-undang Pendidikan Kedokteran ini adalah agar pemerintah dan tentunya DPR sebagai legislatif menginginkan adanya aturan yang jelas mengenai proses pendidikan kedokteran di Indonesia. Namun dalam perjalanan penyusunan UU, ada upaya untuk menghapuskan program pendidikan subspesialis (Sp-2 atau konsultan) dalam jenjang pendidikan kedokteran di Indonesia.
"Subspesialis atau konsultan itu merupakan dokter dengan kemampuan yang lebih dalam dari dokter spesialis. Jadi tingkatannya dokter umum, dokter spesialis dan dokter subspesialis. Kalau dihapuskan, jadi nanti karir dokter Indonesia hanya mentok sampai dokter spesialis saja," jelas Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD, K-HOM, FINASIM, Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Dalam, dalam acara Media Gathering di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta, Selasa (7/2/2012). Program pendidikan kedokteran subspesialis sendiri bertujuan untuk menyediakan tenaga dokter dan konsultan yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dokter subspesialis di RS-RS tipe A atau RS tersier atau RS rujukan. "Kalau RUU tersebut berhasil dan jadi UU, maka pendidikan konsultan akan dihapuskan. Masyarakat tidak akan lagi mendapatkan pelayanan dari konsultan yang kompeten. Akhirnya nanti para konsultan akan berasal dari luar negeri atau dokter-dokter harus belajar ke luar negeri dengan biaya mahal," ujar DR Dr Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP, Ketua Advokasi PB PAPDI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia).
Selain itu, kekurangan dokter subspesialis jelas akan membuka peluang lebih banyak lagi bagi masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri demi mencari tenaga dokter subspesialis. "Agar ada dokter spesialis yang handal harus ada dokter subspesialis yang terus meningkatkan ilmu yang ada, karena yang mengajar dokter spesialis yang dokter-dokter subspesialis," jelas DR Dr Aru Sudoyo, SppD, K-HOM, FINASIM, FACP, Ketua Umum PB PAPDI. Dengan penghapusan program pendidikan dokter subspesialis, jelas Dr Sukman Tulus Putra, SpA(K), Ketua Program Studi Subspesialis Jantung Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, juga akan membuat dokter-dokter asing dengan mudah masuk ke Indonesia. "Masyarakat mungkin akan punya banyak pilihan, tapi hanya orang-orang yang berduit saja," tutup Dr Sukman. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Thu Feb 09, 2012 8:20 pm | |
| 10 CARA MENGHINDARI KESALAHAN MEDIS SAAT BEROBAT KE RS Kamis, 09/02/2012 16:55 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Jakarta, Dokter dan petugas kesehatan selalu mengusahakan yang terbaik untuk pasiennya. Namun, maraknya isu kesalahan medis yang terjadi di rumah sakit membuat sebagian orang jadi takut. Berikut tips untuk menghindari kesalahan medis saat berobat ke rumah sakit. Bagaimana pun fasilitas kesehatan memiliki banyak manfaat, tidak hanya menyembuhkan suatu penyakit tetapi juga untuk tujuan pencegahan. Tapi tetap saja untuk mewaspadai kesalahan medis yang terjadi. Berikut 10 cara untuk menghindari kesalahan medis saat berobat ke rumah sakit seperti dikutip dari Prevention, Kamis (9/2/2012) antara lain:
1. Pilih rumah sakit dengan hati-hati Infeksi dapat diperoleh setelah memeriksakan diri ke rumah sakit. Namun, sebenarnya infeksi tersebut dapat dicegah. Oleh karena hal tersebut sebaiknya memilih rumah sakit yang terlihat bersih dan setelah pulang dari rumah sakit selalu mencuci tangan.
2. Periksa pengalaman dokter Semakin sering seorang dokter telah melakukan prosedur, semakin akrab ia dengan variasinya dan komplikasi, sehingga memungkinkan tingkat keberhasilan perawatan yang lebih tinggi. Pastikan dokter cukup ahli dalam spesialisasinya.
3. Memilih waktu operasi selain akhir pekan dan hari libur Akhir pekan, malam dan hari libur bukan merupakan pilihan waktu yang optimal untuk operasi. Karena, staf ruang operasi mungkin terlalu lelah dan kurang mampu berkonsentrasi saat akhir pekan dan hari libur.
4. Tanyakan tentang catatan medis elektronik Sebuah rumah sakit yang sangat sibuk, order obat yang rumit dan harus cepat, seringkali dapat menjadi sumber kesalahan. Jika memungkinkan, pilihlah rumah sakit yang telah menggunakan catatan medis elektronik. Catatan medis elektronik dapat memungkinkan meminimalkan kesalahan-kesalahan komunikasi antara petugas kesehatan.
5. Jangan pergi sendiri Bila sendirian pergi ke rumah sakit, pasien tersebut mungkin akan lebih khawatir dan stres, sehingga sangat membantu untuk meminta keluarga atau teman untuk mengantarkan dan menemani.
6. Operasi atau tindakan perawatan yang terencana dengan baik Dokter bedah harus meminta waktu sebelum prosedur operasi atau prosedur perawatan lain, sehingga tim operasi dapat membuat semua orang tahu siapa pasiennya dan menyiapkan prosedur yang benar dalam perawatan.
7. Permintaan mencuci tangan Potensi untuk infeksi mengintai di berbagai sudut di rumah sakit. Maka sebaiknya mintalah setiap petugas kesehatan untuk mencuci tangan sebelum menyentuh atau memeriksa.
8. Pembersihan ruangan secara berkala Biasanya, ruangan rawat inap benar-benar dibersihkan secara total ketika pergantian antara pasien. Tetapi jika berada di sana selama beberapa hari, mintalah agar daerah yang sering disentuh untuk didesinfeksi. Karena segala sesuatu di ruangan itu berpotensi menyebarkan infeksi.
9. Hindari aksesoris yang digunakan dokter Dasi atau kalung dokter mungkin bersentuhan dengan segala macam kuman yang mematikan dan bisa menyebar antar pasien. Mintalah dokter untuk menanggalkan dan menyimpan benda-benda tersebut. Selain itu, sebaiknya juga memiliki tisu alkohol untuk mendesinfeksi apapun, seperti pena atau instrumen medis yang sudah tersentuh oleh banyak tangan dan mungkin terkontaminasi.
10. Mencegah jatuh yang berbahaya Sekitar 30 persen kasus cedera serius akibat terjatuh, terjadi di rumah sakit. Mintalah bantuan jika merasa tidak dapat berjalan dengan baik. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Fri Feb 10, 2012 8:34 pm | |
| BANYAK DOKTER YANG KURANG JUJUR MENGENAI PERAWATAN PASIEN Jumat, 10/02/2012 13:26 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Jakarta, Masih banyak dokter mungkin tidak jujur kepada pasiennya. Hal tersebut diungkapkan oleh para peneliti berdasarkan hasil survei terbaru. Padahal dalam standar medis profesi dokter harus berterus terang dengan pasiennya, terutama ketika membahas prognosis. Prognosis adalah istilah medis untuk memprediksi hasil kemungkinan suatu penyakit, yang sering melibatkan penjelasan secara rinci. Berdasarkan hasil survei menemukan banyak dokter memberi prediksi yang terlalu optimistis kepada pasiennya. Ketika sampai pada pembicaraan mengenai kesalahan medis atau mengungkapkan hubungan keuangan dengan perusahaan obat, banyak yang mengatakan bahwa banyak dokter yang telah menahan informasi tersebut. Survei tersebut telah dilakukan oleh para peneliti Massachusetts General Hospital dan diterbitkan dalam Health Affairs edisi Februari 2012. Survei tersebut telah melibatkan hampir 1.900 dokter. Ada beberapa kecenderungan yang dapat membuat hasil survei bias.
Satu dari 10 dokter mengatakan benar-benar berbohong kepada seorang pasien di tahun sebelumnya, sepertiga dari dokter yang disurvei tidak berpikir harus mengungkapkan kesalahan medis yang serius kepada pasiennya, dan hampir dua perlima dokter tidak berpikir perlu untuk bersikap terbuka tentang hubungan keuangan dengan perusahaan obat dan perangkat medis. "Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan dan keinginan pasien mungkin tidak selalu menjadi perhatian pertama dari dokter. Pasien yang tidak mendapatkan cerita lengkap tidak mungkin dapat membuat pilihan informasi mengenai tindakan yang terbaik untuk perawatannya. Sampai semua dokter mengambil pendekatan yang jujur dan terbuka, maka akan sangat sulit untuk memberlakukan perawatan yang terpusat pada pasien secara lebih luas," Dr Lisa Iezzoni, seorang profesor kedokteran dari Harvard Medical School seperti dilansir dari EverydayHealth, Jumat (10/2/2012).
Meskipun sebagian besar dokter yang disurvei berpikir dokter harus benar-benar menceritakan kepada pasien mengenai risiko dan manfaat pengobatan. Namun banyak yang mengakui bahwa tidak selalu mengikuti standar tersebut ketika berhadapan dengan pasiennya. Selama beberapa dekade, profesi dokter banyak didominasi oleh pria sehingga dokter wanita menjadi minoritas. Menariknya, dokter wanita lebih mungkin menjelaskan segala macam perawatan dan prognosis secara jujur kepada pasien dibandingkan dengan dokter pria. Para peneliti memprediksi hal tersebut mungkin disebabkan karena dokter wanita sebagai dokter minoritas merasa lebih terdorong untuk mengikuti standar perilaku profesi. Ketika sampai berbohong, dokter bedah umum adalah yang paling mungkin untuk berbohong kepada pasien. Meskipun dokter bedah umum juga lebih cenderung mengatakan ada kebutuhan untuk segera menginformasikan pasien dari setiap kesalahan medis yang terjadi. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Wed Feb 22, 2012 8:45 pm | |
| DEKAN FKUI: SEPARUH DARI CALON DOKTER KURANG MILIKI EMPATI Rabu, 22/02/2012 15:00 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Wajar bila banyak dokter masa kini yang enggan ditugaskan di daerah-daerah tertinggal. Penelitian yang dilakukan FKUI mencatat sekitar 54 persen mahasiswa kedokteran tidak punya empati dan rasa kemanusiaan yang cukup untuk menjalankan tugas pengabdian. Penelitian yang pernah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan, 35 persen mahasiswa baru masuk dalam kategori tidak disarankan jadi dokter. Hasil tes psikometri atau pengukuran aspek-aspek psikologisnya menunjukkan, empatinya terlalu rendah sebagai calon dokter. Bahkan ketika tes yang sama dilakukan lagi pada tahun keempat masa kuliah, jumlah mahasiswa yang kurang memiliki empati naik menjadi 54 persen. Padahal untuk menjadi dokter, para mahasiswa ini perlu memiliki empati yang tinggi untuk memahami kebutuhan pasiennya.
Mahasiswa kedokteran yang kurang memiliki empati dan rasa kemanusiaan ini diyakini tidak akan tertarik untuk mengabdikan diri di daerah-daerah. Kalaupun mau, belum tentu bisa bertahan karena tuntutan kebutuhan pasiennya pasti lebih tinggi dibandingkan saat bekerja di kota besar. "Tapi jangan bilang ini cuma di FKUI atau di Indonesia. Di fakultas kedokteran luar negeri, mereka juga mendapatkan angka yang kurang lebih sama," kata Dr dr Ratna Sitompul, SpM(K), dekan FKUI usai orasi ilmiah bertema Dokter untuk Bangsa, Rabu (22/2/2012). Karena itu menurut Dr Ratna, idealnya calon mahasiswa kedokteran tidak hanya diseleksi berdasarkan nilai dan prestasi akademiknya. Sejarah dan latar belakang pendidikan di keluarganya juga perlu dilihat, untuk memastikan sejak kecil sudah diajari nilai-nilai kemanusiaan dan budaya saling menolong. Dalam Rancangan Undang-undang Kedokteran, Dr Ratna mengungkap bahwa komponen ini telah diusulkan untuk menjadi komponen dalam menyeleksi calon mahasiswa kedokteran. Kalaupun tidak disetujui, maka empati sebenarnya juga bisa ditanamkan dalam perkuliahan meski dalam praktiknya tidak selalu mudah. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Wed Feb 22, 2012 8:47 pm | |
| BAGI DOKTER, TUGAS DI DAERAH HARUSNYA JADI KEHORMATAN Rabu, 22/02/2012 13:57 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Kurang meratanya distribusi dokter di Indonesia antara lain dipicu oleh rendahnya minat dokter-dokter muda untuk ditugaskan di daerah. Untuk mengatasinya, harus ditanamkan bahwa tugas di daerah tidak cuma menjanjikan pengalaman tetapi juga kehormatan. Pendapat itu disampaikan oleh Prof Anies Baswedan, PhD, pengagas Gerakan Indonesia Mengajar dalam orasi ilmiah bertema Dokter untuk Bangsa di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Orasi ilmiah ini digelar dalam rangkaian ulang tahun Universitas Indonesia ke-62. "Yang sudah dimulai di FKUI ini menarik. Undang anak-anak itu (calon dokter) bukan dengan imbalan materi atau pengalaman, tapi kehormatan karena itu akan sangat sangat membanggakan," tegas Anies saat ditemui sebelum meninggalkan acara, Rabu (22/2/2012). Imbalan materi bagi seorang dokter muda menurut Anies tidak ada artinya sama sekali karena kelak dokter-dokter ini pasti juga akan mendapat materi. Namun jika pernah mengabdi dan melayani masyarakat selama 1-2 tahun dalam hidupnya, maka para dokter muda akan memiliki kehormatan yang tidak dipunyai semua orang.
Anies mencontohkan kisah-kisah para relawan yang ditugaskan di daerah dalam program Gerakan Indonesia Mengajar yang digagasnya. Sekembalinya dari tempat tugas, para relawan kembali berkarir di perusahaan besar dan waktu pengabdian selama 1-2 tidak akan membuatnya merasakan tetapi justru sangat membanggakan. Demikian juga ketika para dokter muda ini mau mengabdikan diri di daerah. Waktu 1-2 tahun di masa muda tidak ada artinya sama sekali dibandingkan rasa terima kasih dan penghormatan yang akan diberikan oleh masyarakat di daerah yang memang benar-benar membutuhkan kehadiran seorang dokter atau tenaga kesehatan. Kebutuhan tenaga dokter di daerah diakui juga oleh para relaran Gerakan Indonesia Mengajar. Kembali dicontohkan oleh Anies, seorang relawan muda lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) sampai harus merangkap jadi mantri kesehatan sambil mengajar sebagai guru karena memang di sebuah desa di Halmahera tempatnya mengajar tidak ada tenaga kesehatan sama sekali. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Sun Feb 26, 2012 9:13 pm | |
| INGIN CARI DOKTER YANG TEPAT? BEGINI CARANYA Minggu, 26/02/2012 08:10 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Mencari dokter pribadi bukanlah hal yang sederhana. Ada banyak dokter yang membuka praktik dan tidak semuanya memiliki kualifikasi yang benar-benar baik dan berpengalaman. Bagaimana mencari dokter yang tepat? "Mencari dokter sebelum jatuh sakit penting untuk memastikan kondisi kesehatan tetap terjaga," kata Trisha Torrey, konsultan kesehatan dan penulis buku 'You Bet Your Life: The Ten Mistakes Every Patient Makes' seperti dilansir dari Huffington Post, Minggu (26/2/2012).. Untuk dapat menemukan dokter yang tepat, berikut adalah panduan-panduannya:
1. Cari Lewat Jaringan Sosial Mulailah dengan meminta teman-teman dan keluarga untuk memberikan nama-nama dokter favorit mereka. Cara ini mungkin terlihat tidak ilmiah. Tetapi dalam suatu survei, peringkat dokter yang diperoleh lewat rekomendasi keluarga atau teman adalah cara yang paling tepat untuk memilih dokter yang baik. Pertimbangkan juga memeriksa situs untuk melihat rekomendasi kebanyakan orang. Pendapat dari orang lain bisa dijadikan ukuran yang baik untuk melihat penanganan yang dilakukan dokter. Meskipun demikian, hal itu belum dapat mengukur kemampuan medisnya. "Teman yang hanya memiliki memeriksa kondisi kesehatannya setahun sekali tidak memiliki penilaian yang baik mengenai kompetensi dokter favoritnya. Jadi, lihatlah apakah ada teman atau kenalan yang sedang mengalami gangguan kesehatan. Jika mereka merasa dilayani dengan baik oleh dokternya, maka dokter tersebut bisa dikatakan bagus," kata Torrey. "Jika teman tidak memberikan petunjuk yang baik, hubungi rumah sakit akademik atau rumah sakit yang bekerja sama dengan sekolah kedokteran dan mintalah rekomendasi. Pusat pelayanan seperti ini biasanya memiliki tenaga medis yang bagus," kata Lisa Rubenstein, MD, direktur Center for the Study of Healthcare Provider Behavior.
2. Cari Tahu Rumah Sakit Tempat Dokter Bekerja dan Berlatih "Tidak perlu membatasi diri dengan dokter yang lulus dari sekolah kedokteran paling bergengsi. Yang lebih penting adalah, rumah sakit tempat mereka melakukan residensi dan tempat mereka berlatih," kata Rubenstein. Residensi adalah tempat dimana dokter mendapatkan pelatihan sambil bekerja. Sedangkan dokter-dokter lain tempat ia bekerja akan mengasah kemampuan dalam menangani pasien. Dua hal ini tidak akan didapatkan di sekolah kedokteran. Carilah dokter yang memiliki sertifikasi dan bekerjasama dengan rumah sakit yang terkemuka. Karena jika ternyata harus dirawat di rumah sakit, rumah sakit yang sudah bekerjasama itulah kemungkinan rujukan pertamanya. "Rumah sakit akademik umumnya lebih baik dalam hal keselamatan pasien daripada rumah sakit yang tidak tidak bekerjasama dengan sekolah kedokteran," kata Rubenstein.
3. Periksa Kantor Dokter Beberapa rincian penting tentang seorang dokter dapat diketahui hanya dengan meneleponnya. Mulailah dengan menyapa. Jika resepsionis memperlakukan calon pasien dengan buruk, bisa jadi tanda bahwa praktek dokter tersebut tidak menghormati pasien pada umumnya. Jika dokter dan stafnya bagus dan profesional, maka bisa diketahui bahwa sang dokter membuka praktek di mana semua pasien diperlakukan dengan hormat.
4. Nilailah Kepribadiannya Setelah akhirnya dapat bertatap muka dengan dokter, lakukanlah konsultasi. Sebuah penelitian di Journal of American Board of Family Medicine menemukan bahwa pasien yang dokternya memiliki empati merasa lebih didukung dan lebih mampu mengarahkan kesejahteraannya sendiri. Rubenstein menyarankan pasien untuk menanyakan tentang masalah kesehatan selama pertemuan pertama, baik yang remeh ataupun yang penting. Ketika dokter menjawab pertanyaan, sebaiknya pasien menilainya sendiri: Apakah dokter memberikan penjelasan dengan baik? Apakah dokter mau berkonsultasi dengan pasien dan memberikan pasien waktu untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan lanjutan? Dokter yang melakukan hal-hal ini dan membuat pasien merasa nyaman berarti dokter yang tepat untuk pasien. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Thu Apr 12, 2012 9:31 pm | |
| 33% FAKULTAS KEDOKTERAN BELUM TERAKREDITASI Kamis, 12/04/2012 16:59 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Saat ini, di Indonesia terdapat lebih dari 70 fakultas kedokteran baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kualitasnya tentu berbeda-beda, bahkan 33 persen perlu diragukan karena belum terakreditasi. Perlukah masyarakat khawatir? "Jelas mengkhawatirkan. Itu yang sedang dibenahi dengan suatu mekanisme kemitraan antara fakultas kedokteran yang kuat dengan yang lemah," kata Dr dr Ratna Sitompul, SpM(K), Sekjen Asosiasi Institusi Pendidikan Indonesia (AIPKI) usai sarasehan 3 Pilar Pendidikan Kendokteran Indonesia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Kamis (12/4/2012). Menurut Dr Ratna, dari 70 lebih fakultas kedokteran yang ada di Indonesia hanya sekitar 17 yang memiliki akreditasi A. Selebihnya, 19 fakultas memiliki akreditasi B, 10 akreditasi C dan sisanya sebanyak 33 persen belum terakreditasi atau terakreditasi rendah. Mekanisme kemitraan yang dimaksud Dr Ratna adalah HPEQ atau Health Professional Education Quality. Dalam pelaksanaannya, falkultas kedokteran yang memiliki kualitas bagus ikut mendampingi fakultas kedokteran yang masih tertinggal agar bisa sama-sama maju.
Mengenai kualitasnya, Dr Ratna mengatakan bagus tidaknya lulusan sebuah fakultas kedokteran biasanya akan kelihatan saat ujian kompetensi. Lulusan fakultas kedokteran yang kurang berkualitas biasanya banyak yang gagal dalam uji kompetensi dan harus mengulang hingga beberapa kali. "Menurut data UKDI (Uji Kompetensi Dokter Indonesia), ada 8 fakultas kedokteran di Indonesia yang selalu menyumbang 'retaker'. Artinya selalu ada lulusan dari fakultas tersebut yang terpaksa harus mengulang ujian karena pada ujian sebelumnya tidak lulus. Bahkan ada yang sampai mengulang 18 kali," kata Dr Ratna. Kualitas fakultas kedokteran hanyalah 1 dari 3 pilar utama dalam memperbaiki kualitas dokter Indonesia. Dua pilar lainnya adalah rumah sakit pendidikan yang berkualitas, serta kolegium atau perhimpunan profesi yang bertugas menyusun pedoman dan standar pendidikan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Fri Apr 27, 2012 5:23 pm | |
| KENAPA DOKTER INDONESIA KURANG TERKENAL DI DUNIA INTERNASIONAL? Jumat, 27/04/2012 14:33 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Produktivitas dan semangat meneliti seorang dokter bisa dilihat dari banyaknya artikel yang dimuat di jurnal, terutama jurnal internasional. Jurnal merupakan media tempat para peneliti membeberkan hasil penelitiannya agar dapat menambah wawasan peneliti lain. Semakin terkenal jurnal yang memuat penelitian, maka semakin besar pula nama penelitinya. Dimuat di jurnal internasional adalah tolok ukur sederhana untuk melihat kemampuan penelitian seseorang. Jika melihat kenyataan di Indonesia, maka orang akan mudah menyimpulkan bahwa penelitian di Indonesia jauh tertinggal. Di negara-negara maju, artikel penelitian dalam jurnal internasional banyak yang tersedia secara online dan dengan mudah diakses banyak orang. Sebagai perbandingan, jumlah penelitian dari National University of Singapore (NUS) yang dimuat jurnal internasional ada sebanyak 41.227 judul. Sedangkan jumlah penelitian internasional dari Universitas Indonesia (UI) yang dimuat jurnal internasional hanya 1.124 judul. Angka ini merupakan yang terbesar di Indonesia, disusul oleh ITB sebanyak 1.100 judul, UGM 690 judul dan IPB 512 judul. "Sebenarnya jumlah penelitian kedokteran yang dilakukan di Indonesia cukup banyak. Setiap universitas juga memiliki jurnal penelitian masing-masing. Tapi kebanyakan peneliti di Indonesia nampaknya kurang memiliki budaya tulis yang kuat. Mereka sudah cukup puas jika menemukan hasil yang memuaskan namun tidak berupaya menghimpunnya dalam bentuk artikel untuk dimuat di jurnal," kata dr Ponco Buwono, SpU, PhD, manager riset Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam acara Pagelaran Penelitian Terbaik FKUI 2012 di auditorium FKUI Jakarta, Jumat (27/4/2012).
Menurut dr Ponco, penelitian yang dilakukan mahasiswa kedokteran maupun dokter di Indonesia cukup bagus dan aplikatif, sebab menyinggung permasalahan kesehatan lokal yang sering dihadapi di Indonesia. Namun diakui, inisiatif dokter untuk mempublikasikan karyanya masih rendah dibandingkan negara-negara maju. Dr Ponco juga menuturkan, jurnal-jurnal internasional sering meremehkan peneliti-peneliti dari negara berkembang. Jurnal internasional biasanya baru mau memuat artikel yang menyertakan nama seorang peneliti internasional sebagai salah satu penelitinya. Akibatnya, untuk dapat dimuat jurnal internasional, para peneliti di Indonesia banyak yang menggandeng peneliti internasional tersebut. "Penelitian dari kampus kita yang bagus terkadang kurang dipercaya oleh dunia internasional. Penyebabnya karena tidak ada nama profesor terkenal yang disertakan dalam penelitian," kata dr Ponco. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memupuk budaya meneliti dan menulis mulai dari kampus. Untuk itu, FKUI menyelenggarakan Pagelaran Penelitian Terbaik FKUI 2012. Dalam acara ini, FKUI memberikan penghargaan kepada peneliti yang hasil penelitiannya banyak dimuat di jurnal, baik nasional maupun internasional. Tujuannya agar para peneliti muda dan peneliti lain di FKUI dapat mengetahui seperti apakah penelitian yang baik.
Dalam acara ini, FKUI memberikan penganugerahan peneliti terbaik kepada 5 orang peneliti, yaitu: 1. DR Dra Taniawati Supali dari departemen parasitologi 2. Drs Dwi Ari Pujianto dari departemen biologi 3. dr Siti Setiati dari departemen penyakit dalam 4. dr Murdani Abdullah dari departemen penyakit dalam 5. dr Chaidil Muhtar dari departemen bedah |
|  | | | | Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |