|
| | Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Tue Dec 30, 2008 4:31 pm | |
| Pentingnya kesan pertama seorang dokter Monday, 11 August 2008 WASHINGTON - "Kesan pertama begitu menggoda". Mungkin Anda sudah familier dengan tagline yang dipopulerkan sebuah iklan parfum tersebut. Hal ini juga berlaku untuk para dokter. Berdasarkan penelitian, para ahli menyarankan para dokter untuk membuat kesan pertama yang baik bagi pasiennya. Sebab, tidak akan ada istilah "kesempatan kedua" untuk meninggalkan kesan yang menyenangkan.
Survei mengungkapkan, hampir semua pasien menginginkan si dokter menyebut nama dan menjabat tangan mereka ketika pertama kali bertemu. Namun, kebanyakan dokter hanya menjabat tangan saja tanpa menyebut nama si pasien. "Sapaan mungkin hanya bagian kecil dari prosesi konsultasi pasien dengan dokternya, namun efeknya bisa jangka panjang," kata kepala studi penelitian dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, Gregory Makoul. Dia menegaskan, kesan pertama adalah fpondasi untuk membangun hubungan selanjutnya antara dokter dan pasiennya.
Tak hanya itu, sikap yang sopan juga dapat mencegah salah paham. Dalam dunia medis, banyak kasus kesalahan yang terjadi akibat kurang tepatnya penanganan dan pendekatan dokter terhadap pasien. "Ini bukan hanya soal menyapa. Ada hubungan antara komunikasi yang baik dokter-pasien dengan tingkat kesembuhan penyakit si pasien," kata Dr Sheldon Horowitz dari American Board of Medical Specialties, Amerika. Dalam penelitian yang dilakukan selama kurun waktu 2004-2005 silam tersebut, peneliti menyurvei 415 responden orang dewasa di Amerika, lalu ditanyakan tentang kesan dan pendapatnya tentang sapaan dokter.
Peneliti juga mengamati video kunjungan dari 123 pasien terhadap 19 dokter di Chicago dan Burlington Vermont untuk melihat perilaku si dokter. Hasil studi yang dilaporkan dalam Archives of Internal Medicine itu menyebutkan bahwa sebanyak 78% responden menginginkan dokter menjabat tangannya, sedang 18% menganggapnya tidak perlu. Dari pengamatan video diketahui jabat tangan antara dokter-pasien adalah sebanyak 83%. Namun, dalam separuh dari video kunjungan tersebut terlihat bahwa dokter tidak menyebut nama depan ataupun nama belakang si pasien. Sedangkan sebanyak 39% tidak saling menyebut nama, baik pasien maupun dokternya. (Rtr/inda)
Sumber: KORAN SINDO
Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:42 am; edited 3 times in total |
|  | | Ali Alkatiri Administrator


Number of posts: 1044 Age: 54 Location: Jakarta Registration date: 2008-08-27
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Tue Dec 30, 2008 11:04 pm | |
| Git, itu teori lama. Kalau aku jadi dokternya enggak mau berjabat tangan dengan pasien, kecuali kalau aku pakai sarung tangan, atau sesudah berjabat tangan langsung cuci tangan pakai alkohol... Analisanya begini, kalau tuh pasien penderita Flu misalnya, dan sebelum masuk ruang praktek dia baru saja membersihkan ingus dari hidungnya pakai tangan (berhubung tissue abis) maka dengan berjabat tangan si dokter menyediakan diri untuk ditulari. Hal ini berlaku untuk penyakit menular lain. Alternatif yang paling ideal adalah cara hormat gaya Jepang, cukup dengan membungkukkan badan. _________________
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.
|
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Wed Dec 31, 2008 5:13 am | |
| Untung kamu sudah tidak praktek lagi kalau begitu ALI. Solusinya gampang, cucilah tangan setiap habis periksa pasien, makanya ada wastafel dikamar praktek. Kalau capek cuci tangan melulu, ya cuci setelah pasien terakhir sementara itu selama praktek ya tangan jangan kemulut, mengucek mata, memegang hidung mengusap muka kalau belum cuci tangan.
Tidak usahkan dikamar praktek ALI, bagaimana kalau kamu jumpa dengan orang/teman yang baru melakukan aktivitas yang kamu sebutkan itu diluar kamar praktek ? Memegang uang saja juga penuh dengan kuman, terlalu banyak tangan yang telah memegangnya..........maka selalu mencuci tangan, itu yang paling effektif.
Last edited by gitahafas on Tue Feb 23, 2010 12:53 pm; edited 1 time in total |
|  | | Ali Alkatiri Administrator


Number of posts: 1044 Age: 54 Location: Jakarta Registration date: 2008-08-27
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Wed Dec 31, 2008 10:25 am | |
| Git, yang kita tidak tahu: - seberapa cepat transmisi virus atau bakteri itu melalui kulit.
- sudah banyak mutan virus dan bakteri yang kebal terhadap antiseptik, akibat pemakaian antibiotik yang salah.
Jadi cara terbaik ya hindari kontak. Ilmu ini aku dapat semenjak gaul sama Prof. Wolfgang Graninger, dan memang benar kalau tidak tahu persis hindari berjabat tangan....apalagi yang bukan MUKHRIMnya.... Aku yakin pasien enggak akan marah tanpa disalamin, diberi senyum saja sudah senang sekali, apalagi kalau diberi penjelasan tentang penyakitnya serta apa-apa yang harus dilakukan dan dihindari. _________________
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.
|
|  | | Poer Moderator


Number of posts: 87 Age: 54 Registration date: 2008-08-28
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Wed Dec 31, 2008 11:26 am | |
| Yang hebat....... bukan muhrimnya itu hahaha |
|  | | ferry611

Number of posts: 197 Age: 56 Location: jakarta Registration date: 2008-09-08
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Sat Jan 03, 2009 4:26 pm | |
| iya memang benar yang dikatakan ali.....gak jaman nya lagi sekarang jabat tangan, kalau pasien 1 ,2 ok lah ...nah kalau pasien 10 aja.......berapa kuman penyakit yang kita bakal terima....bisa 2tiap nyampe dirumah lgsg sakit ....kalau iya udah kebal sih masih untung .....nah kalau penyakitan kaya .....kaya siapa ya.....heheh.... |
|  | | Ali Alkatiri Administrator


Number of posts: 1044 Age: 54 Location: Jakarta Registration date: 2008-08-27
 | Subject: Dokter Asing Makin Disuka Pasien Thu Jul 09, 2009 9:56 am | |
| Kamis, 09/07/2009 09:15 WIB Dokter Asing Makin Disuka PasienIrna Gustia, Nurul Ulfah - detikHealth
.jpg) (Foto: WP)Jakarta, Dokter-dokter Indonesia tidak kalah hebat dengan dokter asing. Namun untuk kalangan menengah atas, kepercayaan terhadap dokter asing mengalami tren meningkat. Perilaku kelas menengah atas yang lebih suka berobat ke luar negeri menjadi salah satu indikasinya. Melihat gelagat seperti itu, dokter Alex Papilaya,-- yang concern terhadap maraknya praktik dokter asing di Indonesia--, khawatir serbuan dokter asing ke Indonesia makin marak setelah pemberlakuan ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2010. "Sudah banyak dokter asing yang berpraktik di Indonesia dan itu belum ada aturan yang jelas. Dokter asing ini biasanya menyasar ke kantong-kantong pemukiman orang kaya, karena orang-orang ini senang yang berbau asing," kata dokter Alex ketika dihubungi detikHealth, Kamis (9/7/2009). Menurutnya, masuknya dokter asing ke Indonesia itu karena memang ada pasarnya. "Seperti di Bali, Tangerang itu banyak dokter dari Jepang dan Korea," katanya. Dia melihat budaya masyarakat sangat suka hal-hal berbau asing akan makin menyuburkan praktik-praktik dokter asing. "Kalau misalnya di satu rumah sakit ada dua dokter dengan spesialisasi sama, dokter asing biasanya akan lebih disukai," ujar dokter Alex. Hal sama juga diungkapkan oleh dr Kartono Mohammad yang juga mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI). "Daerah Jakarta paling banyak adanya praktik dokter asing, sisanya di daerah-daerah," katanya. Praktik dokter asing itu biasanya dilakukan di rumah sakit swasta atau bekerja dengan pengusaha-pengusaha di hotel. Biasanya dokter asing ini juga bekerja untuk karyawan-karyawan perusahaan dan juga perusahaan asing. Bahkan beberapa dokter asing diketahui membuka klinik sendiri meski tidak secara terang-terangan. Soal tarif juga biasanya lebih mahal karena biasanya pakai calo. "Tapi kalau praktik ke rumah-rumah, belum pernah ada dokter asingnya," katanya. Dokter asing yang masuk ke Indonesia biasanya dari sekitar Asia seperti, China, Pakistan, India, Korea, Jepang Filipina, Taiwan. Beberapa dokter asing juga diketahui berasal dari wilayah luar Asia seperti Brazil dan Australia. "Mereka datang kesini untuk mencari rezeki, tapi untuk kompetensi belum tentu lebih baik. Orang Indonesia hanya tertarik dengan embel-embel asing atau luar negeri," kata dokter Kartono. Sementara itu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melihat ada plus minusnya soal maraknya praktik dokter asing di Indonesia. Pengurus harian YLKI Sudaryatmo mengatakan bahwa adanya dokter-dokter asing tersebut justru dapat meningkatkan kompetensi dokter-dokter Indonesia. "Mau asing, mau lokal, tidak masalah asalkan dia berkompeten dan bisa menghargai pasien," ujarnya ketika dihubungi detikhealth akhir Juni 2009. Jika melihat dari sisi positifnya, dokter Indonesia justru menjadi terpacu untuk berkinerja lebih baik lagi. Yang terpenting lagi menurutnya, faktor bahasa adalah faktor yang harus dikuasai dokter asing jika ingin praktek di Indonesia. Hingga saat ini, pihak YLKI memang belum menerima laporan atau keluhan apapun dari masyarakat berkaitan dengan penyelewengan oleh dokter asing. "Belum ada keluhan bukan berarti tidak ada kasus, namun tetap saja jika ada tindakan menyimpang, pihak rumah sakit tempat dokter asing tersebut bekerja yang harus bertanggung jawab," ucapnya. _________________
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.
|
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Tue Feb 23, 2010 9:39 am | |
| DOKTER ASING ILEGAL Sabtu, 6 Maret 2010 | 06:50 WIB Jakarta, Kompas - Dokter-dokter asing yang membuka praktik di Indonesia serta secara langsung menerima pasien tanpa proses rujukan merupakan dokter asing ilegal. Keberadaan dokter asing yang resmi ada di Indonesia saat ini hanya bekerja dalam rangka transfer pengetahuan. Keberadaan dokter asing yang mulai marak berpraktik secara diam-diam ataupun terang-terangan itu diminta segera ditertibkan. Dalam kebijakan mengizinkan dokter asing masuk ke Indonesia harus dengan persyaratan ketat yang dasarnya semata-mata untuk melindungi masyarakat Indonesia.
Demikian persoalan yang mengemuka dalam sarasehan bertajuk ”Keberadaan Dokter Asing di Indonesia” yang digelar Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) di Jakarta, Jumat (5/3). Acara tersebut menampilkan narasumber dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), dan Kementerian Kesehatan. Menaldi Rasmin, Ketua KKI, menegaskan, KKI belum pernah memberikan surat tanda registrasi (STR) bagi dokter serta dokter gigi warga negara asing dalam rangka izin praktik kedokteran. Izin yang diberikan kepada dokter asing hanya untuk yang akan memberikan alih teknologi bekerja sama dengan institusi pendidikan dan atau pelayanan di Indonesia.
Sundoyo dari Biro Hukum Kementerian Kesehatan mengatakan, dokter asing diperbolehkan hanya di Rumah Sakit Kelas A dan B. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada dokter asing yang mendapatkan izin praktik. Dari pendataan rencana penggunaan tenaga kesehatan asing tahun 2009, ada 41 tenaga kesehatan asing yang namanya sudah diajukan. Meskipun demikian, belum ada yang disetujui. ”Karena itu, yang sudah berpraktik pasti ilegal,” ujarnya.
Patuhi aturan Menurut Menaldi, dalam era pasar bebas, Indonesia memang tidak bisa menutup diri dari serbuan dokter asing. ”Tetapi, mereka tetap harus mematuhi aturan, terutama bagi pihak yang mengundang dokter asing itu. Mereka harus paham betul aturannya,” ujar Menaldi. Indonesia, kata Menaldi, harus menempatkan kesetaraan dokter dalam negeri dengan dokter asing. Sebab, secara pengetahuan dan keterampilan, dokter Indonesia tidak kalah. Persoalannya, fasilitas layanan kesehatan yang belum lengkap dan memadai.
Sementara itu, KKI akan memperketat permintaan surat tanda registrasi sementara bagi dokter asing yang akan melakukan alih teknologi. Langkah itu dilakukan untuk melindungi masyarakat serta menjaga wibawa profesi kedokteran Indonesia. Slamet Budiarto, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar IDI, mengatakan, menghadapi serbuan dokter dan pemodal asing, Indonesia perlu membangun sistem proteksi. Sistem pelayanan kesehatan, termasuk juga pembiayaan, perlu dibenahi dan diperkuat. ”Kenyataan sekarang, sistem kesehatan amburadul. Berlaku hukum rimba, yang kuat memakan yang lemah. Itu membuat layanan kesehatan tidak optimal,” kata Slamet.
Dengan mengembangkan sistem rujukan, kata Slamet, bisa membuat kebutuhan pada dokter asing semakin sedikit. Pasalnya, rumah sakit bisa merujuk pasien pada dokter ahli lain yang ada di tempat lain. Ari Fahrial Syam, Ketua Bidang Advokasi PB PAPDI, mengatakan, era pasar bebas membuat modal asing bisa membangun rumah sakit yang juga menyertakan dokter asing. Keberadaan dokter asing tetap harus memenuhi pelayanan kesehatan yang standar dan kompeten. Organisasi profesi, seperti PAPDI, juga harus dimintakan rekomendasinya jika ada dokter asing yang ingin praktik. (ELN)
Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:32 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Tue Feb 23, 2010 10:25 am | |
| BELUM ADA DOKTER ASING YANG DIBERI IZIN PRAKTEK Jumat, 5 Maret 2010 | 17:41 WIB Jakarta, KOMPAS.com- Hingga saat ini Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) belum pernah memberikan izin praktek berupa surat tanda registrasi kepada dokter/dokter gigi asing untuk berpraktik di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Menaldi Rasmin, Ketua KKI dalam diskusi mengenai dokter asing yang diadakan oleh Perhimpunan Dokter spesialis Penyakit Dalam di Jakarta (5/3). "Izin yang telah diberikan KKI kepada dokter asing hanyalah kepada dokter yang akan memberikan alih teknologi bekerjasama dengan institusi pendidikan dan atau pelayanan kesehatan di Indonesia," paparnya.
Untuk bisa berpraktek (menerima pasien langsung), dokter asing harus memenuhi berbagai persyaratan yang berlaku sesuai Undang-undang. Antara lain mempunyai surat izin kerja, memiliki surat tanda registrasi (STR) yang diberikan berdasarkan rekomendasi dari organisasi profesi di negara asal. "Dokter yang bersangkutan juga harus mahir berbahasa Indonesia. Tidak boleh dokter berpraktik dengan didampingi penerjemah," papar Menaldi.
Menanggapi masuknya dokter-dokter asing di Indonesia, dr.Slamet Budiarto, SH, Sekjen PB IDI mengatakan hal tersebut merupakan dampak dari globalisasi. Dokter asing tidak dapat lagi ditolak kehadirannya, selama mereka memenuhi persyaratan untuk berpraktik di Indonesia. "Banyak orang asing yang suka bekerja di Indonesia karena kita tidak punya sistem pembiayaan kesehatan dan sistem rujukan yang baik. Padahal, dua hal ini yang akan memproteksi kita dari masuknya dokter-dokter asing," papar Slamet.
Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:39 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Tue Feb 23, 2010 11:09 am | |
| DOKTER INDONESIA SIAP BERSAING DENGAN DOKTER ASING Rabu, 27 Agustus 2008 | 19:00 WIB JAKARTA, RABU - Globalisasi mempengaruhi perubahan di semua sektor, tidak terkecuali dunia kedokteran. Apalagi Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta menjadi pasar potensial bagi masyarakat dunia di era globalisasi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, masuknya tenaga dokter dan dokter gigi asing ke Indonesia tidak dapat dihindari.
"Untuk menghambat masuknya dokter dan dokter gigi asing ke Indonesia, kemampuan para profesional medik itu harus ditingkatkan agar setara dengan dokter asing. Jumlah dokter Indonesia yang bisa jadi tokoh-tokoh global di dunia kedokteran internasional perlu ditingkatkan. Selain nama Indonesia jadi harum, rakyat Indonesia dapat merasakan pelayanan dengan keahlian tingkat dunia," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dalam seminar bertema Indonesia Menghadapi Globalisasi Praktik Kedokteran , Rabu (27/Cool, di Jakarta.
Menurut Menkes, Pengaturan profesi kedokteran harus selalu pro rakyat, artinya kebijakan apa pun yang diambil harus menjamin bahwa rakyat Indonesia terlindung dari praktik dokter yang merugikan. Sesuai kebijakan Departemen Kesehatan, masuknya dokter asing hanya untuk alih teknologi. "Yang penting saat ini adalah, bagaimana kita mengawal dan menjalankan kebijakan itu dengan baik sehingga tidak disalahgunakan," ujarnya menegaskan.
Menkes meminta agar kalangan organisasi profesi yaitu Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia, dan organisasi profesi lain ikut mengawasi keberadaan dokter asing di Indonesia. "Saya minta agar kalangan organisasi profesi lebih kritis terhadap masuknya dokter-dokter asing ke Indonesia. Kalau perlu, memprotes kepada saya jika ada kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan dokter Indonesia," kata Siti Fadilah.
Perhatian kedua adalah, pendidikan kedokteran yang harus ditingkatkan terus kualitasnya. "Kita memerlukan dokter dalam jumlah cukup banyak agar disebarkan ke seluruh penjuru negara kita, sehingga rakyat di daerah terpencil dapat juga merasakan pelayanan kedokteran, sehingga tidak ada alasan untuk memasukkan dokter asing," ujarnya menambahkan.
Diakui, saat ini sudah ada lebih dari 50 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia, namun mutunya belum sama sehingga hasil lulusan yang akan dimanfaatkan Depkes tidak selalu memenuhi harapan. Pendidikan dokter dan dokter gigi umumnya ada proses magang, karena itu setiap FK harus punya rumah sakit pendidikan yang memiliki tenaga kesehatan yang handal dengan jumlah kasus atau pasien yang cukup.
Dalam dunia kedokteran, integritas merupakan syarat mutlak. Integritas terhadap keilmuan dan etika kedokteran yang solid akan membuat dokter dan dokter gigi mengutamakan kesembuhan pasien sesuai janji dokternya. Nilai ini harus ditanamkan sejak awal pendidikan sehingga dokter Indonesia dapat jadi dokter yang pandai dan memberi pelayanan yang sesuai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menkes juga mengajak kepada semua pihak untuk bersama-sama membina dan mengawasi praktik kedokteran, sehingga bangsa Indonesia dapat menikmati pelayanan dokter dan dokter gigi yang bermutu. "Perjuangan masih panjang, namun harus disadari bahwa kita dalam fase sangat terlambat dibandingkan negara lain. Kita harus mampu menyusul ketertinggalan kita, menjadikan negara kita yang mandiri dan berdaulat, serta mampu jadi unggul dalam globalisasi ini," katanya.
Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:48 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Tue Feb 23, 2010 12:46 pm | |
| MENKES BUKA PINTU UNTUK DOKTER ASING Jumat, 20 November 2009 | 15:12 WIB PALEMBANG, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan kerjasama dengan lembaga kesehatan internasional adalah hal yang penting. Untuk itu, pihaknya mempersilahkan sebanyak 3.500 dokter asing yang dalam waktu dekat melakukan penelitian di Indonesia. Kebijakan pemerintah di bidang kesehatan salah satunya adalah membangun kerjasama dengan lembaga kesehatan lokal dan luar negeri. Sehingga Indonesia pun harus mengikuti kesepakatan dibidang kesehatan internasional, kata Menkes saat menjawab pertanyaan seorang dokter peserta Muktamar ke-27 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Palembang, Jumat (20/11). Menurutnya, tenaga kesehatan asing diperbolehkan melakukan penelitian di Indonesia dan bekerjasama dengan pemerintah, tetapi mereka harus mengikuti aturan yang telah disiapkan pemerintah. Dokter asing tersebut harus bekerja profesional dan mematuhi ketentuan yang diatur pemerintah Indonesia, tambahnya.
Ia mengatakan, kerjasama dibidang kesehatan tersebut sangat dibutuhkan Indonesia untuk mencapai sasaran "MDGs" yang telah ditargetkan pemerintah. Sebab kerjasama yang dengan dokter asing tersebut ditargetkan akan menguntungkan rakyat Indonesia, sehingga mereka pun dipersilahkan datang dan bekerja di negera kita, katanya. Dia menjelaskan, pada prinsipnya Depkes akan mengedepankan kepentingan masyarakat untuk merealisasikan rakyat Indonesia yang sehat sehingga berbagai program berjalan optimal. Depkes pun terus berusaha menjadikan rumah sakit sebagai sarana promotif, preventif dan edukatif tidak hanya menjadi tempat bagi warga yang sakit, ujarnya.
Sementara itu, seorang dokter peserta Muktamar ke-27 IDI di Palembang tersebut menganggap diizinkannya 3.500 dokter dari luar negeri masuk ke Indonesia itu membuktikan kalau pemerintah mulai mengurangi kepercayaan terhadap tenaga kesehatan lokal. Padahal dokter di Indonesia pun tidak kalah kualitas dengan luar negeri sehingga kalau ada program-program penelitian semestinya Menkes mengajak serta tenaga kesehatan lokal bukan dari asing, kata dokter yang enggan disebut namanya tersebut.
Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:19 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Fri Mar 05, 2010 5:58 am | |
| SERBUAN DOKTER ASING? Senin, 1 Februari 2010 | 06:21 WIB KOMPAS.com - Dengan diberlakukannya perdagangan bebas China-ASEAN, banyak pihak khawatir Indonesia akan dibanjiri oleh produk China, mulai dari produk pertanian, tekstil, furnitur, mainan anak, otomotif, hingga obat. Namun, satu hal yang mungkin juga patut diperhitungkan adalah datangnya dokter asing ke Indonesia. Dewasa ini Indonesia telah dijadikan pasar jasa layanan kedokteran, dalam bentuk pasien Indonesia berobat di luar negeri. Konon jumlah devisa yang terbuang untuk berobat ini mencapai jutaan dollar AS. Salah satu bentuk yang mungkin akan terjadi adalah dokter asing datang dan berpraktik di Indonesia. Sekarang ini sudah cukup banyak rumah sakit yang modalnya berasal dari luar negeri dan rumah sakit tersebut mungkin saja akan menjadi jembatan untuk penampungan dokter asing.
Layanan kedokteran di Indonesia tampaknya masih lemah. Citra yang terbentuk adalah layanan kedokteran kita mutunya rendah, biayanya tinggi, dan kurang komunikatif. Masyarakat beranggapan layanan di negara maju lebih baik daripada Indonesia. Namun menurut saya, tidak semua layanan di negara maju lebih baik daripada di Indonesia. Untuk penyakit-penyakit tertentu jarang didapat di negara maju, jadi pengalaman mereka kurang. Menurut pendapat saya, pengalaman dan keterampilan dokter akan menunjang ketepatan diagnosis dan keberhasilan terapi. Namun tidak seluruh masyarakat memahami hal itu sehingga perlu pembentukan citra yang benar mengenai layanan kedokteran kita.
Hanya sayang, lembaga swadaya masyarakat di Indonesia lebih suka menyorot kekurangan layanan dan kurang memerhatikan kelebihan layanan rumah sakit dan dokter Indonesia. Apakah belum saatnya untuk bersama membentuk citra bahwa layanan kedokteran di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia? Sampai di mana persiapan profesi kedokteran dan perhimpunan rumah sakit di Indonesia? Apakah pihak regulator juga telah menyadari hal ini, karena tampaknya sekarang regulator kita amat lemah dalam mengawasi iklan dan kegiatan dokter asing di Indonesia. Mohon tanggapan dokter.
(M di J)
Jawaban Saya sebenarnya dokter klinis. Namun, sedikit banyak saya mengikuti sejak tahun 2000 telah timbul kesadaran di kalangan kesehatan bahwa kita harus mampu bersaing dengan negara lain, terutama negara-negara di kawasan Asia. Dalam menghadapi isu perdagangan bebas, bahkan pernah dibentuk tim untuk mengantisipasi dan memberikan rekomendasi dalam bidang pelayanan kesehatan. Dampak perdagangan bebas mau tak mau juga akan berdampak pada layanan kesehatan, khususnya layanan kedokteran. Dokter asing tak dapat lagi kita tolak kehadirannya hanya karena mereka dokter asing. Perlu aturan yang sama untuk dokter asing dan dokter Indonesia. Jika mereka memenuhi persyaratan untuk berpraktik di Indonesia, kita tak dapat melarangnya begitu saja. Karena itulah, persyaratan tersebut harus dikaji dengan baik, misalnya salah satu yang mungkin disyaratkan adalah kemampuan berbahasa Indonesia di samping kompetensi.
Sistem pendidikan kedokteran di luar negeri juga mungkin berbeda dengan di Indonesia. Masyarakat kita mempunyai kecenderungan untuk berobat ke dokter spesialis dan konsultan dan kurang menghargai dokter umum. Anda benar, sebagian masyarakat kita juga masih beranggapan dokter asing mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan dokter Indonesia. Tampaknya informasi tentang kemampuan layanan kedokteran kita tenggelam dalam hiruk-pikuk pemberitaan tentang kekurangan rumah sakit atau kelalaian dokter.
Jumlah dokter di Indonesia mencapai sekitar 80.000 orang, tersebar di seluruh Indonesia. Negeri kita pernah dijadikan salah satu contoh layanan kesehatan yang merata. Namun dengan semakin berkurangnya tenaga dokter yang bekerja di puskesmas di daerah terpencil, maka pemerataan kesehatan kita semakin berkurang. Banyak daerah terpencil yang belum menikmati layanan dokter. Mutu pendidikan kedokteran kita sebenarnya cukup baik. Banyak mahasiswa asing yang menjalani pendidikan kedokteran di fakultas kedokteran di Indonesia. Jika tak dibatasi, setiap tahun jumlah mereka semakin besar. Jika mahasiswa kedokteran atau dokter kita mendapat pendidikan atau pelatihan di luar negeri, biasanya prestasi mereka juga dapat dibanggakan.
Namun, sistem pelayanan kesehatan kita masih harus disempurnakan. Kecenderungan masyarakat berobat ke dokter spesialis menyebabkan dokter spesialis tertentu kebanjiran pasien yang berpotensi mengurangi ketelitian dokter-dokter tersebut dan sudah tentu juga mengurangi kesempatan berkomunikasi. Masyarakat seharusnya pandai memilih rumah sakit atau dokter berdasarkan kemampuannya bukan karena ketenarannya. Selain itu, sistem pembiayaan kesehatan kita juga harus semakin diperkuat sehingga masyarakat tak harus membayar langsung dari kantong mereka jika sakit.
Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bersatu untuk ikut memajukan layanan kesehatan kita. Kita semua harus mempunyai rasa memiliki dan memelihara rumah sakit kita agar dapat tetap berfungsi dengan baik, terjamin kebersihan dan kenyamanannya. Kesadaran untuk meningkatkan mutu layanan rumah sakit telah menjadi tekad rumah sakit swasta maupun pemerintah. Jika berkunjung ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Anda akan merasakan perubahan, baik di poliklinik maupun di ruang perawatan. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada gedung baru atau renovasi gedung, tetapi juga pada tanggung jawab pelayanan. Setiap pasien yang dirawat di rumah Sakit Cipto Mangunkusmo mempunyai dokter penanggung jawab yang merupakan dokter spesialis yang sesuai dengan penyakitnya. Waktu layanan poliklinik lebih panjang dan dokter penanggung jawab memeriksa pasien yang dirawat secara teratur.
Tidak hanya di kota besar, sekarang banyak rumah sakit daerah yang juga sudah berubah. Lihatlah Rumah Sakit Wahab Syahrani di Samarinda atau Rumah Sakit Madiun. Rumah sakit daerah tersebut juga telah mampu memberikan layanan yang baik dan nyaman serta terjangkau. Jika kita terus-menerus meningkatkan kemampuan dan kenyamanan ini, kita sebenarnya tak perlu khawatir dengan kehadiran dokter asing. Namun, seperti juga di bidang lain, masyarakat kita harus mempunyai rasa keberpihakan pada produk dan jasa anak negeri. Janganlah membeli produk luar negeri sekadar karena lebih murah, kita harus mengutamakan produk dalam negeri. Instansi pemerintah sebagai tokoh panutan dapat menjadi pelopor dalam menggalakkan penggunaan produk dalam negeri.
Mudah-mudah bank-bank badan usaha milik negara tidak lagi menjanjikan hadiah mobil mewah buatan luar negeri atau wisata ke luar negeri, tapi memberikan hadiah yang lebih bermanfaat bagi masyarakat serta hadiah tersebut hendaknya buatan dalam negeri pula. Penduduk kita yang 240 juta jiwa merupakan pasar yang potensial, marilah kita adakan pasar tersebut untuk menggerakkan industri dalam negeri. Kita perlu mengubah sikap dari bangsa yang hanya pandai memakai dan membeli menjadi bangsa yang mampu memproduksi sendiri kebutuhan masyarakat kita. Semoga ancaman serbuan dokter asing tidak akan menimbulkan ketakutan, tapi sebaliknya merangsang kita untuk menumbuhkan jasa layanan kesehatan di Indonesia yang baik dan terjangkau.
DR Samsuridjal Djauzi
Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:47 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Fri Mar 05, 2010 9:33 am | |
| AFTA ( ASEAN FREE TRADE AGREEMENT ) AFTA atau kesepakatan perdagangan bebas antar negara ASEAN telah disepakati dan ditanda tangani. Berbagai tantangan diberbagai bidang muncul, termasuk didunia kesehatan. Persaingan kompetensi profesi dan teknologi menjadi tantangan utama dan harus segera menemukan jawaban di era yang terbuka ini.
Sebagai badan otonom yang mengawasi praktik kedokteran, yang bisa dilakukan KKI adalah melindungi masyarakat dan meningkatkan kemampuan dokter Indonesia agar mereka memiliki kemampuan yang sama dengan dokter negara lain, terutama ASEAN, sehingga berani berkompetisi. Positifnya, itu akan memotivasi dokter Indonesia dalam meningkatkan kapasitas diri menjadi profesi yang mampu bertahan dan berkompetisi. Sayangnya jenjang karier dan kesejahteraan dokter Indonesia belum terlayani dengan baik sehingga dokter harus bertarung secara individual. Bila terus begini ditakutkan akan terjadi perdagangan profesi oleh beberapa oknum.
Pengetahuan dan keterampilan dokter Indonesia sebetulnya tidak kalah dengan dokter asing. Sayangnya, didalam AFTA tidak hanya dokter asing saja yang masuk, melainkan juga sistem, rumah sakit dan alat / teknologi. Sementara, tidak semua dokter Indonesia tertampung dalam sistem atau rumah sakit asing yang memiliki kecanggihan sarana dan teknologi. Itu akan meragukan masyarakat terhadap kemampuan dokter kita.
Jika dokter Indonesia juga menginginkan sarana dan teknologi yang sama canggihnya dengan mereka demi perkembangan ilmunya, ditakutkan para dokter akan meninggalkan tempat yang memiliki sarana dan teknologi terbatas. Maka hanya rumah sakit asing dengan modal yang cukuplah yang akan memiliki dokter berkualitas baik.
KKI mempunyai kebijakan yaitu dengan memberikan syarat bagi dokter asing yang akan masuk ke Indonesia, yaitu: 1. Dokter asing yang boleh masuk adalah yang secara kompetensi benar benar belum dimiliki dokter Indonesia. 2. Harus dinyatakan okeh profesi kedokteran Indonesia bahwa dokter tersebut benar benar dibutuhkan dan berkompetensi sehingga keberadaannya juga diketahui dan dikenal oleh perhimpunan profesinya di Indonesia. 3. Harus membawa surat jaminan dari perhimpunan profesi negara asal dan memiliki letter of good standing dari konsil kedokteran negara asal. 4. Bersedia ditempatkan didaerah yang membutuhkan.
Dengan adanya AFTA selain dokter Indonesia yang harus berkompetisi, masyarakat Indonesia akan terbebani dengan biaya kesehatan yang tidak lagi murah karena biaya mesti disesuaikan pada standar mutu dan pelayanan. Tantangan semakin berat, terutama karena masyarakat kita belum seratus persen dilindungi oleh asuransi kesehatan.
Sumber: Dokter Kita Edisi 3 Tahun V Maret 2010 |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Fri Mar 12, 2010 9:25 pm | |
| DOKTER ASING HANYA SEBAGAI KONSULTAN Senin, 6 Desember 2010 | 14:22 WIB PURWOKERTO, KOMPAS.com - Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) Kementerian Kesehatan Bambang Giatno Raharjo mengatakan, hingga saat ini belum ada dokter asing yang buka praktik di Indonesia. "Kalau ada dokter asing (yang buka praktik di Indonesia), saya harus katakan dia itu ilegal. Karena sampai sejauh ini, Kementerian Kesehatan dan Konsil Kedokteran Indonesia sebagai otoritas yang menerbitkan surat tanda registrasi (STR), belum pernah menerbitkan STR untuk dokter asing," ungkap Giatno di Purwokerto, Senin.
Ia mengemukakan hal itu usai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Kedokeran Indonesia "Strategi Peningkatan Kualitas Kesehatan Bangsa Indonesia dalam Menyambut Komunitas ASEAN 2015". Dengan demikian, jika ada dokter asing yang bekerja di Indonesia, kata dia, maka mereka itu adalah ilegal. Kecuali, lanjut Giatno Raharjo, jika dokter asing itu tidak bekerja di Indonesia melainkan hadir sebagai konsultan. "Artinya jika sebagai konsultan, dia tidak merawat pasien. Dia membimbing dokter-dokter spesialis dalam cabang ilmu tertentu dan tidak membuka praktik," katanya.
Menurut Giatno, dokter asing yang hadir sebagai konsultan tidak dapat diklasifikasikan sebagai dokter asing yang berpraktik di Indonesia. Ia mengatakan, regulasi mengenai dokter asing telah diatur di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 317 Tahun 2010 tentang Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing di Indonesia. "Jadi ada persyaratan. Dokter asing bukannya tidak boleh beroperasi di Indonesia, tetapi sampai saat ini belum ada yang mengajukan persyaratan," katanya.
Menurut dia, seorang dokter asing yang akan bekerja atau membuka praktik di Indonesia harus memiliki STR maupun rekomendasi ikatan dokter di negeri asalnya yang menyebutkan bahwa yang bersangkutan merupakan dokter yang baik. Selain itu, kata dia, dokter tersebut telah bekerja di negara asal minimal lima tahun. "Misalnya, kalau ada mahasiswa Malaysia dan sekolah (kedokteran) di Indonesia. Dia harus pulang dulu ke Malaysia, berpraktik di Malaysia, berkelakuan baik sehingga mendapat rekomendasi, baru mendaftar ke Indonesia," katanya. Terkait upaya Kementerian Kesehatan seiring penerapan kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (ACFTA) , dia mengatakan, hal itu telah dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain melalui Permenkes Nomor 317/2010, pengiriman tenaga kesehatan Indonesia ke luar negeri, maupun uji kompetensi. "Intinya kita siap. Kita tidak mengharamkan dokter asing untuk bekerja di Indonesia sejauh memenuhi syarat," katanya.
Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:14 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter Fri Mar 12, 2010 9:27 pm | |
| MENKES: DOKTER INDONESIA JAUH LEBIH BAIK Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 09/09/2009 11:13 WIB Jakarta, Berobat ke luar negeri mungkin kini jadi tren di kalangan orang berduit. Sempat menjadi pertanyaan apakah ini karena dokter di Indonesia memang kurang bagus? Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menilai dokter Indonesia sudah jauh lebih baik. Menurutnya tidak bisa digeneralisasi bahwa semua dokter di Indonesia tidak bagus, karena jika ditelusuri lebih dalam lagi masih banyak dokter yang lebih berkualitas dibandingkan dengan dokter-dokter luar negeri.
Jika dibandingkan dengan dokter-dokter di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, dokter Indonesia sebenarnya kualitasnya lebih baik. Tapi diakui Menkes, bahwa biaya kesehatan di sana lebih murah dibandingkan dengan disini, seperti untuk pemeriksaan general check-up. "Ini terlihat saat tsunami lalu, waktu disuruh mengoperasi korban di bawah tenda dengan bantuan lampu senter. Dokter dari luar negeri nggak ada yang berani, tapi dokter Indonesia berani saja melakukannya," ujar Menkes dalam acara buka puasa bersama yang digelar di kediamannya, Jakarta, Selasa (8/9/2009).
Lebih lanjut Menkes menambahkan saat kejadian itu dokter dari Indonesia lebih banyak menyelamatkan warga dibandingkan dengan dokter-dokter luar. Selain itu hal serupa juga terjadi saat ada bencana gempa di Yogyakarta beberapa tahun lalu, dokter Indonesia berhasil mengoperasi korban patah tulang terbuka sebanyak 400 korban dalam waktu 2 hari saja.
"Karena itu organisasi kesehatan dunia (WHO) sangat menghormati Indonesia sebagai pusat pelatihan bencana alam," tambahnya. Menkes menilai ada beberapa alasan yang menyebabkan banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, yakni: 1. Dikirim oleh dokter yang pasien bersangkutan, karena disini tidak ada fasilitasnya. 2. Untuk bangga-banggaan atau gengsi saja dengan orang lain. 3. Kadang-kadang dokter di sini memiliki kerjasama dengan dokter di luar, jadi kalau dokter sini mengirim pasien ke sana maka dokter sini akan mendapatkan uang. Dan justru alasan ini yang paling parah.
"Saya tahu hal tersebut, karena dulunya saya adalah dokter," tukasnya. Dia berharap nantinya RS Harapan Kita, RSCM dan RS Sanglah bisa menjadi pusat untuk kesehatan dan menjadi rumah sakit internasional.
Last edited by gitahafas on Tue Dec 07, 2010 10:49 am; edited 2 times in total |
|  | | | | Pentingnya Kesan Pertama Seorang Dokter | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |